Vampir KW 2 Falling In Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 12 November 2015

Sekali lagi ia tersenyum tanpa sebab. Sudah hampir satu jam ia di tempat ini. Duduk di bangku kantin paling pojok bersama segelas jus alpukat yang tinggal dua tegukkan lagi. Radian namanya. Seorang pemuda berseragam putih abu-abu yang tengah dilanda cinta, entah cinta apa. Mungkin cinta monyet, atau barangkali cinta pengirim air mata dan kenangan.
“Hei, sob!” sentak Feza, sahabatnya. Membuat ia tersadar dari lamunannya tentang seorang gadis, lalu cepat-cepat diteguknya jus alpukat itu hingga habis.
“Kenapa nggak-ngajak aku kalau tadi kamu mau ke kantin? Guru biologinya ngeselin banget!” cerocos Feza sambil duduk di sampingnya. Rendra hanya tersenyum, lalu tertawa renyah. sambil mengusap-ngusap rambutnya yang rada panjang di bagian depan.

“Sorry friend, tadi pikiranku lagi absurd banget.” ucap Rendra sambil masih mengusap-ngusap rambutnya ke belakang.
“Aku juga kali, tapi bentar deh! Pasti absurd gara-gara mikirin si doi ya? Udah jujur aja bro, hehe…” Feza melambai, memanggil pelayan kantin masih dengan tawa kecilnya. Rendra hanya acuh tak acuh, ia lebih memilih mengusap-ngusap rambutnya ke belakang dari pada menanggapi ocehan sahabatnya.
“By the way, si doi itu siapa sih? Sekolah mana? Tajir nggak, pasti cantik banget ya? Atau jangan-jangan dia udah punya pacar! Kasih tahu dong bro, penasaran nih.”
“Em, tolong jus alpukatnya sekalian ya.” ujar Radian.

“Jawab dulu dong, penasaran nih. Nggak nyangka Radian Wijaya yang super dingin sama cewek plus anteng banget bisa falling in love juga, hehe…”
“Iya nanti.” seperti biasa, Radian hanya santai dan dingin. Tapi sifatnya itu justru membuat para gadis berpenampilan feminim di SMA ini tergila-gila padanya. Tapi ia tetap saja dingin walau ada salah satu fansnya yang mirip dengan Jessica Mila Agnesia. Sayang banget kan.

Dengan malas ia tutup lagi pintu lockernya. Seperti biasa, yang terlihat di dalam ruang kecil itu hanya lembaran-lembaran amplop dengan berbagai warna dan aroma. Semua surat itu adalah curahan hati para fansnya. Mereka yang mengaguminya, bisa dengan mudah memasukkan surat lewat lubang ventilasi yang berbentuk persegi panjang. Sekarang mungkin sudah ratusan surat yang dicampakkan olehnya.

“Hai, vampir keren!” ujar Saina.
“Jadi belum nemu panggilan yang biasa-biasa saja?” sahut Radian santai sambil mengusap rambutnya ke belakang.
“Bisa jadi!” gadis itu menjawab singkat sambil tersenyum. “Cie.. yang dapet surat cinta. Gimana, gimana, ada yang kamu kasih feedback nggak?”
“Nanti malam ada free time nggak kamu?” tanya Radian dengan tatapan dalam dan tajam.
“Mengalihkan pembicaraan.” gadis itu memanyunkan bibir mungilnya lalu dengan malas melanjutkan. “Ada kok, emang kenapa?” Saina balik bertanya.
“Mau nggak dinner sama aku?”
“Di mana?” sebuah senyum perlahan merkah, menambah pesona manisnya.

Cantik. Ya, Saina memang cantik. Gadis keturunan Korea yang mempunyai mata bulat dan indah. Rambutnya sebahu, terawat, dan sedikit bergelombang di ujungnya. Wajahnya oval oriental, dan bibirnya yang mungil itu mampu membuat para laki-laki enggan berkedip saat tertarik ke atas, menciptakan sebersit senyuman manis.
“Rahasia, jam setengah delapan aku jemput kamu, gimana?” seperti biasa, Radian hanya datar. Tadi ia sempat membalas senyuman Saina, tapi cepat-cepat ia hapus.
“Oke!” ucap Saina sambil mengusap-ngusap -lebih tepatnya memberantakan- rambutnya Radian, kemudian berlalu dengan langkah riang yang anggun. Radian hanya diam dan tersenyum saat melihat gadis itu semakin jauh melangkah, meninggalkan dirinya yang memaku penuh kebisuan dengan perasaan aneh dan detak jantung yang tiba-tiba tak terkendali. ‘Em, mungkin saja ini cinta’ batinnya seraya berlalu dengan langkah ringan.

Sehabis salat Isya’, Radian langsung bersiap-siap. Merapikan dirinya di depan kaca. Ia mengenakan baju hitam polos berlengan panjang, dan sebuah jins hitam semi ketat. Semuanya serba hitam. Ya, dia memang suka sekali warna hitam. Bahkan warna kulit dan bajunya yang kontras pun, tak dihiraukannya. Sehingga memberi kesan jika wajahnya bercahaya. Putih. Ya, memang. Bayangkan saja, kulitnya putih bersih, sedangkan ia mengenakan potongan serba hitam.

Akhirnya setelah ia rasa penampilannya sudah cukup keren, walau rambutnya terkesan acak-acakan. Dia berlalu, pergi ke rumah Saina dengan motor Satria Fu-nya. Angin malam yang dingin, menerpa wajahnya tanpa henti, membuat gigil perlahan menyelimut licik. Hingga wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi ia tetap saja menambah laju motornya. Rambutnya yang rada panjang itu seperti tertarik ke belakang. Sehingga wajahnya yang sedikit pucat terlihat jelas di kegelapan malam. Vampir jadi-jadian, vampir keren, dan vampir yang baru falling in love. Wow!

“Ih.. keren!” gumam Saina lirih ketika melihat Radian turun dari motornya. “Tapi menakutkan juga.”
“Yuk, berangkat.” ajak Radian ketika sudah di depan gadis itu. Tapi Raina masih ragu. Mau dibawa ke manakah ia yang kini sungguh cantik dan anggun. Mungkin ke restoran mewah atau ke suatu tempat yang romantis.
“Tapi bentar deh, kalau kamu ngajak aku dinner. Berarti aku punya hak buat tahu tujuan kamu dong. Mau dinner di mana sih?” cerocos Reina sambil menyilangkan tangannya di dada.
“Pokoknya kamu ikut aja, yuk!” jawab Radian santai, tanpa ekspresi.

“Nggak, aku takut kalau kamu ngapa-ngapain aku. Apalagi penampilanmu persis vampir gitu, mau ngisap darah aku ya?” walau perkataan Raina terkesan ngelantur, tapi wajahnya menampakkan keseriusan. Radian sedikit kesal dituduh seperti itu, ia mengangkat bahunya sambil tersenyum.
“Tenanglah, aku manusia kok. Kau ku pastikan aman di sampingku…” perlahan Radian mencoba meraih tangan Saina, tapi gadis itu menepisnya dengan halus.
“Stop!” sentak Saina. “Oke, aku akan ikut kamu, tapi jangan sentuh aku. Aku takut kalau kamu gigit aku, ngisap darahku!” Radian hanya menghela napas panjang. ‘apa boleh buat’ batinnya seraya mengangguk pelan.

Perlahan purnama mulai menampakkan dirinya dari balik gumpalan-gumpalan hitam di langit malam. Beberapa sisi langit malam di atas sana menampakkan kerlap-kerlip bintang yang letaknya tak beraturan. Malam ini sedikit mendung. Mungkin besok hujan akan turun. Hujan pertama di bulan november. Angin berhembus pelan, tapi tetap saja menghantarkan gigil pada siapa pun yang malam ini ke luar sendirian tanpa sweater atau jaket. Tapi mungkin gigil tidak singgah di antara mereka berdua yang tengah duduk berduaan di tepi atap halte bus. Sebuah bangunan yang kebetulan atapnya terbuat dari beton cor. Jadi mereka berdua tak mengkhawatirkan tentang halte itu. Toh, mereka mau jingkrak-jingkrak di atasnya juga tak akan roboh.

“Sumpah ini dinner yang paling aneh di hidupku.” gumam Raina seraya tersenyum penuh arti. “Tapi jujur, ini tuh manis banget…” ia berhenti berkata saat tangan Radian meraih telapak tangan kanannya untuk digenggam dan kali ini Raina hanya diam. Membiarkan tangannya digenggam, karena sebenarnya ia mulai menahan dingin.
“Kau aman di sampingku dan itu berarti aku tak akan membiarkanmu kedinginan.” ucapnya seraya merengkuh tubuh Raina dari samping dengan tangan kirinya. “Kamu pernah jatuh cinta?”

“Walau kamu ini vampir jadi-jadian. Ternyata tubuh kamu hangat juga.” perlahan Raina menyandarkan kepalanya di pundak Radian. Ia tersenyum. Senyuman yang mungkin akan bertahan lama malam ini. “Pernah, tapi itu hanya cinta monyet, hehe…” tawanya renyah, indah kan suasana malam yang teramat sunyi.
“Raina, aku sedang jatuh cinta. Apakah kamu punya saran bagaimana aku mengutarakannya?”

“Cie.. ih, Radian Wijaya yang dingin banget sama cewek, kecuali sama aku. Bisa falling in love juga, hehe….” tiba-tiba Raina berhenti tertawa saat melihat mata Radian yang menatapnya lekat-lekat. “Kamu jujur aja sama dia, apa adanya, jangan beri dia beban. Tapi siapa sih yang bisa ngeluluhin hati vampir kamu yang keras dan dingin itu.”
“Em, namanya, Raina Putriwidya.” bisik Radian. Seketika waktu seperti berhenti di sisi Raina, jantungnya seakan berhenti beberapa detik dan paru-parunya seperti tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Sesak. Hingga pada akhirnya ia hanya mampu diam, mengontrol dirinya yang serasa ingin meledak, meluapkan semua perasaan di hatinya.

Hening sesaat. Keduanya membisu, menatap langit yang terlalu indah untuk dilewatkan. Tiba-tiba ada secerca cahaya keemasan yang menggaris di langit malam. Itu bintang jatuh. Perlahan mereka saling memejamkan mata, berdoa dan berharap doanya terwujud.
“Aku jatuh cinta padamu, Raina.”
“Dan hal yang sama juga terjadi padaku saat pertama kali kita bertemu, saling memperkenalkan diri. Bukankah itu kenangan yang indah? MOS yang penuh haru. Aku masih ingat saat kau membawaku ke UKS saat aku pingsan. Dan aku sangat ingat, wajah khawatirmu itu saat kau menjengukku di rumah sakit dulu. Aku masih ingat itu semua. Dua setengah tahun yang lalu.”

“Nostalgia?” tanya Radian. Gadis itu hanya mengangguk pelan. “Okelah.” dikecupnya rambut gadis itu dengan penuh kelembutan.
“Ya, kacangnya udah habis nih.” gumam Raina saat merogoh kantung kertas, wadah kacang rebus yang sejak tadi berada di pangkuannya.
“Ya udah, kita beli lagi. Tapi langsung sekalian pulang aja ya, soalnya ini udah malam.” ujar Radian sambil melirik arloji di tangan kanannya.
“Kita bergadang di ruang santai rumahku, gimana? Nanti aku buatin kopi God Day Cappuccino atau kamu pengen mie?”
“Em, okelah. Nanti aku beli kacang rebus lima bungkus. Wah, cocok banget tuh!”
“Hah, maksudnya?”
“Nanti jam satu ada bola, Chelsea versus Real Madrid.” Radian hanya menggeleng-geleng pelan sambil menahan senyum. Malam itu adalah malam yang panjang untuk mereka berdua.

Senja datang menyapa mereka bertiga. Warna jingganya melukiskan ketenangan dan mungkin keromantisan bagi beberapa orang. Burung-burung kecil terbang rendah di atas danau yang sempurna memantulkan warna-warna senja. Angin berhembus lembut, menghantarkan kesejukan khas sore hari kala senja mulai melambai. Raina duduk santai di atas tikar yang digelar di bawah pohon rindang. Ia tengah besenandung dengan iringan gitar yang dimainkan oleh Feza. Sedangkan Radian tengah asyik merekam mereka berdua dengan handycam barunya.
“Rekam terus, sob! Aku ada suprise buat Raina.” ujar Feza saat lagu yang dinyanyikan Raina masuk ke Coda -penutupan sebuah lagu atau musik- dan Radian hanya menurut saja.

Feza meletakkan gitarnya, lalu meraih tangan Raina. Mereka saling menatap. Radian yang menyasikannya hanya diam menahan sesuatu yang mulai membuat hatinya sesak, tapi ia menutupi itu dengan sebersit senyuman. Senyuman kaku yang terkesan dipaksakan.
“Raina, aku sayang sama kamu. Lebih dari perasaan seorang sahabat. Aku inginkan hatimu lengkapi hatiku yang rapuh ini. Maukah kau menjadi kekasihku?” ucap Feza lirih, tapi terdengar cukup jelas oleh Radian. Walau begitu ia tetap bertahan dengan senyum kaku dan handycamnya yang terus merekam mereka berdua.

Ketiganya diam, membeku dengan perasaannya masing-masing. Raina merasakan sebuah desiran lembut tapi menusuk tajam di hatinya, hingga membuatnya tertunduk, membisu. Begitu pula apa yang dirasakan oleh Radian. Hening sesaat yang terasa lama membuat Raina tak tahan dengan semua ini, membuatnya mulai berpikir lalu merangkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu pada Feza.

“Feza, maafkan aku. Maaf banget. Iya aku tahu perasaanmu seperti apa, tapi aku hanya menyayangimu sebagai sahabat. Tidak lebih. Dan jujur, sebenarnya aku dan Radian menyebunyikan sesuatu darimu. Kita menjalin hubungan lebih dari sebuah teman atau persahabatan yang dilatar belakangi cinta.” Raina berhenti berkata. Air matanya mengalir begitu saja dan Feza mulai menampakan wajah sedihnya. Radian masih tetap sama. Bertahan dengan senyum palsu dan handycamnya.
“Aku mohon, mengertilah dan maafkan kami yang telah menyembunyikan hubungan ini darimu. Maaf, maaf banget.” Raina tak tahan lagi. Dengan sifat laki-lakinya, Feza merengkuh tubuh Raina dan menangislah dia di pundak sahabatnya yang jatuh cinta padanya.

“Aku ngerti kok, Ra. Jika memang seperti itu, aku akan menghapus perasaan ini dan berhenti berharap.” ucap Feza sambil perlahan melirik Radian yang tersenyum. Dengan susah payah ia menyunggingkan senyum. Dan Raina semakin mempererat rengkuhannya, walau isak tangis membuat tubuhnya bergetar.
“Kau sahabat terbaikku…”
“Kau juga sahabat terbaikku.”

Hati mereka bertiga bergetar. Semua perasaan seperti berkecamuk bersama. Bergradasi. Menciptakan sebuah atsmorfir keharuan tersendiri di hati mereka masing-masing. Senja pun kian menjingga di sudut barat. Melambai dengan air mata yang terurai. Bagai kiasan bukti empati langit pada perihal cinta di bumi. Feza melepaskan rangkulannya, lalu ia mencium kening Raina dengan penuh kelembutan.
“Thanks for everything my best friend.” ucap Feza seraya merapikan rambut panjang Raina. “Pak, distop aja itu rekamannya.”
“Oke!” sahut Radian sambil menurunkan handycamnya. “Udah, jangan sedih-sedihan gitu.”
“Nanti malam dinner bertiga yu! Terus bergadang nonton bola di rumahku.” Raina mengusulkan. Radian dan Feza hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Menyetujui.

Malam yang panjang untuk mereka bertiga. Sudah dari empat jam yang lalu mereka di sini. Duduk di sofa santai sambil menonton tv. Kini Raina sudah tertidur pulas, bersandar di pundak Radian. Sedangkan Feza masih asyik dengan popcorn dan pertandingan Mancester United versus Real Madrid yang sudah memasuki menit-menit terakhir.
“Sob, aku percayakan Raina sama kamu. Jangan sakiti dia, buat dia bahagia.” ucap Feza santai sambil menepuk pundak Radian. “Aku ingin melihatnya bahagia.”
“Thanks, selagi aku di sampingnya. Ku pastikan dia aman dan akan ku buat dia bahagia, semampuku.” sahut Radian seraya menyunggingkan sebersit senyuman, lalu diciumnya kening Raina dengan penuh kelembutan.

The End

Cerpen Karangan: Garin Afranddi
Facebook: Garin Afranddi

Cerpen Vampir KW 2 Falling In Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Kau Kembali

Oleh:
Dia sesekali melihat jam tangannya, rona merah di wajahnya serta peluh yang sedikit demi sedikit turun dari pelipisnya karena terik matahari di pinggir jalanan ini membuatnya terlihat semakin kesal.

Life Like Coffee

Oleh:
Tak ada yang spesial dari cafe berkonsep vintage di ujung jalan yang sibuk itu. Hanya sebuah bangunan kecil yang dindingnya dibiarkan tidak dicat dan tak pernah sepi pengunjung. Lalu

Facebokku Makcomblangku

Oleh:
Siang itu entah mengapa aku merasakan jenuh sekali di kantor. Bosan tiba-tiba Melanda, tepikir dalam benakku untuk membuka akun facebook milikku, akun yang sudah lama tidak pernah aku buka,

I Wuf You

Oleh:
Semilir angin berhembus dikebalut senja. Menghadirkan nuansa jingga di angkasa. Di sini… di atas batu karang ini. Kunikmati mentari yang perlahan melambaikan tangannya pada bumi. Seolah mengucapkan sampai jumpa

Liz (An Unusual Love)

Oleh:
Liz menatapku. Wajahnya yang lembut, tampak 180 derajat berbeda dari yang kulihat kemarin malam, saat ia dengan buasnya membunuh seorang pemuda dari utara untuk ia hisap darahnya! Gadis itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Vampir KW 2 Falling In Love”

  1. rosa angelina says:

    kakak,izin repost ya 🙂
    salam kenal^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *