You Are My Destiny (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 6 March 2015

Cuplikan “You Are My Destiny 1”:
Sonia (21 tahun), putri seorang pengusaha kaya yang sedang berlibur sendirian di villa tepi pantai berkenalan dengan Andra (24 tahun). Beberapa hari Sonia dan Andra yang sama-sama memiliki villa di sana menikmati suasana pantai yang indah. Tanpa disangka, orangtua Sonia mengadakan acara perjodohan dadakan. Sonia akan dikenalkan dengan Devan, putra Pak Rudy, teman seprofesi ayah Sonia. Di saat yang sama, Andra mengajak Sonia bertemu di tempat rahasia yang hanya mereka ketahui berdua. Beruntung, ternyata Devan tak datang ke acara perjodohan itu. Di tengah hujan deras, Sonia menjemput Andra lalu mengajaknya ke villa-nya sebab badan Andra demam. Sampai di villa, betapa kagetnya orangtua Sonia melihat lelaki yang mengaku bernama Andra itu. Ayah Sonia yakin, Andra adalah Devan putra Pak Rudy yang akan dijodohkan dengan Sonia.

Malam hari di villa keluarga Sonia.
Hari ini sungguh melelahkan bagi Sonia. Setelah acara perjodohannya gagal, kini masalah baru sedang ia hadapi. Orangtua Sonia masih berdebat dengan putri tunggalnya itu. Mereka sangat yakin lelaki yang bernama Andra itu adalah Devan, putra Pak Rudy yang akan dijodohkan dengan Sonia hari ini. Tapi Devan tak bisa datang. Rupanya ia memang sengaja kabur dengan menyamar sebagai Andra. Sonia memandangi Andra yang sedang tidur berselimut di sofa villa-nya. Tubuh lelaki itu demam akibat kehujanan di dermaga tadi. Sonia pun membawanya ke sini.

Pikiran Sonia kacau sekarang. Benarkah Andra dan Devan itu orang yang sama? Ingin rasanya Sonia bertanya pada Andra, tapi ia sudah tidur pulas. Malam semakin larut, orangtua Sonia pun sudah pergi tidur. Sonia yang tak bisa tidur masih terjaga di kamarnya. Hati Sonia masih dipenuhi kebingungan, harus sedih atau senang. Terngiang kata-kata ayahnya tadi, “Mungkin saja Devandra mengaku namanya Andra. Padahal panggilan sebenarnya Devan. Besok kalau dia bangun, kita harus tanya dia! Papa tidak terima, kalau dia sengaja kabur dari perjodohan ini dengan tidak bertanggungjawab!”

Keletihan Sonia akhirnya membuat ia tertidur juga. Baru beberapa jam memejamkan mata, Sonia merasa ada seseorang yang membangunkannya. Ia membuka mata dan melihat Andra di depannya. Andra mengisyaratkan agar Sonia tidak berisik. Sonia melihat jam dinding. Pukul 4 pagi. Sonia mengucek-ucek matanya. Ia mencoba sadar bahwa ini bukan mimpi.
“Andra, apa yang kamu lakukan di sini??”
“Maaf, Nia… Maaf banget! Aku nggak bermaksud nyakiti kamu… Aku baru tau, papa kamu adalah Pak Indra. Ternyata kamu yang mau dijodohin ma aku! Maaf, Nia… Maaf…,” Andra alias Devan memandang Sonia lekat-lekat. Sonia pun tercengang dengan hal tak terduga ini.
“Jadi kamu Devan??! Lalu gimana dengan perjodohan kita? Berlanjutkah?”
“Aku belum siap. Maaf, Nia… Maaf…,” dengan wajah penuh kesedihan, Devan pergi meninggalkan Sonia. Ia keluar dari villa itu dan berlari menembus dinginnya subuh hari. Sonia segera mengejar.

“Andraa!! Devan!! Devaannn!!” Sonia memanggil-manggil penuh kebingungan. Namun ia tak dapat menemukan sosok Andra atau Devan lagi. Orangtua Sonia yang baru terbangun dari tidur juga mengikuti Sonia ke teras villa.
“Pergi kemana Devan?? Mana dia??” tanya Papa dengan wajah penuh amarah. Sonia hanya menggeleng.
“Dia udah pergi, Pa… Dia memang Devan…,” jawab Sonia.
“Kurang ajar!! Dia ngaku tapi nggak mau menemui kita! Maunya apa tu anak?? Main kabur-kabur aja bisanya!” Papa berang.
“Ya Tuhan… Ternyata kita salah pilih, Pa…,” jawab Mama dengan wajah sedih.
“Di sebelah mana villa Devan? Papa mau cari dia! Pasti dia belum jauh kabur dari sini!”
“Aku nggak tau, Pa.. Aku nggak pernah ke villa dia. Ngapain juga ke villanya cowok?!” jawab Sonia, “Udahlah, Pa… Nanti aja diomongin baik-baik sama Pak Rudy, papanya Devan.”
“Nggak bisa!! Papa udah nggak respect sama Devan! Mulai sekarang, kamu jangan berhubungan lagi sama Devan! Papa juga mau mutusin hubungan bisnis dengan Pak Rudy! Papa nggak sudi berhubungan dengan keluarga mereka!”
“Apaa? Aku udah berteman dengan Devan, Pa. Walaupun sebagai Andra.. Tapi…,” Sonia tak sanggup meneruskan lagi. Ia mulai suka pada Andra, tapi… Tapi ternyata dia adalah Devan yang kabur dan hubungan mereka harus berakhir seperti ini. Ya Tuhan… Kenapa begini??

Dua tahun kemudian…
Sonia berjalan memasuki kantor dengan langkahnya yang tegap nan anggun. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya pasti berhenti sejenak untuk memandang dan menyapanya. Sonia pun membalas dengan sapaan ramah dan senyum menawan. Ia memang mempesona. Dengan rambut lurusnya yang tergerai panjang, wajah ber-make up natural, juga pakaian yang rapi membuatnya terlihat segar dan bersemangat. Ia siap memulai pekerjaan hari ini. Sudah beberapa bulan, ia menjadi manager di perusahaan ayahnya. Ia menuruti keinginan ayahnya untuk mengelola bisnis setelah lulus kuliah.
Namun ada keinginan ayahnya yang tak bisa ia laksanakan, yaitu perjodohannya dengan Sandy. Setelah perjodohannya dengan Devandra gagal dua tahun yang lalu, Papa menjodohkan Sonia dengan putra temannya yang lain. Ya Tuhan… Sonia merasa lelah sekali dengan perjodohan yang tak ia inginkan. Hatinya masih terus mengenang Andra alias Devan yang dulu ia kenal tanpa sengaja di villa tepi pantai. Tanpa kesengajaan, tanpa perjodohan, dan justru itu yang membuatnya terkesan. Entah di mana Devandra sekarang? Tidakkah ia juga merindukan Sonia? Sonia memasuki ruang kerjanya. Dibukanya beberapa map berisi arsip di meja kerjanya. Tidak berapa lama, masuklah seorang lelaki ke ruangan itu.
“Selamat pagi, Nia…” ucapnya dengan senyum mengembang.
“Sandy..?! Bisa ngetuk pintu dulu kan sebelum masuk??” protes Sonia. Selama ini, Sonia memang jutek pada Sandy.
“Oke.. Sorry… Aku ke sini mau ngajakin kamu ke kantorku. Kita bahas rencana kerjasama bisnis, yuk… Aku juga udah ngajak teman kuliahku buat kerja sama dengan kita,” Sandy bicara dengan antusias. Tapi Sonia masih sibuk dengan kertas-kertas di atas mejanya.
“Nia…! Kamu dengar aku, kan??” tanya Sandy dengan volume suara lebih keras.
“Iya…,” hanya itu yang keluar dari mulut Sonia.
“Kamu bisa lebih hargai aku kah? Mungkin kamu belum bisa terima aku sebagai tunanganmu. Oke…! Tapi paling tidak, hargai aku sebagai rekan bisnismu!” ucap Sandy tegas. Sonia tersentak. Ia baru sadar, betapa buruk perlakuannya pada Sandy selama mereka tunangan sebulan ini.
“Emm… Maaf, Sandy… Oke… Abis makan siang nanti kita ke kantormu yaa…,” jawab Sonia lembut.
Sandy pun luluh dan mengangguk, “Nah, gitu dong…..”

Di kantor perusahaan Sandy…
Sandy menggandeng Sonia memasuki kantornya. Para karyawan memandangi mereka. Sonia merasa tak nyaman dan berusaha melepas genggaman tangan Sandy. Hingga ada seorang karyawan yang menggoda mereka, “Mesra banget nih Pak Sandy…” Sandy hanya tersenyum. Sesampainya di depan pintu ruang kerjanya, Sandy baru melepaskan tangannya.
“Sandy..?!! Kamu tu keterlaluan banget yaa!! Sakit nih tanganku..!” Sonia mengeluh.
“Maaf, Sayang… Aku seneng banget ngajak kamu ke kantorku dan para karyawan bisa lihat tunanganku yang cantik banget! Hehe..,” Sandy beralasan. Sonia cemberut.

Sandy dan Sonia masuk ke ruang kerja. Mereka duduk di sofa berwarna kecoklatan. Mereka menunggu teman kuliah Sandy yang diajak kerja sama dalam bisnis ini. Sandy sibuk dengan laptopnya sedangkan Sonia membaca majalah. Beberapa menit kemudian, pintu diketuk oleh seseorang. Sandy mempersilakannya masuk. Muncul dari balik pintu seorang lelaki yang dikenal Sonia. Ia hapal betul wajah itu, senyum itu..
“Andra….,” panggil Sonia lirih.
Lelaki yang baru datang itu pun tersentak. Ia mematung di tempatnya melihat gadis yang duduk di hadapannya. Gadis yang ia temui di villa tepi pantai dua tahun lalu. Gadis yang hendak dijodohkan dengannya, tapi ia memilih kabur begitu saja…
“Nia…! Emmm… Sandy, apa kabar?” Devan mengalihkan pandangan.
“Hey, Devan. Aku baik-baik aja… Tunggu, tunggu! Kalian saling kenal?” Sandy memandangi Devan dan Sonia. Mereka tidak menjawab. Suasana hening.
“Kita pernah ketemu secara nggak sengaja…,” ucap Sonia berusaha tenang.
“Oke… Kita bisa mulai ngomongin bisnis, kan?” Sandy mulai membicarakan bisnis. Mereka berusaha profesional tanpa dicampuri urusan pribadi.

Malam hari…
Setelah pulang dari kantor, Sonia segera menghempaskan diri ke tempat tidur. Kejadian hari ini membuatnya tak habis pikir. Ia bertemu teman kuliah Sandy, yang ternyata adalah Devandra! Apa dunia ini hanya selebar daun kelor? Dunia ini sempit sekali hingga ia begitu mudahnya bertemu lagi dengan Devandra. Bahkan Devandra dan Sandy itu teman kuliah! Ia bimbang dengan dua orang lelaki yang kini ada di kehidupannya. Keadaan ini membuatnya tertekan. Haruskah ia teruskan hubungan dengan Sandy, sedangkan ia masih menyimpan rasa pada Devandra? Aaarrrgghhh…!!! Kepala Sonia serasa mau pecah. Ia harus bagaimana?

Satu minggu kemudian…
Sonia memasukkan baju-baju ke dalam kopernya. Ia bersiap-siap pergi ke villa di tepi pantai milik keluarganya. Ia ingin menenangkan diri di tempat favoritnya itu. Selama beberapa hari ini, ia menjalankan hidup dengan penuh tekanan. Sandy mulai bertanya kapan pernikahan mereka akan dilaksanakan, sedangkan ia juga semakin dekat dengan Devandra. Ia merasa terjebak di antara dua pilihan. Mungkinkah ia menikah dengan Sandy tanpa cinta? Tapi ini juga keinginan orangtuanya. Padahal ia masih menginginkan Devandra…

Di villa tepi pantai…
Sonia sudah berada di villa. Ia tidak membawa handphone. Ia sungguh-sungguh ingin tenang. Bahkan ia tidak berpamitan pada Sandy. Ia juga meminta orangtuanya tidak memberitahu siapa-siapa tentang kemana ia pergi. Meski Sonia ragu, karena orangtuanya pasti memberitahu Sandy. Tapi biarlah, Sonia tak ingin memikirkan Sandy!
Sonia berjalan pelan di pinggir pantai. Menyusuri jejak kenangan yang pernah ia rangkai bersama seorang cowok “gila”. Ia mengajak berkenalan dengan nama Andra, cowok yang kabur karena akan dijodohkan oleh orangtuanya. Ternyata perempuan yang akan dijodohkan itu pun dirinya. Sonia tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu..

“Sonia” tiba-tiba suara yang sangat ia kenal memanggil dari belakangnya.
“Andra?? Kamu juga di sini???” Sonia seakan tak percaya. Mereka tidak janjian, tapi mereka bisa bertemu kembali di tempat ini.
“Iya, Nia… Aku rindu tempat ini. Setelah dua tahun, aku baru ke sini lagi sekarang. Ku pikir, aku tak akan kembali ke sini lagi,” Devan menerawang jauh ke laut lepas.
“Aku juga sama… Dan kita bertemu lagi dengan kondisi yang berbeda. Aku dijodohkan dengan Sandy.. Kamu juga banyak berubah, lebih dewasa sekarang,” Sonia memandangi Devan lekat-lekat. Begitu pula Devan memandangi Sonia dengan rambut panjangnya yang berkibar ditiup angin pantai. Mereka tak mengetahui, Sandy mengawasi mereka dari kejauhan.
“Oh… Jadi begini yang kalian lakukan di belakangku??!! Bernostalgia. Jalan-jalan bersama ke tepi pantai. Nginep berdua di villa, gitu!!” Sandy menatap tajam pada Devan dan Sonia.
“Sandy!! Aku nggak sengaja ketemu Devan di sini. Kita nggak ada apa-apa!” Sonia menjawab tegas. Devan pun terlihat tenang. Ia bukan lagi cowok bandel yang semaunya sendiri seperti dulu.
“Sorry, Sandy.. Mungkin aku ganggu acara kalian di sini. Aku pergi dulu,” Devan melangkah pergi. Rasanya Sonia ingin mencegahnya. Tapi Sandy menghalanginya.
“Nia, tatap mataku!” Sandy berdiri tepat di hadapan Sonia, “Kamu kira aku nggak tau tentang hubungan kamu ma Devandra?! Kalian dulu hampir dijodohin tapi gagal kan? Karena kebodohan si Devan kabur begitu aja! Ternyata kalian ketemu tanpa sengaja dan kamu suka sama dia! Sampai sekarang hatimu masih buat Devan! Gak ada sedikitpun buatku! Iya kan?? Jawab, Nia!!” ucap Sandy penuh emosi.
“Maaf, Sandy… Maaf… Aku menyesal, aku gak bisa mencintaimu,” hanya itu yang diucapkan Sonia. Air mata menetes di pipinya. Sandy memandangnya dengan sedih. Sandy pun memeluk Sonia.
“Mungkin kita memang gak bisa bersama, Nia… Apapun yang ku lakukan, gak pernah bisa buat miliki hatimu. Kamu bukan buatku. Kamu milik Devandra…,” Sandy melepas pelukannya. Ia pergi meninggalkan Sonia sendiri di tepi pantai itu…

Di rumah Sonia….
Devandra datang bersama kedua orangtuanya. Sonia dan juga kedua orangtuanya menyambut kedatangan mereka. Setelah bersalam-salaman dan basa-basi sejenak, akhirnya dibahaslah hubungan mereka.
“Pak Indra beserta keluarga, terima kasih telah bersedia menerima kedatangan saya bersama orangtua kemari. Tujuan utama saya ke sini adalah memohon maaf atas kejadian dua tahun yang lalu hingga perjodohan yang direncanakan menjadi gagal. Saya sangat menyesal. Saat itu, saya tidak bersikap dewasa sehingga mengecewakan Pak Indra sekalian. Mohon maafkanlah saya,” ucap Devandra penuh santun.
“Saya sudah memaafkan. Saya dengar dari Nak Sandy, bahwa Nak Devan sebenarnya sangat baik. Dan selama dua tahun ini, Nak Devan sudah banyak berubah manjadi lebih baik. Saya harap, keluarga kita bisa selalu menjalin silaturahmi,” ucap Pak Indra, ayah Sonia.
“Terima kasih banyak, Pak Indra… Pada kesempatan ini juga, saya memohon izin untuk melamar Sonia. Tanpa perlu dijodohkan atau dipaksakan. Saya dan Sonia telah saling mengenal dan juga saling mencintai.. Mohon berikanlah restu pada kami untuk menjalin hubungan yang lebih serius,” kata Devan mantap. Pak Indra dan istrinya tersenyum lega. Sonia pun terharu. Akhirnya takdir mempersatukan mereka. Terkadang manusia pun tak perlu campur tangan. Takdir telah miliki jalannya sendiri…

TAMAT

Cerpen Karangan: Riski Diannita
Blog: http://riskidiannita.blogspot.com
Facebook: Diannita Riski
Follow me @RiskiDianNita on Twitter..^^ Salam kenal.. Thanks…

Cerpen You Are My Destiny (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Crazy Boy (Part 4)

Oleh:
Ada suara yang tak terdengar. Ada isyarat yang tak terlihat. Dan ada rasa yang tak teraba. Mereka telah bernyanyi bersama. Dan mereka pun telah menari bersama. Tapi tawa mereka

My Lovely Pilot

Oleh:
Pagi itu, Rani bangun lebih awal karena dia harus menjemput sepupunya di bandara. Hal ini membuat Rani kesal, karena yang harusnya menjemput sepupunya adalah adiknya. Rani adalah seorang mahasiswa

Mendung (Part 2)

Oleh:
Tanganku menggenggam tanganya untuk memegang payung dan akhirnya aku tersadar lalu melepaskan tanganku kemudian mengambil alih payung untuk melindungi kita dari hujan yang turun. Ujung mata gadis di depanku

Risalah Hati (Part 2)

Oleh:
“Kita begitu berbeda dalam semua hal, kecuali dalam cinta…” Begitu yang ia ucapkan saat aku sedang mengerjakan PR yang Pak Thamrin berikan siang tadi. Ia datang dan mendekatiku

Iris (Part 3)

Oleh:
“And I don’t want the world to see me.” Kubanting setir mobilku menuju ke arah yang berlawanan. Menuju rumah sakit. Kenapa aku baru mengingatnya? Kenapa aku baru ingat segalanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *