Unexpected (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 2 June 2019

Arthaf menatap dirinya di cermin. Hari ini ia memutuskan untuk menemui gadisnya. Gadisnya? Bahkan kini Arthaf bertanya-tanya, masih pantaskah ia menganggap gadis itu sebagai gadisnya setelah apa yang ia lakukan pada gadis itu?

Arthaf menghembuskan nafasnya berat. Ini akan menjadi hari yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Ini bukan hanya tentang rasa sakit yang amat perih, atau rasa sesak yang akan menyeruak ke permukaan. Tapi tentang sebuah kejujuran, keikhlasan, dan kehilangan.

Sekalipun gadis itu akan membenci Arthaf seumur hidupnya, ia tidak keberatan. Itu adalah konsekuensi yang harus ia terima dengan lapang dada.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Terlihat seorang lelaki paruh baya memasuki kamar Arthaf dan berjalan menghampirinya.
“Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu, Arthaf?” tanyanya dengan suara parau.
“Aku yakin, Ayah,” jawab Arthaf sambil mengulas senyum. Ayahnya faham betul senyuman itu tidak benar-benar Athaf tunjukan dari lubuk hatinya.
“Nak … kau bisa membatalkannya jika memang kau tidak bisa. Kau punya hak untuk menolak. Kejarlah kebahagiaanmu sendiri. Perjuangkanlah cinta kalian.” ucapan ayahnya semakin menyayat hati Arthaf.
Jika bisa, Arthaf akan menolaknya dengan senang hati. Ia pasti akan memperjuangkan apa yang memang seharusnya.

“Ayah … aku sudah tidak bisa menolak ataupun membatalkannya setelah semua yang terjadi. Kita semua tahu ini memang kesalahan Arshyid. Tapi Ayah, kau juga harus memikirkan perasaannya. Di sisi lain, ada hati yang lebih terluka. Selain Arsyid, hanya aku anak laki-laki dalam keluarga ini. Ucapan kakek memang ada benarnya, Ayah. Mungkin sudah saatnya aku membalas budi pada keluarga ini. Terutama pada Ayah dan ibu,” papar Arthaf menatap ayahnya dalam.
Seketika itu juga cairan bening keluar dari pelupuk mata sang ayah.

Arthaf menepuk bahu ayahnya dan kembali tersenyum. “Jangan sedih, Ayah. Ini semua sudah takdir. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Gadisku adalah sosok yang kuat. Aku yakin ia bisa menerimanya dengan lapang dada.” Arthaf memeluk ayahnya sejenak.
“Arthaf pergi dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumusalam.”

Arthaf menunggu gadisnya di samping gerbang utama. Ia tahu jika hari ini jadwal kuliah gadisnya hanya sampai jam dua belas. Sambil bersender pada mobilnya, Artaf mengumpulkan seluruh keberaniannya dan sesekali menghembuskan nafasnya pelan.

Dari arah gerbang, Arthaf melihat seorang gadis berperawakan mungil berjalan keluar. Berdiri di tepi jalan menunggu angkutan umum. Seketika, senyum Arthaf mengembang. Ia rindu pada gadisnya itu.

Dengan langkah yang tenang, Arthaf berjalan mendekati gadisnya. Pelan, ia menepuk bahu gadis di depannya.
Gadis itu pun menoleh. “A … Arthaf?” ucap sang gadis. Ia benar-benar tak percaya dengan sosok yang berdiri di hadapannya.
“Iya, Kayela. Ini aku, Arthaf.”
Saat gadis yang bernama Kayela itu hendak berucap, Arthaf lebih dulu bersuara.
“Ada yang ingin aku katakan padamu.”
“Apa?”
Arthaf mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. “Tidak di sini. Ayo, ikut aku,” ajaknya. Entah mengapa, dengan mudah Kayela mengangguk. Ia pun mengikuti langkah Arthaf menuju mobilnya.

Di dalam mobil, mereka hanya saling diam. Sebenarnya, Kayela sudah gemas ingin meluapkan semua amarahnya pada Arthaf. Menyudutkan laki-laki itu dengan beribu pertanyaan yang selama ini hanya bisa ia pendam.
Tapi, semua itu ditahannya. Kayela ingin mendengar terlebih dahulu apa yang ingin Arthaf bicarakan padanya.

Mobil Arthaf berhenti di sebuah danau. “Ayo,” ajak Arthaf lembut. Mereka pun turun dari mobil dan berjalan mendekati danau.
Arthaf dan Kayela duduk di sebuah bangku yang menghadap langsung ke danau. Keheningan pun menyelimuti keduanya. Kayela sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Arthaf sibuk memikirkan cara yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Kayela agar gadis itu mengerti.

Hingga akhirnya, suara Kayela memecah keheningan diantara mereka.
“Kenapa kamu pergi?” tanya Kayela memandang Arthaf datar.
“Kenapa kamu kembali?” tanyanya lagi. Pertanyaan itu semakin memojokkan Arthaf ke sudut tersempit yang menyesakkan dada.
Harusnya, ia bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudah. Tapi, bukan jawaban yang menjadi masalahnya. Melainkan memberikan penjelasan kepada gadis di depannya itulah yang sulit.

“Kenapa kau diam? Apa begitu sulit pertanyaan yang kulontarkan?” Kini, Kayela menatap Arthaf dalam. Membuat Arthaf semakin merasa bersalah.
“Maaf.” hanya kata pendek itu yang mampu Arthaf ucapkan.
Kayela memalingkan pandangannya ke arah lain. “Jangan meminta maaf. Kau tak salah, Arthaf. Datang dan pergi itu adalah hakmu. Lagipula aku tak berhak memaksamu untuk tetap berada di sampingku.”
“Tolong, jangan berkata seperti itu.” Kayela mengalihkan pandangannya kembali menatap Arthaf. Pria yang setelah sekian lama pergi dan menghilang tanpa kabar itu, kini kembali begitu saja ke hadapan Kayela dengan wajah yang begitu tenang. Seakan apa yang terjadi bukanlah sebuah masalah besar dan serius.

“Kayla, aku bahagia pernah mengenalmu.” Arthaf berusaha tersenyum. Padahal, jika Arthaf boleh jujur, dalam ketidakmampuannya kini ia tidak ingin pura-pura tersenyum di hadapan Kayela. Itu sangat menyakitkan.
“Kenapa? Apa kau akan pergi lagi? Pergilah Arthaf dan jangan kembali,” ujar Kayela lirih.

Arthaf menghembuskan nafasnya pelan. Di tatapnya lekat gadis di hadapannya. Ia tahu saat ini Kayela benar-benar berada di titik paling rapuh. Bahkan, saat ini Arthaf lebih rapuh dari Kayela. Hanya dengan sentuhan pelan pun, hatinya bisa hancur seketika.
Ingin rasanya ia mengengkuh Kayela. Mendekapnya erat ke dalam pelukannya. Tapi tidak. Itu hanya akan membuat Arthaf semakin sulit untuk melepaskan Kayela dari hidupnya.

Dengan lembut, ia memegang kedua pipi Kayela. “Terimakasih atas waktu yang sangat berharga. Atas rasa yang begitu tulus mencinta. Terimakasih telah mengukir cinta yang amat berharga. Aku tidak akan melupakannya,” ucap Arthaf berat. Rasanya ia begitu sulit mengatakan kata-kata itu.
“Arthaf …”
“Jangan menangis, kumohon.” Dengan sekuat tenaga, Kayela menahan air matanya agar tak jatuh.

Arthaf mengeluarkan sebuah undangan dari saku jaketnya.
“Aku harap kau mau datang.”

Kayela tertegun. Ia menatap mata Arthaf sesaat. Mencoba mencari kejelasan di sana. Berharap undangan itu bukan alasan kepergian Arthaf selama hampir 6 bulan terakhir. Berharap nama yang tertera dalam undangan tersebut bukanlah nama Arthaf.
Pelan, ia mengambil undangan tersebut dari tangan Arthaf. Air matanya pun menetes. Kayela memejamkan matanya sesaat, mencoba meyakinkan hatinya jika ia salah melihat. Tapi, nama yang tertera dalam undangan itu tetap sama.
Perasaannya hancur. Bahkan, untuk sekedar menarik nafas pun Kayela tak berdaya. Rasa sesak langsung menyeruak memenuhi rongga paru-parunya. Hatinya berdenyut nyeri.

Dengan sekuat tenaga, Kayela menatap Arthaf dalam. “Aku akan datang,” ucapnya pelan lalu berbalik dan melangkah menjauh meninggalkan Arthaf dan semua kenangan yang pernah mereka ciptakan. Membawa pergi cinta yang kini sudah tak utuh lagi.

Hari ini adalah hari pernikahan Arthaf dengan gadis yang Kayela tahu bernama Kinara. Gadis yang pada akhirnya menjadi pilihan Arthaf untuk bersanding di pelaminan.
Kayela menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. Rasa sesak itu sudah tidak sehebat satu minggu yang lalu. Tapi, nyeri di hatinya sama sekali tidak berkurang. Bahkan, mungkin beberapa menit yang akan datang rasa nyerinya akan semakin bertambah.

“Kenapa begitu sulit mengikhlaskanmu yang beberapa saat lagi akan menjadi milik orang lain?” gumam Kayela pelan.
“Ya Allah kuatkan hamba,” lanjutnya.

Kayela melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya. 10 menit lagi akad akan segera dimulai. Kayela bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari tempat akad. Bagaimanapun juga, Kayela masih belum siap menerima kenyataan menyakitkan itu.

Ia duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon beringin. Kayela memilih untuk tidak menyaksikan akad nikah itu. Setidaknya, ia sudah menepati janjinya untuk datang. Lagipula, Arthaf tidak mengatakan jika Kayela harus menyaksikan akadnya, bukan?

Kayela memejamkan matanya perlahan. Sekuat apapun ia mencoba untuk meyakinkan dirinya baik-baik saja, tetap ia tak bisa mengelabui hatinya sendiri. Nggak ada wanita yang rela jika orang yang disayanginya bersanding dengan wanita lain. Nggak ada wanita yang kuat melihat orang yang amat dicintainya melangah bersama wanita lain.

Perlahan, Kayela membuka matanya dan menatap kosong pandangan di depannya.
“Arthaf, ini memang sangat menyakitkan. Tapi, aku akan selalu mendo’akan yang terbaik untukmu dan pasangan hidupmu. Semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia. Do’akan aku juga agar setelah ini, aku bisa lebih kuat dan tidak berlarut-larut meratapi kesedihan. Do’akan agar aku mendapatkan seseorang yang menyayangku dengan tulus. Tidak. Aku tidak ingin memintamu mendo’akan agar aku mendapat yang lebih baik darimu. Karena apa? Yang lebih baik sudah lebih dulu pergi. Aku berharap badai ini cepat berlalu,” ujarnya lirih. Tidak ada lagi air mata yang mengalir dari sudut matanya seperti hari-hati sebelumnya.

“Ekhem.” deheman seseorang menyadarkan Kayela dari lamunannya. Ia hafal suara itu. Tapi? Tidak mungkin. Suara tidak mungkin Arthaf.
Dengan ragu, Kayela menoleh dan kaget melihat Arthaf yang berdiri di sampingnya.
Bukankah seharusnya Arthaf saat ini sedang melangsungkan akad nikah? Lalu untuk apa dia di sini? pikirnya.
Pikiran itu sontak teralihkan kala mata lentiknya terpesona melihat penampilan Arthaf. Ia begitu tampan dengan jas hitam yang melekat di tubuhnya. Begitu pas, seakan jas itu sengaja di pesan khusus hanya untuk dirinya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana bahannya. Hal itu menambah ketampanan tersendiri untuk seorang Arthaf Rahardian.

“Arthaf?”
Laki-laki itu tetap dalam posisinya. Ia menatap Kayela dengan tatapan yang sulit diartikan.

Cerpen Karangan: Rany Chairunnissa
Blog / Facebook: Rany Chairunnissa II
Rany Chairunnissa, penulis kelahiran cirebon yang mulai menulis sejak SMP untuk dinikmati sendiri. Penulis biasa yang sekedar hobi menuangkan ide-idenya lewat tulisan sederhana. Suka menulis cerpen, cerbung, puisi, novel, dan apapun yang ada di otaknya. Tahun 2015, ia mulai mempostingnya di sebuah group facebook dan mendapatkan respond yang poitif. Di tahun 2016 mulai bergabung dengan Wattpad dan hiatus selama satu tahun. Tahun 2017 kembali mengaktifkan wattpad dan bergabung dalam Novel Nusantara.

Cerpen Unexpected (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia di Balik Sang Mantan

Oleh:
Daku terbangun dari tidur, menatap indah langit fajar menandakan syukur daku pada sang pencipta lantaran masih memberi daku nafas dengan sejuta kenikmatan, daku pasang kacamata hitam nan tebal diselingi

Tatapan Lima Detik

Oleh:
“Viola Agrenata, aku mencintaimu lebih dari yang kau bayangkan. Menyayangimu sampai ke titik maksimal yang aku punya. Ingin selalu bersamamu sampai akhir hidupku. Berjanji untuk selalu berusaha melindungimu. Aku

Love? Just Be Patient (Part 1)

Oleh:
Sinar telah beranjak turun, bayangnya telah memanjang ke timur, kulihat sudah pukul 16.30 WIB. Baru pulang aku dari kampus karena jadwal kuliah dan kegiatan esktrakulikuler yang padat. Saat ini,

Kembali

Oleh:
Setiap kali Fuji melewati perempatan jalan itu, selalu ada bayangan seorang gadis disana. Gadis yang membuatnya jatuh cinta, gadis yang membuatnya mengacuhkan gadis-gadis cantik lain. Dan gadis itu pula

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *