Unexpected (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 2 June 2019

“Kenapa kau ada di sini? Jangan bilang jika kau—” Kayela tidak melanjutkan kalimatnya. Ia takut jika intuisinya salah.
“Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Kayela. Aku bukan orang yang tidak bertanggungjawab,” ucapnya.
“A … apa maksudmu, Arthaf?”
Arthaf tersenyum simpul. “Ketika kamu berfikir bahwa kebahagianmu telah pergi serta mengikhlaskan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu. Bagian yang kau anggap adalah tulang rusukmu, demi sesuatu yang juga sama berharganya. Yang telah telah memberikanmu kehidupan dan kasih sayang. Pada akhirnya, kamu akan tahu, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya tidak pernah pergi. Tuhan akan mengembalikannya dengan cara yang kamu sendiri nggak pernah duga. Karena tuhan tahu, siapa yang terbaik untuk siapa.”
“Apa maksudmu Arthaf? Aku tidak mengerti.”

Arthaf menghembuskan nafasnya pelan lalu duduk di samping Kayela. Menatap serius objek di depannya.
“Aku ke sini ingin meminta restumu,” ujarnya dengan wajah yang ceria.

Cahaya di mata Kayela meredup seketika. Ia pikir kedatangan Arthaf akan merubah keadaan kembali seperti semula. Nyatanya? Sepercik harapan yang sempat timbul dalam hati Kayela harus sirna seketika. Ia sadar, hal itu tidak mungkin terjadi.

“Aku sudah merestuimu, Arthaf. Apakah kehadiranku hari ini, tidak cukup untuk membuatmu mengerti?”
Arthaf kembali tersenyum. “Terimakasih. Aku tahu kau perempuan yang berhati baik.”

Kenapa kau terus mengumbar senyum itu padaku, Arthaf? Tidakkah kau mengerti perih yang kurasa saat ini? Tidakkah kau merasakan hal yang sama? Tolong. Setidaknya, berhentilah untuk tersenyum di hadapanku sekarang, ujarnya lirih dalam hati.

“Sama-sama.” dengan ragu, Kayela membalas senyuman Arthaf.
Laki-laki di hadapan Kayela memiringkan kepalanya sambil mengelus lembut pipi Kayela.
“Kau sudah merestuiku, kan? Kenapa kau malah murung? Tersenyumlah, Kay. Apa kau tidak bahagia?”
Dengan sekuat tenaga, Kayela mencoba menguatkan hatinya. Ia pun mecoba tersenyum semanis mungkin. Tapi, meskipun begitu, Arthaf sekalipun dengan mudah mengetahui kesedihan yang mendalam dari sorot mata gadisnya. Ia sangat paham dengan apa yang Kayela rasakan saat ini.

Arthaf bangkit dari posisinya dan jongkok di hadapan Kayela. Di raihnya kedua tangan kayela. Ditatapnya lekat gadis itu.
“Aku akan menikah. Tapi, aku tidak bisa melakukannya jika kau bersikap seperti ini, Kayla. Apa kau benar-benar tidak bahagia?”
‘Arthaf … tidak ada wanita yang bahagia melihat kekasihnya bersanding dengan wanita lain. Apa kau bodoh? Kenapa kau begitu menyebalkan sekarang?!’ geram Kayela dalam hati.

“Aku bahagia. Aku tidak mungkin datang jika aku tidak bahagia. Percayalah, Arthaf, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga,” ucap Kayela bohong dan terdengan klise.
“Jadi, maukah kau menikah denganku?” tanya Arthaf serius. Kayela tertegun. Apa arthaf sudah gila? batinnya.
“A—apa? Apa yang kau fikirkan sebenarnya, Arthaf? Kau tidak bisa melakukan hal ini.”
“Kenapa tidak, Kay? Kita saling mencintai. Kau juga tahu itu, kan?”

Kayela mengalihkan pandangannya.
“Sudahlah, Arhaf. Berhenti mengatakan hal yang seharusnya tidak lagi dibahas. Kisah kita sudah berakhir. Sebentar lagi kau akan menjadi milik wanita lain. Pergilah. Jangan membuat mempelai calon wanitamu menunggu.” Dengan sekuat tenaga, Kayela mengatakan hal yang amat menusuk hatinya itu.
“Bagaimana bisa aku pergi jika calon mempelai wanitaku ada di hadapanku?”

Kayela kembali mengalihkan pandangannya menatap Arthaf.
“Arthaf.”
“Aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali kau, Kayla.”

Kayla mencoba mencari kesungguhan di mata Arthaf. Dan, tatapan tajam Arthaf menjawab segalanya.
“Bagaimana dengan Kinara?” tanya Kayela ragu.
“Dia sudah bahagia dengan laki-laki yang memang seharusnya menjadi pendampingnya. Bukan aku, Kay.”
“Arthaf, aku benar-benar tidak mengerti.”
Arthaf kembali mengulas senyum. “Mungkin, ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya padamu.” Kayela mengerutkan keningnya seakan meminta jawaban.

Arthaf menghembuskan nafasnya pelan. “Aku bukanlah anak kandung keluarga Rahardian. Aku diadopsi ketika aku masih bayi. Mereka mengadopsiku karena saat itu, bayi yang baru saja dilahirkan oleh nyonya Merlin, dicuri oleh seseorang yang menurut ayah, ada hubungannya dengan masalalunya. Itu adalah anak pertama mereka. Dan aku, tepat saat aku dilahirkan, ibuku meninggalkanku begitu saja di Rumah Sakit. Mungkin, karena itu pula akhirnya mereka mengadopsiku. Terkejut?”
“Sedikit.”

“Ayah dan ibuku, maksudku ayah dan ibu angkatku, menyayangiku seperti anak kandungnya sendiri. Aku bahagia dipertemukan dengan orangtua hebat seperti mereka. Hingga 10 tahun kemudian, anak kandung mereka kembali ke dalam pelukan mereka. Tapi, kasih sayang mereka terhadapku sama sekali tidak berkurang. Mereka menyayngiku sama seperti menyayangi anak kandung mereka sendiri. Aku dan Arsyid, kami tumbuh menjadi anak yang berbakti pada orangtua,” papar Arthaf. Kayela masih diam menyimak.
“Hingga suatu hari, Arsyid menghilang entah kemana. Padahal, pernikahannya dengan Kinara tinggal 7 bulan lagi. Kami sudah mencarinya ke seluruh penjuru. Tapi, Arsyid bagai hilang ditelan bumi. Ia seakan tak ada di manapun. Saat itulah, Kakek mengatakan padaku untuk menggantikan posisi Arsyid. Persiapan pernikahan sudah dilakukan. Semua orang pun sudah mengetahui kabar pernikahan Arsyid dan Kinara. Akan ada banyak perpecahan yang terjadi jika pernikahan itu tidak dilaksanakan.”

Arthaf kembali menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan.
“Awalnya aku sendiri menolak hal itu. Aku punya kehidupan dan masa depan sendiri. Tapi kemudian, kakek mengatakan padaku bahwa mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk membalas budi pada ayah dan ibu angkatku. Sejenak aku terdiam dan berfikir. Ya, perkataan kakek memang ada benarnya. Untuk itulah aku menyetujuinya meskipun sangat berat. Dan itu juga yang menjadi alasan selama 6 bulan menghilang,” lanjutnya. Seketika sinar di mata Arthaf meredup.

“Aku … hanya tidak tahu bagaimana mengatakan semuanya padamu. Aku tidak ingin sedikitpun menyakiti perasaanmu. Karena kau pasti akan sangat kecewa dan membenciku.”

Refleks, Kayela menyentuh kedua pipi Arthaf dan tersenyum.
“Apa yang kau lakukan itu tidak salah. Tapi, caramu yang menghilang dariku tanpa alasan, itulah yang salah. Meskipun kedua hal tersebut sama-sama menyakitiku, setidaknya jika kau mengatakannya padaku, rasa sakitnya tidak sesakit ini, Arthaf. Mungkin, aku akan sedikit lebih mengerti meskipun sulit.”
“Maafkan aku,” ucap Arthaf serak menatap gadisnya. Kayela kembali mengulas senyum.
“Boleh kulanjutkan?” Kayela mengangguk.

“Dan pada akhirnya, aku memutuskan untuk menemuimu hari itu. Aku pasrah. Bagaimanapun juga kau harus tahu. Aku tahu, aku telah menghancurkan perasaanmu mulai hati itu. Tapi sungguh, hatiku lebih hancur.”
Perasaan sesak tiba-tiba kembali memenuhi rongga dada Kayela. Ia kembali diingatkan dengan peristiwa perih itu.

“Tapi, kemarin malam, Arsyid datang dan menjelaskan semuanya. Alasan kenapa dia pergi dan menghilang. Kau tahu? Malam itu rasanya aku ingin segera menemuimu. Mengatakan segalanya. Memberitahumu bertapa bahagianya aku. Tapi, ayah menahanku. Ia menyuruhku untuk sabar menunggu hingga besok. Ayah yakin kau akan datang dan itu adalah waktu paling tepat untuk mengatakan yang sebenarnya.”

“Bagaimana jika aku tidak datang?”

Arthaf meraih kedua pegelangan tangan Kayela dan menggenggamnya erat.
“Hal itu tidak akan terjadi. Aku tahu kau wanita yang kuat. Sesakit apapun hatimu, kau tidak akan menunjukannya. Kau lebih senang menyembunyikannya di balik wajah tegarmu. Kau tidak pernah berubah Kayela.”
Kayela tersenyum. Perkataan Arthaf memang benar. Tapi, sekuat apapun dirinya, Kayela tetaplah wanita rapuh.

“Jadi, maukah kau menikah denganku?” tanya Arthaf penuh harap.
“Apa aku punya pilihan lain?”
“Tidak.”
Kayela tersenyum. Arthaf mengeluarkan kotak berbentuk hati warna merah dari saku celananya.
Ia membuka kotak itu dan mengambil isinya. Arthaf memasangkan cincin itu di jari manis Kayla. Sesaat ia tersenyum pada Kayela yang sedang menatapnya. Rona bahagia tercetak begitu jelas dari wajah Kayela.

“Kita akan menikah 1 bulan lagi,” ungkap Arthaf enteng.
“Apa? Aku masih belum lulus kuliah!”
“Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun, Kayla. Dengar, itu bukan alasan yang tepat. Kau masih bisa kuliah setelah menikah.”
“Dasar pemaksa!”
Arthaf terkekeh geli. Ia mencubit hidung Kayela gemas.

“Tapi cinta, kan?”
“Arthafffff!!!!”
“Aku hanya membantu agar hidungmu lebih mancung, Kay. Apa aku salah?” ujar Arthaf dengan wajah polosnya.
“Selalu saja memabahas hal itu.” Kayrela bangun dari posisinya diiringi Arthaf yang juga ikut bangun.
Tanpa mengatakan apapun, Kayela berjalan menjauhi Arthaf.

“Kau mau kemana?”
Kayela menoleh. “Tentu saja mau mengucapkan selamat pada Arsyid dan Kinara. Kau fikir apalagi?”
Arsyid langsung berjalan menghampirinya. “Kau tidak akan kuizinkan menemui mereka jika kau tidak berpasangan denganku.”
“Haruskah?”
“Aku fikir itu hanya sebuah retorika yang tidak membutuhkan jawaban, Kayela.”
“Baiklah.” Kayla mengaitkan lengannya pada lengan Arthaf. Laki-laki itu tersenyum puas.

“Tetaplah di dekatku. Ok?” bisiknya.
“Seperti yang kau minta, calon suamiku.” Arthaf semakin melebarkan senyumnya menatap Kayela. Mereka pun melangkah bersama menuju resepsi akad. Hari ini adalah hari yang membahagiakan. Baik Arthaf ataupun Kayela, keduanya tidak bisa mendeskripsikan kebahagiaannya hanya dengan kata-kata.
Badai telah berlalu, ujar Kayela dalam hati.

THE END

“Ketika kamu berfikir bahwa kebahagianmu telah pergi serta mengikhlaskan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu. Bagian yang kau anggap adalah tulang rusukmu, demi sesuatu yang juga sama berharganya. Yang telah telah memberikanmu kehidupan dan kasih sayang. Pada akhirnya, kamu akan tahu, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya tidak pernah pergi. Tuhan akan mengembalikannya dengan cara yang kamu sendiri nggak pernah duga. Karna tuhan tahu, siapa yang terbaik untuk siapa.”

— Arthaf Rahardian —

Cerpen Karangan: Rany Chairunnissa
Blog / Facebook: Rany Chairunnissa II
Rany Chairunnissa, penulis kelahiran cirebon yang mulai menulis sejak SMP untuk dinikmati sendiri. Penulis biasa yang sekedar hobi menuangkan ide-idenya lewat tulisan sederhana. Suka menulis cerpen, cerbung, puisi, novel, dan apapun yang ada di otaknya. Tahun 2015, ia mulai mempostingnya di sebuah group facebook dan mendapatkan respond yang poitif. Di tahun 2016 mulai bergabung dengan Wattpad dan hiatus selama satu tahun. Tahun 2017 kembali mengaktifkan wattpad dan bergabung dalam Novel Nusantara.

Cerpen Unexpected (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Langit Bumi

Oleh:
Hari ini tampak cerah. Deburan ombak yang terdengar gemuruh di tambah kicauan burung-burung yang seperti sedang bernyanyi. Suara bel sepeda pun terdengar dari luar. Riani segera membuka pintu dan

18 Days (Part 2)

Oleh:
Masih mencengkeram tanganku dia bertanya, “Dari mana kamu? Kenapa hp-nya nggak aktif?” Cengkeramannya semakin kuat sedikit sakit. “Aku dari taman bacaan, nggak aktif? perasaan aktif kok,” jawabku dengan suara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Unexpected (Part 2)”

  1. Nurul Azizah says:

    aku suka
    good cerpennya

    semoga kisah cinta aku happy anding kaa arthaf dan kaela hehe

Leave a Reply to Nurul Azizah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *