Throwback

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 18 October 2017

Hari ini, tanggal 14 Februari, Valentine. Aku menunggu seseoang di sebuah cafe, bukan pacar, dia adalah mantan kekasihku yang kebetulan sedang cuti tugas. Tepat di meja ini 5 tahun lalu dia menyatakan cinta padaku, dan di meja ini pula 1 tahun lalu kami sepakat untuk mengakhiri hubungan kami, bukan karena orang ketiga ataupun restu orangtua, tapi karena kami sama-sama tidak bisa LDR-an.

15 menit aku menunggu, aku melihat Johan datang, dia masih sama, senyumnya membuatku teringat pertama kali kami bertemu saat masih TK dulu.
Dulu awal aku bertemu dia, saat hari pertama aku masuk TK dia duduk di antara teman-temanku yang lain, saat aku melihatnya dia tersenyum. Tahun-tahun berikutnya masih sama, kami selalu satu sekolah sampai kelas 4 SD, kami memang tidak pernah dekat sebagai teman akrab, tapi saling mengenal dalam waktu lama membuatku sedih juga saat dia pindah ke luar kota. Bertahun-tahun aku tidak pernah mendengar kabar darinya hingga aku kelas 2 SMA, saat itu aku menunggu angkutan di dekat toko buku langgananku, aku melihat seorang cowok yang berdiri tepat di seberangku, “sepertinya aku kenal” kataku dalam hati. Lalu dia menyebrang jalan dan sampai di sampingku. Kami naik angkot yang sama, duduk sebelahan tanpa bicara.

“hey, kamu Sara bukan sih?”. Aku terkejut saat cowok yang dari tadi diam tiba-tiba bicara.
“iya.. hmmmm”. dengan sedikit bingung aku mencoba mengingat dia. “kamu siapa ya? perasaan kenal sih, tapi agak lupa gitu.. heheh”.
“Aku Johan, inget nggak? kita temenan dari TK lhoh sebelum aku ke Palembang”. dia nyengir lega setelah tau dia tidak salah orang.
“ahhh, iya Johan, apa kabar?”. dan bla bla bla. kami ngobrol panjang lebar sampai bertukar nomor Hp.

Beberapa hari setelah kejadian di angkot, Aku tidak terlalu memikirkan Johan karena aku punya pacar saat itu, namanya David. Aku dan david pacaran sudah sekitar 1 tahun, aku sayang dia dan dia juga sayang aku. Kami selalu sama-sama hampir setiap hari, berangkat sama-sama pulang juga bareng. Bahkan di kelas pun kami juga satu bangku (dan, nggak bosen. Sumpah).

sampai satu ketika aku menemukan Sms dari nomor asing di Hp David yang isinya tentang hubungan David dengan si pengirim sms, dia ingin David memutuskan aku agar mereka bisa pacaran tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Tanpa sadar aku menangis sejadi-jadinya di kamar mandi dan disusul oleh teman baikku Ita. Lalu aku mencari David di lapangan futsal sekolah, dan benar dia di sana. Aku memanggilnya lalu memberikan Hpnya. Dia terkejut tapi aku langsung pergi, dia mengejarku, menarik tanganku tapi aku menepiskanya. Rasanya sakit, pacarku yang kukira aku tau segalanya tentang dia, dia yang kuanggap jujur, baik dan setia ternyata sama saja. Sejak saat itu memutuskan untuk putus dengan dia, tanpa mendengarkan alasanya bahkan saat dia datang ke rumah aku tidak pernah mau menemuinya. Belakangan kuketahui yang mengirim sms kepada David waktu itu adalah Bela, teman satu kelasku juga.

Hampir satu bulan aku putus dengan David, aku lebih sering menyendiri, seperti kehilangan selera untuk mencintai siapa-siapa dan seperti takut untuk percaya pada siapapun. Hari itu aku memutuskan untuk nonton, sendirian. Duduk di bangku paling Depan berharap tidak ada yang bermesraan di deretan depan. dan sialnya mereka yang berada di sebelahku terlihat sangat romantis, persis aku dan David dulu. Aku menangis lagi. Aku memutuskan untuk keluar dan duduk di sebuah meja food court.

Tiba-tiba Hpku berbunyi, dan kulihat nama Johan yang muncul. Kutekan tombol reject, aku sedang tidak ingin diganggu.
“Sara, kamu nggak apa-apa”. Suara johan mengagetkanku.
“Kamu datang dari mana, teleponmu baru saja aku reject dan..?”.
“Aku tadi duduk di meja itu, terus liat kamu nangis, ya udah aku samperin aja, hehe”.
“Sebenernya aku lagi pengen sendiri Jo”.
“ohh.. oke oke, aku pindah meja aja kalo gitu, maaf ya”. Dia bangun dari tempat duduknya.
“Jangan Jo, di sini aja nemenin aku, sepertinya aku butuh temen ngobrol”.

Skip skip skip, aku dan Johan jadi sering ngobrol sejak saat itu, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius di hidup kami. Hingga pada suatu hari dia mengajak aku pergi makan siang, tapi karena hujan akhirnya kami pergi malamnya, saat itu dia menyatakan perasaanya kepadaku, dan karena aku juga sudah mulai nyaman sama dia jadi aku menerima dia sebagai pacarku.

Beberapa waktu berlalu, waktunya kami lulus SMA-pun tiba, aku memutuskan untuk masuk ke Fakultas kesehatan di kotaku, Semarang. aku kuliah di Unimus, dan Johan memutuskan untuk menjadi TNI. Selama 2 Tahun kami jalani dengan baik, kami masih bisa mengatur waktu untuk bertemu, hingga tiba saatnya dia harus lebih fokus ke pendidikan dan begitupun dengan aku, ditambah dengan jarak yang memisahkan akhirnya kami memutuskan untuk Putus dengan baik-baik.

Dan tibalah hari ini, setahun setelah putus kami bertemu kembali, aku menangis tanpa alasan yang jelas, aku kangen Johan, belum ada yang bisa menggantikan dia, bahkan hatiku selalu menolak jika ada yang berusaha mendekat.

“Ra, kamu kenapa?”. Johan sudah ada dihadapanku.
“Jo..”. Hanya itu yang mampu aku katakan padanya.
“Apa kabar?”.
“Baik Jo, kamu juga baik kan?”.
“Aku juga baik, makasih ya masih mau dateng ke tempat ini, terlalu banyak kenangan di tempat ini yang nggak bakalan bisa aku lupain”.
“Aku juga Jo”. dan airmataku semakin tidak bisa dibendung, aku menangis lagi, Johan mengusap kepalaku dengan lembut, airmataku membasahi jilbabku. lalu Johan bertanya kepadaku.
“Ra, apa kamu nggak suka ketemu aku? kenapa kamu nangis?”.
“Jo, aku nangis karena aku nggak tau harus gimana, aku terlalu kangen kamu Jo, aku seneng bisa ketemu kamu karena nggak pernah ada yang bisa gantiin kamu”.
“Aku pulang buat kamu, selama satu tahun tanpa kamu setelah 4 tahun kita sama-sama rasanya setiap detik adalah detik-detik yang perlahan membunuhku, setiap saat ingat senyum kamu adalah siksaan yang lebih berat daripada latihan fisikku selama ini terlebih saat aku ingat kamu udah bukan punyaku, aku pulang berharap semua bisa diperbaiki”. Suaranya pelan tapi jelas sekali dia berteriak dalam hati.
“Jo, aku takut kehilangan kamu lagi, aku nggak mau kita kaya setahun kemarin, melewati setiap detik buat nunggu kamu pulang dan nahan kangen yang amat sangat berat itu masih lebih baik daripada aku harus kehilangan arah dan nggak tau harus ngapain setiap harinya. Jo, aku sayang kamu”. Johan memegang tanganku dan bilang kalo dia juga sayang aku.

Kami resmi balikan sejak saat itu, dan ini sudah bulan Desember, Johan pulang hari ini dan dia hari ini akan ke rumahku. Aku dandan secantik mungkin, menunggu dia datang.

Setelah menunggu lama akhirnya dia pulang, setelah ngobrol kesana kemari hampir satu jam, dia mulai bicara serius.
“Ra, maukah kamu selalu sama-sama denganku, menua sama-sama, menyiapkan seragam dinasku setiap pagi, jadi makmum setiap sholatku, ngerokin aku kalo aku lagi sakit, marahin aku kalo aku terlambat pulang, jadi ibu dari anak-anakku nantinya, kita ambil rapot mereka bareng-bareng terus kalo nanti nilainya jelek aku marahin mereka sampai nangis terus kamu balik marahin aku, nanti saat mereka udah dewasa dan menikah kita punya cucu, lalu aku pensiun dan menghabiskan sisa waktu kita sampai akhir nanti, kamu mau Ra?”. Aku hanya bisa diam dan menangis. Dia melamarku dengan sebuah cincin cantik yang langsung kuterima dengan sangat senang hati.

Dan setelah melewati hari-hari yang berat selama ditinggal tugas di Papua, akhirnya kami menikah, dan sekarang kami sedang menunggu kelahiran anak pertama kami. aku jadi ibu rumah tangga dan ikut ke manapun Johan Tugas. aku merelakan pekerjaanku demi semua yang lebih berharga. Cinta.

THE END

Cerpen Karangan: Rissa Alphino
Facebook: Rii Sa

Cerpen Throwback merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta yang Abadi (Part 2)

Oleh:
Belum selesai masalah ini, masalah selanjutnya pun datang tanpa menunggu intruksi dari masalah pertama untuk masuk ke dalam hidupku. Oh Tuhan! Susahnya memiliki hubungan yang dipisahkan jarak ini. Keluhku

My Sweet Dreams

Oleh:
“Siapa dia? Siapa jodohku? Dengan siapa aku akan dinikahkan?” Tak seorangpun di tempat yang ramai ini menjawabnya. “Hai!! Lelaki tua! Aku ingin bertanya, dengan siapa aku akan menikah? Tolong

Bakpao (Part 2)

Oleh:
Dear Boss, Aku mau mengaku, bos. Selama ini di belakangmu, aku memanggilmu “Hulk”. Kalau saja kau tahu panggilanku ini, seharusnya kau juga tahu alasannya kan? Itu karena badanmu yang

Apa Itu Artinya

Oleh:
Sore hari di rumahku, aku Hana penggemar berat Kimbum. Aku siswi kelas X di SMA nusantara. Aku adalah anak tunggal. Sore itu aku lagi asyik dengerin musik K-pop kesukaanku,

Bukan FTV Cinta

Oleh:
“Sas.” Cinta menyikut lengan Saski yang tengah asyik melahap bekalnya. Mulutnya penuh dengan roti isi selai kacang kesukaannya. “kemarin aku lihat si Diana diantar pacarnya pergi ke butik, loh.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *