Tetes Cinta Punpun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 May 2018

Bandung, November 2017
“Gawat. Sudah pukul tujuh. Tapi aku masih terjebak macet di perempatan lampu merah dekat sekolah. Sudah tidak ada waktu lagi.” Ucapku panik dalam hati. Berkali-kali aku meilirik jam tanganku dengan raut wajah was-was yang mulai memerah. Akhirnya, kuputuskan untuk turun dari mobil, dan berlari secepat mungkin untuk sampai depan sekolah. Sayangnya, gerbang sudah ditutup.

”Ah, sial. Aku harus lewat mana?” pikirku panik. Saat itu, aku tidak tau harus bagaimana. Ini hari pertamaku di sekolah baru, tapi aku sudah sial. “Ah, benar-benar.” Cetusku dengan nada kesal. Lalu tiba-tiba, seseorang menarik tanganku. Spontan, aku berteriak.
“Ssstt, jangan berisik. Kita sama-sama telat. Kalo lo berdiri terus di tempat barusan, lo bisa ketauan sama pak Amir. Ayo ikut gue.” Seorang pria, tampan. Pikirku dalam hati. Wajahnya sangat asing. Tapi jika dilihat dari seragamnya, dia satu sekolah denganku. Akhirnya, dengan wajah tanpa ekspresi, aku mengikutinya yang menggenggam tanganku sejak tadi. Lalu, sampailah aku di tempat yang terkesan seperti kebun yang dibatasi tembok tinggi.

“Naik.” Ucapnya seraya membungkuk.
“Hah?”
“Udah cepet naik.” Ucapnya sekali lagi sambil membenarkan posisi bungkuknya.
“I-iya..” jawabku terbata.

Segera, aku naik ke atas punggungnya, dan memanjat tembok. Lalu dengan cepat, ia sudah melempar tasnya melewat tembok, dan berhasil memanjat tanpa bantuan apapun. Sedangkan aku, hanya bisa diam terpaku melihat tingkahnya dengan masih duduk di atas tembok karena terlalu takut untuk melompat.

“Udah turun.”
Saat dia berkata seperti itu, aku langsung tersadar dari lamunanku. Melihat betapa tingginya tembok ini yang tidak sebanding dengan tinggi badanku yang kecil, aku coba menggoyang-goyangkan kaki untuk mengukur jarak antara kakiku dengan tanah. Tinggi, benar-benar tinggi. Aku coba membalikkan badanku menghadap tembok, malah sepatuku terjatuh. Dan laki-laki itu, hanya bisa tertawa kecil melihatku yang setengah mati mencari cara agar bisa melompat, lalu pergi meninggalkanku sendirian. Sial. Aku harus bagaimana?
“Aaah, mamiii” ucapku lirih.

Lalu, secara mengejutkan, seseorang mengangkat badanku dan menurunkanku dari tembok tinggi sialan itu. Ternyata, laki-laki itu lagi.
“Makas..” belum selesai aku berterima kasih, lagi-lagi dia meninggalkanku.

DI KELAS
“Perkenalkan, namaku Punpun. Aku dari Jakarta, dan ini pertama kalinya aku datang ke Bandung.”
“Oke cukup Punpun, sekarang kamu duduk di samping Amanda.” Sambil menunjuk seorang gadis berambut panjang dengan senyum manis di bangku nomor tiga dari belakang.

ISTIRAHAT
Saat kelas baru saja usai, bu Siska meminta bantuanku untuk membawa tumpukkan buku anak-anak kelas ke ruangannya. Amanda yang ingin membantu, sudah dipanggil pelatih cheerleadernya untuk latihan di lapangan. Jadilah aku sekarang berjalan dengan hati-hati menuju ruang guru. Karena aku murid baru, aku tidak tau dimana tepatnya ruangan tersebut.
“Kalo bukunya aja udah nutupin muka lo, gimana lo bisa nyari ruangan guru,” ucap suara itu sambil mengambil beberapa tumpukkan buku teratas yang kubawa, lalu berlalu melewatiku.
“Ehh, mau dibawa ke mana?” sambungku bingung yang langsung mengikuti langkahnya berbelok ke ruangan besar yang bertuliskan “Ruang Guru”. Ternyata ruangannya terlewatkan olehku.
“Meja siapa?” Tanyanya yang seraya menatap mataku tajam.
“B-Bu Sis..” belum selesai aku menjawab, ia sudah berjalan meninggalkanku melewati meja-meja guru menuju meja bu Siska. Dengan cepat aku mengikutinya di belakang. Dan setelah ia selesai menaruh buku-buku itu,
“Makas…”
Lagi, lagi, dan lagi, ia langsung pergi meninggalkanku tanpa merespon ucapan terimakasihku.

PULANG SEKOLAH
Bel pertanda pulang sudah berbunyi dari tadi. Dan anak-anak kelas yang lain juga sudah pulang. Katanya, sebentar lagi hujan. Tapi, daripada aku pulang ke rumah dan bertemu kasur yang pastinya membuatku langsung tidur, lebih baik aku belajar sebentar di kelas.

Selesai belajar, papa mengirim pesan yang mengatakan jika sudah di sekitar daerah sekolahku. Jadi, aku langsung buru-buru keluar kelas menuju gerbang, dan berteduh di dekat pos. Tanpa kusangka, aku bertemu lagi dengan laki-laki itu. Ia sedang berdiri dengan tubuhnya bersandar ke tiang. Karena dia berdiri, jadi aku pikir aku harus duduk agar tidak terjadi lagi interaksi di antara kita. Tapi sialnya, dia menghampiriku.

“Bawa jas hujan?” Tanyanya singkat sambil memperhatikanku.
“Enggak,” jawabku risih karena tatapannya.
“Payung?” Tanya nya sekali lagi.
“Enggak,” jawabku lagi.
“Nih ambil.” Sambungnya seraya memberikan payung yang ada di genggamannya ke arahku.
“Gak usah.. Gak perlu repot-re..” ucapku. Tapi, seperti biasa, belum selesai aku bicara, dia hanya meninggalkan payungnya di samping tempatku duduk, lalu pergi menerjang hujan. “Apa-apaan sih dia.” Umpatku kesal.

Tak berselang lama, mobil ayah muncul di depan gerbang sekolah. Aku langsung mengambil payung di samping tempatku duduk, membukanya, dan terkejut terdapat tulisan di balik payung itu, “I Love You, Derry.”
“hahaha…” pekikku dalam hati.

Cerpen Karangan: Kinaryochi W
instagram: kinarych

Cerpen Tetes Cinta Punpun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sejati Ku Telah Kembali

Oleh:
Ini cerpen tentang kehidupan ku mengenai CINTA. Cinta itu.. Bagiku adalah suatu hal yang sangat indah. namun, kita juga harus bersiap untuk merasakan pahitnya juga.. ya seperti hidup, kadang

Melbourne University

Oleh:
Melbourne University merupakan salah satu universitas yang paling ternama di Negeri Kanguru. Aku kurang tahu banyak sih, cuman setauku major yang ditawarkan sangatlah beragam, mulai dari yang berbau bisnis,

Risalah Hati (Part 2)

Oleh:
“Kita begitu berbeda dalam semua hal, kecuali dalam cinta…” Begitu yang ia ucapkan saat aku sedang mengerjakan PR yang Pak Thamrin berikan siang tadi. Ia datang dan mendekatiku

Gadis Putih Abu-Abu

Oleh:
Di taman rumput yang hijau ini kubaringkan tubuhku seraya memandang cerahnya langit biru. Yang seakan menghipnotisku dan membuatku tak kuasa menahan kantuk. Sejuk berada di tempat ini, hingga tak

Cinta SMA

Oleh:
Aku menduduki kursi Sekolah Menengah Atas tepatnya kelas 10 SMA. Kelasku bersebelahan dengan seorang lelaki yang bernama Rehan, karena alasan kelas bersebelahan kami mulai mengenal satu sama lain, kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *