4 Tahun Lamanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 31 July 2015

Dengan tenangnya Gilang menatap indahnya wajah Sovi, indah senyum tipisnya dan indah tatapan matanya. Di saat itu sedang ada pengajian pemuda-pemudi di sebuah mesjid. Saking asyiknya Gilang menatap wajah Sovi, sampai-sampai Gilang tidak ingat bahwa saat itu sedang ada di pengajian.
“Lang, dari tadi aku lihat kamu senyam-senyum sendiri, kamu lihat siapa sih?” tanya Andre yang langsung membuyarkan tatapan Gilang.
“Yah kamu Dre membuat aku terbangun dari indahnya lamunanku saja.” Gilang pun menjawab dengan wajah agak kesal.
“hehe Lang, kamu lihat Sovi ya cieeh jangan-jangan kamu naksir sama dia?” tanya Andre lagi dengan logat Tasiknya.
Gilang hanya mengangguk sambil tersenyum malu.
“Udah dong natap dianya, tuh dengerin pak Ustadz!”, tegur Andre lagi.

Gilang pun menuruti apa kata Andre mendengarkan ceramah pak Ustadz. Yang memang seharusnya mendengarkan ceramah pak Ustadz, bukannya mencuri-curi waktu untuk menatap wajah Sovi. Gilang membereskan kitab, karena waktunya sholat isya dan pengajian pun berakhir. Semuanya melangkahkan kaki ke mesjid untuk melaksankan sholat isya berjamaah. Gilang pun tak ketinggalan pergi ke mesjid. Seusai sholat isya Gilang bergegas keluar mesjid, tetapi tak langsung pulang karena ada perlu dengan Sovi.
“Lang nungguin siapa. Kok belum pulang, huhuy?” tanya Andre sembari ngeledek.
“Aku lagi nunggu seseorang yang sudah lama aku nanti-nanti” sahut Gilang meyakinkan. Akhirnya seseorang yang Gilang nanti dari tadi keluar juga. Hati Gilang berdebar dan semakin berdebar kencang ketika Sovi mulai keluar dari mesjid. Gilang pun memberanikan diri menyapa Sovi.
“Hai sov, mau pulang ya?” Sovi menjawab dengan nada juteknya sembari membuang muka dari hadapan Gilang.
“Ya iyalah mau pulang, masa mau pergi”
Gilang nanya baik-baik, Sovi malah menjawab dengan seenaknya. Kalau Sovi ditanya sama orang lain, dia selalu menjawab dengan benar sesuai dengan apa yang ditanyakan. Tetapi mengapa giliran Gilang yang nanya, Sovi malah tidak menghiraukan. Rasanya setiap kali Gilang mendekati Sovi, Gilang tak sanggup lagi menahan gejolak hatinya, seakan-akan rasa yang terpendam dalam hati semakin menumpuk, dan tak sanggup lagi Gilang tampung. Setiap hari berlalu dengan sama. Tanpa ada perubahan sikap Sovi pada Gilang.
“Sovi, andaikan kamu tahu, rasa yang ada dalam hati ini sudah tak tahan lagi aku tampung, ingin sekali aku ungkapkan isi hatiku. Mengapa kamu tak pernah memberikan aku kesempatan untuk mendekatimu, untuk lebih jauh lagi mengenal kamu” Itulah kata-kata yang selalu ada dalam pikiran Gilang.

Gilang orangnya pantang mundur, jadi pasti akan terus berjuang untuk mendapatkan Sovi. Dari sikap Sovi pada Gilang, itulah yang membuat Gilang tertarik padanya. Memang Gilang suka nyadar sendiri dengan wajahnya yang pas-pasan, berani mati-matian untuk mendapatkan Sovi. Cowok yang suka sama dia yang wajahnya lebih cakep dari Gilang saja sudah ditolak, apalagi Gilang. Karena bukan Gilang saja yang suka sama Sovi, tapi masih banyak cowok lain yang suka sama dia. Sovi meamang selalu jutek dan cuek pada cowok yang berusaha untuk mendekatinya. Tetapi Gilang merasa sikapnya pada Gilang beda dan lebih jutek lagi daripada ke cowok lain. Contohnya saja salah seorang cowok teman SMPnya yang suka sama dia, yang memang Gilang pun mengenalinya. Dari SMP sampai sekarang dia masih suka sama Sovi, tapi tak pernah ada jawaban “YA” yang dilontarkan dari mulutnya. Sovi selalu saja menolak cinta Deni yang sudah berulang kali nembak Sovi.

“Walaupun kamu hanya memperlihatkan wajah jutekmu, aku rela dan aku akan tetap berusaha untuk meluluhkan hatimu” lagi-lagi Gilang berkata dalam hati.
Gilang mencoba menyapa Sovi, walaupun balasannya selalu menyakitkan.
“Hai Sov, ada waktu gak pulang ngaji nanti?” saat itu dia sedang mengajar ngaji anak kelas 1. Sovi dengan enak menjawab “gak ada”.
Gilang pun meneruskan pertanyaannya “Kapan kamu ada waktu untukku, aku ada perlu sama kamu?”.
Sovi menjawab dengan senyum sinis “1000 tahun lagi”. Gilang tak peduli Sovi akan menjawab seenaknya, yang penting sudah berusaha mendekatinya. Sovi masih duduk di kelas 2 SMA. Sedangkan Gilang sudah bekerja. Karena sekolah saja Gilang hanya sampai kelas 1 SMA. Saat sekolah Gilang bisa dikatakan anak yang nakal, karena selalu bolos sekolah. Dalam satu minggu selalu saja ada huruf a (alfa) yang mewarnai buku absen. Kalau dikira-kira Sovi 4 tahun lebih muda dari Gilang.

Setahun sudah Gilang memendam perasaannya, sungguh berat raasanya menanggung beban yang semakin numpuk. Sekarang Sovi sudah kelas 3 SMA.
Saat matahari mulai menampakkan sinarnya, Gilang bergegas berangkat kerja. Sebelum berangkat Gilang mampir dulu ke warung Bu Ima untuk sekedar menikmati gorengan dan secangkir kopi panas. Selang 10 menit kemudian, terlihat sosok Sovi dan temannya yang akan berangkat sekolah. Gilang pun langsung menghampirinya takut Sovi semakin jauh melangkah.
“Sov kamu kelas 3 apa?” tanya Gilang walaupun sudah tahu akan jawaban dia yang pasti menyakitkan. Akhirnya dugaanku tak salah.
Sovi menjawab “Kelas 3 Z”. Rasanya selalu sakit bila bertanya padanya.
Tapi apa mau dikata Gilang harus tetap berusaha. Dalam perjalanan, Gilang hanya asyik bercanda dengan temannya Fita, tapi tak apalah daripada Gilang hanya diam menangisi kebodohannya. Tiap hari Gilang bisa berangkat bareng Sovi pun perasaan Gilang sudah sangat senang.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa begitu cepat. Gilang bersyukur banget karena sikap Sovi pada Gilang sudah semakin berubah tidak begitu jutek seperti dulu. Tiap hari Gilang bareng dengan Sovi dan bisa becanda sama Sovi.
“Ya Allah, apakah ini mimpi? Jangan sampai Engkau bangunkan aku dari mimpi indahku ini”, kata-kata yang terlintas di benak Gilang seakan tak percaya.
Keesokan harinya, seperti biasa Gilang menunggu Sovi di warung Bu Ima. Tak lama kemudian Sovi datang dengan Fita, tapi tak seperti biasanya Sovi malah lari dengan Fita ketika Gilang menghampirinya. Gilang merasa tak pernah berbuat salah sama dia, tapi mungkin karena tak tahu kalau dari ucapannya ada yang menyingggung hati Sovi. Tinggal beberapa langkah lagi Gilang bisa mendekati Sovi, tapi saat-saat yang dinanti malah pergi dan musnah begitu saja. Gilang tak percaya, kenapa ini harus terjadi. Sudah beberapa hari Gilang tak bisa ngobrol sama Sovi, dan memang kalau ditanya mengapa Sovi selalu menghindar dari Gilang, Sovi tak pernah menjawabnya. Sudah lama Gilang tak bersua dengan Sovi. Apalagi sekarang Sovi sibuk dengan persiapan Ujiannya. Sampai-sampai pada acara pengajian pemuda-pemudi Sovi tidak pernah hadir lagi. Sekarang Sovi sudah kelas 3, tapi Gilang gak tahu Sovi akan diteruskan kuliah kemana.

“4 tahun sudah Gilang memendam rasa pada Sovi. Hanya sikap pasrah yang Gilang rasakan. Dan tak bisa berbuat apa-apa karena Gilang tak tahu sekarang Sovi ada dimana” itulah ungakapan Gilang seakan-akan tak sanggup lagi untuk bertahan hidup tanpa Sovi. Kata Andre, Sovi diteruskan kuliah di Bandung, dia tinggal ngekost dengan saudaranya. Andre tahu dari Fita sahabatnya dari kecil, Fita adalah saudara Andre. Gilang hanya bisa membayangkan wajah manis Sovi dan hanya melamun dan melamun memikirkan Sovi. Gilang memikirkan kapan akan bertemu lagi dengan Sovi, karena sudah 2 tahun Gilang tak bertemu denagn Sovi. Rasa rindu Gilang sudah sangat lama ingin ungkapkan pada Sovi.

Sabtu malam, Gilang dan anak-anak merayakan kedatangan Bobi dari Jakarta. Andre ngasih tahu kalau dia punya nomor HP Sovi yang baru.
“Lang, aku punya nomor Hp Sovi yang baru nih, mau gak hehe..”, Andre bilang dengan wajah meyakinkan, sambil senyum ngeledek.
Gilang menjawab dengan wajah tak percaya, “Wah, yang bener? kamu tahu dari siapa?”. Andre kembali meneruskan “Dari Fita”.
Tak lama kemudian Gilang langsung memijit nomor Hp yang akan menyambungkannya dengan Sovi. Akhirnya Gilang bisa mendengarkan lagi suara Sovi. Sudah lama saat-saat ini Gilang tunggu. Kini Gilang bisa telpon dan sms’an ama Sovi. Ternyata ketika Gilang nelpon Sovi, kata-kata yang dia lontarkan tidak sama dengan dulu lagi. Kata-kata yang keluar dari mulutnya lebih sopan. Gilang pun tak menyangka, dan tak ingin saat-saat ini pergi menghilang untuk kedua kalinya.
Dalam salah satu pesan singkat yang dikenal dengan sebutan SMS Sovi mengatakan.
“Lang, ak minta maf atas sikap ak yg dulu, ak jg ngrasa klo skp jutek ak mungkin dah bwt km sakit”.
Gilang pun langsung merangkai huruf-huruf menguntai kata demi kata untuk membalas smsnya.
“Ak maafin km ko, Sov, kpn km plg, ak ingin b’temu km, cz dah 2 thn qta tak berjumpa”.
Sovi pun kembali membalas sms Gilang. “Sorry Lang, minggu ini ak ga plg, nanti klo ak pulang ak ksh tao km”.
Senangnya Gilang bisa smsan sama Sovi. Sms demi sms sering Gilang kirim hanya untuk sekedar menanyakan kabar. Katanya minggu ini Sovi pulang.
“Sov, bisa ga besok kita bertemu?”. Rangkaian huruf yang diketik oleh Gilang untuk Sovi.
Sovi pun tak luput membalasnya. “Aduh sorry bgt, ak ga bsa, cz ak cape bgt pengen istirahat”. Gilang pun menurutinya untuk tak bertemu, karena lain waktu mungkin bisa bertemu.

Hujan deras membasahi, dengan asyiknya Gilang smsan dengan Sovi, “Sov, sebenarnya ak dah lama ingin ungkapin perasaan ini k km, tp bru skarg ak bisa ungkapin. Ak dah lma suka sama km, ak ingin tw gmn prasaan km padaku? Apapun jwbn km ak terima dengan lpg dada”. Itulah ungkapan isi hati Gilang yang diungkapkan dalam pesan singkatnya.
Sovi membalasnya, “Lang, maf bgt ak gda perasaan sama km, tp km jgn mrh y?, mang dr kpn km suka padaku, n npa km bisa suka, pdhl skp ak k km dulu jutek bgt, n mungkin tu bikin km sakit?”.
Gilang langsung membalas lagi sms Sovi “Ak dah 4 thn memendam rasa suka ini sama km, dari sikap km padaku itulah yg bikin ak tertarik. Ak jg ga marah atas jwbnmu, aku hargai itu, bgaimana km bisa suka padaku, toh km ga dkt ama ak”.
Hujan yang saat itu sangat deras seakan menangisi diriku yang ditolak cinta. Hikz…hikz…

Suatu hari Gilang kembali sms dia, “Hai Sov, pa kbr?, gi ngpain nih? Oia Sov, ak b’hrp km bisa suka padaku walopun bkn sekarang”. Entah kenapa sms itu ga dibls ama Sovi, dan sekaligus sebagai sms terakhir.

Cerpen Karangan: Heliyati
Facebook: heli648[-at-]yahoo.com

Cerpen 4 Tahun Lamanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semu

Oleh:
Bersama hela desah angin. — “Lagi apa?” “Mau gak jadi sahabatku?” “Bintang yang indah,” “Aku suka hujan.” “Aku nggak bisa,” “Ya. Aku pun tahu jawabannya,” — “RIO!” Akhirnya dia

Antar Aku Dengan Senyuman

Oleh:
“iya bun.. bunda juga jaga kesehatan ya..!! daaah bunda.. assalamualikum..” ku tutup telpon dari bunda dan segera kurebahkan tubuhku diatas sebuah sofa. Hari ini matahari sangat terik, lumayan juga

Tetanggaku

Oleh:
Seperti biasa, sore itu Afira dan temannya Tanti jualan Jus di depan rumah Tanti untuk berbuka puasa, setelah lama menunggu gak ada juga yang beli, tiba-tiba datang seorang cowok

JackBoys Rocketraphy Ghandasoly

Oleh:
Sekian lama ku cari seseorang yang benar-benar bisa menyentuh hati, menenangkan jiwa, mengubah emosi menjadi sebuah kesabaran yang belum pernah aku rasakan. Kini aku menemukanmu, dengan mudahnya kamu merubah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *