Terjebak Nostalgia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 December 2016

Malam itu, teman lamaku Andre mengundangku di acara ulang tahun adiknya yang berumur 15 tahun. Andre mengundang teman dekatnya termasuk aku dan dia. Ya, aku bertemu dengannya. Entah sudah berapa lama aku tak berjumpa dengannya mungkin sekitar dua tahun lebih.

Dia yang pernah lama kusimpan di hatiku, senyumnya memang masih sama seperti dulu. Tapi entah kenapa senyumannya tak lagi membuat hatiku berdegup kencang seperti dulu. Kali ini perasaanku biasa saja tak ada getaran sama sekali, mungkin aku sudah tk mempunyai rasa seperti dulu. Ah sudah kubilang, perasaanku ini hanya sesaat saja.

“Hai tama, apa kabar? Sudah lama kita tak bertemu. Kau makin tampan saja sekarang.” Kata perempuan itu sambil tersenyum manis menggodaku.
“Ahh kau bisa saja, kau juga makin lebih cantik” ujarku sambil tersenyum memandangnya.

Kali ini pujianmu takkan bikin hatiku meleleh seperti dulu lagi dita. Aku sudah cukup jauh mengagumimu, sekarang rasaku bukan untuk siapa-siapa lagi.

“Kau kemana saja selama ini? Aku sering merindukanmu, rindu saat dulu kita bercanda tawa ditengah malam” katanya sambil menatap mataku. Tuhan, kenapa perempuan ini selalu berkata seperti itu. Apa yang dia katakan itu benar, ah sudahlah tak akan kubawa perasaan kata-katanya itu.
“Kau merindukanku? Kukira kau tak pernah mengingatku lagi, hahaha”. Jawabku sambil tertawa
“Mana mungkin, aku bisa melupakan orang aneh sepertimu. Hmm, gimana kalau malam ini kita bernostalgia masa-masa dulu? Tampaknya seru. Tapi aku mau kita naik motor, mengelilingi jalanan sambil bercerita seperti dulu. Kau mau kan?”
“Ya, baiklah. Tapi kita izin dulu sama orang yang sedang mengadakan acara ulang tahun ini ya.”
“Baiklah, siap kapten. Hehe” Jawabnya sambil meledekku seperti dulu.

Sialan. Bisa-bisanya kau menyuruhku untuk bernostalgia bersamamu. Bagaimana kalau aku terjebak? Bagaimana kalau rasa itu muncul lagi? Aku sudah lelah kalau harus menyimpan rasa padamu lagi.

Aku pun berjalan menuju ke arah Andre untuk mengabarinya, kalau aku akan pergi jalan-jalan sebentar bersama Dita.

“Ndre, aku mau pamit bentar ya? Biasa mau beli rok*k”
“Beli rok*k? Ah jangan bohong. Pasti mau jalan sama Dita, iya kan? Haha ya udah sana.” Jawabnya sambil meledekku.

Waktu dulu, Andre pernah mengatakan padaku kalau sebenarnya Dita itu menyukaiku, tapi aku tak begitu yakin dengan omongannya lagipula kalau dia memang menyukaiku tak mungkin dia pacaran.

“Kau bisa saja, Ndre. Ya sudah aku pamit dulu nantiku bawakan oleh-oleh, puntung rok*k.” Jawabku sambil meledek dan pergi meniggalkannya.

Aku pun menghampiri Dita, perempuan yang pernah kusukai dulu. Kami menuju ke halaman rumah Andre, untuk mengambil motorku. Aku mengendarai motor itu sepanjang jalan, kami pun bernostalgia di sepanjang jalanan. Aku dan Dita juga tertawa-tawa mengingat masa dulu saat kami belum saling kenal, kami berdua juga menyanyikan lagu yang sering kita nyanyikan saat dulu.

Aku berhenti di perempatan jalan dan membakar sebatang rok*k. Aku melihat jam di ponselku dan menunjukkan jam 21:45 WIB.

“Tampaknya kita sudah kelamaan ta, kita pulang ya?”
“Tapi, aku masih belum puas tama”
“Andre gimana? Nanti kita dimarahi kalau lama-lama kaburnya, hehe” kataku sambil bercanda
“Iya deh” jawabnya dengan suara melas

Di perjalanan pulang menuju rumah Andre. Dita tak bersuara sedikit pun, keheningan mulai menyerbui kami berdua. Tak ada sepatah kata pun yang kami ucap, hanya ada suara hembusan angin malam dan suara kendaraan yang mengisi keheningan kami. Aku paling payah untuk memulai kata-kata jika sudah hening begini.

Tiba-tiba tangan Dita melingkar di pinggangku, rasanya hangat. Perasaan itu mulai datang lagi, seketika degup jantung berdegup kencang sekali. Sialan jangan datang lagi kumohon.

“Tama, aku masih rindu. Aku tak mau kehilanganmu lagi, jangan tinggalkan aku sendiri lagi.” Katanya sambil menangis dan memeluk erat badanku.

Dia benamkan wajahnya di belakang pundakku. Pundakku pun terasa basah. Kali ini bukan pelukannya saja yang hangat tapi air matanya juga terasa hangat. Aku tak harus mengatakan apa, memangnya kenapa jika aku pergi? Apa kau membutuhkanku lagi, pikirku. Kau kan sudah ada dia, kenapa harus aku ada untuk meyaksikan kau bemesraaan bersamanya. Jangan egois, pikir dulu perasaanku. Ah sialan, aku hanya bisa berkata-kata di hatiku saja.

Aku pun sontak menghentikan motorku dan menepikan motorku di bawah pepohonan perempatan jalan. Jalanan pun tiba-tiba terasa sepi, mungkin sudah malam. Pelukannya masih mendekap erat di tubuhku, dia belum melepaskannya dan tangisnya juga belum berhenti.

“Dita, apa kamu tau sesuatu?” tanyaku padanya sambil melepaskan pelukannya. Aku turun dari motor ku dan menatapnya. Sepertinya tangisannya itu tulus, seperti tangisan yang merindukan sahabatnya mungkin.
“Tau apa?” jawabnya dengan nafas terengah-engah. Dia masih menunduk tak mau menatapku.
“Tau tentang.. seseorang yang memendam perasaannya padamu sejak lama”

Dia masih diam kebingungan, mungkin dia belum tahu apa-apa. Jelas saja aku kan tak pernah mengungkapkannya. Kenapa aku sangat bodoh sekali.

“Dita, aku tak ingin berlebihan menyikapi perasaanku sendiri. Aku sudah berusaha mengingatkan diriku bahwa mungkin kau hanya bersikap seperti biasanya dan sama sekali tak menaruh hati padaku. Tapi apa kau tau, setiap perasaan yang dipendam pasti tak akan pernah bertahan terlalu lama.”

Dia yang tadinya menunduk lalu menatapku, matanya masih basah. Aku menatapnya dan membalasnya dengan senyuman.

“Maafkan aku, mungkin aku yang egois aku pergi hanya karena terlalu sakit melihatmu dengan orang lain. Aku pergi dengan perasaan dan luka yang tak jelas.”

Aku masih menatapnya tersenyum dan menghapus air mata yang basahi pipinya.

Dia memegang tanganku yang menghapus airmatanya.

“Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku?” Tatapan dan cara bicara terlihat seperti kecewa.

Aku belum sempat berkata apapun dia sudah kembali bicara dan berdiri di hadapanku.

“Apa harus aku duluan yang mengatakannya? mereka yang kau bilang itu hanya pelampiasan rasaku untukmu. Aku selalu mencari orang sepertimu, orang yang selalu bisa bikin aku tersenyum dengan perhatianmu, tawamu dan keluguanmu.

“Tapi aku tak pernah bisa merasakan seperti saat sedang bersamamu. Apa kau tau saat kau mengatakan aku harus bahagia dengannya, aku seperti akan kehilangan dirimu dan memang benar aku kehilangan dirimu sejak itu”

Siapa yang lebih sakit, aku atau dirinya. Siapa yang lebih jauh mengagumi, aku atau dirinya. Siapa yang salah, aku atau dirinya. Perempuan memang selalu benar. Aku harus bahagia atau sedih. Apa aku masih bisa memilikinya, apa dia masih menaruh rasa untukku.

“Masih ada yang ingin kau katakan atau tidak?” Tanyaku meledeknya yang dari tadi memarahi kesalahanku.
“Sudah jangan menangis, aku tak ingin lihat kau menangis. Apa lagi kalau aku yang buat kau menangis nanti aku ikut nangis”

Dia menyembunyikan tawanya padaku. Wajahku mendekati wajahnya dan menatapnya sambil tersenyum.

“Kau memang menyebalkan” katanya sambil tertawa dan menarik rambutku yang klimis.
“Tanganku jadi lengket” dia mengatakan dengan manja.
“Bersihkan saja dengan air matamu itu” jawabku meledeknya agar dia tertawa.

Dia menarik kemejaku mendekatinya, dia menatapku. Aku tau apa maksudnya.

“Baiklah” Kataku melepaskan kemejaku dan membersihkan tangannya dengan menggunakan kemejaku.
“Apa kau masih mencintaiku?” tanyanya padaku yang tengah sibuk membersihkan tangannya.
“Kau masih menanyakan itu? Apa kau tak bisa merasakannya”

Dia terdiam. Bingung mengartikan kataku. Aku menatapnya lama kemudian mencium keningnya.

“Apa kau sudah bisa merasakannya? Atau aku cium lagi biar kau bisa merasakannya hah?” dia tersenyum manis, pipinya terlihat merah dia mengambil kemejaku dari tanganku.
“Menyebalkaaaan!!” Katanya sambil tertawa dan menyempalkan kemejaku ke wajahku.

Kami pun lupa kalau Andre menunggu kami, aku jadi parno dan cepat cepat mengendarai motor untuk ke rumah Andre, bisa gawat kalau acaranya sudah selesai. Dia tertawa melihat tingkahku yang sedang parno itu.

Ah rasa itu benar muncul lagi, rasa yang tak mungkin terwujud tapi sekarang terwujudkan. Rasa yang sudah kuhapus sejak lama dan tak ingin kuingat kini kembali.

Aku benar-benar terjebak, tapi tak apalah pikirku, sekarang kami sudah anak sma yang sebentar lagi akan melanjutkan perguruan tinggi, bukan anak smp seperti dulu lagi. Jadi aku tak perlu mengungkapkannya dengan seikat bunga dan mengatakan “Apakah kau mau menjadi pacarku” seperti khayalanku dulu saat memendam perasaan padanya.

Cerpen Karangan: Alientampan
Blog: coretancoretansampah.blogspot.co.id

Cerpen Terjebak Nostalgia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bungee Jumping

Oleh:
“A-aku takut…” kata Farhan pelan sambil melihat pada teman-temannya yang ada di dalam mobil. Ia menyangka bahwa temannya akan mentertawakannya ketika ia mengakui bahwa ia takut… Tapi teman-temannya malah

Membayar Denda

Oleh:
Siang itu, aku berjalan cemas menuju ruang perpustakaan yang berada di lantai atas sekolahku. Disaat itu juga kupegang erat-erat kartu perpustakaan yang sedang kupegang ini. Kartu dengan pemilik bernama

Pulang

Oleh:
Untuk sebagian besar orang, waktu pulang adalah waktu yang selalu dinantikan. Tapi tidak denganku. Sudah berbulan-bulan yang lalu, aku benci waktu pulang. Waktu pulang membuatku gelisah. Kebenaran tentang rumor

Terimakasih Tuhan

Oleh:
Pagi yang cerah membuat aku bersemangat berangkat ke sekolah. Namaku Alisa Rosemelly, panggil aja sasa. Sekarang aku kelas 7 smp, aku sekolah di SMP MELATI. Aku banyak dikenal semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *