Ada Cinta (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 2 February 2016

Hari ini adalah hari keberangkatan Al ke Jerman, sekarang Al sedang mengemasi barang-barangnya kembali. Sementara Yuki sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, pesawat yang akan membawa Al terbang nanti akan berangkat pukul 10 pagi sementara sekarang jam baru menunjukkan pukul 7.35 pagi. Al telah selesai mengemasi semua barang-barangnya yang ia masukkan ke dalam kopernya. Al menyeret kopernya ke luar kamarnya yang berada dekat dengan ruang tamu sementara kamar Yuki berada di pojok kanan yang dekat dengan pintu utama. Al menaruh kopernya di ruang tamu sementara dirinya berjalan menghampiri Yuki yang sedang berada di dapur. Al tersenyum kecil saat tangannya menyentuh kembali benda yang selama ini ia simpan di dalam saku jaketnya.

“Yuki..” Panggil Al. Yuki berbalik dan tersenyum kecil. “Duduklah, sebentar lagi aku selesai memasak dan kita bisa sarapan pagi bersama.” Tukas Yuki. Al mengangguk dan menuruti perintah Yuki, Al duduk di kursi yang menghadap dengan punggung Yuki yang sedang membelakanginya. Yuki mematikan kompor gas kemudian menaruh sup ayam ke dalam mangkuk, Yuki berjalan menghampiri meja makan dengan 1 mangkuk yang berisi sup ayam. Yuki menaruh mangkuk tersebut di atas meja.

“Kau ingin makan apa? Roti? Atau sup?” Tunjuk Yuki pada roti tawar beserta selai kacang, cokelat dan strawberry dan juga pada sup ayam yang baru saja ia bawa. “Aku ingin roti dengan selai cokelat.” Yuki mengangguk mengerti, tangan Yuki mengambil satu helai roti dan selai cokelat. Yuki mengolesi permukaan roti tersebut dengan selai cokelat kemudian Yuki melipat roti tersebut.

Yuki menyerahkan roti tersebut pada Al, Al tersenyum dan mengambil roti yang Yuki berikan, “Terima kasih.” Yuki mengangguk pelan. Tangan Yuki bergerak mengambil sup ayam kemudian ia pindahkan isinya sedikit ke dalam mangkuk kecil yang ia bawa. Al melahap rotinya dengan asal-asalan, matanya hanya fokus menatap wajah Yuki yang sedang melahap sup ayamnya. Al tersenyum kecil, tangannya kembali masuk ke dalam saku jaketnya. “Yuki.. ada yang ingin aku bicarakan nanti.” Yuki mendongkak keningnya mengernyit heran.

“Bicara tentang apa? Tentang kepergianmu ke Jerman yang ditunda?” Tanya Yuki balik dengan senyum mengejeknya. Al terkekeh geli dan menggeleng pelan. “Bukan. Aku akan tetap pergi kembali ke Jerman Yuki.” Yuki mengerucutkan bibirnya, Yuki pikir Al akan mengatakan jika ia akan menetap di Indonesia tapi ternyata bukan itu yang akan Al katakan. “Lalu apa?” Al mengedikkan bahunya acuh. Yuki kembali mengerucutkan bibirnya, Yuki kembali sibuk melahap supnya dan mengacuhkan Al yang masih terkekeh geli.

10 menit kemudian keduanya selesai sarapan dan sekarang mereka sedang duduk di sofa ruang tamu apartemen Yuki. Yuki sibuk mengutak-atik ponselnya sementara Al sibuk mengatur napas selama beberapa detik. “Yuk.” Panggil Al setelah dirasa napasnya mulai teratur kembali. Yuki menoleh dan menaikkan satu alisnya heran, “Banyak kata yang ingin aku sampaikan padamu.. jadi, aku harap ketika aku sedang menyampaikan semua yang ada di dalam kepalaku kau mendengarkannya dengan baik.. karena aku, tidak akan mengulang semua ucapanku.. kau paham?” Yuki mengangguk ragu.

Al tersenyum kecil, tangannya kembali masuk ke dalam saku jaketnya dan secara perlahan Al mulai mengeluarkan kembali isi di dalam saku jaketnya yang ia pegang. Al menaruh cincin yang selama ini ia simpan di dalam saku jaketnya ke atas telapak tangan kanannya. Yuki sedikit terkesiap saat melihat cincin yang 4 tahun lalu sangat Yuki inginkan namun karena harganya yang selangit membuat Yuki mengurungkan niatnya untuk membeli cincin itu, “Itu?” Tanya Yuki pelan.

Al mengangguk, “Ini adalah cincin 4 tahun lalu yang sangat kau inginkan.” Jawab Al seakan mengerti maksud Yuki mengucapkan kata ‘itu’. “Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Yuki kembali, karena seingat Yuki ketika dirinya melihat cincin itu yang ada di tempat itu hanya dirinya dan penjaga toko perhiasan tersebut.
“Penjaga toko yang kau temui adalah ibu-ibu baik dan ramah yang sudah aku anggap sebagai Ibu keduaku. Aku mengenalnya karena dulu ketika aku masih kecil Bunda selalu mengajakku untuk membeli perhiasan di sana..” Yuki diam mendengarkan semua ucapan Al tanpa ingin menyelanya sedikit pun.

“Bunda dan Ibu Tania (penjaga toko itu) ketika mereka masih SMP mereka bersahabat hingga mereka dewasa dan memiliki anak. Ibu Tania memiliki anak laki-laki yang tinggal di Korea.. inti pembicaraanku bukan ini.” Tukas Al dengan wajah masamnya. Yuki terkekeh geli begitulah Al ketika dirinya ditanya oleh orang lain maka dengan senang hati Al akan menceritakannya secara detail. “Jadi.. begini.. aku.. maksudku..” Yuki menaikkan satu alisnya mendengar Al berucap dengan terbata-bata, biasanya jika Al mulai berucap secara terbata-bata berarti Al sedang gugup dan ingin menyampaikan hal yang sangat penting.

“Tenang.. tarik napas.. buang.” Al memgikuti intruksi Yuki, “Santai dan katakan apa yang ingin kau ucapkan?” Al tersenyum kecil, Yuki sangat mengerti dirinya. Al berdehem pelan dan memejamkan matanya sebentar. “mengapa sulit mengaku cinta.. padahal ia terasa.. dalam rindu dendam.. hening malam.. cinta terasa ada..” Yuki diam ketika mendengar Al bernyanyi, Yuki tahu lagu ini karena dirinya dan Al sangat menyukai lagu ini dan mereka jelas tahu apa maksud tersembunyi dari lirik lagu Ada Cinta tersebut.

“Ya.. kau adalah orang itu.. orang yang telah mengunci hatiku hingga hanya tertuju padamu.. orang yang telah berhasil membuat mata ini hanya selalu melihatmu.. orang yang paling bisa membuat bibir ini tersenyum lebar ketika bersamamu.. orang yang selalu membuat degup jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.. orang yang membuatku mengerti apa itu cinta dan orang.. pertama yang memperkenalkanku pada cinta.. orang itu, adalah dirimu.. i love you.”

Yuki masih betah dengan keterdiamannya, dia tidak tahu harus merespon Al seperti apa. Dia tidak tahu apakah dirinya sekarang harus kaget? Senang? Sedih? Dia tidak tahu ekspresi apa yang harus ia tunjukkan sekarang pada Al. “Aku selalu ragu jika harus mengatakan kalau aku sangat mencintaimu.. karena aku takut, jika perasaan kita tidak sama.. tapi setelah aku pergi ke Jerman dan meninggalkanmu.. rasa takut itu berubah. Aku sekarang jadi merasa takut, jika aku tidak dapat bersamamu lagi.. aku takut mataku tidak dapat melihatmu lagi.. aku takut senyumku tidak akan pernah muncul lagi.. dan hal yang paling aku takutkan.. aku takut kita terpisah..”

“Aku tahu ini gila, aku tak seharusnya menyimpan perasaan padamu karena kau.. adalah sahabatku. Tapi demi Tuhan, aku tidak dapat mengendalikan hatiku untuk tidak berdegup kencang saat bersamamu.. karena bukan aku yang mengendalikan hati dan juga diriku Yuki.. tapi yang menciptakanku.. jadi, maafkan aku jika menurutmu aku salah mencintaimu.” Yuki tersenyum kecil, dia jelas sangat tahu jika ini bukanlah kesalahan mereka. Yuki menggenggam tangan kiri Al. “Aku mengerti.. kau harusnya sadar jika aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu.. dan aku, sangat menanti hari dimana kau akan mengatakan hal ini padaku.” Tukas Yuki. Kali ini giliran Al yang terdiam.

“So.. will you be mine?” Tanya Al yakin. Yuki tersenyum kecil kemudian mengangguk perlahan.
“Yes, i do.” Jawab Yuki. Al langsung tersenyum lebar. Tangannya yang Yuki genggam ia lepaskan, tangan kiri Al memegang jari tangan kanan Yuki.
“Jadi.. aku boleh memasangkan cincin ini pada tanganmu?”
“Apa kau sedang melamarku?”
“Tidak, hanya saja cincin ini sebagai bukti jika kau menerimaku menjadi pacarmu.”
Yuki terkekeh geli, Al memang selalu melakukan segala hal dengan caranya sendiri. Yuki kembali menganggukkan kepalanya, “Thank you.” Bisik Al pelan, tangan kanan Al secara perlahan mendekatkan cincin yang ia pegang ke jari tengah Yuki hingga cincin itu tersemat indah di jari tengah Yuki. “Terima kasih kembali.” Tukas Yuki dan membuat mereka kembali terkekeh pelan.

Nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
Sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
Sebab ku meragu pada dirimu

Jerman, 15-Juni-2030
“Alka Ghazali Bouttier.” Teriak seorang wanita cantik dengan dandanan yang masih seperti anak remaja. Al berhenti berjalan dan berbalik menghadap Bundanya. “Yes Mom?”
“Bunda.” Ralat wanita tadi, Al memutar bola matanya. Wanita tadi berjalan menghampiri Al dan berhenti tepat di depan tubuh Al. “What’s happened?” Tanya Al kembali dengan bahasa inggrisnya yang fasih.
“Gunakan bahasa Indonesia. Kau tahu apa kesalahanmu?” Tanya wanita tadi dengan wajah galaknya. Al diam dan mengangguk pelan, “Lalu kenapa kau melakukan itu?”

Al menghela napas pelan “maaf Bunda..” Tukas Al dengan nada menyesalnya. Wanita tadi tersenyum lebar.
“Anak pintar.” Tukas wanita tadi. Al menoleh ke belakang punggung Bundanya dan membuat wanita tadi ikut menoleh ke belakang. “Max, kau sudah pulang. Kenapa tidak mengucapkan salam?”
“Aku sudah mengucapkan salam lebih dari 3 kali..”
“Benarkah?” Max mengangguk, kakinya ia langkahkan kembali mendekati anak dan istrinya.

“Jadi.. apa keonaran yang dilakukan jagoanku hari ini?” Tanya Max menatap istri dan anaknya bergantian.
“Dia melakukan balapan mobil di jalan umum.” Tukas wanita tadi dengan wajah kesalnya. Max menatap putra satu-satunya dengan tatapan tak percaya.
“Benarkah? Lalu siapa yang menang?” Tanya Max. Al langsung tersenyum lebar saat Max menanyakan hal itu.
“Tentu aku Ayah, aku adalah raja jalanan.” Jawab Al dengan bangganya. Max dan Al langsung bertos ala pria dan membuat wanita tadi melongo tak percaya.

“Kalian..”
“Yuki.. dia kan sudah besar, umurnya sudah lebih dari 17 tahun. Jadi bukankah hal wajar jika Al melakukan aktivitas-aktivitas seorang remaja zaman sekarang?” Yuki langsung menatap Max tajam saat Max berucap dengan santainya. “Max.. kau tidak mengerti, aku hanya..”

“Bunda.. aku mengerti. Bunda sangat mengkhawatirkanku, benar? Tapi Bunda harus percaya padaku, tidak akan terjadi apa pun padaku.. sekali pun misalnya terjadi sesuatu padaku, bukankah itu artinya aku adalah seorang pria sejati?” Potong Al cepat. Yuki menghela napas pelan, Al berpindah tempat menjadi berdiri di samping kiri Yuki sementara samping kanan Yuki ada Max. “Bunda hanya tidak ingin kehilangan kalian. Kalian adalah napas Bunda..” Al dan Max tersenyum lembut.

Al menggenggam tangan kiri Yuki dengan kedua tangannya sementara Max memeluk erat pinggang Yuki. “Kalian harus berjanji, jika kalian tidak akan pernah meninggalkanku.” Tambah Yuki. Max dan Al mengangguk secara bersamaan. “Janji.” Tukas keduanya dengan kompak. Yuki tersenyum lebar, sekarang dia hanya memiliki Max dan juga Al jadi jika terjadi sesuatu dengan mereka Yuki tidak tahu harus hidup seperti apa.

“Al.. terima kasih untuk semua yang kau berikan padaku, meskipun kau tak berada di sisiku tapi aku bahagia karena aku pernah mengenalmu dan pernah merasakan cinta yang tulus darimu.. cincin yang kau berikan ini, akan selalu tersemat di jari tengahku.. aku yakin di surga sana pasti kau sedang tersenyum bahagia.. sama sepertiku yang selalu tersenyum bahagia.” Gumam Yuki dalam hatinya. Yuki mendongak menatap langit-langit rumah mewahnya, senyum lebarnya kembali merekah menghiasi bibirnya “Aku merindukanmu Al..” Gumam Yuki kembali.

Jakarta, 14-Februari-2011
Pagi ini Yuki bangun lebih awal dari biasanya, Yuki sudah selesai mandi dan mengganti baju. Kini Yuki tengah duduk di ruang tamu sambil menonton televisi yang menayangkan doraemon di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Tangan Yuki yang memegang roti bakar kembali mendekatkan roti bakar tersebut ke dalam mulutnya. Yuki mengunyah roti bakar yang berada di dalam mulutnya tanpa minat. Televisi yang semula menayangkan iklan kini berubah menjadi sekilas berita pagi. Yuki masih setia menikmati setiap acara yang disuguhkan dengan roti bakar yang masih tersisa di dalam mulutnya.

“Pemirsa pesawat air lines yang kemarin berangkat dari Indonesia menuju Jerman tiba-tiba mengalami kebakaran dan meledak di atas awan. Sampai sekarang korban selamat masih belum ditemukan. Kami akan segera kembali dengan perkembangan terbaru mengenai meledaknya pesawat air lines.” Yuki langsung diam mematung di tempatnya, dia berharap jika pesawat yang baru saja diberitakan meledak bukanlah pesawat yang membawa Al kembali ke Jerman. Tapi setelah melihat nomor pesawat Yuki yakin itu adalah pesawat yang Al naikki kemarin.

Yuki segera berlari ke kamarnya dan mengambil tas kecilnya, Yuki kembali berlari menuju ke luar apartemennya untuk mencari taksi kosong. Dia harus ke bandara untuk memastikan semua kebenarannya. 30 menit kemudian Yuki telah tiba di Bandara bersamaan dengan datangnya Max yang sebelumnya telah Yuki hubungi untuk menemani dirinya mencari tahu tentang keberadaan Al sekarang.

“Max kita harus ke mana sekarang?” Tanya Yuki dengan nada paniknya. Max celingukkan dan ketika dia melihat kerumunan orang yang menampilkan ekspresi sama seperti Yuki membuat Max yakin jika di sana dia akan menemukan informasi mengenai pesawat yang meledak. “Tunggu di sini sebentar, aku akan kembali dengan informasi yang kau butuhkan.” Tukas Max dan dianggukki Yuki. Max berlari menghampiri kerumunan tersebut sementara Yuki berjalan ke arah kursi yang sudah disediakan untuk menunggu.

15 menit kemudian Max kembali dengan wajah prustasinya. Max duduk di samping Yuki dan membuat Yuki langsung menoleh padanya, “Bagaimana?” Tanya Yuki tak sabaran. Max menghela napas pelan, tangannya menepuk pundak Yuki beberapa kali, “Mereka bilang sampai detik ini belum ada kabar tentang perkembangan bagaimana para korban, aku sudah mencantumkan nama dan nomor ponselku untuk nanti mereka menghubungiku jika ada perkembangan mengenai korban yang bernama Al Ghazali.” Jelas Max sesuai dengan apa yang ia dengar tadi. Yuki langsung menunduk lesu, jari-jari kirinya mengelus cincin yang kemarin Al berikan padanya. Yuki terus melantunkan doa-doa untuk keselamatan seluruh korban terutama Al. Yuki berharap jika Al akan selamat.

20.47 WIB
Yuki sudah tertidur lelap, sejak tadi pagi hingga malam kini yang terus memenuhi pikiran Yuki adalah keselamatan Al. Bahkan hari ini Yuki tidak memakan apa pun selain roti bakar yang tadi pagi ia makan. Keringat dingin bercucuran di pelipis Yuki yang menandakan jika Yuki sekarang sedang bermimpi hal buruk. Beberapa kali Yuki menggumamkan nama Al bahkan Yuki sempat berteriak memanggil nama Al.

—Dalam Mimpi—

“Yuki.. jaga dirimu baik-baik, maaf aku tidak dapat menjagamu lagi secara nyata tapi percayalah di atas sana aku akan selalu menjagamu. Aku sudah mengatakan pada Max untuk menggantikan posisiku dan ku harap kau mau menerima Max sebagai penggantiku.” Yuki menggeleng tak kentara, “Aku tidak ingin yang lain, aku tidak ingin kau digantikan oleh siapa pun.. aku hanya ingin dirimu, jangan tinggalkan aku Al.”

“maaf Yuki tapi aku tidak bisa memenuhi keinginanmu.. waktuku di dunia telah selesai, sekarang aku akan menjalani hidupku yang baru di sini.. kau tenang saja, aku tidak akan mencintai wanita lain sekali pun kita sudah berbeda dunia.” Al masih setia menunjukkan senyum lembutnya, sementara Yuki kini wajahnya telah dipenuhi oleh air mata yang terus bercucuran “Al..” Bisik Yuki pelan. “Suutt jangan menangis, aku tidak akan meninggalkanmu.. kau tidak akan sendirian.. aku akan selalu bersamamu.. di sini, di hatimu.. terima kasih banyak untuk semua kenangan yang kau berikan padaku.. terima kasih untuk cinta yang kau berikan padaku.. terima kasih banyak.. aku punya satu permintaan padamu”

“Apa?”
“Nanti, ketika kau memiliki anak aku harap kau mau menamakannya Alka..”
“Alka?”
“Iya, singkatan dari namaku Al dan margamu KAto, bagaimana?” Yuki mengangguk setuju, “Baiklah, aku harus pergi.” Tambah Al.

Perlahan Al mulai melepaskan tangannya dari genggaman tangan Yuki, Yuki menggeleng keras dia tidak ingin kehilangan Al. Tapi semakin Yuki mencoba untuk menggapai Al kembali Al malah semakin hilang ditelan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan matanya. “Al..!!!” Yuki langsung terbangun dari tidurnya, keringat dingin masih mengucuri pelipisnya. Seper sekian detik kemudian air mata mengalir kembali di kedua pelupuk matanya, “Kenapa kau harus pergi?”

The End

Cerpen Karangan: Mega Ayu
Blog: meganrg.blogspot.com

Cerpen Ada Cinta (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untukku

Oleh:
“Maaf Eva aku harus pergi,” kata-kata itu melesat begitu saja tepat di telingaku, sangat tajam dan kurasa cukup untuk menusuk gendang telingaku. Aku tercekat, lalu terdiam. Jadi ini alasan

Rain In My Life Philosophy

Oleh:
Namaku Pevita, lebih akrab disapa dengan Vita. Pagi ini adalah pagi pertama dimana aku harus bisa memulai aktivitas tanpa kekasihku, orang yang sangat aku sayangi dan cintai. Jujur, kejadian

Satu Ruang

Oleh:
Kebahagiaan yang tengah dirasakan Kya mengupas seluruh kerinduan yang selama lima tahun terakhir dialami wanita 27 tahun ini. Ia sedang menanti seorang pria yang datang dari negeri Australia, yang

Fa!

Oleh:
Ah, tak terasa, sudah semalam suntuk aku terlelap. Namun di pagi yang begitu gigil ini, sepertinya ada yang kurang bagiku. Ya, kau tak ada di sampingku, fa. Satu hal

Saksi Bisu Cinta Aisyah

Oleh:
Kubuka pintu di kamar, kemudian aku masuk dan membuka jendela kamarku. Berharap, suamiku akan bangun tatkala sinar matahari masuk melalui sela-sela dedaunan dan menembus ke dalam ruangan melalui jendela

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *