Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 16 January 2018

Aku sudah berkali-kali jatuh. Berkali-kali pula rapuh. Lalu, tiba-tiba saja kau menawarkan diri untuk membuat hatiku kembali utuh. Oh, apa kata-katamu benar-benar bisa dipercaya? Entahlah.. aku sendiri bahkan masih ragu dengan hatiku. Aku masih ragu menerimamu. Apa kau benar-benar bisa membuat hatiku utuh.

“Aku menyukaimu. Jika ada sedikit saja celah dalam hatimu, aku berharap bahwa hanya aku saja lah yang berhasil memasukinya.” Ucapmu di senja sore itu.
“Ma’af, tapi aku sendiri bahkan belum yakin untuk membuka hati.”

“Aku akan meyakinkanmu,” selamu cepat.
“Dengan cara apa?”
“Dengan cara yang tidak pernah dilakukan laki-laki yang pernah membuatmu jatuh lalu rapuh.”

Aku diam. Mencoba mencerna setiap kata yang kau ucap. Lalu, kembali sibuk memutar otak untuk mencari jawaban yang dapat kusuguhkan.

“Aku tidak ingin memulangkan mereka, orang yang pernah mengukir luka atau melukis tawa ke dalam ingatanmu. Jadi, aku akan mencintaimu dengan caraku sendiri. Dengan cara yang mungkin jarang dilakukan lelaki pada umumnya.”
Kau berucap dengan nada penuh kesungguhan. Sedikitpun tidak terkilat keraguan dari kata-katamu. Namun tetap saja, aku masih ragu. Di sudut dadaku, masih ada luka yang menganga. Aku belum siap membuka hati.

“Apa kau bisa memberitahuku, atau mungkin memberi sedikit janji tentang bagaimana kau akan mencintai dan meyakinkanku?” tanyaku lirih dengan nada penuh harap.
“Oh sungguh, aku bukan lelaki yang pandai mengumbar janji kepada semua wanita yang kutemui. Aku..”
“Iya aku tau. Kau tidak perlu berjanji,” potongku cepat.
“Untuk itu, aku hanya perlu membuktikannya bukan?” ucapmu sambil menyunggingkan seulas senyum.

Aku bungkam. Tidak dapat megelak kata-katamu lagi. Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. Bodoh sekali aku, masih saja meragukan lelaki yang berusaha seserius ini hanya karena takut akan luka lama. Sungguh aku butuh waktu. Waktu untuk menyembuhkan luka lalu.

“Besok aku berangkat, ketika aku kembali nanti, aku akan meminta jawaban atas pertanyaanku. Dan aku berharap bahwa Kau bersedia menunggu. Menunggu kepulanganku”
Ya, itu adalah hari terakhir Kau menemuiku, sehari sebelum Kau harus melanjutkan study di Amerika.

“Kau sudah makan?” Isi pesan singkatmu di Handphoneku.
“Hem.. apa kau masih perlu bertanya?” Balasku singkat.
“Keluarlah, buka pintu rumahmu” Balasmu setelah 15 menit mengabaikan pesanku.

Oh astaga! Di depan rumahku sudah berdiri seorang lelaki dengan sekotak pizza di tangannya. Ya, aku memang suka makan pizza ketika malam minggu.

“Selamat pagi gadis, kau sedang apa?” Sapamu di telepon pagi itu.
“Pagi kembali, aku sedang bosan.” jawabku singkat.
“Oh ya sudah. Aku matikan teleponnya.”
Eh, aku heran, aku katakan bahwa aku sedang bosan. Tapi Kau justru mematikan telepon. Lelaki terkadang susah dimengerti.

Ting tong…
“Ah! Siapa pagi-pagi begini bertamu,” gerutuku dalam hati.
“Selamat pagi Nona. Ada sepaket bunga dari seorang lelaki jauh untuk seorang gadis yang sedang bosan.”
“…”

“Katanya Dia bisa mati berdiri kalau gadisnya memberengut terus menerus dan manis di wajahnya ikut luntur.”
“…”

“Nona?”
“Oh i..iya, terimakasih.”

Dan begitulah hari” kulalui dengan seribu satu kejutan selama 4 tahun. Hingga tiba waktunya Kau kembali ke kota ini.

“Aku kembali, studyku sudah selesai.” Ucapmu sebgai pembuka pertemuan di sore itu.
“Iya, aku sangat senang mendengarnya,”
“Aku ingin menagih jawa–”
“4 tahun berlalu, Kau selalu saja bisa meembuatku tersenyum walaupun dengan kata-kata ataupun hal sederhana. Aku sudah menutup luka lama. Aku membuka hati. Aku merindukanmu. Dan a aku.. aku menyukaimu,” aku memotong bicaranya, mengatakan sesuatu sesuai apa yang kurasa sambil menatap jernih matanya.

“Aku lega, setidaknya optimismeku tidak berujung sia-sia. Aku menyerahkan seluruh hatiku padamu. Aku benar-benar menyukaimu, bersedia menunggu sembari menyembuhkan luka di masa silammu. Di sana, aku selalu mengabaikan setiap cinta yang berusaha mendekat. Karena apa? Karena aku yakin kau akan menungguku,”
“…”

“Aku percaya bahwa kau hanya butuh waktu. Waktu untuk melupakan, waktu untuk menyembuhkan luka, waktu untuk membuka hati. Dan benar saja waktu bekerja sebagaimana mestinya. Ketahuilah, meskipun kecil aku sudah memiliki usaha sendiri. Usaha yang kurintis pelan-pelan sembari merindukanmu setiap waktu,”

“Terimakasih telah mempercayakan hatimu pad–,” Kau menghentikan kata-kataku dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibirku.
“Jadi… menikahlah denganku,”

Cerpen Karangan: Emka

Cerpen Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love and Letters

Oleh:
Sehabis pulang sekolah biasanya aku mampir ke sebuah warung di dekat sekolahku. Warung tersebut tak terlalu besar, tapi menurutku sangat nyaman. Biasanya aku di sana bersama Edgar, sahabatku sejak

Hujan Disaat Valentine

Oleh:
Biasanya di bawah tangisan langit aku dan dia bermain air disini. Tapi sekarang entah kenapa aku benci dengan tangisan itu. Melihatnya saja aku tak mau apalagi menyentuhnya. Sekarang terasa

Friend and Boyfriend (Part 1)

Oleh:
Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di SMA Darmawangsa. Di sinilah ia, dengan dandanan super norak, yaa seperti MOS biasanya. Rambut dikepang empat, memakai pita berwarna kuning, menggendong tas

Ingatan Yang Pertama (Part 3)

Oleh:
Semester enam ini, Ribka cuti kuliah sehingga lulusnya menjadi mundur. Aku melakukan tugas mahasiswaku seperti biasa. Mengalihkan pikiranku sebisa mungkin untuk tidak memikirkan Ribka. Bagaimanpun dia sudah punya calon

The Rain

Oleh:
“Kamu gak pulang Sin?” kata Rama. “Iya tapi aku baru nungguin Pak Tarno buat jemput aku.” kataku. “Bareng aku aja yuk.” kata Rama. “Tapi Ram?” kataku. “Ayo keburu deras

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *