The Swan Code

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

Sudah hampir 10 menit berlalu namun aku masih diam membisu di hadapannya. Banyak kata yang ingin kuungkapkan. Beribu pertanyaan siap kulontarkan kepada wanita berkerudung setengah badan itu. Pertanyaan yang jawabannya sudah terpecahkan. Dengan sabar ia menanti suaraku. Sesekali matanya melirik ke arah bibirku, berharap mulut ini akan terbuka. Namun senyum kesabaran masih bertahan di wajah putihnya.

14 tahun yang lalu.
“Des, aku mau ini” pinta gadis mungil itu. Namanya Karuna, gadis kurus bertubuh pendek dan suka sekali memakai baju pria. Sejak SD aku dan Karuna duduk di kelas yang sama. Dan kami berdua selalu duduk dalam satu meja.
“Run.” sapaku. “Baru juga kemarin aku belikan. Masa kamu beli air sabun lagi sih?”
“Yang ini beda Des, ada dua bebek di dalamnya. Kemarinkan cuma satu bebeknya.” protes Karuna. Pandangannya tak lepas dari sepasang patung lilin angsa kecil yang mengapung di atas air sabun berwarna merah muda.
“Udah aku bilang itu angsaaa Karuna Dewi Putriiii. Bukan bebek” jelasku membenarkan.
“Mau bebek mau angsa sama-sama unggas kan. Aku mau ini” paksanya sambil memegangi bungkusan plastik air sabun. aku hanya bisa menghela nafas ketika berdebat dengannya. Kukerutkan dahi tanda tidak setuju. Seketika juga bibir Karuna mengernyit kecewa.
“Kamu kan sudah janji mau beliin apapun yang aku mau. Kalau begitu aku gak mau deh nolongin kamu dari si Negro lagi. Liat nih luka di lutut sama dadaku masih biru. Pegang aja nih, lukanya masih anget.” celoteh Karuna sambil memperlihatkan bekas lukanya kepadaku.

Selintas ingatanku kembali ke waktu 2 hari yang lalu. Ketika aku, Karuna dan kedua teman sekelasku sedang bermain basket di lapangan selepas pulang sekolah. Tiba-tiba saja muncul dua orang remaja berperawakan tinggi, berkulit hitam, dengan wajah menyeringai datang mengambil bola basket yang aku mainkan.
“Balikin bolanya!!” bentak Karuna. Entah seberapa tinggi level keberanian yang ia miliki. Untuk seumuran anak kelas 5 SD, bagiku itu adalah keberanian yang menakjubkan, terlebih lagi ia wanita. Aku dan kedua teman sekelasku langsung menghindar dan bersembunyi di balik tembok lapangan sekolah.
“Kalo lu mau ambil, ambil nih” tantang si Negro sambil melempar bola ke teman satunya. Kulihat karuna berlarian bolak balik ke arah kedua anak lelaki tersebut. Sedangkan si Negro dan temannya asyik menertawai Karuna sambil saling melempar bola. Lelah berlari, dengan wajah kesal ia meninggalkan kedua anak lelaki tersebut. Dengan nafas tertatih ia kembali membawa sapu, memukul teman si Negro yang ada di dekatnya.
“Au!!” rintih anak lelaki itu terjengkal kesakitan “Sialan nih cewek. Gak ada takutnya ya!” si Negro mendekati Karuna hendak mengambil sapunya. Dengan cepat Karuna mengelak, menendang dan memukul kepala si Negro dengan sapu. Namun, ia tetap seorang wanita yang kekuatan pukulannya tidak sekuat anak lelaki. Teman si Negro bangkit dan berhasil merebut sapu dari tangan Karuna, lalu mendorongnya hingga jatuh. Sempat terjadi perkelahian adu tinju antara Karuna dengan kedua anak lelaki blangsak itu. Entah jurus bela diri apa yang dimiliki Karuna, ia bisa menghindar dari setiap serangan.

“Heeiii!! Ngapain kalian!!” teriak pak Ayat, penjaga sekolah. Semuanya menoleh ke arah pak Ayat dan seketika itu juga.
‘bukkk’ bogeman kuat menghantam dada kecil Karuna yang sedang lengah.
“Pengecut lu yah!! Awas kalau sampai ketemu gua lagi di jalan. Mati lu!!” ancam Karuna dengan irama nafas yang sesak. Pak Ayat segera mengejar kedua anak blangsak itu.

Aku dan kedua temanku langsung keluar dari tempat persembunyian dan menolongnya. Aku membantu Karuna berdiri sedangkan Rangga teman sekelasku membersihkan kotoran yang menempel di pakaian Karuna. Dengan tangan gemetar Adi memberikan Karuna minum.
“Sialan!! kalian semuakan cowok! Bukannya ngelawan malah ngumpet.” gusar Karuna. Aku dan kedua temanku hanya bisa tertunduk malu tanpa kata. “Mereka itu cuma berdua, kita berempat. Ngapain takut! Kalau sampai bola punya sekolahan diambil sama tuh preman, lu mau ganti!!” bentaknya dengan nada tinggi. Dan sekali lagi kami hanya bisa diam tertunduk. Aku yang merasa bersalah, sebagai bayarannya membelikan Karuna sebungkus air sabun yang ada seekor patung lilin angsa kecil di dalamnya.
“Maaf ya Run. Sebagai gantinya besok aku akan membelikan apapun yang kamu mau.” bujukku. Senyum Karuna pun langsung merekah. Matanya tak lepas dari patung lilin angsa yang ada di dalam bungkusan plastik itu.

Selepas perpisahan SD, aku dan Karuna tidak pernah bertemu lagi. Kadang sesekali kami bertemu di angkot yang sama, ia menegurku dengan sapaan yang aneh.
“Odette” panggilnya. Awalnya aku tidak percaya itu Karuna. Apa dia sudah tidak mengenaliku lagi? atau dia sudah lupa dengan namaku.
“Iya kamu Deswan. Apa Kabar? Wah kamu sudah dewasa yah, kamu SMA di mana sekarang??” tanyanya. Aku hanya terdiam sejenak melihat perubahan yang ada pada diri Karuna. Bukan gadis tomboy dekil lagi. Kini kerudung putih setengah badan terpasang di tubuhnya. Membuatnya terlihat lebih anggun, elegan dan feminin. ‘cantik’ batinku tersenyum.

“Odette!” tegurnya membuyarkan lamunanku. “Sombongnya ditanyain diem aja”.
“SMA 13.” jawabku singkat. Benar, hari ini moodku sedang tidak bagus. Aku tidak ingin berbicara dengan seorang pun. SMA adalah masa yang menakutkan untukku. Tidak ada kenangan indah di dalamnya, yang ada hanya ejekan dan bully-an. Kepribadianku yang lembut dan tutur kataku yang halus. Ternyata terlihat buruk di depan mereka. Cowo feminin, benc*ng, sampai g*y, itulah julukanku di SMA.

“Deswan, kamu beda banget yah sekarang. Beda sama Odette yang aku kenal” Karuna menatapku tajam. Tersirat kekecewaan di pupil matanya. Tiba-tiba ia berpindah posisi di sampingku. Kulihat gantungan angsa putih bergelayutan di tas selempangnya. Ia pun sadar bahwa aku melirik gantungan angsanya.
“Kenapa? Kamu suka sama gantungan angsaku?”
“Kamu sudah bisa membedakan mana angsa mana bebek sekarang?” ledekku. Namun masih tetap dengan ekspresi dingin.
“Oh.. kamu masih inget yah. Dulu itu aku bilang bebek karna lehernya pendek. Gak salah dong kalau aku bilang itu bebek” belanya. Seperti biasa ia selalu menyangkali kesalahannya.
“Kamu suka banget sama angsa yah?”
“Hmmm bukan suka tapi aku sudah jatuh cinta sama angsa hehehe” cengirnya “Karena binatang ini namanya sama dengan seseorang yang kusukai.” ujarnya sambil tersenyum. Aku yang sedang dalam keadaan bad mood hanya bisa tersenyum. Kulihat senyuman Karuna tidak berubah hanya sedikit lebih manis. Aku tidak menyangka kalau Karuna terlihat sangat feminin sekarang.

“Pak Sopir tolong dong jangan merok*k, saya alergi asap rok*k. Lagian di sini juga ada anak kecil dan ibu hamil. Tolong dimatikan ya pak rok*knya.” tegur Karuna. Supir angkot pun segera mematikan rok*knya dan meminta maaf. ‘benar, satu hal yang tidak berubah dari diri Karuna. Keberaniannya’ bisikku dalam hati.

Tak terasa usiaku memasuki 25 tahun. Hari ini aku akan memenuhi undangan teman SD. Dan seperti biasa hal ini dijadikan ajang untuk reunian. Karena Dress code-nya black tie optional, Kupilih jas hitam dan dasi kupu-kupu. ‘Hahh.. kenapa harus pakai Dress Code segala’ gerutuku dalam hati. Tiba-tiba sesosok bayangan muncul di dalam pikiranku. ‘Apakah dia datang? Mungkin nggak, dia kan nggak pernah datang ke reunian’ bisikku.

Acara pernikahan Rangga digelar dengan sangat mewah dan formal. Sangat dimaklumi karena dia menikah dengan anak dari pengusaha pertambangan minyak yang terkenal. Seorang wanita blesteran Jerman – Amerika dan sedikit campuran sunda. Dengan senyum ramah mereka menyalami para tamu satu persatu.
“Selamat ya Sob. Lu bener-bener kejatuhan durian runtuh” ledek Adi yang disambut tawa olehku dan pasangan pengantin baru itu.
“Trus kalian komunikasinya gimana? Emangnya Bahasa Inggrismu sudah lancar Rang?” godaku.
“Yah.. Istri gue dikit-dikit bisa bahasa Indonesia kok. Gue dikit-dikit bisa bahasa Inggris. Little little I can lah.. ya nggak Beb?”
“Jadi komunikasinya dikit-dikit dong” candaku. Mereka semua pun tertawa.

“Karuna!” teriak Rangga tiba-tiba. Semua mata pun tertuju kepada gadis yang berbalut gaun putih berhias bulu-bulu angsa berwarna biru muda dengan kerudung putih panjang. Dan aku pun tercengang hampir tidak percaya. Wanita yang dipanggil pun dengan langkah elegan mendekati kami.
“Assalammu’alaikum” sapanya, yang langsung dijawab serempak oleh kami berempat.
“Wuaahh Kar. Udah lama gak ketemu cantik banget lu. Gua gak nyangka lu udah berubah drastis” kata Adi terkejut yang tanpa sadar ia terus-terusan membuka mulutnya.
“Hei Kar” tegur Rangga. “Kamu jarang banget ngumpul. Emangnya jadi Jaksa sibuk banget ya?”.
Karuna hanya menjawabnya dengan tersenyum.
“You’re so beautiful. You remember me about Odette, my favorite princess.” ujar Istri Rangga. Aku sedikit terkejut dengan ucapan Istrinya Rangga. ‘odette?’
“Alhamdulillah. Thank you. Youre look beautiful too. Congratulation. Dan barokallahu laka wa baroka ‘alaika ya Rangga” ucapnya lembut.
“Amin” jawab Rangga sambil menutup mulut Adi.
“Wuahhh. Kar lu dah cantik, alim, bener-bener calon istri yang sholehah. Ok fix besok kita menikah” goda Adi bersemangat. Karuna pun hanya tersenyum sambil permisi untuk mengambil makanan.
“Oh Iya silahkan makan. Kamu mau langsung pulang Kar?” tanya Rangga yang sekali lagi dijawab senyuman oleh Karuna. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatiku jika Karuna segera pulang. ‘dia benar-benar wanita impian. Tapi apakah dia menyukaiku? Bukankah waktu itu dia bilang kalau ada pria yang ia sukai?’ bisikku dalam hati.

Karuna mulai memisahkan diri dan mengambil beberapa kue dan buah. Wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari bangku taman yang bisa ia duduki.
“She so beautiful, she looks like a swan. The swan” komentar Istri Rangga.
“Yess yess you right she like dheswan. Dia suka angsa” ujar Rangga dengan logat Bahasa Inggris yang parah.
“angsa?” tanya Istrinya bingung.
“swan.. swan.. angsa.. dheswan” jawab Rangga sambil menirukan seekor Angsa. Semuanya pun tertawa. Terkecuali aku. ‘Tunggu, dia bilang the swan?’ seketika itu juga pikiranku meluncur ke waktu dimana aku dan Karuna pernah bertemu di dalam angkutan umum dengan berbalut seragam putih abu-abu. ‘Odette! aku sudah jatuh cinta dengan angsa. Binatang ini namanya sama dengan orang yang aku sukai’ suara Karuna saat itu terngiang kembali di telingaku.
‘benar! angsa! The swan, Deswan. Mungkinkah Karuna?’ aku pun segera memisahkan diri dari Adi, Rangga dan Istrinya.

Kuhampiri Karuna yang saat itu sedang duduk di bangku taman. Ia pun segera bediri menyambutku.
“Ada apa Odette?” tanyanya bingung. Aku hanya bisa berdiri mematung di hadapannya. Banyak kata yang ingin kuungkapkan. Dan beribu pertanyaan siap kulontarkan.
‘Apa kau menyukaiku? Apa kau memiliki rasa kepadaku? Sejak kapan kau menyukaiku? Apakah sejak SD kau sudah menyukaiku? Apakah rasa itu masih ada sampai saat ini?’ pertanyaan itu terus berada di pikiranku tanpa sanggup kuungkapkan. Tidak terasa sudah 10 menit aku hanya bisa menatapnya tanpa berkata apapun. Dan Karuna mungkin sudah mulai lelah menahan rasa penasarannya.

“Ada Apa Deswan Tri Wibisono? Kamu mau ngomong apa?” tanyanya penasaran. Matanya mengernyit menatapku. Seakan-akan ingin menembus diriku dan mencari jawaban didalamnya.
“Maukah kau menikah denganku?” entah pikiran dari mana tanpa kusuruh mulutku bertanya seperti itu. Tentu saja hal itu membuat Karuna terkejut luar biasa. Ia yang dari tadi menatap mataku tajam segera menundukkan wajahnya.
“Maafkan aku Run. Ii.. ini terlalu medadak. Ma.. maaf aku tidak sadar mengatakannya”
“Kau sudah memecahkan kodenya?” tanyanya membuat diriku tersentak. Aku hanya mengangguk kecil. Entah dari mana ia tahu bahwa aku sudah menemukan jawabannya. Apa selama ini diam-diam ia telah memberikan kode itu kepadaku.
“Kau pria yang lembut dan sopan. Tutur Bahasamu yang halus membuatku terpesona sejak kita masih SD. Dan sampai sekarang kau tidak berubah sama sekali. Tetap seperti dahulu. Menjadi pria yang pemalu.” Terangnya.
“Lalu bagaimana jawabanmu?”
“Pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Datanglah ke rumahku dan utarakan cintamu dengan baik. Karena pria yang baik, menyatakan cintanya dengan cara yang baik”.

Kau memang wanita yang Unik Karuna. Bahkan caramu menyatakan cinta kepadaku terlalu Unik. Lewat sebuah kode kau memberi sandi-sandi yang membentuk serangkain kata, sebuah nama dari binatang yang paling lembut dan setia kepada pasangannya. THE SWAN.

Cerpen Karangan: Krunnisa
Facebook: facebook.com/khoirun.nisa
Saya penulis baru. The swan code adalah cerpen pertama.

Cerpen The Swan Code merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dalam Ingatanku

Oleh:
Ku masuki kelas yang berbau cat ketika ku hirup udara dalam kelas ini. Ku putar mataku dan memperhatikan tembok kelas yang dipenuhi dengan karya tulis dan curahan hati anak-anak

Aku yang Akan Jadi Cerminmu

Oleh:
Aku membuka mataku, namun rasanya berat sekali. Mungkin karena aku masih mengantuk. Iya, tadi malam aku pulang terlalu malam karena Anthony mengajakku ke rumahnya untuk dikenalkan kepada orangtuanya. Aku

Bumerang Emas Penghias Hatiku

Oleh:
Ketika Aku tahu bahwa Dia menghubungiku, entah mengapa Aku merasa batin ini melompat kegirangan. Ya, walaupun hanya melalui seluler yang kini menjadi salah satu teman terbaikku. “Selamat malam, Mita.

Ternyata Dia

Oleh:
Aku berdiri mematung sambil membelalakkan kedua mataku setelah melihat seseorang yang membukakan pintu untukku duduk di kursi roda. Apa aku salah rumah dan salah orang? Mungkin aku sepertinya memang

Kekasih Adikku (Part 2)

Oleh:
Kudengar suara bisik dering ponsel. Kuraih ponsel yang semalam kuletakkan di meja samping tempat tidur. Pada layar ponsel tertera nama Vira. “Halo Vir. Ada apa pagi-pagi gini, elo nelpon

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Swan Code”

  1. ynt says:

    wahh i like it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *