A Love Story (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 January 2017

Semakin aku dengannya menghabiskan banyak waktu berdua, semakin besarlah pengetahuanku tentang Adam. Laki-laki yang amat sangat pintar, yang baik, yang iseng, dan yang selalu tampak lebih berkharisma saat ia bermain bola.
Seperti hari-hari sabtu yang telah lalu, hari sabtu ini pun aku menemani Adam untuk latihan sepak bola. Tidak ada yang lebih menyenangkan untukku selain bisa menikmati permainannya. Aku yang awalnya sama sekali buta terhadap sepak bola, jadi suka karena lihat permainan Adam. Ya, aku tidak bisa bohong kalo rasa nyaman itu telah tumbuh di hatinya, liar tak terkendali, tapi terjaga sempurna.

“Bengong mulu, terpesona sama permainan aku ya?” meski yang Adam katakan benar, perasaan gengsi gede-gedeanku masih berdiri kokoh.
“Aku? terpesona sama kamu?! enggak banget deh!”
“Ren, besok kita sebulan” aku tiba-tiba saja terdiam, aku tidak menyangka akan tiba hari dimana aku dan adam harus mengakui semuanya, ada setengah hatinya yang tidak rela dengan kenyataan ini.
“Bagus dong, jadi orang enggak perlu salah paham lagi sama aku!” aku mengutuk kata-kata yang terlontar dari mulutku, mengapa mulutku berkata demikian? bukankah ada sebuah rasa yang cukup nyaman dengan kehadiran laki-laki itu.
“Apa aku enggak bisa beneran milikin kamu, Ren?” Adam menatap mata ku, aku merasa melihat kesungguhan dan ketulusan yang dalam di mata itu.
“Aduh, ngomong apa sih! udah ah, aku mau balik aja! enggak enak banget suasananya!” lagi-lagi, aku merasa bingung mengapa mulutku berkata tanpa kendali, mengeluarkan kata-kata yang berlawanandengan isi hatiku.
“Tunggu Ren, ini buat kamu.” Adam mengeluarkan secarik amplop dari dalam tasnya, aku menerima itu dan langsung memasukannya ke dalam tasnya. Aku memaksa Adam untuk mengantarkanku pulang dan sepanjang perjalanan, aku dengannya hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Neora bingung melihat sikapku, mengapa aku yang biasanya bawel, hari ini terlihat sangat pendiam, dan selalu melihat ke arah luar jendela kelas. Bel istirahat kali ini terasa sangat tidak bersahabat untukku, karena sekaranglah saatnya Adam harus mengakui tentang kebohongan itu selama ini.

Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok Adam yang memandang tepat ke arahku, lalu kemudian ia mengangguk dan mulai berjalan ke tengah lapangan sambil membawa toa. Para fans Adam tentu saja langsung mengerumuninya.
“Aku mau bikin pengakuan,” Adam mengalihkan matanya ke arahku.
“Kalo sebenernya aku enggak punya hubungan apa-apa dengan Nateli Karens, itu semua cuma rekayasa aku doang, yang bikin berita hoak di mading itu aku sendiri, yang bikin foto itu juga aku, semuanya kerjaan aku sendiri.” entah mengapa meski telah tahu dari awal, aku tetap saja merasa getir dan ingin menangis, Neora yang seperti biasa selalu berdiri di sampingku, menggenggam tanganku dengan erat.
“Foto itu aku ambil secara diam-diam, saat aku enggak sengaja nabrak dia di suatu pagi. Mungkin semua orang bingung, mungkin dia sendiri juga enggak pernah tahu, kenapa aku ngelakuin hal kaya gini, jawabannya simpel, semua karena aku beneran sayang sama dia.” Sontak aku tidak bisa menahan rasa kekagetanku, aku tidak menyangka dengan apa yang di ucapkan oleh Adam.
“Aku tahu cara aku alay banget, dan aku juga sadar dengan semua kebohongan ini, aku enggak akan pernah bisa milikin seorang Nateli Karen. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya ke semua orang yang mungkin udah ngerasa aku bohongin, dan buat Karen, semoga satu bulan ini enggak terlalu menyiksa buat kamu harus terus bareng sama aku, karena satu bulan ini aku ngerasa bahagia banget bisa ngabisin waktu ku bareng kamu.”

Banyak sekali anak-anak sekolah yang menyaksikan penjelasan Adam di lapangan, sedangkan aku masih menatap Adam dari tempatnya berdiri, apa maksud Adam menyatakan semua itu, apa maksud Adam mengatakan perasaannya di depan semua orang, dan mengapa Adam sekarang malah langsung pergi begitu saja dan bukannya menemuiku.

“Ren, kamu baik-baik aja kan?” Neora menyadarkan ku dari lamunan. Aku hanya tersenyum tipis, lalu memutuskan untuk masuk ke kelas. Aku bingung memikirkan hati ini, bukankah harusnya sekarang aku lega karena semenjak hari ini aku tidak perlu lagi akting di depan teman-teman sekolah, bukankah seharusnya aku senang karena semenjak hari ini aku bisa terbebas dari laki-laki itu?
Dengan langkah gontai AKU berjalan tanpa tujuan. Tidak ada lagi Adam dan mobilnya sekarang, tidak ada lagi mahluk rese yang selalu memaksaku untuk mengantarkanku pulang ke rumah, tidak lagi ada orang yang memaksaku untuk menunggu dia. Aku membiarkan kaki ku melangkah sendiri, cukup penat hari ini, aku hanya ingin menghabiskannya sendiri, mengenang sedikit kisah yang telah aku lalui bersama Adam.

“Kak, tolong kak!!” aku terlonjak kaget saat melihat pemandangan di depan matanku. Aku masih mengenal jelas anak itu, Cinta. Tampak dirinya sedang dipukulin oleh orang-orang yang bertampang brutal serta sadis. Aku tidak punya kemampuan apa-apa, aku melihat di sekitarku dan baru sadar ada dimana aku sekarang, refleks aku mengambil ponsel milikku dan mengetik sebaris kalimat permintaan tolong.

To: Adam
Tolongin aku, aku ada di daerahnya Cinta waktu itu!

“Cinta!”
“Eh siapa lo?! enggak usah sok ikut campur deh!”
“Wuess, lumayan nih, bisa laku berapa ya kalo dijual!” salah seorang dari kerumunan orang itu mendekatiku, mengacung-acungkan cutternya, meletakkanya di atas pipi mulusku.
“Ma.. mau apa kamu?!”
“Lo yang mau apa anak manis?!” orang itu menoel dagu ku, yang langsung saja aku tepis dengan tanganku.
“Berani lo sama gue?! apa hubungan lo sama bocah tengik ini?!” orang itu tampak emosi saat melihat aku menepis tangannya. Dia meraih kedua tanganku dan mencengkramnya erat, aku ditarik dengan kasar, dan diikatkan ke sebuah tiang.

Aku memejamkan kedua mataku, ketika melihat orang-orang itu tanpa belas kasihan mulai memukuli cinta kembali. Cinta sudah tidak lagi meraung-raung, tubuhnya telah terlalu lemah untuk melawan. Sedangkan aku benar-benar tidak berdaya, aku hanya bisa memanjatkan doa dalam hatiku, memohon perlindungan Tuhan.

“Lepasin dia!” aku membuka kedua mataku, karena aku mengenali suara ini, dan benar saja, Adam datang dan siap untuk menyelamatkan aku dan Cinta.
“Adaam!”
“Aku tungguin kamu di taman dari tadi!” Aku terdiam, aku tidak mengerti maksud perkataan Adam barusan.
“Hah? Adam awas!” untung saja Adam buru-buru menghindar tepat ketika aku memperingatkannya. Adam mulai terlibat adegan baku hantam dengan orang-orang itu, dan sebuah pengetahuan baru lagi untukku, ternyata Adam jago berantem.
Tiga orang lawan Adam mulai kepayahan, sementara Adam tetap on fire meladeni mereka satu persatu. Meski beberapa kali terkena tonjokan atau tendangan, tapi Adam selalu berhasil bangun dan melawan lagi. Tiba-tiba seseorang menghampiriku sambil membawa cutter. Dia meletakkan cutter itu di atas pipiku, siap melukaiku kapanpun ia mau.
“Lo mau cewek lo kulitnya jadi enggak mulus lagi?!” Adam menatap ke arahku, dia baru sadar kalo sekarang keadaankulah yang terancam.
“Jangan sentuh dia!” teriak Adam sambil berlari ke arah ku, tapi badannya di tahan oleh salah satu orang dari mereka.
“Apa yang bikin gue enggak boleh nyentuh dia?!”
“Lo boleh pukulin gue semau lo, tapi jangan sentuh dia!!” tiga orang itu tersenyum licik ke arah Adam, mereka menghampiri Adam dan mulai memukulinya. Adam hanya diam, tidak melawan. Tidak ada belas kasihan untuknya, dengan sangat kejam orang-orang itu mengeroyok Adam, menghantamnya dengan pukulan-pukulan dan tendangan keras, membiarkannya jatuh tersungkur tanpa daya.
“BRUKK!!”
“ADAM!!!” raungku histeris tepat ketika sebuah balok kayu ditimpakkan ke atas atas kepalanya. Aku sudah tidak mempunyai rasa takut lagi, aku hanya ingin melihat Adam. Dengan sekuat tenaga aku meronta dari ikatan yang ada di tangannya, aku berlari menghampiri Adam, terduduk lemas di pinggir tubuh Adam yang penuh luka, darah segar mengalir dari kepalanya. Sementara tiga orang tadi langsung kabur saat melihat kondisi dam yang mengenaskan.
Kedua telapak tangannya ia letakkan di atas wajahku, aku menangis terisak.

Aku tidak pernah suka menunggu, apa lagi bila harus menunggu kepastian akan hidup seseorang. Sudah hampir dua jam berlalu dan belum ada tanda apapun dari ruang operasi, Neora yang langsung datang ketika dihubungi olehku hanya bisa mengelus-ngelus pundakku.
“Ren, tadi pas pulang sekolah Kak Adam titip pesen buat kamu, tapi pas aku balik ke kelas nyariin kamu, kamu udah enggak ada.” ujar Neora saat ia melihat kondisi sahabatnya yang mulai stabil.
“Apa?”
“Dia bilang, dia nungguin kamu di taman belakang, dia bilang dia mau ngomongin tentang surat yang kemarin dia kasih ke kamu.”
“Su..surat?” aku langsung meraih tasku, mengeluarkan seluruh isi tasku sampai membuat Neora terheran-heran. Dan aku menatap amplop yang terjatuh di antara buku-buku ku, amplop yang entah bagaimana terlupakan olehku, aku memungut amplop tersebut, dengan tanganku yang bergetar aku membuka amplop tersebut dan mulai membacanya.
Air mataku kembali mengalir saat aku membaca goresan tangan Adam, tidak banyak yang Adam tulis, hanya terdiri dari tiga kalimat pertanyaan, tanpa kata sapaan atau penutup, tapi aku bisa membaca maknanya. Meski tidak mengerti apa yang terjadi, Neora tetap melakukan tugasnya sebagai sahabat yang baik, dia menghapus air mataku dan membiarkan aku menangis sepuas hati dia dekapannya.

Dunia terasa runtuh saat kenyataan itu harus aku terima. Tadi pagi, mamanya Adam dengan penuh isak tangis menyampaikan berita itu, berita yang terasa menyakitkan sekaligus menyayat hatiku.
“Otak kecil Adan mengalami pendarahan hebat, kalaupun dia bisa melewati masa kritisnya, dan dia bisa sadar, dia tidak akan mengingat apapun, dia akan melupakan semuanya, kemampuannya akan menurun, dan perlahan demi perlahan.. dia.. dia.. akan.. meninggal.”
Kata-kata itu terus saja bergaung di dalam telinga dan hatiku. Adam akan melupakan semuanya, Adam tidak akan mengingatku, lalu bagaimana aku bisa memastikan perasaanku kepada Adam. Rasa bersalah penuh penyesalan semakin tersirat dalam diri ini.

“Kamu Karen kan? Adam sering cerita sama tante. Katanya kamu, satu-satunya perempuan yang berani marahin dia karena penampilannya yang urakan, tante enggak tahu apa Adam sudah bilang langsung ke kamu atau belum, kalo dia sayang banget sama kamu.”
Aku menutup kedua telingaku menggunakan kedua tanganku, dan aku berharap dengan begitu, semua tidak akan terus menghantui perasaanku.

“Kak Karen,”
“Cinta, gimana kabar kamu?” aku tersenyum ke arah Cinta yang duduk di kursi roda di dorong oleh seorang suster.
“Aku baik-baik aja, kata dokter besok aku udah boleh pulang. Kak Karen, Cinta minta maaf, gara-gara Cinta, Kak Adam jadi sakit, maaf.” Cinta menunduk, nada suaranya penuh rasa bersalah.
“Enggak Cinta, kamu enggak salah apa-apa.” Aku berlutut memeluk Cinta. Akulah yang seharusnya dipersalahkan, seandainya aku tidak langsung pulang, seandainya aku tahu Adam sedang menungguku, seandainya aku tidak mengirimkan pesan kepada Adam!

Saat ini
“Ren, mataharinya udah tenggelam, kita masuk ya ke dalam.” bisik Neora di telingaku, aku menatap ke arah matahari yang mulai meredup. Aku hanya mengangguk, memasukkan kertas yang tadi aku pegang. Aku berjalan ke tempat dimana aku habiskan satu tahunku belakangan ini, di belakangku Neora hanya diam mengikutiku.
“Adam, udah mulai malem nih, kamu mau lihat bulan lagi kan?” laki-laki itu menoleh ke arahku.
“Kamu siapa?”
“Aku Karen Adam, Nateli Karen.” hati Neora miris melihat sahabatnya selalu harus mengenalkan dirinya saat bertemu Adam.
“Kita mau lihat bulan?” tanya Adam layaknya seorang anak kecil.
“Iya, mau kan?” Adam mengangguk senang, di bantu olehku, Adam membawa botol infusnya..
“Kamu cantik,” celetuk Adam tiba-tiba. Aku menatap Adam sambil tersenyum.
“Kamu juga ganteng,” Adam tidak menggubris itu, ia mulai menatap awan yang mulai menggelap, sedangkan aku menatapnya.
“Kamu tahu Adam, kamu dulu adalah seorang yang paling aku benci, karena tingkah lakumu dan penampilanmu yang acak-acakan, tapi tanpa pernah aku tahu, diam-diam kamu memperhatikan aku. Andai aku boleh memutar waktu sekali saja, aku tidak akan pernah mengingkari perasaanku, aku akan mengakuinya, mengakuimu, jujur akan perasaanku, tidak peduli pada rasa egoku, aku hanya mau bersamamu, aku mencintaimu, selalu mencintaimu.” Aku tahu kata-kata ini hanyalah angin lalu untuk Adam yang sekarang, tapi keinginan di dalam hatiku yang kuat, telah memaksaku untuk mengeluarkan kata-kata itu.
Adam menoleh ke arahku, membuatku terkejut akan responnya. Adam mengangkat tangannya, menyentuh pipiku, mengusapnya. Lalu Adam tersenyum pada ku, bukan senyumnya yang polos seperti anak kecil, tapi senyum yang dulu selalu membuat aku sebal. Aku terpaku menatap senyum itu, ada apa ini, mengapa yang aku lihat sekarang, bagai sosok Adam satu tahun yang lalu.
“Ka..ren..”
“Bruuk,” Adam tiba-tiba terjatuh ke arahku. Aku tidak bereaksi apapun, masih terdiam, belum ada satu detik yang lalu Adam memanggil namaku, menyebut namaku, setelah satu tahun. Keheningan itu berlangsung lama, sunyi menyekap keduanya, aku masih duduk dengan tegaknya, dan dagu Adam tersangga di pundakku.
“Dam, aku sayang sama kamu.” bisikku lirih, aku merasa pundak ku basah. Aku angkat kepala Adam, dan aku baru sadar bahwa Adam telah mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.
“Dam, Adaaam.” aku memeluk erat Adam, degup jantung Adam terasa pelan, aku bahkan tidak mempunyai kuasa untuk berteriak, masih terdengar jelas saat Adam memanggil namaku tadi. Air mata ku mulai membasahi pipi ini, mulai membentuk aliran sungai kecil tanpa henti.

TAMAT

Cerpen Karangan: Nelandari
Blog / Facebook: Penulis Amatir

Cerpen A Love Story (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ikatan Senja

Oleh:
Senja yang terhiasi awan altocumulus membentang di langit petang, siluet-siluet manusia dan pepohonan tercipta dari cahaya senja tak urung jadi pemandangan bola mata, kembali terngiang waktu itu. Waktu 3

Apa Arti Kehadiranmu Selama Ini?

Oleh:
Sore itu waktu santaiku di depan teras rumah. Menanti siapa yang mengisi kekosongan hati.. Tut tut bunyi sms masuk di hpku. Temanku mita namanya mengirim “mbak, kamu mau ku

Menangis Bersama Hujan

Oleh:
Sepintas Reihan melewati rumah pohon. Matanya berbinar ketika melihat sosok bidadari cantik di rumah pohon tersebut. Ternyata itu sahabat perempuannya yang disayanginya dan sekaligus pacarnya. Nama perempuan itu Reny.

Permintaan Terakhirku

Oleh:
“Happy birthday Mega.. Happy birhday Mega.. Happy birthday, Happy birthday Happy birthday Mega.” Terdengar suara dari balik pintu. Dengan sigap ku alihkan pandanganku menuju ke arah pintu. Seketika mataku

Mengapa Elo Harus Pergi

Oleh:
Kring… Bel sekolah berbunyi. semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Ada yang ke parkiran ataupun menuju depan pagar. Di depan pagar sekolah, tampak dua cewek feminim dan satu cewek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “A Love Story (Part 2)”

  1. esti says:

    Sediihh tapi penasaran Adam kenapa endinnya..APA bakal ada part 3 nya gak ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *