We Are Artis Bangkrut (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 9 August 2017

Pernahkah kamu punya sahabat? Aku pernah. Namanya Han Go An. Dia seorang laki-laki labil. Kalau bicara seperti perempuan. Dia suka memakai pakaian berwarna cerah yang sangat mencolok. Dia suka makan cokelat, dan suka musik. Itulah kelebihannya. 7 tahun yang lalu, adalah tahun terakhir kami bersama. Aku kehilangan dia. Go An meninggal sebab kecelakaan. Saat itu Go An, ayah, ibu dan Yi An adiknya sedang menuju sebuah acara pesta. Mereka sekeluarga kecelakaan. Keluarganya hanya luka biasa saja. Tapi Go An mengalami pendarahan di otak. Dan harus dioperasi ke luar negeri. Tak lama, keluarga Go An pindah ke Canada. Dan 3 tahun kemudian aku dapatkan kabar bahwa Go An telah meninggal. Iya Go An memang sudah lama pergi. Namun kenangan tentang dirinya selalu kusimpan rapat-rapat di hidupku.

Namaku Kim Mee lha, nama spesialnya Mila, dan nama Artisku Kim Mee. Aku perempuan, berusia 23 tahun. Usia yang penuh pertanyaan. Karena hingga hari ini aku masih lajang. Selalu saja banyak yang menanyakan statusku, kapan menikah? Terlebih lagi setelah aku menamatkan perguruan tinggi.

Sebenarnya aku ini adalah artis yang pernah populer. Tapi sekarang, aku hanyalah matan artis, atau artis bangkrut. Dulu aku adalah penyanyi dan pemeran utama dalam banyak drama populer di Asia. Tapi entahlah, kiprahku di dunia itu mulai pudar. Mungkin karena aku sudah dikalahkan banyak pendatang baru yang lebih pandai dariku. Tapi intinya, aku sudah kehilangan kepopuleranku itu.

Saat ini aku tak lain hanyalah gadis biasa. Aku bekerja di Kedai kimci milik Bibiku. Kata Bibi aku perlu belajar membuat Kimci dan belajar berdagang. Karena Yeoja Korea yang baik adalah Yeoja yang pandai membuat hidangan sehat, dan pandai berdagang. Entah dari mana kepercayaan itu. Yang pasti saat ini aku sedang menikmati hari-hariku.
Seperti pagi ini. Aku sudah dengan ceria membantu Bibi membersihkan perabot hidangan.
“Kapan kau akan kenalkan seseorang padaku?”. Bibi bertanya tanpa menatapku sembari menyusun piring-piring yang baru selesai aku lap.
“Ah Bibi, jangan begitu”. Hindarku, sambil memutar pandangan sekeliling pentri.
“Selalu saja begitu setiap ditanya”. Kali ini Bibi baru berbicara dengan menatapku.
“Nanti Bibi, aku sedang menunggu Go An kembali”. Potongku, membuat Bibi terdiam sejenak, mungkin pikirnya hatiku sudah membatu sampai selalu membicarakan Go An setelah sekian lama.
“Sudahlah, dia tidak akan kembali!”. Ucap Bibi tiba-tiba dengan nada tinggi, dan aura kesal. Aku tahu Bibi juga sedih, melihat kesedihanku semenjak Go An tiada.

Sore ini, aku berada di Super Market. Mencari sayur yang akan digunakan untuk membuat Kimci. Biasanya Bibi order dari langganan. Tapi, sedang break. Aku melangkah cepat, memutar tatapan ke sekelilingku, mencari di mana Sayuran itu digelar. Sampai membuatku kesal sejak lama jenis sayuran itu tak kutemukan. Aku kembali untuk yang kesekian kalinya memutar pandanganku pada setiap susunan sayuran itu. Dan sejenak tatapanku teralih pada seorang pria yang tak jelas wajahnya dengan tergesa-gesa berlari ke arahku. Dengan tiba-tiba berjongkok di samping kakiku dan merebut keranjang yang aku pegang untuk menutupi wajahnya. Dia tampak ketakutan seperti maling yang sedang berlari setelah korban mengetahui aksinya.
“Berpura-puralah tidak melihatku”. Tiba-tiba ucapnya padaku. Aku masih mematung bingung. Berselang 30 detik. Terasa berpuluh-puluh kaki berlarian mendekat ke arahku. Bahkan beberapa dari mereka sudah melewati kami dan berpencar ke setiap persimpangan Koridor.
“Apa dia maling?”. Otakku mencerna semua yang terjadi ini. Aku mencoba melihat ke arah laki-laki yang bersembunyi di dekat kakiku. Dia benar-benar tak terlihat lagi sebab tanaman bunga rimbun di sana juga ikut menutupi tubuhnya.

“Hey..!”. Tiba-tiba ada seseorang wanita menyeruku, dia mengenakan pakaian rapi. Dua orang di sampingnya memikul camera. Mereka tak lain adalah para reposter dari media televisi, terlihat dari nama salah satu stasiun TV tertulis di seragam mereka.
“Iya ..”. Jawabku singkat, berpura-pura tak mengerti.
“Apa kau melihat Yeonji? Baru saja dia lewat sebelah sini”. Tanya wanita itu.
“Yeonji.?”. Aku balik bertanya, sebab aku merasa asing dengan nama itu. Mungkin, nama lelaki itu.
“Oh kau tidak tahu ya”. Keluhnya sembari matanyanya menatap sekeliling.
“Sudah kubilang, dia ke arah sana”. Potong lelaki berbadan gemuk di samping kanan wanita itu. Membuat wanita itu menurut pada temannya. Sementara lelaki yang berkacamata di samping kirinya, sejak tadi menatapku.
“Eh tunggu dulu!”. Potong lelaki berkacamata itu angkat bicara. Dia menatapku dengan tatapan lekat. Hal ini membuatku menjadi gugup. Mungkin dia tahu aku membantu persembunyian lelaki itu.
“Ada apa?”. Si wanita dan teman gendutnya memperhatikannya.
“Dia ini..” tunjuk lelaki itu kearahku. “Kim Mee? Si artis bangkrut!”. Tambahnya. Membuat kedua temannya ikut menatapku.
“Hah iya.. Kau kan? Ayo Camera ready!”. Si wanita meminta temannya merekamku. Mungkin menurut mereka ini berita lebih bagus. Tapi, aku tidak mungkin di Vidiokan dengan penampilan seperti ini. Ahh benar-benar gawat! Dengan penuh keberanian. Aku berlari, sembari menarik keranjangku. Membuat lelaki yang bersembunyi dengan keranjangku itu ikut berlari. Kami berlari sekencang-kencangnya. Mereka yang mengejar kami semakin ramai. Entah mau berlari ke mana. Selagi ada pintu dan ruangan apa saja kami masuki. Bahkan sampai berkejaran dengan lip. Hingga aku merasa begitu lelah. Nafasku sudah tak lagi teratur. Namun tiba-tiba saja teman berlariku ini menarikku ke sebuah ruangan. Kami menaiki tangga dengan cepat. Hingga sampai pada atas, maksudku atap gedung. Akhirnya aku dan dia dapat menarik nafas lega.

Hampir setengah jam. Aku dan lelaki asing itu berdiri di tempat kami terjebak ini. Tanpa saling bicara sepatah kata pun. Aku dan dia masih sama-sama mengatur nafas. Dan menatap pada sekeliling, menanti para pemburu itu, akan berhenti memutari gedung ini untuk mendapatkan kami.

“Hey..”. Seru lelaki itu kepadaku. “Kau kenapa dikejar juga? Artis bangkrut, apa itu kau?”. Tambah lelaki itu. Membuat aku yang sejak lama diam, tiba-tiba mendekat kearahnya.
“Seharusnya aku yang tanya, kau ini siapa? Hanya karena dirimu, aku bertemu dengan para paparazi itu”. Celotehku, sembari menatapnya tajam. Laki-laki itu tersenyum tipis dan mulai berjalan menjauh dariku.
“Yeonji. Namaku Yeonji”. Jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
“Bicara yang benar, Yeonji apa? Siapa? Apa profesimu!?”. Bentakku. Namun dia dengan santai menoleh ke arahku dan mendekat.
“Yeonji, kamu tidak kenal? Haha.. Jangan-jangan kau kira aku Maling ya?”. Ucapnya sambil terkekeh renyah.
“Mungkin saja.”. Jawabku singkat.
“Hey aku ini Artis! Penyanyi pendatang baru terbaik Korea selatan tahun ini, masih tidak kenal?”. Jelasnya, membuat aku sedikit terbelalak.
“Huhh! Pantas saja”. Komentarku singkat. Membuat matanya menyipit.
“Kamu? Biasa saja? Tidak terharu?”.
“Untuk apa? Aku juga pernah jadi selebriti. Biasa saja”. Ucapku, membuatnya terkekeh.
“Haha.. Berarti benar. Kau yang mereka maksud sebagai Artis bangkrut. sekarang kau jadi pedagang sayuran?”. Umpatnya kali ini membuatku memerah.
“Enak saja. Aku, aku jadi.. Pedagang kimci”. Balasku ragu, dan mencoba untuk jujur.
“Haha… sama saja! Pedagang juga kan?”. Tawanya renyah.
“Jangan tertawa saja. Fikirkan bagaimana kita turun”. Potongku, membuatnya tiba-tiba terdiam.

Matahari baru saja datang menampakkan sinarnya diluar sana. Aku bangun dengan wajah ceria. Entah hari ini aku akan sedih atau senang, setidaknya aku akan menjalani semuanya dengan apa adanya. Tanganku baru saja menarik kalender di samping pintu kamarku. Welcome december month. Semoga bulan ini jadi bulan yang sempurna. Sejenak tatapanku beralih pada bingkai foto yang terletak di meja samping ranjang tidurku. Di sana ada foto Go An. Sedang tersenyum santai mengenakan kemeja merah, dan kacamata min nya. Menatap kamera serta tangan kirinya memegang sebuah piala kecil. Aku ingat sekali, itu adalah piala lomba menggambar sketsa. Entah kenapa, mungkin kurang fokus. Saat itu, Go An hanya menjadi juara 3.

“Mila..!!” teriak sebuah suara dari luar pintu kamarku, dan aku yakin itu adalah Jeorin. Gadis gemuk yang tinggal di rumahku. Ya, dia itu sepupuku.
“Ada apa? Berisik sekali”. Celotehku sembari membukakan pintu.
“Ayo cepat ikut denganku!”. Ajaknya menarik tanganku menuju ruang tamu.
“Argh ada apa?”. Aku menurut saja padanya.
“Itu lihat”. Tunjuk Jeorin ke arah televisi. Dengan penasaran aku menatap ke arah televisi. Ah di sana ada namaku.
-Kim Mee ditemui sedang berbelanja di supermarket-
“Arghh Sial! ini gara-gara kemarin”. Sontak aku mengumpat.
“Setelah sekian lama Vakum dari dunia hiburan, Artis Chubby Kim Mee kemarin ditemui di sebuah supermarket di Seoul. Dengan wajah polos tanpa Makeup, Kim mee hampir tidak bisa dikenali. Pada saat itu kami tengah berusaha menemui Yeonji, untuk meminta klarifikasinya mengenai hubungannya dengan salah satu personil Girl band yang sedang dekat dengannya. Namun disaat itu pula kami bertemu dengan Kim mee. Mereka berdua sama-sama berusaha menghindar dari awak media. Bagaimanakah tanggapan anda? Mungkinkah Artis yang sudah lama Vakum ini mencoba kembali meraih ketenarannya dengan mendekati Yeonji, penyanyi tampan yang merupakan pendatang baru terbaik tahun ini?”.
Begitulah celoteh si pembawa acara di kaca televisi. Apa yang diucapkannya benar-benar membuatku ingin mengamuk merobek wajahnya.
“Benarkah?? Kau bertemu dengan Yeonji? Dan kalian berlari bersama? Seperti yang terekam kamera itu?”. Jeorin tiba-tiba bersuara dengan tatapan menggoda.
“Arghh!! Aku kesal. Sebab dia. Aku sampai diberitakan begitu!”. Celotehku membalas ucapannya.
“Ahh sudahlah, acuhkan. Oh ya, jika kamu bertemu lagi dengannya jangan lupa sapaikan kagumku untuknya”. balas Jeorin dengan wajah berbinar. Aku hanya bisa santai melihat tingkahnya.

Setiap hari sarapanku dengan kimci, sore hari makan kimci, siang tanpa makan. Mungkin, dengan begini para pembawa acara di TV itu tidak akan menyebutku dengan sebutan artis Chubby lagi, mungkin setelah ini Artis Ramping. Karena terlalu bangkrut sampai harus mengirit uang untuk makan. Usai menyantap sedikit Kimci, dengan cepat langkahku tertuju pada jalan raya. Sudah beberapa hari ini aku bekerja di pusat penerbitan buku, Karena mendapat jadwal malam, jadi sore seperti ini aku bergegas. Pangkatku di sana tidak tinggi, hanya sebagai penjaga perpustakaan. Aku sangat butuh uang, untuk hidupku, untuk Bibi juga. Bibi yang sekarang bekerja tanpa Paman, Pamanku sudah meninggal sebab penyakit jantung 3 tahun yang lalu. Orangtuaku bukanlah orang kaya, mereka hanya orang yang sibuk dengan hidupnya sendiri. Ayah dan ibuku sudah berpisah. Ibu sibuk dengan selingkuhannya. Sementara ayah sibuk dengan perjudiannya. Bisa dibilang, keluargaku sudah hancur. Dulu mereka menemuiku ketika mereka butuh uang. Sampai tabunganku selama jadi Artis benar-benar menipis. Dan sekarang, yang kuanggap sebagai orangtua adalah Bibiku yang paling mengerti aku. Dan aku juga tinggal bersama Bibi, serumah dengan sepupuku Jeorin.

Kereta cepat yang kukendarai melesat seperti angin. Beberapa menit saja sudah sampai pada tempat yang aku tuju. Langkahku dengan segera meninggalkan kereta itu.
“Hey..!”. Sapa seseorang tiba-tiba menarik tanganku. Pria yang tak kukenali. Sebab dia menutup sebagian wajahnya dengan masker, dan sebagiannya lagi tertutup poni kerennya.
“Hey. Kau siapa?”. Tanyaku.
“Yeonji, aku yeonji”. Bisiknya pelan. Berusaha tak seorang pun mendengar ucapanku kecuali dia.
“Ada apa? Mau bikin aku masuk TV lagi?”. Celotehku sambil melepas genggaman tangannya.
“Tidak, tidak..” jawabnya dengan ekspresi yang tak terlihat.
“Ayo ikut aku!”. Ajaknya lalu menarik tanganku. Memintaku untuk mengikuti langkahnya.
“Heyy.. Ke mana? Aku punya pekerjaan”. Celotehku. Namun dia tak menjawab apa-apa.
“Ayo masuk!”. Perintahnya, setelah kami sampai pada sebuah mobil mewah merah mengkilap. Aku pun dengan santai menurutinya.
“Ada urusan apa? Aku bisa terlambat bekerja”. Aku menatapnya kesal bercampur bingung.
“Huh. Diamlah, tidak bekerja sehari apa salahnya?”.
“Kau bilang apa salahnya? Hey Yeonji! Aku ini butuh uang”. Aku kesal padanya.
“Ok ok, nanti aku beri kau uang”. Timpalnya santai.
“Lalu ada apa?”. Tanyaku.
“Kau lihat berita kemarin?”. Dia mulai bicara serius padaku.
“Iya. Gosip? Yang mengatakan aku mendekatimu untuk ketenaran”.
“Bukan..”. Dia menggeleng.
“Lalu? Apa ada gosip yang lain?”.
“Aku rasa setelah gosip yang kau tonton itu kau langsung mematikan Televisimu. Hanya karena kau disebut Chubby?”. Kali ini dia berbiara dengan tatapan ke arah jalan. Sembari mengemudi mobil dengan santai.
“Iya memang betul!”. Jawabku singkat “memang gosip apa?”. Tambahku.
“Kau tau? Setelah hari kita bertemu itu. Aku lebih sial darimu”. Ungkapnya membuat aku mengerutkan kening. “Semua jadwal panggungku di Cancel, Konser tunggalku gagal, janji syuting dramaku gagal, rencana Albumku gagal, Kontrakku di KFF management music dihentikan, menejerku mengundurkan diri dan semuanya hancur, sampai iklan-iklan dengan wajahku di TV di delete, poster-posterku di jalan dirobek, bahkan account instagramku penuh spam #OmTeloletOm”. Jelasnya lagi-lagi membuat keningku semakin berkerut, dan mataku membulat.
“What? Bagaimana bisa? Apa gara-gara aku?” aku menatapnya dengan 1000 tanda tanya.
“Hmm…” dia menarik nafas panjang. “Bukan begitu. Ada beberapa pihak yang menganggapku melanggar etika sebagai artis, mereka bilang aku tidak menghargai para awak media. Sampai berkejar-kejaran mengganggu ketentraman begitu”. Jelasnya dengan tenang.
“A, apa? Hanya karena itu? Keterlaluan!”. Celotehku kesal dan tak percaya.
“Bukan hanya itu”. Potongnya.
“Lalu?”.
“Dan ada seseorang yang membongkar rahasiaku, dan sekarang itu bukan rahasia lagi, semua orang sudah tahu”.
“Apa itu?”.
“Aku, aku sudah melakukan operasi plastik”.
“A, apaaa???”. Kali ini aku terkejut hampir jantungan. Bagaimana bisa? Muka begini hasil operasi, terlihat natural.
“Iya..”. Jawabnya singkat dan tenang.
“Kau sekarang terlihat tenang, Kau itu sudah kehilangan bayak hal. Dan itu sangat menyakitkan!”. Ocehku menatapnya lekat.
“Mau bagaimana? Sekarang aku bukan artis lagi. Dan sebentar lagi aku rasa status kita sama”. Lagi-lagi ucapannya membuatku terbelalak.
“Maksudmu status sama?”.
“Iya sama-sama Artis bangkrut ahhaha”. Jawabnya sambil tertawa renyah. Lagi-lagi karakter tertawa renyah itu muncul. Aku memukul pundaknya dengan kesal hingga dia berhenti tertawa.

“Dia kehilangan semuanya? Apa kamu juga membencinya?”. Tanyaku pada Jeorin. Sejak tadi dia selalu menyayangkan atas kasus yang menimpa Yeonji.
“Tentu saja”. Jawabnya sambil melahap potongan ayam goreng di piringnya.
“Kenapa? Apa lagu-lagunya di ponselmu kamu hapus juga?”. Tambahku lagi. Sambil melirik kimci hijau kekuningan di atas piringku. Rasanya enggan sekali aku sarapan.
“Iya.. Aku tidak menyangka tampannya itu karena operasi”. Ucapnya sambil menghentikan makannya.
“Bukannya sudah biasa? Lee min ho saja operasi!”. Potongku.
“Hey… mila!. Lee min ho itu sejak awal sudah jujur kalau dia operasi plastik. Sementara Yeonji? Dia sudah melakukan kebohongan Publik. Dia bilang dia natural dan buktinya hanya hasil operasi”. Jeorin berbicara dengan wajah kesal. Dan itu jarang sekali terjadi. Sebab, biasanya Jeorin selalu ceria.
“Apa kamu sudah pernah melihat dia yang asli? Mungkin saja aslinya lebih tampan”. Timpalku.
“Hey! Jika aslinya sudah tampan, untuk apa operasi”. Jeorin tak mau kalah, bahkan dia meninggikan volume suaranya. Membuat aku terdiam dan hanya mengangguk saja.

Hari ini aku di Kedai Kimci Bibi, membantu menghidangkan pesanan para pelanggan. Terlebih lagi pagi dan sore kedai Bibi selalu laris. Awalnya semua berjalan baik. Namun tidak, ketika beberapa orang wartawan berjalan masuk ke dalam kedai. Membuat aku harus sigap bersembunyi. Meminta Bibi untuk berpura-pura jadi orang lain. Jika mereka sampai tahu aku bekerja di sini. Bisa jadi para pembawa acara gosip itu akan semena-mena menggosipiku.
Aku kikuk bersembunyi di bawah meja Hidang sementara. Dan berusaha keluar lewat pintu belakang secara perlahan.

-ting ting-
Ponselku berbunyi. Satu pesan diterima dari privat number, tak ada nama. Dengan cepat aku membacanya.
“Kim mee, kamu di mana? Aduh aku dikejar-kejar wartawan. Bisa bertemu? By: Yeonji”.
Ahh.. Nasib kami sama.
“Sama saja. Wartawan itu datang ke kedai kimciku. Aku sedang bersembunyi.. Bertemu di pantai barat”. Balasku. Dengan segera mencari transportasi menuju pantai barat.

Sudah 10 menit aku berdiri di kursi ini, sambil menatap pantai yang landai. Dengan kekhawatiran menunggu Yeonji. Di mana pria itu?
“Kim mee”. Panggil sebuah suara pria. Pasti yeonji. Aku menoleh ke arahnya dia memakai masker lagi. Dia mendekat ke arahku sembari membuka maskernya. Uh! Baru kali ini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas di tempat terang. Terlebih lagi, angin bertiup kencang mengangkat poni yang menutup sebagian wajahnya. Tubuh tinggi, berotot, dengan senyuman sempurna, tatapan mata tajam, bersama bibirnya yang merah. Ahh sudah seperti Yesung! Personil super junior itu.

“Kenapa Menatapku begitu?”. ucapnya, dengan cepat aku mengalihkan tatapanku.
“Haha…”. Lagi-lagi dia tertawa renyah.
“Kenapa?”. Tanyaku sembari tersipu.
“Jangan menatapku begitu, nanti kau bangkrut lagi”. Kata-katanya selalu saja membuatku bertanya-tanya sampai keningku berkerut. “Tampannya aku ini hanya ciptaan dokter, aslinya aku jelek. Kau tidak akan suka”. Ucapnya, membuat aku berfikir sejenak.
“Lalu bagaimana maksudnya?”. Tambahku belum mengerti.
“Nanti kalau kau memandangku begitu, kau bisa suka padaku, seperti fansku. Lalu menyesal, dan hatimu yang bangkrut”. ucapnya membuat aku yang kali ini tertawa renyah. Dan membuat dia bertanya alasan atas tawaku itu.
“He.. Memangnya kau itu tidak tahu ya? Bangkrut itu apa?”. Aku masih bicara dengan terkekeh.
“Tau..”. Jawabnya singkat, tanpa memandang kearahku.
“Hati mana bisa bangkrut. Perasaan suka yang tulus tidak akan bangkrut. Karena cinta itu kaya”. Jelasku sok bijak.
“Hmm”. Kali ini dia yang terkekeh. “Kau bicara cinta, memangnya sudah paham soal itu?”. Tanyanya, membuat aku menampakkan tatapan serius. Kali ini kami saling menatap.
“Hey.. Aku pernah mencintai seseorang 10 tahun lamanya. Bahkan sampai aku kehilangan dia aku masih mencintainya. Dari hal itulah aku percaya, bahwa perasaan cinta yang tulus itu tidak seperti artis yang bisa bangkrut, dan tidak seperti uang yang bisa habis begitu saja”. Kali ini penjelasaanku membuatnya menatapku lekat.
“Huh! Sepertinya kau paham sekali. Memang siapa dia?”. Ucapnya lagi-lagi membuang pandangan ke arah pantai.
“Dia, teman kecilku, Han Go An. Dan sekarang hanya tinggal nama. Tapi nama itu tidak pernah bisa aku lupa”. Airmataku terasa melesat jatuh, saat kembali mengenang nama itu, aku masih sedih. Iya masih sedih.
“Ah, sudahlah. Jangan dikenang lagi, kamu akan terus menangis nanti”. Potongnya, “ayo ikut aku”. Dia menarik pergelangan tanganku dan berjalan meninggalkan pantai.

Kami berjalan menuju Handon park. Hari ini Yeonji tidak membawa mobilnya. Takut dikejar wartawan lagi, dan terpaksa naik taksi. Di Handon kami berkeliling di taman itu dengan menaiki sepeda. Karena aku tidak bisa naik sepeda, Yeonji memboncengku sambil mengomel. Katanya aku berat, berisik, pendek. Tapi ejekannya itu kubalas dengan mencubitinya. Sampai dia mengeliat, hingga sepeda oleng. Kami pun jatuh bersama. Kemudian kami menuju menara Kera. Membeli es krim, dan naik kesana. Yeonji bilang selama jadi artis dia sangat rindu tempat ini. Karena dulu dia suka datang ke menara ini. Dan malam harinya kami menuju Seoul Nation Park, menoton pertunjukan Dance dan pertunjukan musik tadisional Korea. Sampai kami kelelahan dan akhirnya Aku dan Yeonji berpisah di depan rumahku. Dia melambaikan tangannya, dan bergegas pergi.

Entah mengapa, bersama Cha Yeonji aku merasa sudah punya sosok pengganti Han Go An. Meski mereka jauh berbeda, tapi aku merasa punya seseorang yang bisa mengerti aku. Apa mungkin perasaanku pada Go An mulai hilang? Hingga merasa ada seseorang yang bisa menggantikannya? Tidak. Bukan begitu. Go An tidak pernah tergantikan. Dia yang paling baik yang pernah aku kenal. Apa karena seharian bersama Yeonji? Tidak. Tidak juga seperti itu, ku bahkan sering sekali pergi berdua bersama Go An. Bahkan Go An tidak pernah menghinaku sekasar kata-kata Yeonji. Go An tidak pernah membuat aku luka, apa lagi sampai jatuh dari sepeda seperti itu. Dia selalu cermat dan hati-hati dalam segala hal. Dia tidak akan membiarkan aku berjalan diterik matahari. Dia memanjakan aku seperti aku ini adalah satu-satunya miliknya. Sampai, orang tuanya sendiri menganggapku seperti putri mereka juga.

Cerpen Karangan: Lala Kayyy
Facebook: Lala kayyy TL
Nama asli: Lala karmila
Asal: Padang jaya, Bengkulu utara, Bengkulu
Usia: 19 tahun
Merupakan penulis pemula. Penggemar sepakbola dan drama korea. Hobi membaca, menulis dan menggambar. Profesi sebagai penjahit

Cerpen We Are Artis Bangkrut (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Valentine Buat Valentino

Oleh:
Sekar memang begitu manja dengan Ibu dan Bapaknya, sehingga tak heran bila anak bungsu dari tiga bersaudara ini begitu dekat dan mendapatkan perhatian lebih dibandingkan kakak-kakaknya. Maklum, Sekar merupakan

Senyum Selenna

Oleh:
Merenung. Itulah yang aku lakukan saat ini. Merenungi sesuatu. Ahh, lebih tepatnya merenungi seseorang. Seseorang yang begitu aku kagumi, yang bisa membuat pikiranku terbang entah kemana, yang membuatku terpana

Believe Me, I Love You

Oleh:
Aku percaya mimpi aku percaya takdir aku percaya cinta sejati dan aku percaya akan adanya akhir yang bahagia. Aku hanyalah gadis lugu yang berubah akan bergulirnya waktu karena setiap

Cintaku Punya Cerita

Oleh:
Kalau saja dari awal aku bisa langsung mengenal Radit, pasti aku tak usah menyia nyiakan waktuku untuk mencintai orang lain. Dia unik, dia baik, aku cinta dia. Dia yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “We Are Artis Bangkrut (Part 1)”

  1. dicky adnillah says:

    bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *