You Are My Destiny (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 6 March 2015

Sonia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Ia menghirup nafas panjang dengan lega. Kuliah semester ini telah berakhir dengan IP yang memuaskan. Ia menyambut liburan dengan penuh suka cita. Ayahnya sudah berjanji untuk mengizinkannya liburan di villa milik keluarga. Ayah Sonia seorang pengusaha sukses dan ternama. Banyak pria yang ingin mendapatkan hati Sonia, seorang putri tunggal pengusaha kaya. Tapi belum pernah sekalipun Sonia menerima cinta para lelaki yang mengejarnya. Ia lebih memilih fokus kuliah dan belajar mengelola bisnis ayahnya.

“Kamu jadi liburan ke villa kita di pantai?” tanya Papa sambil menghampiri Sonia di sofa.
“Jadi dong, Pa… Kan Papa udah janji. Tapi Nia boleh ngajak teman nggak?”
“Papa izinkan kamu. Tapi syaratnya kamu sendirian aja ke sana. Nggak usah ngajak teman. Oke…”
“Yaacchhh, Papaaa… Hhmm, ya udah deh kalo gitu.. Makasih, Pa…,” Sonia memeluk ayahnya dengan manja.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sonia berangkat ke villa yang berada di tepi pantai. Rencananya ia berada di sana selama satu minggu. Setelah perjalanan selama tiga jam, akhirnya sampai juga gadis itu di pantai. Pandangan mata Sonia mulai dimanjakan dengan warna biru favoritnya. Birunya langit siang yang berhias gumpalan awan putih. Air laut yang biru pun berkilauan diterpa cahaya mentari. Ombak berkejaran melagukan suara alam yang menyamankan telinga. Suasana yang sangat mendamaikan jiwa.

Hanya sebentar saja Sonia ke villa untuk memasukkan koper dan barang bawaannya. Lalu ia kembali menikmati pemandangan pantai. Hingga waktu sore menjelang, ia masih menghabiskan waktunya bermain di pasir pantai yang putih bersih. Pantai ini cukup sepi karena masih jarang dikunjungi orang. Kebanyakan pengunjungnya hanya berasal dari pemilik atau penyewa villa yang berjajar di sepanjang tepi pantai. Sonia masih asyik sendiri menikmati sentuhan kakinya yang dibelai ombak-ombak kecil. Hingga tiba-tiba suara seorang lelaki mengagetkannya.
“Gadis secantik kamu, kok sendirian aja?!” suara lelaki yang menghampiri Sonia.
“Kamu ngomong sama aku?” tanya Sonia heran dan memandangnya curiga.
“Iya lah, siapa lagi? Cuma ada kamu dan aku di sini…”
“Tapi aku gak kenal sama kamu!”
“Kalau gitu kenalin, namaku Andra. Kamu siapa?”
“Aku nggak tanya namamu!” Sonia mulai tidak nyaman.
“Temani aku di sini!” kata Andra yang terdengar sebagai perintah bagi Sonia.
“Kamu ini siapa sih? Nggak kenal, nyuruh-nyuruh aja! Mau kamu apa?” Sonia mulai kesal.
“Kita udah kenal. Aku udah sebutin namaku. Kamu sendiri gak mau nyebutin namamu! Nggak usah sok judes deh! Ntar malah gak ada cowok yang mau sama kamu!”
“Heh, kamu gak ngerti apa-apa tentang aku ya! Jadi gak usah komentar sok tau kayak gitu! Gak ngerti sopan santun ya? Kenalan kok maksa… Iihh, ogah…!!” Sonia beranjak pergi.
“Aku di sini sendirian, kamu juga sendiri. Apa salahnya kita berteman? Aku mau kamu temani aku!” Andra menggenggam lengan Sonia. Sejenak Sonia terkaget dan menatap Andra.
“Tapi bisa minta dengan sopan kan? Lepasin tangan aku!”
“Iya, oke… Temani aku di sini, please…” Andra mengatupkan telapak tangannya dengan raut wajah memohon. Sonia duduk di atas pasir sambil memegangi kepalanya. Heran dengan hari yang aneh ini. Begitu sial hingga bertemu dengan orang yang agak ‘tidak beres’. Andra ikut duduk di sebelah Sonia.
“Kamu ini frustasi ya?? Aku gak tau kamu ada masalah apa, tiba-tiba kamu datang, lalu maksa aku kenalan, dan nyuruh aku temani kamu! Gila… Aku datang ke sini mau ngilangin stress, eh malah ketemu orang stress kayak kamu!” Sonia mengomel. Andra hanya tertawa. Sonia semakin takut dibuatnya. Tapi Sonia merasa cukup ‘beruntung’, bertemu ‘orang gila’ secakep Andra.
“Iya, aku lagi frustasi berat…”
“Kenapa? Diputusin cewek?”
“Hahaha… Apa muka aku ini ada tampang diputusin cewek? Gak ada dalam kamusku! Justru aku kebanyakan cewek!” Sonia semakin waspada dengan cowok satu ini. Udah gila, play boy lagi!
“Makanya jangan main-main ma cewek, jadi gila kan!”
“Ya… Karena itu, orangtuaku mau menjodohkan aku. Mereka punya teman seprofesi yang punya anak perempuan. Aku mau dijodohin dengan pilihan mereka itu. Katanya, daripada aku ganti-ganti cewek gak jelas. Hahaha… Gila gak sih? Makanya aku kabur ke sini.”
“Oooo… Curhat nih ternyata. Jadi kamu butuh aku buat jadi ‘tempat sampah’mu. Sial banget! Parah!” gerutu Sonia.
“Tapi kamu mau kan? Hehehe… Eh, pinjam handphone-mu.”
“Buat apa??” protes Sonia. Tapi ia tak sempat mengelak. Tanpa basa-basi Andra segera mengambil HP di saku celana Sonia.
“Ehh, Ehhhh…!! Apaan nih? Balikin, gak?? Maling niiih!!” Sonia hampir histeris.
“Ssssttt…!! Cakep gini dibilang maling! Aku cuma miss-call nomer HP-ku lewat HP kamu. Ini nomerku udah ku save dengan nama Andra! Nomermu juga udah masuk di HP-ku,” Andra mengembalikan HP Sonia. Gadis itu masih cemberut.
“Iiiissshhh… Siapa juga yang minta nomer kamu!”
“Jadi, nomer kamu ini ku save dengan nama apa, Cantik?”
“Sonia! Atau Nia! Terserah deh!” Sonia memalingkan wajahnya karena malu dipanggil ‘cantik’ oleh Andra.
“Cieee… Rayuan mautku berhasil nih.. Hahaha…,” lagi-lagi Andra tertawa.
“Dasar play boy gila!” Sonia beranjak dari duduknya lalu berlari pergi.
“Kalau aku SMS kamu harus bales..!!” teriak Andra. Sonia terus berlalu dari tempat itu.

Hari-hari berikutnya di pantai… Sonia menghabiskan waktu seharian bersama Andra. Ternyata Andra juga mempunyai villa yang letaknya agak jauh di ujung barat pantai. Entah mengapa, Sonia tak bisa menolak ajakan Andra untuk bertemu dan menemaninya. Padahal di hati Sonia ada rasa was-was karena baru mengenal Andra. Ia tak tahu Andra itu orang baik atau tidak. Tapi apa salahnya berteman? Begitu pikir Sonia untuk menepis keraguannya. Lagipula, Andra adalah orang yang menyenangkan. Jika bersamanya, Sonia merasa gembira dan ceria. Andra memperlakukan Sonia selayaknya teman dan tidak ada kesan mempermainkan seperti play boy. Sonia merasa nyaman bersama Andra seperti sudah kenal lama.

Saat mereka jalan-jalan bersama, Andra mengajak Sonia ke sebuah dermaga tua yang tak terpakai. Letaknya cukup jauh di ujung timur pantai. Dermaga itu tersusun dari papan kayu yang cukup lapuk. Ada banyak lubang di lantai maupun atapnya yang semua terbuat dari kayu. Tempat ini begitu damai dengan semilir angin pantai yang membelai. Mereka berdiri di ujung dermaga yang beratap kayu sambil memandangi kapal berukuran kecil di kejauhan sana.
“Nia, ini tempat rahasia kita berdua. Jangan beritahu pada siapapun…” pesan Andra. Sonia tersenyum dan mengangguk pelan.

Ada kejutan di hari kelima liburan Sonia. Tanpa mengabari terlebih dulu, orangtua Sonia datang ke villa pagi-pagi. Mereka juga memboyong penata rias, pakaian-pakaian pesta, dekorasi, dan catering. Sonia terheran-heran melihat semua yang dibawa oleh orangtuanya. Villa yang tadinya tenang, kini jadi berisik dan penuh keriuhan lalu lalang orang.
“Mama… Papa… Ini ada acara apaan sih???” tanya Sonia.
“Begini, Nak… Mama dan Papa punya rencana mengenalkan kamu pada teman Papa, yaitu Pak Rudy dan istrinya. Mereka punya anak laki-laki yang akan kami jodohkan dengan kamu,” jawab Mama.
“Apaaaa??? Kok mendadak banget sih, Ma?? Kenapa gak bilang Nia dari kemarin-kemarin?!”
“Mama udah tau, kalau Mama bilang-bilang kemarin, pasti kamu nolak! Jadi langsung aja mumpung kamu liburan ke villa ini sekalian ngadain acara.”
“Tapi. Maaa… Kenapa Papa dan Mama gak dengerin dulu pendapat Nia setuju atau nggak???”
“Nia… Emangnya kenapa kamu gak setuju? Mama dan Papa tujuannya baik buat nyarikan jodoh kamu. Kamu sendiri sih udah umur 21 tahun, belum pernah sekalipun punya pacar. Mama dan Papa juga memilih calon yang tepat. Putranya Pak Rudy itu ganteng, pinter, dan kelak mewarisi bisnis ayahnya. Jadi perusahaan keluarga bisa makin berkembang.”
“Pokoknya aku gak mau, Ma..!! Nia gak kenal sama dia!”
“Ya makannya nanti kita kenalin! Udah, ah… Kamu cepat mandi, trus didandanin sama periasnya. Mama mau ngurusin semuanya biar beres dan lancar acaranya!”

Sonia tak mampu mengelak lagi. Dengan terpaksa, Sonia menuruti perintah ibunya. Selesai mandi dan perawatan tubuh singkat, Sonia mengenakan gaun pesta warna biru laut favoritnya. Rambut dan wajahnya pun dipoles dengan seindah mungkin. Sonia memandang penampilannya di cermin. Sangat cantik! Tapi ia tak merasa bahagia sedikitpun. Ia tak menginginkan perjodohan ini. Ia tak mengenal lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Saat ini ada seseorang yang mulai mengisi hari dan hatinya. Andra… Saat memikirkan Andra, tiba-tiba SMS masuk ke HP-nya.
Andra: Nia, nanti sore ayo ke tempat rahasia kita!
Nia: Sorry… Aku gak bisa. Ada acara keluarga.

Menjelang sore. Pak Rudy dan istrinya tiba di villa keluarga Sonia. Persiapan acara hampir beres, tapi ada satu kekhawatiran. Putra Pak Rudy yang bernama Devan, belum bisa dipastikan datang. Orangtua Sonia bersama Pak Rudy dan istrinya berbincang-bincang di teras villa. Sonia merasa resah, berkali-kali Andra mengirim pesan padanya. Andra bersikeras datang ke dermaga, padahal Sonia tak bisa datang akibat acara perjodohan ini. Apalagi langit sore tertutup mendung gelap. Sonia dan Andra saling berkirim SMS.
Nia: Andra, bentar lagi ujan. Gak usah ke dermaga
Andra: Aku udah di dermaga sekarang. Aku nunggu kamu.
Nia: Aku gak bisa, Andra…
Andra: Please… Aku nunggu kamu sampai datang

Senja tiba bersamaan dengan hujan deras menyelimuti pantai. Sonia semakin gelisah memikirkan Andra yang sedang berada di dermaga. Pasti dia kehujanan. Nekat sekali dia! Kegalauan yang sama dirasakan orangtua Sonia dan Pak Rudy. Devan, Putra Pak Rudy benar-benar tak datang dan tak bisa dihubungi. Sonia tak peduli dengan perjodohan itu. Ia justru bersyukur Devan tak datang. Pak Rudy dan istrinya pun pamit pulang untuk mencari putranya. Sonia terus memikirkan Andra. Hujan begitu deras disertai petir. Malam mulai datang menampakkan kegelapan. Bagaimana nasib Andra di dermaga? Sonia tak mampu menahan diri lagi. Ia mengambil payung dan berangkat ke dermaga untuk mencari Andra.
“Niaaa… Kamu mau kemana? Hujan deras begini, Nak?” tanya Papa dan mencoba menghalangi Sonia.
“Nia pergi sebentar, Pa…,” Nia langsung berlari menerjang hujan dengan masih berpakaian gaun pesta tadi. Tak dihiraukan teriakan ibunya memanggil-manggil namanya. Tak dipedulikannya air hujan yang membasahi ujung gaunnya. Payung yang ia bawa tak mampu menahan dinginnya terpaan hujan. Ia terus berlari menuju ke dermaga.

Sampai di dermaga, Sonia menaiki tangga kayunya. Ia sempat terpeleset karena licin dan kurangnya cahaya. Di depannya samar-samar terlihat Andra terduduk kedinginan di bawah atap kayu yang berlubang. Sonia menghampiri Andra.
“Kamu benar-benar gila! Ngapain kamu di sini, hah?!” Sonia hampir menangis melihat kondisi Andra. Ia membantu Andra untuk berdiri,
“Kamu cantik…,” Andra tersenyum dan menatap Sonia lekat-lekat. Gadis itu pun baru sadar, ia masih mengenakan gaun dan make up lengkap.
“Udah, yuk kita pulang. Tapi villa kamu jauh, Ndra… Kita ke villa-ku aja ya… Badan kamu demam nih…,” Sonia sangat panik dan khawatir, tapi Andra tersenyum-senyum saja. Sonia menuntun Andra untuk berjalan. Lengan Andra melingkar di bahu Sonia. Mereka berjalan di bawah payung menembus hujan.
“Aku udah bilang akan nunggu kamu. Kenapa kamu gak datang? Ada acara apa?”
“Ndra… Nasib kita kok sama ya? Tadi rencananya aku mau dijodohin sama orangtuaku. Tapi untungnya gagal..”
“Hahaha… Yang bener? Makanya kabur aja kayak aku.”
“Nggak! Itu bukan caraku, Ndra! Masalah itu dihadapi! Bukannya malah lari dari masalah! Huuuu…”

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di villa Sonia. Orangtua Sonia sudah menyambut mereka di depan pintu sambil memberondong dengan sejuta pertanyaan.
“Niaaaa… Kamu dari mana? Ini siapa? Kenapa basah kuyup begini?? Ya, ampun… Cepat ganti baju Nia nanti kamu sakit…!!” Mama panik.
“Iya, Ma… Ini teman aku. Villa-nya agak jauh, jadi kuajak ke sini dulu,” Sonia tak sempat menjelaskan panjang lebar. Ia segera memberi handuk pada Andra, meminjaminya kaos milik ayahnya, menyuruhnya ganti baju, juga menyiapkan makan, minuman hangat, dan obat demam. Kedua orangtua Sonia hanya mengamati tingkah laku anaknya bersama lelaki itu.
Ibu Sonia merasa wajah lelaki itu tak asing baginya. Ia mencoba mengingat-ingat dimana pernah melihat senyum lelaki itu. Senyum yang ramah dan mata yang memancarkan kehangatan, tapi siapa dia?? Ayah Sonia pun merasakan hal yang sama. Karena penasaran, mereka berbisik-bisik menanyakan identitas lelaki itu pada Sonia.
“Siapa nama cowok itu, Nia?” tanya ibu Sonia, tentu tanpa sepengetahuan Andra yang sedang tidur berselimut di sofa.
“Namanya Andra,” jawab Sonia.
“Nama lengkapnya?”
“Nggak tau, Ma…,” jawab Sonia lagi yang pasti tidak memuaskan orangtuanya. Sambil terus memandangi Andra dan berpikir, akhirnya ayah Sonia mengambil kesimpulan yang mengejutkan.
“Papa ingat sekarang! Kemungkinan besar, dia adalah Devandra, anak Pak Rudy!”
“Ya, Tuhan..!! Iya benar, Pa! Mama ingat betul dengan senyumnya itu, meskipun kita cuma bertemu dengannya satu kali waktu berkunjung ke rumah Pak Rudy!”
“Devandra?? Devan, anak Pak Rudy yang mau dijodohin sama aku? Nggak mungkin..!!” Sonia tersentak.

BERSAMBUNG…

Cerpen Karangan: Riski Diannita
Blog: http://riskidiannita.blogspot.com
Facebook: Diannita Riski
Follow me @RiskiDianNita on Twitter..

Cerpen You Are My Destiny (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Lagu untuk Hafidh

Oleh:
Krrriiinnnggg.. Suara bel panjang yang menandakan jam masuk sudah nyaring terdengar, juga membuatku harus terpaksa menyudahi alam mimpi yang baru beberapa saat saja kudatangi. Berat sekali ku mengangkat kepala

A Beautifull Reason

Oleh:
Aku memandangi kertas di hadapanku dengan ekspresi datar. Sebuah kertas bertuliskan ‘Aku masih mencintaimu’ yang ditulis dengan tinta bercorak keemasan dan hiasan bunga cantik di tepiannya. Itu kertas ketiga

My First And Last Love

Oleh:
Mencintai dan dicintai bukankah itu keinginan semua pasangan yang menjalain kasih? tapi bagaimana jika kita tahu bahwa semua itu tidak kita miliki akankah kita tetap melanjutkannya? Hari ini adalah

Salju Pertama Bulan Desember

Oleh:
Cinta tak akan pernah saling melupakan, tetapi cinta bukan pula sebuah ingatan yang menjadi sebuah kenangan, itulah yang kini ada dalam pikiran Park Rin Rin, bukan karena ia ingin

Saksi Kedua

Oleh:
Saat pertama kali ia membelikanku dengan selembar uang pecahan seratus ribu, aku merasa sedikit heran, sebab waktu itu, aku saksikan ia tengah memakai sejenis aku di kepalanya, malah lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *