We Are Artis Bangkrut (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 9 August 2017

Han Go An berlari kearahku sambil membenarkan kacamatanya. Saat itu kami tengah berada di Seoul nation park (Taman kota) aku sedang menunggu Go An yang katanya mau membelikanku es krim.

“Go An! Mana es krimnya?”. Aku menatapnya kesal.
“Eh jangan cemberut. Ayo cepat ikut denganku”. Ajaknya, dia menarikku menuju kerumuran orang.
“Heh ada apa?” ucapku masih dengan nada kesal.
“Ada lomba menggambar sketsa, aku harus ikut. Kamu mau pialanya kan? Ayo kita antri formulirnya dulu”. Ajaknya, kali ini ucapannya mebuatku terkagum-kagum. Jujur saja aku sangat tertarik dengan ucapannya, dan dengan cepat melupakan es krim itu. Karena cukup lama di bawah trik mengantri, Go An sampai melepaskan kemeja merahnya untuk menutupi kepalaku. Aku menatapnya binar. Namun dia hanya tersenyum tenang.
“Go An. Kau itu terlalu sayang padaku”. Celotehku.
“Hey tidak apa-apa, aku inikan gerah. Makanya aku melepaskan kemejaku. Dan aku titip sebentar di kepalamu”. Jelasnya membuatku semakin cemberut.
“Memangnya, tidak mau disayang?”. Tambahnya membuat aku menatapnya lekat, dia hanya membalas tatapanku dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Aku ini sayang sekali padamu Go An. Dan tentunya Aku pasti juga ingin disayangi olehmu. Tapi kau jangan hanya sayang padaku, dirimu juga harus kau sayang!”. Aku berbiara dengan mata mulai berkaca. Go An hanya tersenyum. Lalu mengalihkan perhatian pada antrian formulir. Dia mulai meraih formulir dan mendaftarkan dirinya. Saat itu aku ingin ikut juga. Tapi Go An melarangku. Katanya, dia takut untuk mengalahkanku. Dan hal itu membuatku kesal lebih lama.

Hari itu, Go An berlomba dengan tenang. Aku meninggalkannya di pertengahan lomba untuk mencari es krim banana kesukaanku. Mungkin karena menggambar sambil memikirkan aku. Hingga ketika diumumkan Go An hanya menjadi juara 3. Dan pialanya itu kecil sekali. Hari itu kami pulang hampir malam. Dan menghabiskan waktu untuk menemani piala kecil itu, dan uang hadiahnya kami pakai untuk membeli kado ulang tahun pernikahan untuk Bibi dan pamanku. Dulu, ketika paman masih ada, dan sebelum Bibi jadi pedagang kimci.

Seandainya setiap hari seindah saat bersama Go An. Mungkin, aku tidak akan jadi seperti ini. Aku tidak akan pernah mendapat julukan artis bangkrut atau semacamnya. Dulu, karena terlalu terpuruk atas kepergian Go An. Aku menyibukkan diri dengan mengikuti Audisi Menyanyi dan Acting. Dan akhirnya karena bakatku. Aku dikenali banyak orang. Meski saat itu aku tidak menjadi pemenang utama, tapi karyaku dikenal cepat. Tawaran Akting pun semakin Memadat dan membuat aku benar-benar sibuk dengan hidup baruku. Namun sayang, itu tidak lama. Mungkin aku hanya artis musiman. Honor mulai turun, tawaran habis, dan semua hilang begitu saja. Aku kembali ke rumah orangtua. Dan mulai jadi aku yang sebelumnya. Aku yang diam tanpa Han Go An.

“Mila….!”. Teriak Jeorin. Dari luar kamarmu. Menghentikan ingatan, khayalan, dan ceritaku. Aku dengan segera membuka pintu untuknya agar dia berhenti berteriak.
“Ayo cepat! Kau harus lihat Televisi”. Dia menariku dengan berlari menuruni tangga kamarku. Aku hanya penasaran dan mengikutinya.
“Lihat..” tunjuknya ke arah TV, dan meraih Remote untuk memperbesar Volume suaranya.
Mataku membulat. Aku terkejut. Di sana tertulis nama Yeojin. Sedangkan ditayangkan sebuah ambulan.
“Dan ambulance dengan cepat datang ke lokasi kejadian”. Sang reporter baru saja usai membacakan berita, aku terlambat. Namun, di sana masih tertera tulisan. -YEONJI MENJADI KORBAN PENGEROYOKAN FANS-
Aku terkejut, hampir kehilangan dayaku. Jeorin tiba-tiba menopang tubuhku. Namun tak peduli kondisiku, aku berlari meraih tas kecilku, mengganti bajuku dan berlari meninggalkan ruang itu. Kulihat di belakang Jeorin mengikutiku dengan cepat. Kami menaiki angkutan umum menuju sebuah rumah sakit di pusat kota.

Di sana sudah ada Ratusan fans Yeonji yang prihatin terhadapnya. Dan Puluhan wartawan ramai di depan rumah sakit. Aku menerobos masuk memaksa polisi yang menjaga untuk memberiku jalan. Awalnya polisi itu menghentikanku dan Jeorin. Namun ribuan alasanku tak kalah. Dan salah satu polisi pun mengenaliku sebagai artis. Akhirnya aku bersama Jeorin dipersilakan masuk. Sejak tadi dari depan gerbang para wartawan sudah memotret dan memvidio diriku dengan ricuh. Mereka melemparku seribu pertanyaan. Membuatku hanya berlalu, diam, dan tak peduli.

Aku berjalan melewati koridor yang tak putus panjangnya. Sementara Jeorin masih setia berjalan di belakangku. Dia berjalan cepat tak bedanya langkahku yang lebih cepat bahkan sampai berlari.
“Semoga Yeonji tidak apa-apa. Sumpah! Aku menyesal telah berhenti menjadi fansnya. Yeonji aku fans setiamu!!”. Oceh Jeorin dengan nada terputus-putus di belakangku sebab nafasnya tergesa-gesa mengikuti langkahku. Dia mungkin menyesal. Semua fansnya menyesal, sudah mencampakan Yeonji. Bahkan ada yang tega memukuli wajah tampannya itu. Rasanya ingin sekali aku menacabik-cabik mereka yang kasar terhadap Yeonji.

Langkah kami terhenti di sebuah pintu rawat. Tak seorang keluarga pun di sana. Hanya ada dua polisi berjaga.
“Kalian siapa?”. Tanya polisi dengan nada siaga, menatap kasar ke arah kami.
“Saya temannya pak. Artis juga”. Ucapku.
“Kalian masuk lewat mana?”.
“Gerbang, polisi di depan sudah mengizinkan kami”. Jelasku.
Membuat salah satu polisi menghubungi temannya yang bertugas di gerbang.
“Tunggu di sini!”. Perintah polisi itu. Polisi yang lainnya masuk ke ruang pasien. Tak lama kemudian keluar dengan tatapan tenang.
“Boleh masuk. Tapi untuk saat ini satu orang saja. Kim mee!”. Ucap polisi itu membuat aku terpaksa meninggalkan Jeorin. Jeorin menatapku seolah memintaku untuk cepat masuk menemui Yeonji.

Di sana Yeonji berbaring menatapku. Tangan kanannya dibalut perban. Wajah kirinya membiru. Namun, sama sekali tidak menutupi ketampanannya. Matanya masih tajam, senyumnya masih manis, Tubuhnya masih sempurna, bibirnya masih merah, dan dia masih dengan indah menatapku.
“Jangan menatapku begitu”. Sambarnya dengan nada bicara sedikit ditahan. Namun kali ini aku tak peduli dengan tegurannya, aku masih menatapnya khawatir.
“kenapa? Nanti bangkrut lagi?”. Balasku dengan nada menggoda sambil mendekat di samping ia berbaring.
“Kamu kan memang sudah bangkrut”. ejeknya lalu terkekeh. Namun kekehannya itu terhenti karena merasa pipinya berdenyut dan terlihat mengaduh.
“Wkwkwk”. Aku pun ikut terkekeh melihat tingkahnya. “Sakit begitu, masih saja mau mengejek”. Umpatku. “Tapi kau tidak apa-apa. Untunglah. Tuhan selalu menjagamu. Tangan kananmu? Apa yang terjadi?”. Tambahku.
“Tidak apa. salah putar”. Jawabnya.
“Oh baguslah”. Senyumku. sambil dengan pelan menyentuh jemari kirinya yang berada di sampingku. Dia terdiam, dan menatap tanganku yang dengan lancang menyentuh jari tangan indahnya. Namun jari tanganku masih kaku untuk menggenggam erat tangan itu. Dia tersenyum. Mungkin dalam hatinya dia tertawa renyah, mengumpat atau mengejekku. Tetapi, dengan cepat tanggannya malah lebih dahulu menggenggam jariku. Kami lebih lama terdiam, dengan tatapan sama-sama kosong entah apa yang mau dibicarakan. Namun jujur saja aku menikmati genggaman lembutnya itu, dengan detak jantung yang tak teratur.
“Huh! Aku tidak suka sekali dengan suasana kaku seperti ini”. Umpatnya, lalu melepas genggamannya. Aku pun terpaksa untuk terkekeh kaku, mencoba menghilangkan gugupku.
“Kau orang pertama yang menjengukku”. Ucapnya menatapku dengan senyumannya.
“Hah? Orangtuamu belum datang”. Balasku hampir mengejutkannya.
“Masih di jalan”. Jawabnya.
“Jauh?”.
“Di luar kota. Mungkin sebentar lagi sampai”.
“Ohh untunglah, kau sudah makan?” tanyaku padanya. Namun dia hanya mengangguk. Aku masih tidak yakin. Tatapanku dengan liar mengintari ruangan. Di atas meja ada makanan. Semangkuk bubur gandum hangat. Mungkin ini yang disantapnya tadi. Tapi dia hanya makan sedikit. Mungkin, dia kesusahan. karena tangan kananya yang tidak bisa digerakkan.
“Kau pasti makan sedikit, mau aku suapkan?”. Tanyaku, meraih mangkuk itu. Dia hanya mengangguk dan menatapku tersenyum. Dengan segera aku menyuapkan dengan pelan makanan itu padanya.

Dengan perlahan Yeonji menghabiskan makannya. Dia berterimakasih padaku karena sudah menemaninya. Dan membuatnya merasa kenyang. Enggan sekali rasanya aku untuk keluar dari ruangan ini. Rasanya aku masih ingin menemari Yeonji sampai ia sembuh.
“Hey.. Jangan diam saja. Apa yang kau pikirkan? Masih memikirkan Han Go An itu?”. Tegurnya, melihat aku terdiam. Dan aku baru saja sadar, Han Go An sudah beberapa jam dia hilang dari pikiranku. Aku bisa? Bagaimana bisa? Go An begitu penting bagiku. Dan, ini adalah waktu terlama aku tidak memikirkannya. Biasanya dalam tidurku pun ada dia.
“Malah semakin dalam diamnya”. Umpatnya lagi.
“Iya, aku memikirkan Go An!”. Jawabku membuat Yeonji merasa puas dengan pertanyaannya. Suasana seketika kembali sunyi. Yeonji kembali asik dengan tatapan kosong, sementara aku sibuk memutar ponselku, sambil dengan tenang menatap setiap raut wajah Yeonji. Yang sejak tadi hanya diam. Mengerutkan keningnya. Namun, dengan tiba-tiba tatapannya itu terlihat berisi. Bersamaan dengan suara pintu ruang ini terbuka. Aku enggan menoleh ke arah pintu sebab aku mebelakanginya.
“Mom, Dad!”. Seru Yeonji. Membuat aku terkejut. Dan menoleh ke arah pintu.
Di sana ada wanita cantik dengan wajah yang masih sama, dengan raut khawatir segera memeluk putranya. Dan dia, orang yang Yeonji sebut Dad, juga ikut memeluk Yeonji, tanpa memperhatikan aku.
Mereka saling mengkhawatirkan satu sama lain, berpelukan lebih lama untuk melepas rindu. Aku kaku, mematung, masih dengan posisi berdiri. Setelah beberapa menit Yeonji menatap ke arahku. Membuat Mom and Dad nya ikut menatapku.
“mom, Dad. Ini Kim mee.. Temanku”. Ucap Yeonji memperkenalkanku pada kedua orangtuanya. Mom and Dad itu sama sepertiku, kami sama-sama menatap dengan tatapan terkejut. Kami seperti saling mengenal. Dan ribuan tahun tidak bertemu.
Lama kami menatap, dalam kebisuan. Aku ingin lebih dahulu menegur mereka namun aku takut. Takut salah.
“Hey! Kalian kenapa? Mom kenal Kim Mee?. Dan Mee? Kau kenal dengan orangtuaku?”. Yeonji juga terkejut dengan tatapan kami.
“Benarkah Kau Mila?”. Setelah beberapa lama menatap akhirnya Mom itu bicara. Dia mendekat ke arahku. Kedua tangannya menyentuh pipiku. Menariknya pelan. Masih sama. Sama seperti dia yang dulu.
“Tante Han!”. Seruku. Membuat wanita cantik ini dengan sigap menarikku ke dalam pelukannya.

Aku, masih tak percaya dengan yang terjadi di Rumah sakit kemarin. Mereka menipuku! Tante Han menipuku! Dan Go An menipuku! Mereka semua mempermainkan perasaanku.
Kau tahu siapa Tante Han? Dia adalah Ibunya Han Go An. Sahabatku yang selalu aku cintai.
Kau tahu? Kenapa mereka ada di sana? Dan dipanggil Mom and Dad oleh Yeonji?
Aku tidak pernah menyangka. Yeonji adalah Han Go An. Bagaimana aku bisa tahu? Aku sudah mempertanyakannya pada Tante Han? Bagaimana kejadian yang sebenarnya.

“Setelah kecelakaan itu. Go An mengalami pendarahan otak. Dan kami membawanya untuk melakukan operasi pengobatan di Canada. Pada saat operasi pertama berjalan. Operasi dikabarkan Gagal. Dokter sudah bilang Go An meninggal dunia. Kami syok! Dan segera mengabarkan berita duka ini pada semua keluarga termasuk Bibimu. Namun, berselang 1 jam. Dokter itu menemui kami dan mengatakan bahwa Go An kembali hidup. Dan itu adalah sebuah keajaiban. Operasi ke dua pun berjalan. Untuk memperbaiki luka di otak kanan Go An. Dokter bilang nyawa Go An akan selamat. Namun Go An harus kehilangan seluruh ingatannya. Untunglah setelah itu Go An sadar. Namun dia tidak mengenal siapapun. Dia tidak mengenal kami. Hal inilah yang membuat kami takut untuk membawanya pulang. Lagi pula, sudah terlanjur kami mengatakan bahwa Go An sudah meninggal dan akan dimakamkan di Canada. Selain itu tetangga di seoul juga sudah terlanjur menggelar do’a. Karena takut membuat semua orang kecewa dengan kembalinya kami. Entah kenapa kami berpikir untuk melakukan operasi plastik untuk Go An merubah hampir seluruh dirinya. Alasan utamanya karena hampir sebagian kepala Go An sudah tidak bisa tumbuh rambut. Kami sadar akan kesalahan kami, mungkin kami merasa ini yang terbaik untuk Go An. Dia tidak mungkin untuk mengingat masalalunya. Kata dokter dia harus punya kehidupan baru. Memori baru”.

Namun entahlah. Penjelasan Tante Han sepanjang itu malah membuat aku semakin kecewa. Meskipun Tante Han sudah berkali-kali meminta maaf. Setelah tahu tentang itu, saat itu aku hanya berlari kecewa meninggalkan ruangan. Jeorin yang masih menunggu di luar ruangan juga kebingungan sambil mengikutiku. Tak ayal tante Han juga mengikutiku sambil berteriak minta maaf. Mereka tahu, aku sedang shok dan belum bisa menerima hal ini dengan begitu saja.

Tidak disangka sama sekali. Ternyata Yeonji benar-benar melupakan semuanya. Sampai saat kami bertemu. Bahkan sampai aku mengatakan tentang Han Go An. Dia sama sekali tidak mengingat nama itu. Apa tante Han sama sekali tidak menceritakan apapun tentang Seoul? Tentang Aku?

“Mila. Buka pintunya nak!”.
Suara di luar pintu kamarku. Menghentikan cucuran air mataku. Aku membuka pintu kamarku. Di sana sudah berdiri Bibiku. Tanpa aba-aba dia langsung memelukku erat. Sembari menepuk bahuku. Aku tahu mungkin yang aku ceritakan pada Jeorin atas apa yang terjadi sudah dia Sampaikan pada Bibi.
“Bibi. Aku harus bagaimana?”. Keluhku padanya.
“Semua keputusan ada di tanganmu nak. Semua yang terjadi punya alasan tersendiri. Sekarang keluarlah, temui dia”. Jelas Bibi sambil melepas pelukannya.
“Dia?”
“Go An. Menunggumu di luar. Dia ingin bicara, ayo berikan waktumu untuk mendengarkannya. Agar tidak kecewa nantinya”. Nasehat Bibi membuat aku berbinar membenarkannya.

“Go An!”. Seruku membuat dia menoleh”. Pagi ini aku terkejut. Benar terkejut. Yeonji itu memakai kacamata dan kemeja merah. Sama dengan yang dipakai Go An. Aku merasa dia benar-benar Go An. Walaupun aku sadar wajahnya sudah tak sama lagi dengan Go An. Tapi Hatinya Itu, senyumnya itu, tatapannya itu, dia Go An. Refleks aku memeluknya. Aku tahu dia terkejut. Tapi kau tahu? Rasa rinduku begitu dalam pada sosoknya. Benar-benar rindu. Go An tak mengatakan apapun. Dia melepas pelukanku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya.

“Maaf.. Aku sama sekali tidak mengingatmu Mila” Ucapnya membuatku terkejut dia menyebutku mila. Lembut seperti Go An. Aku yakin, Tante Han pasti sudah bercerita tentang karakter Go An.
“Lalu Tante Han? Dia tidak pernah bercerita tentangku?.”.
“Pernah. Dengan nama Mila. Dan dengan nama Go An”. Jawabnya.
“Dengan begitu tidak ada rasa curiga padaku?”.
“Hey.. Kim Mee yang diceritakan ibuku, tidak sama dengan dirimu. Kau itu mantan Artis dan yang aku tahu namamu itu Kim mee. Lalu soal foto, mom pernah memberiku foto saat aku bersama Mila. Tapi tidak mirip denganmu, mila yang di foto sangat polos. Dan soal Han Go An. Saat kau bilang kau punya sahabat Han Go An. Aku mulai berpikir soal itu. Tapi aku kira kebetulan saja dan juga kau bilang Go An mu itu sudah meninggal. Selain itu juga kita baru beberapa kali bertemu”. Jelasnya panjang. Membuat aku mengangguk paham.
“Jadi karena itu kau selalu diam setiap aku menyebut Go An?”. Aku menatapnya.
“Haha..” dia kembali tertawa renyah. Kembali menjadi Yeonji. “Apa kamu berpikir aku cemburu dengan Go An?”. Godanya.
“Ish.. Tidak”. Jawabku tersipu. Mendengar jawabanku Yeonji hanya melirik sesaat padaku. Lalu memarkirkan mobilnya. Kami berjalan menuju menara Kera.

Saat ini kami berada di Atas menara, berdiri menatap ke luar melihat pemandangan indah dari atas menara. Suasana disini tak begitu ramai. Orang-orang hanya berlalu lalang saja. Sebelum kemari, kami mengelilingi menara ini sambil bercanda. Saling menceritakan apa yang pernah kami lalui selama kami berpisah. Saling memaafkan. Dan yang pasti aku mencoba membuat Yeonji membayangkan bagaimana kami yang dulu.

“Kim mee!”. Ucap Yeonji menghilangkan suasana diam kami.
“Iya…” jawabku mengalihkan pandangan pada wajahnya. Sementara dia masih melempar pandangannya pada Langit. Membuat matanya menyipit menahan cahaya yang masuk.
“Ayo! Kita kubur soal Mila dan Go An!”. Ajaknya membuat aku mengerut tak paham.
“maksudku. Tetaplah jadi kim mee yang Yeonji kenal. Lupakan soal kehidupan Mila yang penuh lika-liku itu. Dan cukup jadikan itu sebagai kenangan”. Ucapnya lalu mengalihkan pandangannya dengan menatapku.
“Tapi..”. Potongku membuat dia melanjutkan ucapannya.
“Dan aku akan menjadi Yeonji yang mengenal Kim mee. Sebab aku tidak bisa menjadi Go An lagi”. Tambahnya. Kali ini ucapannya membuat mataku berkaca-kaca. Dan airmataku mulai melesat menyusuri pipiku.
“Jangan menangis”. Ucapnya. Sambil tangan kirinya menggapai pipiku. Mencoba membendung tetesan itu dengan jari tangannya.
“Aku. Aku, takut kehilangan Go An lagi.. Kau tahu? Aku sangat mencintainya. Hiks hiks..” airmataku sudah mengalir bebas.
“Tapi, setidaknya kau bisa relakan cintamu pada Go An itu untuk Yeonji”. Kata-katanya yang ini membuat aku berpikir disela-sela tangis.
“Maksudmu? Hiks hiks”.
“Ayo sekarang kita saling mencintai sebagai Yeonji dan Kim Mee”. Ucapnya menatapku lekat sembari tangan kanannya yang kaku itu membelai jemari kiriku.
“Apa? Kau mencintaiku?”. Tatapku padanya.
“Perasaanku padamu, sama seperti perasaan Go An pada mila”. Jawabnya. Membuat kami dengan refleks berpelukan seerat-eratnya dengan penuh rasa rindu yang dalam.
“dan aku akan menjadi Kim mee yang mencintai Yeonji. Sebagaimana Mila mencintai Go An”. Ucapku di dalam pelukan erat itu.

Kemarin itu semua kembali. Kebahagiaanku kembali, Go An kembali, Cintaku pun kembali. Meski dia tidak menyerupai Go An lagi. Dan yang pasti selama ini ternyata cintaku pada Go An tidak pernah pudar.
Pagi ini masih di ruang tamu itu. Tempat dimana Jeorin biasa memintaku melihat gosip-gosip itu. Masih dengan cara yang sama.
“Dengan penuh pertimbangan. KFF Management Music meminta Yeonji kembali dikontrak sebagai artisnya. Namun dengan mengejutkan kami menerima komentar dari Yeonji. Setelah kami temui semalam di depan istana kerja KFF.
“Tidak. Aku menolak permintaan kontrak itu. Aku masih ingin mendapat julukan sebagai Artis bangkrut dari para Hatterku”. Terlihat Yeonji berbicara dengan puluhan Mike, recorder, dan kamera di depannya
“Lalu apakah anda akan berhenti menjadi penyanyi?”. tanya salah satu wartawan
“Iya.. Aku akan meneruskan pendidikanku mungkin setelah ini akan jadi direktur dan membangun keluarga”. jawab Yeonji lalu pergi. membuat para wartawan yang penasaran dengan ucapannya. Ricuh meminta Yeonji kembali bicara

Aku mematikan TV yang menggosip saja itu. Menatap pada ponselku sembari berpikir Yeonji memang seharusnya menyelesaikan sekolahnya. Dengan begitu. Kami sama-sama memiliki status dan julukan sebagai Artis bangkrut. Artis yang gagal bertahan di dunia hiburan. Dan sebab status itu juga kami dipertemukan. Meski dengan rupa yang berbeda. Tapi, masih dengan hati yang sama.

Sekalipun kamu kehilangan cintamu. Kehilangan sesuatu yang berharga bagimu. Jangan berusaha untuk menghapusnya begitu saja. Tapi jangan juga sampai kamu terpuruk dan tidak mau bangkit. Jadilah seperti Mila yang berusaha menyibukkan dirinya dari keterpurukan. Karena keterpurukan itu ada batasnya. Setidaknya kesibukan yang kamu lakukan dapat membawamu pada sesuatu yang lebih baik. Dan jadikan masalalumu sebagai guru. Yang akan menuntunmu bersama kenangan yang indah. Dan masa lalu sulit pun bisa menjadi motivasimu untuk maju.

“WE ARE Artis Bangkrut yang bahagia”.

Selesai

Cerpen Karangan: Lala Kayyy
Facebook: Lala kayyy TL
Nama asli: Lala karmila
Asal: Padang jaya, Bengkulu utara, Bengkulu
Usia: 19 tahun
Merupakan penulis pemula. Penggemar sepakbola dan drama korea. Hobi membaca, menulis dan menggambar. Profesi sebagai penjahit

Cerpen We Are Artis Bangkrut (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Liar, A Fool, And A Ring

Oleh:
“Kenapa kemarin kau tak datang? Kau bahkan tak menjawab telepon atau membalas pesan singkatku. Kau tahu? Hampir seharian aku menunggumu di sini kemarin.” Itulah segerombolan ucapan yang dilontarkan Sungmin

Love Street (Part 3)

Oleh:
Di dalam mobil. “Kita ke mana?” tanyaku. “Banyak nanya.” ucapnya datar masih fokus menyetir mobilnya. Aku mengeluarkan hpku. “Sekarang tutup mana lo.” ucapnya sambil mengulurkan selembar kain. “Gak mau.”

Like a Light

Oleh:
“Sebuah keindahan telah diciptakan Allah SWT, berupa seorang gadis yang begitu mempesona, dengan senyuman yang sangat menenangkan, membahagiakan dan senyuman yang begitu terang seperti cahaya” – bap Itu adalah

Eunoia

Oleh:
Aku tersadar dengan enggan ketika merasakan ada tangan yang mengusap rambutku dengan pelan. Aku mencium aroma tubuh seseorang yang sekarang sedang duduk di samping ranjangku. Aku belum membuka mata.

Pertaruhan Cinta

Oleh:
30 orang murid kelas 2 IPA 3 berebutan dan saling dorong di depan jendela kelas. Penyebabnya cuma satu, selembar kertas yang berisi nilai ulangan matematika minggu lalu. “Aduuuhh… remedial

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *