Yes! I’m Your Home (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 May 2019

Matahari semakin melesat ke bawah. Udara sudah berubah menjadi lebih sejuk dari sebelumnya. Aku melirik jam tangan yang melilit di tangan kiriku. Sudah menjelang pukul 4 sore. Aku pulang dengan hati yang cukup senang bagaimana tidak, menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai.

Kudekap perut Riski yang kekar. Aku menikmati kebersamaan kami rasanya begitu nyaman mendekap Riski. Seandainya saja, Aku juga bisa mendekap hatinya. Takkan pernah kubiarkan pergi. Akan kusimpan rapi. Takkan kubiarkan sehelai rambutpun mengalami kesakitan. Yah hanya andai saja. Motor berhenti di sebuah warung bakso Malang pinggir jalan. Kami memang belum makan dari tadi siang.

“Bang, pesen dua mangkok” Riski memesan dua porsi bakso. Setelah itu Kami duduk di kursi plastik. Tidak berapa lama kemudian bakso malang pesanan kami datang. Aku mencicipi kuahnya terlebih dahulu. Rasa nikmat langsung terasa di lidah. Aku belum pernah makan bakso seenak ini sebelumnya.

“Kapan-kapan ajak makan bakso malang lagi ya?” pintaku pada Riski ketika kami sudah sampai di rumahku.
“Sip” Ia mengacungkan jempol. Aku melambaikan tangan ketika Ia mulai meninggalkan pekarangan rumahku. Aku menyadari jaket Riski masih menempel di tubuhku ketika ingin ganti baju. Aroma parfumnya sangat menenangkan. Aku melepasnya dengan hati-hati takut pergelangan tanganku yang tadi luka tergores lagi. Aku tidur dengan mendekap jaket Riski.

Hari masih benar-benar pagi ketika Aku bangun tidur. Aku berdiri di depan jendela. Aku memandang jaket Riski yang tergeletak di ranjang. Bagaimana ini, kenapa sampai detik ini Aku masih mencintai Riski. Bagaimana kalau akhirnya Riski memilih perempuan lain lagi. Apa Aku sanggup berpura-pura bahagia dengan perempuan lain. Seperti Aku berpura-pura saat Ia berpacaran dengan Resa. Aku membuka jendela, hawa dingin langsung menyergap tubuhku.

“Vira!!” sebuah hentakan tangan mengagetkan pundakku. Buku yang tadi kubaca seketika menutupi wajahku. Aku sudah mengira, tentu saja Riski. Ia menertawaiku. “Ngapain sih Ki?, gak lucu tau gak?” Aku kembali membolak-balikan buku mencari halaman yang terakhir kali Kubaca. “Serius amat sih?”
“Nanti ada quiz Pak Rudi” jawabku singkat. Ia yang selama ini memberitahuku mana dosen yang galak, yang humoris, yang serius semua Ia yang memberitahu. Karena sebenarnya Ia berada dua tingkat diatasku. Namun Ia melarangku memanggil dengan sebutan ‘Kak’ kurang akrab katanya.
“Ra tadi Aku ketemu sama temen lama Aku, Dia cantik banget” Ia duduk di depanku “Namanya Tika, anak kampus sebelah”
Aku tidak menanggapi apa yang Riski katakan. Ia mulai kesal kemudian pergi. Aku menutup buku dan melihat punggung Riski yang mulai menjauh. Belum pernah Ia mengatakan Ia melihat perempuan cantik selain Resa dan Aku. Apa dia suka dengan perempuan itu.

Seperti yang Riski janjikan kepadaku. Kami makan bakso Malang lagi. Ia yang mentraktirku. Sore hari di pinggir jalan, duduk di kursi plastik dengan orang yang dicintai mengalahkan indahnya makan di restauran termahal sekalipun. Kami pulang melewati jalan yang bukan biasanya Kami lewati.
“Kok lewat sini?” tanyaku setengah berteriak
“Biar lebih jauh saja” Ia malah cengengesan.

Ketika Kami melewati sebuah toko bunga Ia melihat ke arah dalam toko bunga, seperti mencari sesuatu. Tapi Aku tidak melihat apapun selain bunga yang tertata rapi dari pintu dan dinding kaca.

“Jalan yuk” ucap Riski ketika Ia datang ke rumahku pagi-pagi buta. Kelakuannya tiap libur kuliah ke mana lagi kalau bukan ke makam Resa.
Aku kembali masuk rumah tanpa berkomentar. Percuma mengatakan tidak, Ia tetap memaksaku.

Lima belas menit kemudian Kami sudah berada di jalanan menuju makam Resa.
Kami berjongkok sekitar sepuluh menit di samping makam Resa. “Mana tangan Kamu?” Ia menggamit tanganku. Ia memberiku sesuatu. Menggenggamkan tanganku. Aku membukanya, kerikil. Kebahagiaan apa yang baru Ia dapatkan.
“Aku dapat nomor Tika?” Aku mengernyit “Teman lamaku yang pernah Aku ceritain di kampus”
Aku tergagap “Hah, beneran? bagus dong kalau begitu” Aku pura-pura bahagia
Ia tampak kegirangan. Aku melirik kerikil yang kugenggam. Jadi karena ini Riski bahagia.
“Aku traktir makan bakso Malang lagi deh”
Aku mengangguk.

Kami memesan bakso. Aku memakan suapan pertama bakso dengan lahap.
“Ternyata kamu sama ya dengan Resa…” Riski tersenyum
“Sama?” tanyaku tidak mengerti
“Resa juga suka dengan bakso Malang. Di sinilah Kami pertama kali kencan” pandangannya menerawang. Resa lagi?? Sebegitu dalamkah cinta Riski ke Resa meskipun sudah berbeda alam?. Suapan berikutnya rasa bakso terasa hambar. Ia terus mengoceh tentang Resa, seperti tidak ada bahan obrolan lain selain Resa.

Minggu berikutnya, Riski semakin dekat dengan Tika bahkan Ia sering pergi berdua dengannya. Aku benar-benar merasa dibuang, Riski sudah jarang menemuiku. Dan alasan kenapa Ia memilih jalan lain karena Tika bekerja di toko bunga yang pernah Ia perhatikan. Ia sendiri yang memintaku untuk berjanji selalu di sampingnya. Tapi Ia juga yang meruntuhkan keteguhan janji Kami. Aku memaki hatiku kenapa tidak dari dulu Aku melupakannya, membencinya, menjauhinya. Namun satu hal yang tidak kumengerti sampai saat ini, Aku masih cinta padanya.

Hari ini Aku berjalan menuju kampus. Riski sudah jarang menjemputku. Aku menendang kerikil kecil. Melihat ujung sepatuku mengenai dedaunan yang gugur dari pohonnya. Aku mengangkat kepalaku ketika sebuah motor lewat dari arah yang sama denganku. Aku sangat mengenali suara motornya. Riski, benar itu Riski Ia sedang bersama Tika. Ia sama sekali tidak menegurku.

Di kantin kampus, Aku menghampirinya. Ia tersenyum. Namun, baru lima menit Aku duduk di sini. Ia sudah berpamitan pergi. Ada urusan katanya. Ketika, Ia berdiri ingin membayar makanannya juga Es jeruk yang kupesan. Tidak sengaja riwayat chattnya masih terbuka. Aku meliriknya, dari Tika. Tika meminta bertemu. Mataku berkaca-kaca.

Pulang kuliah Aku pergi ke makam Resa. Aku menangis sejadi-jadinya. “Res, maafin Aku gak bisa nepatin janji” Aku teringat saat Resa dirawat di rumah sakit. Ia memintaku untuk menjaga Riski dan memintaku menjadi rumah Riski. “Aku sudah gak tahan lagi, dulu ketika Riski bersama Kamu Aku bisa berpura-pura bahagia” Aku terisak “Tapi dengan perempuan lain Aku gak bisa. Ia membuangku, Ia sudah tidak membutuhkanku. Kamu tau, selama ini Aku berharap Riski membuka hati untuk orang lain. Ketika sekarang Ia sudah melakukannya Aku malah sakit hati. Aku ini benar-benar egois ya Res. Ia sudah menemukan rumahnya. Tapi kini Aku yang kehilangan rumah. Maafin Aku Res…” Aku menghela napas “Mungkin Aku akan menjauhinya dan bahkan berpura-pura untuk tidak pernah mengenalnya. Ia mungkin akan bahagia dengan perempuan lain. Sekali lagi maaf Res” Aku menyusut ingus. Mendoakan Resa dan berdiri meninggalkan makam.

Betapa terkejutnya Aku ketika Aku berbalik sebuah pelukan langsung menyergapku. Aku mengenali parfumnya. Sejak kapan Riski ada di sini?. Aku melepaskan pelukannya dan pergi. “Ra tunggu” Riski mengejarku. “Riski berhenti di sana!” pintaku ketika Kami memasuki area parkiran. “Tapi kenapa Ra?” Riski mendekatiku “Kamu masih tanya kenapa?, berhenti berpura-pura. Kamu sudah mendengar semuanya tadi. Sekarang Kamu boleh bilang Aku bodoh. Aku memang bodoh, mencintai orang yang sama sekali tidak menghargai Aku, orang yang jelas-jelas membuangku, menghubungiku jika perlu. Aku ini memang orang bodoh!” Aku berbicara dengan volume yang tinggi.
“Maaf Ra tapi Aku mau ngomong sesuatu..”
Aku memotong perkataan Riski dengan cepat “Mau ngomong apa?” Aku melirik tangannya menggenggam kerikil “Ngomong kalau kamu sudah jadian dengan Tika. Aku sudah lelah berpura-pura bahagia atas semua yang membuatmu bahagia. Aku lelah. Apa aktingku sangat sempurna?. Sampai-sampai Kamu gak menyadari bahwa itu hanya pura-pura dan melanjutkan kebahagiaanmu diatas rasa sakitku? Aku memang bodoh ya?” Aku menangis. Terisak-isak.

“Ra jangan nangis. Aku gak bisa ngeliat kamu nangis..”
“Kamu gak perlu khawatir Ki. Aku gak bakal minta kamu ngehapus air mata Aku. Aku tau tangan kamu hanya mampu menghapus air mata orang yang Kamu cintai…”
“Stopp!” Ia membentakku “Kamu sudah banyak bicara. Beri Aku kesempatan bicara” Aku membuang muka. Ia memelukku. Angin bertiup semilir. Menerbangkan dedaunan yang kering.

“Bukan Kamu yang bodoh. Tapi Aku. Karena terlambat menyadari kalau Kamu juga mencintai Aku” Aku berusaha melepaskan diri. Tapi ia sangat erat menahanku
“Aku mencintaimu” ucap Riski melemah. Aku juga melemah tidak meronta. “Aku tidak tau kapan Aku mencintaimu. Yang jelas, saat ini Aku benar-benar mencintai dan menyayangimu. Kamu adalah rumahku. Tempatku untuk pulang adalah Kamu. Kalau Kamu pergi ke mana lagi Aku akan menemukan rumahku. Bahkan Aku tidak yakin akan menemukannya selain Kamu”
“Apa kali ini Kamu jujur ke Aku. Atau hanya sebatas rasa kasihan padaku?”
“Kenapa kamu gak mempercayaiku?, Aku serius. Soal Tika, Kami hanya berteman. Teman bisnis. Alasanku akhir-akhir ini jarang menemuimu karena Aku sedang mengurus bisnis sepupu Aku yang Ia percayakan padaku. Aku dan Tika hanya sebatas kerja sama bisnis” tukasnya jelas
“Apa Aku bisa mempercayaimu?”
“Bisakah Kamu percaya padaku?”
Aku tersenyum bahagia “Tentu karena Aku adalah rumahmu, mana mungkin Kamu bisa bohong pada rumahmu sendiri” Ia kembali memelukku bahagia.

“Untukmu” Ia menggengamkan kerikil pada telapak tanganku
Seseorang pasti akan menemukan rumahnya. Meskipun terkadang harus singgah di rumah orang lain terlebih dahulu.

End

Cerpen Karangan: N. Ratna. D
Email: novitara08@gmail.com
Blog / Facebook: NovitaRa Dewi

Cerpen Yes! I’m Your Home (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hormati Ayah

Oleh:
Senandung adzan mengiang-ngiang di telinga menandakan umat muslim untuk solat, namun aku tak memperdulikannya. Menutup telinga dengan guling layaknya mendengarkan musik pop dengan headphone. Belum usai suara adzan, Ayah

Don’t Go

Oleh:
Namaku Raihan Alfiansyah. Umurku 17 tahun. Ya, seperti anak remaja lainnya aku juga telah mengerti apa itu cinta. Di sekolah aku terkenal sebagai kakak kelas sekaligus ketua OSIS yang

Em dan Kim (Part 2)

Oleh:
Waktu berlalu. Em kini menjabat sebagai Manajer Engineering di sebuah Perusahaan Multinasional. Kariernya melesat dalam waktu singkat karena Em adalah pemuda yang rajin dan pintar sehingga jajaran Direksi mengangkatnya

Beautiful Melody

Oleh:
Melodi yang selalu ku dengar. Melodi yang selalu menenangkan diriku. Melodi yang selalu bersamaku. Melodi yang terindah yang pernah ku dengar dalam hidupku. — Namaku Nico, seorang pelajar SMA

Azam dan Hari Sial

Oleh:
Mataku masih setengah terbuka, aku segara melihat ke arah jam di samping tempat tidur ku, disana menunjukan pukul 05.26 hari ini hari rabu meskipun masih terlalu pagi aku harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *