Takdir Mempertemukan Kita Melalui Wawancara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 1 November 2016

Terpaan angin senja membuatku damai. Desiran pasir putih mengotori telapak kakiku. Langit senja yang indah membuatku teringat pada pujangga hatiku yang telah mematahkan hatiku. Dion. Ia adalah kekasihku semasa SMA dulu. Ia tampan, baik, romantis dan pintar. Ia juga sangat menyukai langit senja. Itulah alasan mengapa aku menyukai langit senja hingga kini.
Tapi suatu saat, hubungan kami harus berakhir karena Dion harus melanjutkan studinya ke Amerika. Dadaku terasa sesak saat Dion mengucapkan kata ‘putus’.
Meskipun hubunganku dengan Dion telah berakhir, tapi rasa cintaku terhadap Dion tak pernah pudar. Aku selalu mencintai Dion dan berharap Dion akan kembali padaku. Meskipun aku tau itu hanyalah angan yang akan tetap menjadi angan. Tak akan pernah menjadi kenyataan.

Saat ini aku telah bekerja di sebuah perusahaan majalah. Posisiku sebagai seorang wartawati. Tak mudah menjadi seorang wartawati, aku harus mengejar narasumber yang terkadang tak mau diwawancarai. Hari ini, aku mendapat tugas dari bosku untuk meliput seorang pengusaha sukses. Namanya Alexandre Dion. Alexandre Dion?. Sepertinya aku familiar dengan nama itu.

Esoknya, aku mulai mempersiapkan segala hal untuk wawancara dengan Alexandre Dion. Aku tak bisa fokus. Aku terus terngiang dengan nama itu. Tapi aku tepis ingatan nama itu. Aku berusaha fokus dengan pekerjaanku.

Hari ini aku memulai wawancaraku. Aku datang ke kantor pengusaha sukses itu. Aku membuat janji dan nanti aku akan dikabari.

Triit, triit…
Handphoneku berdering. Aku baru saja mendapat kabar bahwa pengusaha sukses itu mau untuk kuwawancarai. Kami akan bertemu besok di cafe Melati pukul 10 siang.

Esoknya, aku pergi ke cafe Melati. Ternyata, pengusaha sukses tersebut sudah mempersipakan meja khusus untuk kami melakukan wawancara. Aku diantar oleh pelayan untuk duduk di kursi khusus tersebut. Aku menunggu, 5 menit kemudian, datang seorang laki-laki yang wajahnya sangat kukenal. Ia adalah Dion. Pria yang kuharapkan untuk datang dan kembali padaku. Tuhan, apa rencana-Mu kali ini?.

“Dion?. Ini kamu Dion?”. Aku masih sangat mengingat den mengenal wajahnya. Tapi kali ini, wajahnya hanya sedikit berubah menjadi lebih dewasa.
“Iya Kayla. Ini aku, Dionmu”. Jawab Dion.
Aku masih tak percaya. Tuhan mempertemukan aku dan Dion melalui cara seperti ini. Dalam hati aku sangat bersyukur pada Tuhan. Kini, secuil harapan untuk bersama Dion muncul kembali. Aku memandang Dion lama. Melepas rasa rindu yang kupendam selama ini.
“Ada apa Kay?. Kenapa kamu melihatku seperti itu?”. Agaknya Dion mulai risih dengan tatapanku.
“Tak apa. Aku hanya ingin melepas rasa rinduku terhadapmu”.
“Kau tau Kay, aku juga sangat merindukanmu. Saat aku tau ada seorang wartawati yang akan mewawancaraiku dan aku tau itu kamu, aku langsung menyetujuinya. Aku ingin bertemu denganmu, Kay. Aku sangat merindukanmu”. Ucap Dion.
Aku langsung mengubah topik pembicaraan. Karena tujuanku datang kesini untuk melakukan wawancara bukan untuk membahas masalah pribadiku.

Sudah 2 jam aku melakukan wawancara ini. Kini, wawancaraku telah usai. Dan aku berpamitan pulang pada Dion. Tapi, Dion mengatakan bahwa ia akan mengantarku pulang. Awalnya aku menolak tawaran Dion. Tetapi, Dion terus memaksaku, dan akhirnya aku menyetujui tawaran Dion.

Esoknya, Dion mengajakku untuk makan malam. Kebetulan saat itu sudah jam pulang kerja. Aku menyetujuinya. Ini kesempatanku untuk merajut kembali benang-benang cinta dalam hati Dion untukku.

Sesampainya di restoran, kami langsung menuju meja makan kami yang sebelumnya telah dipesan oleh Dion. Setelah itu, Dion mengawali pembicaraan,
“Kay, apakah kamu masih menintaiku?”. Tanya Dion sambil menatapku tajam.
Ingin sekali aku menjawabnya tapi, aku tak bisa. Aku takut kalau cintaku akan bertepuk sebelah tangan. Aku takut kalau dengan pertanyaan itu, Dion akan memberi jawaban yang akan memusnahkan anganku. Akhirnya, kuputuskan untuk menanyakan hal yang sama pada Dion terlebih dahulu.
“Tapi, apakah kamu masih mencintaiku sampai saat ini?”. Tanyaku pada Dion.
“Ya, Kay. Aku selalu mencintaimu. Bahkan sampai saat ini. Aku tak pernah berhenti mencintaimu. Kau tau, saat di Amerika, aku selalu mengenang masa-masa saat kita bersama dulu. Aku berharap saat aku kembali ke Jakarta, aku akan bisa bertemu kamu dan merajut kembali kisah cinta kita sampai maut yang memisahkan kita”. Jawab Dion yang membuat hatiku berdesir halus.
“Tapi kamu Kay?. Kamu masih mencintaiku?”. Tanya Dion.
“Ya, Dion. Aku tak pernah berhenti mencintai dirimu Dion. Dan aku juga punya harapan sama sepertimu”. Jawabku yakin.
“Sungguh Kay?”. Tanya Dion meyakinkanku.
Aku mengangguk mantap. Tiba-tiba Dion mengeluarkan kotak berwarna merah. Itu adalah kotak cincin. Tuhan terima kasih. Kau telah kabulkan harapan terbesarku.
“Would you marry me and be my wife”. Tanya Dion padaku.
“yes”. Jawabku yakin.

Kini, aku dan Dion telah menikah dan hidup bahagia bersama. Terima kasih Tuhan…

THE END

Cerpen Karangan: Septianissav
Facebook: Septianis Sav

Cerpen Takdir Mempertemukan Kita Melalui Wawancara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Singgah

Oleh:
Selalu sepi. Begitulah yang kurasakan sejak kepergian bunda dua bulan lalu. Rumah ini dingin, tak sehangat dulu. Kubuka jendela kamarku, dan melihat ke arah seberang. Di sana juga terdapat

Status Adik Kakak (Part 1)

Oleh:
“Ku coba untuk melawan hati. Tapi hampa terasa, disini tanpamu. Bagiku semua sangat berarti lagi. Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu. Hingga akhir waktu” ucapku saat menyanyikan sedikit

You And My Umbrella

Oleh:
Tiga Puluh. Tiga puluh menit sudah aku menunggu teman-temanku di gang depan desaku. Rencananya kami mau bolang ke Surabaya. Sebenarnya yang paling berkepentingan dalam perjalanan kami hari ini adalah

Takkan Terganti

Oleh:
Memandangi sosok itu dari jauh. Hanya dialah yang mampu membuatku tersenyum. Hanya dialah yang membuatku jatuh dan menikmati indahnya cinta. Dialah orang yang membuatku selalu semangat. Walaupun sebenarnya, dia

Friend and Boyfriend (Part 3)

Oleh:
Kevin akhirnya mengantar Hani pulang sampai di depan rumahnya. “Maafkan aku, lingkungan di sini memang padat dan jalannya agak sempit. Tapi di sini lumayan bersih kok. Makasi kak sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *