When Love Comes Involuntary

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 May 2018

Kata orang cinta itu memabukkan. Namun, bagi Andra semua itu hanyalah omong kosong belaka. Cinta menurutnya seperti kata-kata yang terukir dari tinta, mereka tulis di papan tulis lalu menghapusnya. Mereka datang kemudian pergi seperti siklus yang tiada berakhir.

Namun Sinta tak percaya, dia yakin suatu hari pujaan hatinya akan datang dan menjemput cintanya. Sinta menganut paham romantisme yang memandang cinta itu kekal, abadi, dan tak lekang sepanjang masa.

“Lo kenapa sih? Buku roman picisan kayak begitu dibawa ke mana-mana.” Sahut Andra di balik Sinta yang mengagetkan gadis itu.
Sinta menutup bukunya kuat-kuat lalu menatap Andra dengan kesal. “Kamu yang kenapa? Selalu saja mengganggu saya.”

Sinta berteriak sampai napasnya tersengal sedangkan Andra menaikkan satu alis hitamnya. Sinta tahu setelah ini akan berdampak buruk, terbukti Andra mengambil buku miliknya dan mengangkat buku itu tinggi-tinggi.

“Turunin Andra, saya perintahkan kamu!” Sinta terus melompat untuk meraih buku bersampul merah tersebut tapi apa daya tubuhnya yang setinggi dada Andra jadi penghambat.
“Andra, saya mau baca! Sebentar lagi guru akan masuk.” Kata Sinta lirih.
“Tapi gue mau lo bantuin gue buat ulangan nanti, ajarin gue di kantin kalau sudah istirahat pertama.” Andra menyeringai memberi jeda sebentar. “Atau enggak buku ini bakalan raib.” Ancam Andra membuat Sinta geram. Sekali lagi gadis itu tidak berkutik, mana mau dia kehilangan buku kesayangannya.

“Oke!” Jerit tak terima Sinta kemudian Andra terkekeh dan menyerahkan buku itu.
“Good Job!” Andra menepuk puncak kepala Sinta. Gadis itu terkesiap, jantungnya berdetak lebih cepat. Namun dia menggeleng kemudian, mana mungkin Sinta menaruh perasaan dengan Andra yang begitu menyebalkan.

Sinta berdecak malas, dia membuka lokernya pelan tak bertenaga. Surat berwarna merah muda di sana terus menerus semakin banyak. Mungkin jika dikumpulkan akan menjadi gunung yang mudah terhempas angin, hancur oleh terjangan ombak, dan tak kuat jika dipijak.

Dia tahu, mereka hanya ingin menjalin hubungan dengan Sinta. Sesederhana itu. Masalahnya Sinta merasa tidak cocok, bukan ingin jual mahal. Hanya saja cinta tak mungkin dipaksakan, bukan?

Sinta sebenarnya telah menunggu dan mencari. Entah kenapa, sampai sekarang belum juga bertemu. Hatinya masih terkunci, dan dia yang malah mencari penjaga kunci tersebut.

“Ris, pacaran itu kayak gimana sih?” Tanyanya suatu hari ketika sedang duduk berdua dengan Risma. Dirinya malah mendapat ledakan tawa dari sahabatnya itu. Sinta tersenyum kecut, lagi-lagi dia menyalahkan kenapa sang penjaga kunci tak kunjung datang.
“Ya gitu, cinta ya gitu.” Jawab singkat Risma menahan tawa sampai wajahnya merah padam. Jarang sekali dia mendapati Sinta menanyakan tentang cinta. Selama ini di pikirannya, Sinta baik-baik saja. Tentu dengan novel roman picisan yang selalu dibawanya.

Makanya, terkadang Risma suka takut Sinta tidak bisa menyukai laki-laki dan malah terus tertarik dengan lembaran kertas maya tersebut. Mana ada cerita novel mirip dengan kejadian dunia nyata. CEO kaya, tampan, berwibawa itu hanya bullsh*t. Yang ada juga tua, gendut, dan buaya darat. Belum lagi badboy tampan tapi romantis. Adanya juga songong dan bengis. Karena itu, Risma tidak pernah suka baca cerita novel romance. Suka bergidik ngebayanginnya. Palingan juga dia baca biografi tokoh dunia. Itu pun, jika matanya punya daya beberapa watt sehingga tidak menutup sendirinya.

“Gitu gimana coba?” Sinta kesal, Risma memang begitu. Dia minta saran, sahabatnya itu hanya menggampangkan. Dia punya masalah, Risma malah seenaknya bilang, “ya udah, itu sih tinggal.. bla bla bla.”

Anehnya Sinta tetap nyaman, Risma memang punya kelebihan unik. Sekalinya masalah itu benar-benar pelik, dia akan serius bantuin Sinta. Pikirannya juga luas dan dewasa, sikapnya lembut. Makanya banyak laki-laki yang ingin dekat dengan dia. Walaupun semuanya gagal karena dia langsung berubah 180 derajat. Jutek dan galak banget, sudah kayak macan kelaparan.

“Cinta itu kayak Adolf Hitler, mengerikan dan sadis. Semua Indera kamu berasa lumpuh dan terisi cinta semua. Pokoknya, kamu jangan pernah deh jatuh cinta.”

Sinta melotot kaget, jawaban itu ngawur semua. Masalahnya dia sedang serius, tapi Risma malah bercanda. Kalau sudah begini, dia jadi malas.

“Terserah deh.”

Sinta sudah mengetahui pengirim dari surat-surat itu. Nama-nama yang sudah tidak asing lagi di sekolahnya. Mulai dari jawara sekolah, sampai ketua OSIS sekaligus. Beberapa memang tampan tapi tidak ada yang menyangkut di hati Sinta.

Sinta mulai kesal sendiri, kenapa jantungnya tidak berdegup kencang sekalipun mereka mengajak pulang dan memberi cokelat atau sebuket bunga. Kenapa dia tidak malu-malu ketika mereka menyatakan cinta pada Sinta.

Lamunannya buyar, ketika laki-laki yang datang dengan napas tak beraturan tersenyum lebar. Bukan manis, tapi jahil. Yang seperti ini, selalu bikin Sinta naik darah.

“Halo.” Cengiran khasnya terlihat bersamaan sinar matahari yang masuk dari jendela. Sudut bibirnya mengangkat dan matanya menyipit. Rasa aneh datang ke jantung Sinta, kenapa jadi lebih aktif begini?
“Mau apa?” Sinta tak perlu basa-basi, dia tahu laki-laki ini pasti ada maunya.
“Ketemu sama lo emang gak boleh apa?” Andra menaik turunkan alisnya. Keringat juga bergerak dan perlahan menuruni kontur wajah Andra. Sinta sendiri terkesiap, kenapa jadi fokus sama keringat Andra.
“Hayo, ngebayangin apa? Pasti yang enggak-enggak nih tentang gue.” Andra tersenyum lagi, tapi kali ini membuat Sinta benar-benar gerah. Senyumannya itu percaya diri banget, seperti orang yang paling tampan sedunia bikin Sinta ilfeel sendiri.
“Mana mungkin.” Jawab Sinta seadanya dan mengacuhkan Andra. Fokusnya jatuh pada kata-kata dari novel yang dia baca.

Cinta ada karena terbiasa, cinta ada meleburkan dua pikiran menjadi sama rasa. Cinta ada karena kita.

Merasa ada yang bergerak di depannya, Sinta melirik dan melihat di depannya kosong. Andra sudah pergi, begitulah di pikirannya sebelum suara di belakang Sinta membuat seluruh bulu kuduknya merinding.

“Cinta ada karena kita, saya dan kamu. Kalau saya cinta sama kamu, semesta bisa apa?”

Bunuh Sinta sekarang, karena jantungnya berdebar seperti genderang yang mau perang.

Berhari-hari Sinta menjauh dari Andra yang semakin gencar mendekatinya. Jujur, Sinta sendiri juga bingung, roh apa yang merasuki Andra sehingga bisa jadi seperti itu.

Bahkan malam hari kala rintik hujan mulai turun, Andra datang dengan segenap rasa percaya dirinya. Walau dia tidak membawa apa-apa, hanya setengah lingkaran yang tercetak di bibirnya.

Waktu itu Sinta bingung, tiada angin yang membawa pesan supaya Andra datang. Makanya dia langsung bertanya bukan menyuruh Andra berteduh di rumah.

“Kamu ngapain datang ke sini?”

Laki-laki itu menatap lembut beda sekali dengan yang biasa dia lakukan di sekolah. Sesekali menggaruk tengkuk kepalanya, dia berkata dengan mudah.

“Kenapa bertanya seperti itu? Saya ke sini untuk kamu. Saya ke sini untuk pulang. Kamu tempat berpulang dan melepas penat sampai senja terbenam. Seharian energi saya habis bertemu dengan kamu, bukan?”

Mata Sinta membulat, bertambah besar dari ukuran normal. Dia menggeleng kepalanya pelan. Keajaiban dunia kedelapan, super sekali.

“Kamu beneran Andra?” Tentu saja Sinta tak percaya, Andra yang biasa dikenalnya bukan seperti ini. Manusia barbar yang tak kenal peraturan, sosok yang tertawa setiap saat, jelmaan jerapah yang selalu mengambil novel picisannya.

Setelah itu, Andra berteduh sebentar lalu pulang. Tak lupa dia pamit dengan manisnya. Ini yang membuat Sinta pusing tujuh keliling. Biasanya laki-laki yang mendekatinya masih bisa dia taklukan. Masalahnya Andra, Sinta mending pacaran dengan novel daripada dia.

Namun wajah Sinta panas sendiri, enggak tahu merah merona atau tidak. Kata-kata semalam mirip dengan novel picisannya. Semuanya hampir sama dan dalam pikiran terjauhnya, dia berspekulasi yang walaupun agaknya hal itu mustahil terjadi.

“Apa jangan-jangan Andra baca novel romance kemarin?”

Sosok itu terlihat lagi memegang botol sambil memakai earphone, dia melirik Sinta namun kali ini datar. Tak ada lagi senyum jahil, bahkan tatapan teduh seperti semalam. Bagian hati Sinta hilang, terasa sakit di bagian dalam. Tidak tahu kenapa, Sinta kangen dengan Andra yang kemarin.

Cepat-cepat dia menggeleng kepala, Sinta menepis perasaannya sendiri. Tidak mau terus jatuh, Sinta melangkahkan kakinya meninggalkan Andra.

Istirahat juga sama, sosok tinggi jangkung itu menghilang. Kenapa Sinta jadi cemas begini, masalahnya Andra selalu datang setiap istirahat. Hari ini tidak, pasti ada sesuatu yang salah!

Dengan langkah sigap, Sinta mencari Andra. Mungkin ini salah satu hal terbodoh yang pernah dia lakukan semasa hidupnya. Tetapi Sinta tidak peduli, yang terpenting dia bisa melihat senyum jahil laki-laki itu. Dia tidak mau Andra alfa memperlihatkannya.

Murid-murid berlarian ke ruang UKS. Raut wajah mereka panik dan beberapa meringis ketakutan. Jantung Sinta berdegup kencang, seperti masyarakat ugal-ugalan yang menembus lampu hijau di jalan-jalan. Berbagai dugaan datang di kepalanya, bisa saja Andra jatuh dari lantai dua di sekolah.

Sinta memang bodoh menerka-nerka, yang pasti dia tidak mau suatu hal terjadi pada Andra. Sesekali dia berlari walau tungkai kakinya sudah lemas.

Awalnya Sinta tersenyum, tapi perlahan memudar. Wajah Andra babak belur, lebam biru tampak di mana-mana. Sinta melompat kaget dan menghampiri Andra dengan cepat.

“Andra! Kamu kenapa?”
Laki-laki itu malah cengengesan dan sesekali meringis karena sudut bibirnya yang tertarik.
“Khawatir ya?”

Bukan khawatir lagi Andra, Sinta jantungan setengah mati. Untung dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Kalau tidak, mungkin para murid akan lebih heboh lagi melihat headline berita koran-koran ‘seorang siswi meninggal dunia karena melihat temannya luka-luka’.

Sinta mendengus kesal menutupi rasa gugupnya. Sejak kapan dia malu-malu begini. Pengaruh Andra memang sangat hebat, bahkan sekarang dia kikuk tidak tahu mau berbuat apa.

“Kenapa megang botol terus sih?” Nah kan baru bilang apa, Sinta gugup dan pertanyaan bodoh meluncur dari mulutnya. Dia malu banget tentu, tapi penasaran juga. Masalahnya hal ini benar-benar tidak penting. Untung Andra tidak meledek dan malah menjawab dengan santai.
“Saya suka botol dari dulu, dia baik banget. Kalau kita haus, pasti yang pertama dicari adalah botol minuman. Setelah selesai, pasti semua orang akan berterima kasih kepada airnya. Bukan kepada botol yang membawa air. Padahal air akan tumpah jika botol tiada, menetes jika berlubang.”

Sinta mengangguk pelan dan berdecak kagum walau dalam diam. Tidak pernah terpikir Andra bisa sebijak ini. Maklum saja, sikapnya yang tengil menutupi semua itu.

“Dan cinta juga sama, mereka seperti air. Datang mengisi rongga pada botol dan hilang pergi tertelan. Bagi saya, cinta itu tidak ada yang kekal. Mereka hanya singgah kemudian pergi lagi.”

Sinta mengernyit, pertama karena Andra yang tidak memakai lo-gue lagi. Kedua karena tidak setuju, mana ada cinta yang tidak kekal.

“Cinta itu kekal, saya tidak setuju sama kamu. Buktinya ada Romeo dan Juliet dengan kisah abadinya. Qais dan Laila yang walaupun ditentang keluarga, mereka tetap bersama. Bahkan yang paling murni, ibu dengan anaknya. Jadi atas dasar apa kamu berkata seperti itu.”

Andra menaikkan satu alisnya, menantang. Tentu saja Sinta kesal, dia kan perempuan. Pastinya ingin menang, masa Andra tidak mau kalah.

“Terserahlah, saya juga tidak peduli. Namun sebenarnya ada seseorang yang mampu mengubah semua itu. Menghancurkan semua anggapan saya selama ini tentang cinta. Saya juga tidak tahu sendiri kenapa.”

Baru saja Sinta ingin bertanya, Andra langsung mengambil earphone dari saku dan memakainya. Sinta menyesal, lebih baik dia habiskan waktu membaca novel picisannya daripada mengurusi Andra.

Andra memejamkan mata dan mengangguk serta mulutnya membuat gerakan abstrak mengikuti lirik yang didengarnya. Sinta mengigit bagian bawah bibirnya, dia penasaran. Akhirnya dengan segenap keberanian, dia bertanya.
“Kamu lagi dengerin lagu apa?”

Andra membuka matanya langsung tersenyum hangat. Tanpa aba-aba dia menarik Sinta mendekat dan memasukkan satu earphone ke telinga gadis itu. Sinta gugup sudah pasti, masalahnya sekarang aroma mint dari tubuh Andra menyeruak memenuhi hidung Sinta.

Sinta lagi-lagi bingung, kenapa Andra ini penuh dengan misteri. Sudah satu menit dia menunggu, tapi lagu tidak kunjung terdengar.

“Mana lagunya? Kok tidak ada?”
“Memang tidak ada, lagunya berasal dari hati kamu. Dengerin deh liriknya.” Suruh Andra dan Sinta tetap dalam posisinya. Sejenak berpikir, dia yang bodoh atau Andra yang sudah kelewat gila.

“Saya cinta sama kamu.” Sinta terkejut, waktu seakan-akan berhenti. Bahkan irama jantungnya terdengar jelas.

“Kamu yang berhasil merubah pandangan saya tentang cinta. Saya sendiri juga tidak tahu alasannya. Kamu yang berhasil memporak-porandakan hati saya, memenuhi pikiran, dan sejenak membuat saya gila. Kamu involunter, tidak tertebak oleh otak saya, tidak bisa diterjemahkan dalam kamus hidup saya, tidak bisa dicari dalam wikipedia tubuh saya.
Mungkin dalam novel picisan, mereka akan langsung menembak dalam posisi seperti ini. Saya ingin berbeda, anti-mainstream sedikit.”

Andra tertawa, renyah sekali di pendengaran Sinta. Damai rasanya, tidak tahu kenapa.

“Tunggu saya hingga sukses, saya akan bekerja keras. Karena saya tahu, kata cinta saja tidak akan cukup untuk menjamin masa depan kamu. Maukah kamu tetap bersabar menunggu saya?”

Sinta tidak menjawab membuat Andra sedikit resah. Namun, akhirnya gadis itu bersuara, melegakan perasannya.

“Liriknya bagus banget, romantis. Saya suka.”

Andra melongok, jadi selama ini Sinta berhalusinasi menganggap semuanya adalah lirik lagu. Sebagus apa sih suara dia. Wajahnya kusut, persis seperti pakaian yang belum disetrika. Sinta akhirnya tertawa juga, membuat Andra bernapas lega untuk yang kedua kalinya.

“Jadi bagaimana?”
“Maksudnya?”
“Kamu mau?”

“Tentu.”

Cerpen Karangan: Aldi Murti Firdaus
Blog: jusritergoin.blogspot.co.id

Cerpen When Love Comes Involuntary merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kita yang Tidak Saling Mengerti

Oleh:
“loe ga waras ya, Bel? Cewek secantik Vina loe tolak! Mau cari yang kayak gimana lagi bro.” Ibel hanya senyum-senyum mendengar ocehan Radit yang tak jelas baginya. ‘siapa yang

I Think You’re Born To Be Mine

Oleh:
Tepat pukul 06.30 pagi bel sekolah berbunyi. Aku sudah malas mendengarnya. Nama ku Avalana. Aku punya 3 orang sahabat. 1 cewek namanya Sheril 2 cowok namanya Luca dan Ray.

Ada Apa Dengan Negara Ini

Oleh:
Reno terus berlari dengan kencang 2 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup dia berlari sambil meruntuki dirinya sendiri, motor yang dibawanya mogok di tengah jalan dia lupa membawanya ke

Hubungan Yang Tak Disangka

Oleh:
Nama gue Septi. Gue punya sahabat terbaik, namanya Puja. Gue sama Puja udah terkenal banget di sekolah karena kekompakkan kami. Gue sama Puja baru kelas 2 SMP. Pada hari

Dua Kali

Oleh:
Rindu ini sungguh meyiksa bathinku… Semilir angin malam tolong sampaikan pada kekasih jiwaku, Dikala aku menutup mataku ketika malam aku mengingat wajahnya… Dikala aku terbangun di pagi hari aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *