A Love Story (Part 1)

Judul Cerpen A Love Story (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 January 2017

Pernahkah kamu mencintai seseorang, hingga kamu lupa bagaimana cara mu mencintai dirimu sendiri?
Pernahkah kamu mengharapkan seseorang, hingga kamu mati rasa pada yang lain?
Pernahkah kamu menanti seseorang, hingga waktu terpaksa menghentikan dirimu?

Perempuan itu menatap selembar kertas berwarna merah jambu, tidak ada yang berubah dari kertas itu, bahkan setelah berbulan-bulan. Hanya pinggirannya saja yang mulai menguning, dan sedikit rapuh. Di pertengahan bulan November yang mulai berangin, perempuan itu tidak mempedulikan tangannya yang mulai menggigil. Dia tetap memandangi kertas itu, meski isinya sudah sangat ia hapal diluar kepala. Tiga kalimat pertanyaan yang selalu membawanya menyeberangi lintas waktu menuju masa lalu.

“Karen, mau sampe kapan kamu duduk disini? Kamu bisa masuk angin tahu enggak?!” Seorang perempuan yang sebaya dengannya menghampirinya.
“Sebentar lagi Ra, sampai matahari tenggelam.” Neora menatap lirih ke arah Karen, seandainya Neora bisa melakukan sesuatu untuk Karen, untuk mengembalikan Karen yang dulu, untuk membuat sahabatnya itu tersenyum lagi.
“Aku kangen dia Ra, kangen..”
“Ssstt.. udah Ren udah..” Neora memeluk Karen, Karen tidak membalas pelukan itu, ia terus menatap lurus ke depan meski pandangannya kosong, Neora semakin mempereratkan pelukannya, ketika tetes air mata Karen mulai berjatuhan di pundaknya.

Seperti malam-malam yang telah lalu, Karen tetap setia menemani laki-laki itu. Meski mereka berdua hanya saling berdiam diri. Laki-laki itu terus menatap sang rembulan, sementara Karen terus menatap laki-laki itu, tanpa henti, tanpa pernah bosan, selalu begitu.
“Udah malem, masuk yuk.” bujuk Karen sambil menepuk pundak laki-laki itu pelan. Laki-laki itu diam, tak bergeming sama sekali, tatapannya tak berpaling sedikitpun dan tetap mengacuhkan Karen.
“Besok kita lihat bulan lagi, sekarang waktunya kamu tidur.” Karen terus membujuknya.
“Kamu tahu, bulan juga butuh tidur, dan dia sedang menunggu kamu untuk tidur lebih dulu, kamu enggak mau ngecewain bulan kan?”
Untuk pertama kalinya, laki-laki itu menoleh ke arah Karen.
“Kamu siapa?” Karen hanya tersenyum meski hatinya pedih.
“Aku Karen, Nateli Karen. Ayo sekarang kamu harus tidur.” tanpa lelah, Karen mengulang dialog yang sama setiap malam.
“Tapi besok lihat bulan lagi kan?”
“Iya,”

Satu tahu lalu
Matahari yang bersinar terang untuk semua penghuni bumi, begitupun untukku. Aku merapikan seragam sekolahku sekali lagi di depan kaca, lalu tersenyum, itu ritual setiap pagiku. Aku percaya akan suatu hal, apapun yang dimulai dengan positif akan menghasilkan sesuatu yang positif juga. Setelah sarapannya usai dan berpamitan dengan Ayah dan Bunda, aku pun berangkat ke sekolah.
Nateli Karen, itu adalah nama yang orang tua kuberikan, aku seorang anak perempuan yang ramah dan penuh senyum.
“Gubrakk!”
Aku menatap buku-buku yang tadi ada di tangannya, berhamburan jatuh ke lantai. Aku berusaha berjongkok untuk memunguti buku-bukunya tersebut. Saat aku mengangkat wajah, berusaha untuk melihat siapa yang telah menabrakku barusan, tapi yang aku temui hanyalah koridor sekolahnya yang sepi.
“Itu orang nggak tanggung jawab banget sih!” gerutuku sambil berjalan menuju kelasnya.
“Karen kok kamu telat, untung Bu Nana belum masuk? Tu muka kusut banget, biasanya juga ceria.” goda Neora, sahabatku sejak kecil.
“Tadi di koridor ada yang nabrak aku, tapi boro-boro bantuin atau minta maaf, orangnya langsung pergi enggak tahu kemana.” curhatku.
“Haha, kamu tuh ya, cuma kaya gitu doang, enggak usah dipikirin gitu juga kali.”
“Ya tapi dia kan enggak tanggung jawab berarti jadi orang, nyebelin banget tahu enggak.”
“Iya.. iya..” Neora hanya tersenyum melihat sahabatnya itu. Aku memang peduli banget sama yang namanya tanggung jawab, aku itu paling enggak suka kalo ada orang yang bertindak semaunya tapi enggak mau tanggung jawab atas ulahnya.

“Eh, Kak Adam tuh” Neora menyenggol-nyenggol sikuku, memberi kode kepadaku akan kedatangan Adam ke dalam kelasku.
“Aku heran sekali sama tuh orang, kenapa ya jadi orang berantakan banget, enggak pernah ada rapi-rapinya, lihat deh, rambut panjang, baju dikeluarin, sepatunya kotor, euw.” Neora hanya terkikik mendengar ocehan sahabatnya itu.
Semenjak MOS, aku memang udah enggak suka lihat anak cowok itu, yang menurutku gayanya enggak ada pantes-pantes jadi anak sekolahan apalagi jadi ketua osis.
“Gitu-gitu dia selalu juara umum tahu,” ujar Neora.
“Eh kalian berdua yang lagi ngobrol, dengerin ada pengumuman!” perintah Adam dari depan kelas.
“Maaf kak,” kata Neora.
“Ya elah Ra ngapain minta maaf sama orang kaya dia, dianya aja nyolot gitu, enggak ada sopan-sopannya, mana ada ketua osis kaya gitu!” Aku menatap Adam sinis, Neora hanya menatapku dengan penuh heran.
“Aku kesini mau ngasih tahu buat kalian semua yang tertarik buat ikut acara camping, bisa mulai daftar ke ruang osis mulai hari ini, syarat-syaratnya bisa kalian lihat sendiri nanti. Dan khusus buat kamu cewek sok! Kamu wajib ikut acara ini!” Adam menunjuk ke arah ku.
“Aku enggak mau ikut dan Kamu enggak bisa paksa aku!” tolak ku.
“Silahkan saja tolak perintah ku, dan aku pastiin, hidup kamu enggak bakal tenang di sekolah ini!” ancam Adam sambil berlalu meninggalkan kelas ku. Aku tidak peduli meski semua mata di kelas memandang ke arahku.

“Gila kamu Ren! Kamu sih macem-mecem aja nantangin dia segala.”
“Udahlah Ra,”
“Terus kamu ikut kan acara campingnya?”
“Enggaklah, ngapain aku ikut acara kaya gitu, enggak penting banget!” Neora cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahku, yang kalo batunya udah keluar susah dibilangin.
Meski diancam seperti itu, aku tetap saja tidak mau ikut acara camping itu. Walaupun sebenarnya tertarik, tapi keberadaan laki-laki itu membuatku benar-benar harus berpikir ratusan atau malah mungkin ribuan kali untuk ikut acara tersebut. Entahlah, mengapa aku bisa sampai seantipati ini padanya, aku sendiri pun tidak mengerti.
Hari-hari berlalu, aku merasa ancaman Adam padanya hanyalah sebuah kata-kata kosong, karena tidak ada sesuatu hal apapun yang menimpaku di sekolah.

“Kareen!!”
“Apaan sih Ra? enggak kurang kenceng itu suara manggilnya?”
“Ayo cepetan kamu harus ikut!” Neora langsung menarik tangan ku ke depan mading sekolah.
“Kemana?” tidak ada jawaban dari Neora, aku cuma bisa pasrah. Dimana hampir seantero sekolah sedang mengerumuni mading di depan ruang perpustakaan. Setelah misi sana misi sini, Neora berhasil membawaku ke depan mading, yang langsung membuatku terbelalak kaget.
“NATELI KAREN DAN AHMAD ADAM ARIYANTO RESMI BERPACARAN” headline besar dengan warna biru tersebut benar-benar membuatku shock, apalagi terpampang foto ku dan Adam, yang terlihat sedang cipika-cipiki, lalu yang lebih membuatku kaget setengah mati adalah, statement dari Adam yang juga terpampang besar di situ.
“Iya gue emang udah pacaran sama Karen, kita jadian kemarin pulang sekolah.”
Seandainya mading itu tidak terletak di dalam kaca dan kacanya tidak dikunci, rasanya aku ingin menyobek-nyobek berita bohong tersebut.

“Oh jadi ini anak kelas satu yang udah ngerebut Adam!”
“Gue kira cantik, ternyata standart!”
“Kok Adam mau sih sama dia!”
“Iya, mending juga sama gue!” komentar-komentar langsung bermunculan, kebanyakan datang dari kakak kelas. Aku yang sudah tidak tahan dengan hal ini, menarik Neora untuk segera menjauh dari sini.
“Kamu enggak percaya kan sama berita bohong itu Ra?”
“Gimana ya, aku sahabat kamu, aku pasti percaya sama kamu, tapi itu keliatan nyata banget.”
“Aku beneran enggak tahu, gimana caranya bisa ada fotoku sama mahluk sialan itu! argh, sial banget sih!”
“Sabar Ren, sabar..” nasihat Neora sambil neglus-ngelus pundakku.
“Aku enggak mau tahu, aku mau dia tanggung jawab sama semua ini!” kataku sambil beranjak pergi.
“Kamu mau kemana?”
“Ke tempat cowok sialan itu!” Aku berusaha masang muka tembok saat orang-orang mulai nunjuk-nunjuk ke arahku dan ngomongin aku.

Langkahku terhenti di pinggir lapangan bola, aku melihat Adam yang tengah berlari menggiring bolanya.
“ADAAAAMMM!!!” permainan di tengah lapangan itu langsung terhenti saat mendengar teriakanku, mereka langsung menatap ke arahku.
“Eh bentar ya, cewek gue manggil tuh.” ujar Adam enteng yang bikin aku tambah gondok.
“Ikut aku!” aku menarik tangan Adam ke taman sekolah yang lebih sepi.
“Mau apa sih?” tanya Adam sambil megangin tangannya yang aku tarik secara brutal.
“Kamu harus tanggung jawab! Kamu tahu, kamu kan yang bikin berita mading itu!”
“Tanggung jawab? ini kan semua aku lakuin gara-gara kamu juga, kalo kamu mau ikut acara camping juga, aku enggak akan masang itu kok!”
“Cuma acara itu doang apa pentingnya sih!”
“Cuma mading doang apa pentingnya sih!”
“ARHG! DASAR EDAN!!”
“Kaya kamu waras aja! Udahlah, nikmatin aja jadi pacar ku! Gini deh, kalo kamu tahan jadi cewek aku sebulan, aku bakal ngaku ke semua anak-anak kalo itu Cuma akal-akalan aku aja.” Aku berpikir sejenak, tidak buruk juga penawarannya, cuma sebulan aja pura-pura masa aku enggak bisa sih, lagian kalo dia tahan kan, dia bisa bikin malu Adam di depan anak satu sekolahan.
“Aku bisa pegang enggak nih kata-katamu?!”
“Percaya dong sama aku! Apa sih untungnya kalo aku bohong. Deal nih?” Adam menyodorkan tangannya.
“Deal!” balasku.

Semenjak saat itu, aku dan Adam mulai berpura-pura menjadi sepasang kasih. Mau tidak mau, aku harus sering berduaan di sekolah bersamanya, lagipula dengan bersama Adam, aku juga merasa lebih tenang karena bisa terhindar dari usilan kakak kelas dan para fansnya Adam yang menyimpan dendam pribadi padaku.

Hari ini Adam ada rapat osis, dan aku benar-benar malas kalo harus nungguin dia rapat, toh dia kan bukan pacar asliku, jadi aku enggak punya kewajiban buat nungguin Adam. Tapi apes buatku, di tengah jalan turun hujan deras, yang membuatku harus berteduh dulu di sebuah halte.
“Tahu hujan gini, aku tungguin deh dia tadi.” sesalku sambil menatap hujan yang tidak juga reda.
“Mana ini halte penuh banget sama orang neduh lagi, huft.” Aku memperhatikan di sekelilingku, ada beberapa anak yang sama sepertiku masih memakai seragam sekolah, lalu ada juga bapak-bapak serta ibu-ibu, mas-mas dan mbak-mbak, juga beberapa pengamen jalanan yang ikut berteduh. Lalu mataku tertumbu pada seorang anak perempuan kecil, sepertinya ia seorang pengamen, badannya kecil, dan ia tidak kebagian tempat di halte itu. Tubuhnya menggigil, basah kuyup oleh terpaan hujan.
“Kamu!” panggilku ke arah anak itu, anak itu menoleh ke arahnku lalu tersenyum.
“Sini deh,” aku melambaikan tanganku memanggil anak tersebut, meski heran anak tersebut tetap saja menghampiriku.
“Ada apa kak?”
“Kamu berteduh dulu disini,” aku menarik anak itu ke tempat ku berdiri, dan aku keluar dari kerumunan orang yang berdiri di bawah halte tersebut. Membiarkan diriku basah terkena hujan. Beberapa orang memandangiku dengan kagum meski tidak melakukan apa-apa, dan sisanya memandang tindakanku dengan acuh tak acuh.
Sejenak aku memejamkan mata, berusaha menikmati butiran hujan yang menetes di atas kepalaku, belum ada lima menit, aku sudah merasa menggigil kedinginan. Tak lama kemudian aku merasakan hujan sudah mulai reda, aku membuka mata dan masih terlihat jelas bahwa hujan belum berhenti.
“Lho, masih hujan?” aku mendongak ke atas, dan mendapati sebuah jaket sedang melindungi kepalaku dari hujan.
“Kamu ngeyel banget sih, udah aku bilang jangan kemana-mana, tunggu aku bentar aja apa salahnya sih! kan kalo kaya gini kamu jadi basah kuyup! lagian ada halte, bukannya neduh malah hujan-hujannan!” aku menatap ke arah Adam, yang entah kenapa jadi ngomel-ngomel gini sama aku, tapi entah mengapa aku juga seneng dengan cara Adam melindungiku dari hujan.
“Yee, malah senyum-senyum, ayo pulang!”
“Bentar,”
“Apa lagi sih?”
“Aku boleh ajak seseorang kan?”
“Hmm, siapa?” aku melemparkan senyum, kemudian menghampiri anak kecil yang tadi, aku berusaha membujuknya supaya dia mau ikut pulang bersamaku dan Adam, setelah tidak bisa menolak lagi, akhirnya kami pun masuk ke mobil Adam.

“Jadi tadi, siapa nama kamu?” tanyaku sambil mengeringkan rambutku dengan handuk yang diberikan oleh Adam.
“Nama aku Cinta kak”
“Tinggal dimana kamu dek?” gantian Adam yang bertanya.
“Susah kak jelasinnya, mending aku turun disini aja, kakak enggak usah anter aku sampe rumah.”
“Emang kenapa dek? Kita kan maunya nganterin kamu sampe rumah, iya kan Dam?” aku melirik ke Adam, Adam hanya bisa menganggukan kepalanya.
“Aku tinggal di daerah kumuh kak, kakak pasti enggak akan mau kesana.”
“Mau kok mau, udah sekarang kamu tunjukkin aja ya jalannya, oke.” Cinta menuruti perintahku, dia menunjukkan jalannya kepada Adam, dan Adam menuruti perintah Cinta.

Ternyata benar kata Cinta, ia tinggal di daerah yang menurutku sangat tidak layak. Sebuah daerah paling kelam yang ada di Jakarta, sebuah daerah dimana anak-anak kecil berkerja sebagai pengamen dan orangtua mereka hanya tinggal menunggu penghasilan mereka. Daerah dimana, ada banyak kasus kriminalitas terjadi setiap hari.
Aku berusaha tersenyum ke arah Cinta, aku tidak menyangka, banyak anak seperti Cinta yang harus merasakan kejamnya dunia.

“Makasih ya Kak Karen, Kak Adam udah nganterin Cinta sampe sini.”
“Iya.” jawab Adam singkat.
“Iya Cinta, kamu suka ngamennya di deket halte tadi kan? Entar kakak sering kesana deh biar kita bisa sering ketemu, kita pulang dulu ya Cinta.” pamitku ke Cinta. Tanpa sadar sedari tadi tanganku tengah memegang erat tangan Adam hingga kami mau masuk ke dalam mobil.
“Eh ngapain kamu pegang-pegang aku?!”
“Aku? woi! sadar dong, dari tadi itu Kamu yang pegangan sama aku!” sanggah aAdam enggak terima dituduh seenaknya olehku. Aku yang enggak bisa ngebales, cuma bisa menggerutu sendiri dan langsung masuk ke dalam mobil.
Tapi semenjak kejadian di halte tadi, sepertinya diam-diam rasa benciku mulai terkikis kepadanya. Apalagi saat aku sadar kalo Adam enggak secuek yang aku pikir selama ini.

Cerpen Karangan: Nelandari
Blog / Facebook: Penulis Amatir

Cerita A Love Story (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tepat di Depan Mata

Oleh:
Langit pagi ini sedikit mendung. Sinar mentari yang biasanya hangat, kini sedikit dingin tertutup oleh awan yang berwarna abu-abu. Kicauan burung-burung yang biasanya bersautan di pohon samping kamarku, hanya

Ku Relakan Dia Demi Kau

Oleh:
Drrt!!! Drrt!!! HP ku bergetar menandakan 1 pesan masuk, ternyata itu dari sahabatku yaitu Rini “Sis aku mau curhat ni kamu bisa temuin aku sekarang gak di taman kota”

Dia, Laras

Oleh:
Minggu, 15 Februari 2015, aku tiba-tiba terbangun dari mimpiku. Aku duduk sejenak, mengingat bagaimana mimpi semalam, hanya saja aku tidak mengingatnya seberapa pun keras aku mengingat, tiba-tiba aku teringat

Dua Doa

Oleh:
“Kau lah wanita yang selama ini ku cari dalam hidupku, kau yang kembalikan iman dalam dada ini, hati ini ingin memilihmu namun apalah daya jika kesempatan itu tiada” kata-kata

Satu Cinta Dua Dunia (Part 1)

Oleh:
Kriiing…!! Kriiing…!! Kriiing…!! Kriiing…!! Pagi itu suara alarm terdengar seolah memanggil Joni untuk segera lekas meninggalkan alam mimpinya. Dengan mata yang masih sayup dan rasa malas yang masih menempel

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *