When it Rains

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 September 2017

“Manusia diciptakan secara berpasang-pasangan”. Telah datanglah seorang insan cipataan yang maha esa ke dalam jagat raya ini. Makhluk yang memiliki akal untuk menaklukkan peradaban dunia ini. Makhluk yang tak dapat hidup sendiri. Makhluk yang derajatnya telah diangkat sebagaimana mestinya, dia adalah Faby karina. Seorang perempuan cantik, pintar, namun sangat disayangkan nasibnya tak seindah fisik dan hatinya. Dia ditinggal pergi oleh malaikat tanpa sayap yang melahirkanya, merawatnya, untuk selama lamanya. Dia anak tunggal yang hidup di bawah asuhan neneknya.

Waktu mengalir dengan derasnya. Faby tumbuh besar secara sempurna di bawah didikan neneknya. Umurnya sudah beranjak ke kelas 11, yang mana pada umur itu ia mengalami pubertas puncak, kebingungan mencari jalan untuk melanjutkan tujuan. Tak hanya tubuhnya yang berkembang, rohani, pikiran, serta ilmunya bertambah dengan cepat. Dia adalah sorotan utama gurunya serta teman temannya. Anak terpandai dalam satu angkatan.

“Fab, kok kamu bisa pintar sih… kasih tau rahasianya donggg” tanya seorang sahabat karibnya. “gak ada rahasia kok, paling Cuma belajar rajin aja” jawabnya “aku kok belajar malah tambah bodoh sih” sahut Mirna, Mirna nadifa adalah salah satu sahabatnya juga. “yang kamu pelajari apa? Kok malah tambah begitu…” tanya Faby heran “aku belajar mencari tahu apa artinya kenyamanan dan kesempurnaan cinta” jawab Mirna centil “yahhh pantesannn” jawab Faby dan Sany hampir bersamaan.

Kedua sahabat Faby sudah memiliki pasangannya… walau hanya cinta monyet namun tak masalah kan? Sany dan Mirna selalu saja mencomblangi faby dengan segala cara namun, tak satu pun cara menembus hati faby.
Hingga pada suatu hari Faby sedabg mencari novel yang berjudul “Hujan” di perpustakaan, namun sayangnya novel itu tak ada di tempat semestinya. Saat ia menoleh tiba-tiba di belakangnya sudah ada seorang pria sambil membawa novel hujan. Faby terkejut ternyata di belakangnya ternyata pria famous di angkatannya… katanya sih banyak fans, tapi itu kan masih katanya… bukan salah lagi dia adalah Recky

“kok kaget? nyari novel hujan ya? Nih” ucap Recky sambil menjulurkan novel hujan di tangan kanannya “i.. iya.. tapi gak jadi kok” jawab Faby terbata bata. Entah apa yang dirasakan Faby dalam hatinya bercampur aduk antara deg degan juga grogi. “kenapa kamu keliatan panik?” tanya Recky heran “gak apa apa kok, permisi” jawab Faby sambil berlalu pergi.

Dalam perjalanan kembali ke kelas hatinya kacau tak menentu. Tak terasa perjalanan berujung di kelas. “hey kesurupan?” tanya Mirna cemas “gak, gak apa apa, tadi Cuma ketemu si Recky pas di perpustakaan” jawab Faby. “wahhh, sahabatku kesambet cinta nih” Sahut Sani. “apaan sih jangan ngawur”.

Bel pertanda masuk berdering, kali ini Mata pelajaran kelas Faby adalah IPA, bu Resti gurunya. Bu Resti menjelaskan pelajaran fisika yang ada di dalam buku. Bagi Faby ini adalah mata pelajaran yang menyenangkan namun berbeda dengan isi hati kedua sahabatnya mereka selalu membicarakan bu Resti saat istirahat atau setelah pelajaran Ipa. Menurut mereka bu Resti bukan menjelaskan alih alih berdongeng. Mau apa lagi, mau tidak mau, terima tidak terima, harus mau.

Lagi-lagi bel berbunyi kali ini waktu pulang. Tiga serangkai itu pulang bersama karena jarak rumah mereka yang saling berdekatan. Mereka pulang dengan angkutan umum. “Fabyyy, tunggu” seseorang memanggil Faby, suara yang pernah didengarnya. Dan itu adalah Recky, sambil setengah berlari mengejar Faby, Recky melambaikan tangannya yang mengisyaratkan tunggu. “loh, kamu kok bisa tau namaku?” tanya Faby canggung. “siapa sih gak tau kamu, orang pintar yang menjuarai lomba ipa se Bandung” jawabnya. “ada apa?” tanya Faby singkat. Kedua temannya hanya menyimak pembicaraan dua insan ini. “kamu tadi nyari ini kan?” tanya Recy sambil memberikan novel itu. “gak apa-apa kok, kamu baca aja dulu lagian aku belum izin ke perpustakaan buat bawa novel itu pulang” jawab Faby menolak. “yakin? Aku udah selesai kok, ayo aku antar ke perpustakaan mengurus peminjamannya” jelas Recky yang sepertinya benar benar ingin Faby meminjam novel itu. “mmmm, tapi temanku udah nunggu” jawab Faby sambil melirik kedua temannya yang sedang berbisik-bisik “gini Fab, kamu ke perpustakaan aja, gak apa-apa kok kita duluan, kali aja hatimu keikat sama dia, hihihi” jahil Mirna sambil berbisik. “ish, apaan sih” sahut Faby sambil senyum-senyum. “jadi gimana?” tanya Recky mempertegas “ya udah, kami titip Faby, jangan sampai lecet sedikitpun” jawab Sany. “Fab, kita duluan ya” sahut Mirna dan Sany hampir bersamaan “eh eh eh, kok ninggalin sih!!” ucap Faby setengah kesal, “sepertinya mereka sengaja ninggalin aku” ucap batin Faby “ya udah yuk, ke perpustakaan, tapi kamu jalan di depan, nanti aku diomelin sama teman kamu kalau lecet” ucap Recky bercanda. “ih, gak usah didengerin kata-kata mereka” sahut Faby sedikit kesal “ya udah maaf, hehe” sahut Recky cengengesan

Mereka berdua jalan bersebelahan, hati Faby merasakan hal lain, seperti rasa yang baru dirasakannya, rasa suka bercampur dengan grogi. Saat sampai di lorong terakhir menuju perpustakaan, rintik-rintik hujan turun dengan derasnya. “yahh hujan” ucap Faby cemas “hmm ya udah ayo kita ke perpustakaan biar cepat” ujar Recky. Faby hanya mengangguk pelan.

Mereka sampai ke perpustakaan, ternyata di sana masih banyak orang yang menunggu hujan reda sambil membaca buku atau mengerjakan tugas. Setelah mereka mengurus peminjaman mereka segera berjalan meninggalkan perpustakaan. Sambil diselingi pertanyaan-pertanyaan kepo yang dilontarkan Recky mereka berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor Recky.

“Fab, kamu pulang sama aku aja ya.. ini kan udah sore terus hujan lagi..” ajak Recky “emang kamu bawa jas hujan?” tanya Faby “astagaa.. aku lupa.. jas hujannya ada di tempat les kemarin” ucap Recky dengan ekspresinya yang membuat Faby tersenyum. “ya udahlah hujan hujanan aja” tantang Faby “siapa takut”

Sesampainya di tempat parkir Recky menyalakan motor ninjanya. Lalu diikuti Faby duduk di belakang. “pegangan!!” ucap Recky jahil “ish, gak bakalan jatuh kok” ucap Faby malu. Recky sengaja mengebutkan motornya keluar sekolah. “hey, kok malah dikencangin sih, dingin tauu” ucap Faby kesal. “makanya pegangan” ucap Recky. Terpaksa Faby pegangan erat pinggul Recky. Recky berjalan menuju rumah Faby, Faby menunjukkan arahnya.

Namun saat di pertengahan jalan Recky berhenti di sebuah warung yang tutup. “lohh kok berhenti?” tanya Faby “ada yang nyangkut.. turun dulu” ujar Recky “apaan sih yang nyangkut kayanya gaada apa apa” ucap Faby dengan nada cemas. Recky turun dari motornya lalu menarik Faby ke depan warung yang tutup itu. “hey jangan tarik tarik dong.. sakit” omel Faby “iya iya maaf” sahut Recky “katanya ada yang nyangkut.. sana betulin” ucap Faby “kali ini susah banget buat dilepasin” ucap Recky “emang apa sih yang nyangkut di motor kamu?” tanya Faby “bukan di motor nyangkutnya” jawab Recky “trus di mana sih.. aduh lama-lama pulang sendiri deh” tanya Faby yang semakin penasaran “Hati aku nyangkut di hati kamu.. baru kali ini aku ngerasain hal yang beda saat dekat kamu” ucap Recky sambil memegang tangan Faby. “ja.. jangan bercanda ah.. gak enak hujan nih” ucap Faby kaget “aku serius kali ini.. kamu mau jadi pacar aku?” tanya Recky dengan tatapan yang tajam nan romantis

Cuaca saat itu sangat mendukung Recky menyampaikan isi hatinya kepada Faby. Beberapa detik Faby kaget bercampur malu. Faby hanya mengangguk pelan yang menunjukkan bahwa dia mau jadi pacar Recky. Recky sangat kegirangan.. langsung saja dia memberikan jaket di bawah jok motornya kepada Faby. “hey ini ada jaket.. kenapa gak adri tadi aja.. dingin tau” ucap Faby sambil memukul pundak Recky “jaket ini khusus untuk pacar tercintaku” ucap Recky gombal “ohhh… berarti kalau aku menolak tadi, kamu gak akan ngasih jaket ini?” ucap Faby manyun. Mereka bercanda hingga tak terasa waktu semakin sore.

Recky mengantar Faby pulang ke rumahnya. Bandung sore terasa hangat bagi mereka berdua walau hujan mengguyur. Sore itu, akan menjadi hari yang special bagi dua insan tuhan yang saling mencintai itu. Cinta ini bersemi saat turun hujan. Mungkin ini yang biasa disebut hujan pembawa cinta…

Cerpen Karangan: Davies Syawalludin Yusuf
Facebook: Davies_sawalludinyusuf[-at-]yahoo.com

Cerpen When it Rains merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Hebat Nak

Oleh:
Sinar matahari masuk ke dalam kelopak mataku. Aku pun menyadari, Jika aku… Aku kesiangan!!. Aku pun bergegas bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi. “Aduh, Aku

Anniversary 12 Month (1 Year)

Oleh:
Aku adalah seorang Pria berumur 14 tahun yang memiliki seorang mantan berinisial SAM yang berumur 12 tahun. Kami mulai berpacaran pada tanggal 12 Januari 2013. Dia memiliki sikap dan

Hanya Sebatas Kakak dan Adik

Oleh:
Saat itu Ruth adalah seorang siswi kelas X yang berarti juga seorang junior di SMAN Model 3 Palu, hal yang pertama terfikir di benak Ruth adalah bagaimana caranya mencari

I Hope You’re Happy (Part 2)

Oleh:
Cukup lelah hari ini. dan sekarang saatnya untuk mandi dan beristirahat. “hemmm segarnya” ucapku saat selesai mandi. Aku pun melihat ponsel ku. Lagi-lagi ada pesan masuk dari Fadil. Mau

Masa Kita

Oleh:
06 Desember 2014 “Tunggulah aku, Cytha!” Senyuman menutup perlahan jumpa kita siang itu di sebuah bandara. Kamu melambaikan tangan dan melangkah pergi menaiki pesawat internasional yang akan membawamu membelah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “When it Rains”

  1. aku riska bukan dapis says:

    bagus banget kakakkkkkkk syukakkkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *