The Seniors Novelist

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 November 2017

Aneh, dia selalu memandangku seperti itu. Layaknya singa lapar yang menemukan mangsa. Dan sedetik selanjutnya, dia akan tertawa seperti sedang menoton stand up comedy.

Nicholas Yovian, Kakak Kelas menyebalkan yang selalu membuatku penasaran. Berawal dari somed, kala itu dia belum mengenalku, padahal aku sudah mengenalnya sejak lama. Tiba tiba dia menulis komentar di status facebook-ku yang berisikan tentang Justin Bieber. Berlanjut hingga sekarang, dia selalu menulis komentar di status yang aku posting, entah tentang apapun.
Sampai dia mengetahui bahwa aku adalah adik kelasnya.

Pertama kali kami bertemu setelah dia mengetahuiku, dia hanya memandangku sinis. Bertemu di koperasi sekolah yang sempit dan penuh dengan manusia, membuatku cepat cepat ingin keluar dan tak sempat mendengar apa yang akan dia katakan. Dia seperti ingin menanyakan apakah aku orang yang sering mengobrol dengannya di sosmed atau bukan?.
Kali kedua bertemu, dia hanya menghadirkan tatapan itu lagi, tapi diakhiri dengan tawanya yang renyah yang sangat khas di telingaku. Tawanya sungguh membuatku ketagihan untuk mendengarnya lagi.
Aku tidak mengerti mengapa dia selalu seperti itu saat bertemu denganku, seolah dia tau jika aku menunggu nunggu tawanya.

“Yara!! mau ikut ke kantin gak?” Teriak Deeva di telingaku yang membuatku hampir melompat dari kursi.
“Ish Deeva ngagetin aja si! Kantin? ya ikutlah Deev, masa Yara gak mau diajak ke kantin. hehe,” jawabku cengengesan, lalu merapikan mejaku yang penuh dengan tumpukan buku.
Aku sebagai anak IPA memang rajin, dan itu sudah menjadi kewajiban bagi semua anak IPA.

Aku, Deeva, dan Yola bergegas menuju kantin langganan untuk sekedar jajan dan mengobrol di sana. Entah mengapa kebiasaanku ini seperti mencirikan bahwa aku adalah anak IPS. Aku dan temanku sering membolos pada jam pelajaran hanya untuk mengisi perut kami atau bahkan hanya untuk melihat-lihat adik kelas yang sedang berolahraga.

Sesampainya di kantin, kami duduk di bangku pojok karena kami tahu, pasti kami akan sangat berisik.
Saat di tengah acara makan dan bercanda, Yola memberi kode kepadaku untuk menoleh ke samping kananku.
Aku pun menuruti isyaratnya. Dan ketika aku mengalihkan pandangan ke arah yang Yola maksud, mataku bertemu dengan matanya, Kak Yovi.

Kak Yovi dan genk-nya duduk di di samping bangku kami.
Dan yang membuatku tidak mengerti, Kak Yovi selalu memandangku. Bahkan ketika teman temannya bercanda, dia hanya melamun menatapku. Entah Aku harus merasa senang atau risih.
Semakin lama, aku merasa tidak enak dengan tatapannya, kami pun segera menyudahi acara kami dan segera kembali ke kelas.

“Deev, La, Kak Yovi ko sering banget natap aku kayak tadi ya? Aku jadi takut deh,” ucapku menyela keheningan saat kami berjalan di koridor.
“Kayaknya Kak Yovi suka sama kamu deh ra,” jawab Yola
“Iya bener ra, tadi kalian denger gak waktu kita mau balik. Ada yang bilang gini “Yovi! Pujaan hati lo Yara udah mau balik tuh!” kalo gak salah kak Raka deh yang ngomong gitu,” jelas Deeva panjang.
Masa sih kak Raka ngomong gitu, tapi aku nggak denger. Apa karena tadi aku yang terlalu sibuk mikirin tatapan Kak Yovi?
Aku tidak menjawab kedua temanku, hanya memikirkan apakah yang dikatakan Deeva benar?

Aku merogoh saku dari baju batik sekolahku, tapi sesuatu yang kucari sepertinya tidak ada. Aku memastikannya dengan merogoh kedua saku bajuku dengan bergantian berharap yang kucari ada di saku yang satunya. Hasilnya nihil! Tak ada!

“Nyari apaan ra?” tanya Yola
Mereka berdua berhenti berjalan begitu menyadari bahwa aku sedang kehilangan sesuatu.
“Buku agenda aku La gak ada!. Kalian lihat gak?” Aku balik bertanya kepada mereka, siapa tahu mereka mengetahui keberadaan bukuku.
“Tadi sih aku lihat di meja kantin Ra, ketinggalan kali,” jawab Deeva.
“Ya udah aku balik ke kantin ya, kalian masuk kelas duluan aja. Dah!” Ucapku seraya berjalan berbalik arah dan menjauhi mereka.

Sesampainya di kantin, aku langsung mencari agenda ku di tempat aku duduk tadi, Tapi tak ada!
Aku mencarinya ke semua meja di kantin ini, tapi tetap tak ada.
Sudah kutanya juga pada Ibu penjaga kantin, dia juga tidak mengetahui.
Bagaimana kalo sampai agendaku diambil orang lain trus dibaca?
Mengingat isi agendaku penuh dengan khayalan bersama Justin bieber, idolaku. Ada juga karya sastra yang aku buat ketika aku galau. Bahkan banyak curahan hatiku tentang orang orang di sekitarku termasuk juga Ka Yovi.

Aku duduk dan menenggelamkan kepalaku frustasi, agenda yang selalu kubawa ke manapun aku pergi sekarang tak ada. Hilang!

“Yara!” Seseorang, tepatnya seorang laki laki memanggilku dengan suara yang lembut. Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arahnya.
“Kak Yovi!!!” Ucapku kaget. Kenapa dia ada disini? kupikir dia sudah kembali kekelasnya karena teman temannya juga sudah pergi. lalu, untuk apa dia masih disini?
“Ke-kenapa kak?” tanyaku gugup saat dia mendekatkan tubuhnya kearahku.

Tubuhnya yang lebih tinggi dariku memaksanya untuk sedikit membungkuk menyetarakan wajahnya dengan wajahku. Apalagi posisiku masih dalam keadaan duduk, dan dia berdiri di sampingku.
Dia semakin mendekatkan wajahnya. sekarang jantungku bekerja diatas normal.
Apa yang akan dia lakukan? mengingat di sini hanya ada kami berdua sekarang.
Dia menatap mataku sedekat ini, ingin rasanya aku berlari sekarang juga. Tapi apa daya, tubuhku bagai semen yang mengering.

“Kamu cari buku ini kan?” tanyanya setelah beberapa lama terdiam. Dia mengacungkan tangan kanannya dan terdapat buku kecil berwarna ungu disana.

Jadi dia cuma mau nanya ini? Astaga! Yovi!!! Nyebelin banget sih! hampir aja aku berpikiran macem macem tadi! Tapi, itu kan agendaku. Kenapa bisa ada sama dia? wah gawat! “I-iya kak. Kenapa buku aku ada di Ka Yovi?” tanyaku sambil mencoba meraih bukuku yang ada ditangannya.

Tapi dia memalingkan tangannya dengan cepat sehingga aku tidak mendapatkannya. Jangan jangan dari tadi dia masih di sini karena lagi baca agendaku? Ish gawat gawat! Akan sangat memalukan kalau dia sudah membaca buku itu, dia pasti akan lebih mudah mengejekku di sosmed nanti. Arrggh!! Semoga dia belum membacanya ya Tuhan. Mau di taruh dimana nih muka kalau sampe kak Yovi tau! Semoga belum dibaca. semoga semoga!!

“mimpi boleh saja tinggi, tapi jangan harap mimpimu yang terlalu tinggi bahkan hampir menjadi mustahil datang kepadamu tanpa berusaha.”

Apa yang dia bicarakan? Apa dia sedang membicarakan mimpiku yang ingin memiliki Justin dan menurutnya itu mustahil? Berarti dia membaca agendaku?? TIDAK!!

“Aku yakin cintamu tak salah. Mungkin kamu hanya jatuh cinta pada orang yang salah. Kamu seharusnya mencintai siapa yang ada untukmu, Aku. Bukan Justin Bieber yang hanya ada dalam mimpi indahmu,” ucapnya yang masih menatap mataku.

Kenapa dia jadi puitis seperti ini? Dan apa aku tidak salah dengar? Dia bilang ‘aku seharusnya mencintai dia?’
Jadi benar apa yang dikatakan Deeva dan Yola, Kak Yovi menyukaiku? Argh! Tapi aku masi belum faham!

“Kadang kadang aku berfikir Tuhan sudah menjodohkan kamu denganku. Ketika kamu tak mau, kamu sudah berani menentang ketentuan-Nya.”

Ya ampun, kak Yovi pake bawa bawa Tuhan lagi. Sumpah! rasanya aku ingin terbang sekarang. Kurasa beribu kupu kupu memenuhi perutku, sungguh ini sangat romantis, puitis banget lagi.

“aku- aku-”
“Hahahahaha,” Dia tertawa.

Apalagi ini? saat aku mau bicara, dia malah tertawa terbahak seperti itu memangnya ada yang lucu? Menyebalkan.
Aku mengerutkan keningku dan menatapnya aneh. Sekali lagi aku semakin tak faham dengannya.

“Gak usah tegang gitu kali. haha. Tadi aku cuma bacain dialog dari novel yang aku buat, so gak usah baper deh, haha,” jawabnya setelah mengerti arti dari ekspresiku tadi.

Astaga! Jadi dia tidak benar benar suka padaku? Sialan! Jika aku tahu dari awal, aku gak akan baper kaya gini. Mentang mentang jago bikin cerita fiksi, sampe dialong pake dipraktekin segala. Cuma bercandaan lagi.

“what? siapa juga yang baper. Ngarep banget aku baper? eh mana sini buku aku!” jawabku bohong. Aku mengambil paksa buku agendaku.
“Jadi Kak Yovi nggak baca isi agendaku?” tanyaku lagi untuk memastikan jika dia benar benar tidak membacanya.
“Enggaklah. Ngapain baca buku privasi orang. Kayak nggak ada kerjaan lain aja,” jawabnya dingin.

Syukurlah!
Aneh banget si! Sebelumnya romantis, sekarang begitu dingin seperti es

“B aja kali jawabnya!” jawabku lebih dingin.
“Tapi jujur, melihatmu sedekat ini membuat jantungku seperti akan meledak, kau- begitu cantik.” ucapnya dengan penuh penekanan. Dia tersenyum, dasar tukang gombal! Aku tidak akan tertipu dengan kata kata puitis dari novelmu lagi kak Yovi Bodoh!
“Gak lucu kak Yovi” ucapku tak kalah dengan penuh penekanan disetiap katanya.
“Memang tidak ada yang lucu, yang ada hanya perasaanku padamu yang kian hari semakin tumbuh merekah layaknya bunga.”
“Udah deh kak Yovi! aku gak akan ketipu lagi sama dialog puitis dari novel kakak! Baru Novelist paling jago di sekolah, udah gaya banget. Gimana kalo paling jago di Indonesia! Awas, aku mau balik!”
Enak saja dia mau mempermainkanku berkali kali. Aku tidak sebodoh yang kau fikir!

Begitu mendengar kataku, kak Yovi sedikit minggir dan memberiku jalan. Baguslah kalo ngerti, lebih baik aku segera pergi sebelum dia membuatku salah faham lagi. Ini memalukan!

“AYARA LATISHA! Aku nggak bercanda! aku beneran suka sama kamu!” Dia berteriak setelah aku baru saja melangkah beberapa langkah.

Ya ampun drama apalagi ini? untung saja di sini sepi. Kalau tidak, habislah riwayatku.
Aku berbalik, “Ka Yovi plis deh, gak usah praktekin dialog di novel kakak ke aku! Aku tau dialognya emang bagus. Tapi ke yang lain kan bisa! Kenapa harus ke aku sih!” aku sedikit membentaknya, dia benar benar membuatku terganggu.
“Kenapa harus kamu? Karena aku menyukaimu Yara! Ini bukan bagian dari dialog di novelku! Aku menyukaimu!” Jawabnya yang tak kalah keras dan penuh penekanan.

Aku mematung mendengarnya, Apa yang dia katakan itu benar? Atau hanya drama saja? Atau bahkan ini semacam dare dari teman temannya?

“Kak Yovi bercanda? Hmm atau ini dare dari temen temen kakak? Ohh iya iya ngerti,” ocehku seperi sudah tahu semuanya, seraya menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
“Yara! Apa ini terlihat seperti candaan? enggak kan! Aku serius! Ini juga bukan Dare dari siapapun! Ini Pure dari hatiku!”

WOW! Sepertinya dia nggak bercanda. Bagaimana ini?
Lebih baik aku balik ke kelas aja lah! daripada salah ngomong nantinya.

Aku pun segera berbalik dan sedikit berlari untuk kembali ke kelas. Aku tahu dia tidak bercanda, bahkan dia sampai berteriak seperti itu. Aku takut nantinya aku akan salah berbicara. Maklumlah, gugup ditambah takut, pasti ngomongnya juga salah salah.

“Yara!!” terdengar beberapa kali dia memanggilku sebelum akhirnya aku sampai di kelasku.

THE END

Cerpen Karangan: Almass Nafis
Facebook: Almass Mallete
Hai! Namaku Almass, saat ini menginjak kelas 2 SMA. Aku sedang Mencoba untuk menjadi pengarang cerita (author) seprofesional mungkin. Silahkan dibaca cerpennya, semoga kalian suka 🙂

Cerpen The Seniors Novelist merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


PR

Oleh:
Kenalin, nama gue Uyiz Dofukizi, 1 minggu sudah gue sekolah di SMP ini, belum banyak yang gue kenal, kecuali temen-temen di kelas gue sendiri, itu pun yang gue kenal

Impian Seorang Gadis Miskin

Oleh:
“Hari ini kita akan membahas tentang impian.” Ucap bu Tya, guru Bahasa Indonesiaku. “Tuliskan apa impian kalian serta beberapa alasan kenapa kalian ingin menjadi seperti itu pada satu lembar

Dolphin’s Drama

Oleh:
“Lumba-lumba, lambang cinta abadi. Saat dua orang bertemu dan ada lumba-lumba maka cinta mereka akan abadi selamanya.” “Sadarlah hidup tidak akan seindah drama.” “Ish Manda, biarkan aku berimajinasi sebentar

Salah Paham

Oleh:
Hari ke dua MOS smp aku datang terlambat tapi untungnya aku tidak dimarahi oleh kakak mosnya. Karena aku tidak tau aku masuk ke kelompok apa aku langsung bergabung dengan

I Know You Jealous To Me

Oleh:
“Matematika itu membosankan, mendingan Sains daripada Matematika yang cuma ngitung sampai pusing” “Apa kau bilang? Asal kamu tahu ya, Sains itu lebih membosankan daripada Matematika. Sains pelajaran baru di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *