Air Hati, Bukan Air Mata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

Entah. Entah aku sanggup atau tidak. Perih rasanya bila harus melihatnya. Tapi aku harus apa? Semua sudah terjadi, dan aku telah memikirkannya, walau dengan cara kusut, bahkan bisa dibilang kusut masai. Aku sudah menetapkannya, dan bagaimanapun cara aku menetapkannya, aku harus menerima resikonya. Meski mungkin air hatiku akan habis, bukan air mata.

Mungkin aku begitu bodoh memilih tetap tinggal di rumah ini. Aku bisa saja meninggalkan rumah ini dan memilih tinggal di rumah orangtuaku. Tapi aku tak bisa, hatiku akan lebih sakit, dan bahkan aku akan mandi air mata juga. Setidaknya di rumah ini aku cuma bermandikan air hati, bukan air mata. Lihatlah! Aku begitu perhatian padanya. Sungguh mengherankan memang, aku lebih sering menelepon atau sekadar mengirim pesan singkat menanyakan kabar, sudah atau belum makan, lembur atau tidak daripada istrinya. Aku tak ubahnya seperti perempuan gatal kepada suami orang lain.

Tapi istrinya, adikku, memakluminya saja. Ia tahu betul perasaanku, ia tahu benar kejadian itu, kejadian yang sangat memilukan. Pernah suatu kali, ia bertanya heran kepadaku. “Hei kakak ipar, kenapa kau begitu perhatian padaku? Bahkan istriku sendiri tak tahu dengan pasti jadwal pekerjaanku, sementara kamu menghafalnya?” Aku hanya tersenyum bingung, apa yang harus ku katakan padanya? Aku sudah menyembunyikannya setahun lalu, dan aku sudah berjanji bersama keluargaku untuk tidak mengungkapkannya. Aku sendiri yang mengajak mereka berjanji berjamaah.

“Memangnya salah seorang Kakak ipar mengetahui atau menghafal jadwal Adik iparnya? Kamu tahu? Daya ingatku itu paling tinggi di antara seluruh anggota keluargaku, termasuk istrimu. Pernah suatu kali istrimu mengatakan kamu istirahat jam segini, kemudian hari berikutnya jam itu kamu kerja. Aku mendaftar semua itu dengan mudah di otakku, aku ini penghafal tulen, tak sengaja aku menghafal jadwal kamu itu.” aku panjang lebar menjelaskan, entah sudah berapa kali kata dusta ku paksakan melontar untuk menutup kejadian itu.

Damar hanya mengangguk-ngangguk, cukup meredakan rasa takutku sekaligus memendam rasa sakit hatiku. Tepat ia bertanya seperti itu, hatiku berlumur air hati. Andaikata dia tahu semua, wajar saja aku perhatian padanya. Tapi lagi-lagi tapi, aku harus apa? Dia bukan milikku, hatiku mulai memproduksi air hati lebih banyak lagi. Mengapa air hati? Hei! Tak mungkin aku mengeluarkan air mataku di rumah itu kan? Di sana ada dia, dia pasti curiga. Hanya dia yang ku takutkan, karena seluruh anggota keluargaku sudah tahu semua, hanya dia yang tak tahu, hanya dia satu-satunya. Untuk itulah, aku lebih sering mengeluarkan air hati, bukan air mata.

Aku menangis hati lagi saat melihat dia berboncengan mesra dengan istrinya. Aku makan hati dengan kuah air hati. Aku berkata hati-hati pada mereka, takut kejadian itu terjadi pada mereka. Jika itu terjadi, maka pertama kali untuk Sandra adikku dan kedua kalinya untuk dia, mantan suamiku. Hari itu tepat hari ulang tahunku. Mas Damar mengajakku ke luar makan sebagai perayaan hari jadiku itu. Aku menolak untuk pergi, firasatku sangat buruk waktu itu. Tapi dia benar-benar merajuk seperti anak kecil, bahkan ia berkata bahwa aku tak sayang lagi padanya. Sekali lagi aku harus apa? Aku benar-benar sayang padanya, dan tak mungkin aku membiarkannya menganggapku tak sayang padanya. Aku menurut saja, pergi ke salah satu restoran terkenal di pusat kota.

Perjalanan yang menyenangkan, kami bercakap-cakap sepanjang perjalanan. Dan di situlah aku memulai kesalahan, aku sungguh salah mengucapkan kabar itu pada waktu yang tidak tepat, di atas motor besar yang melaju. Suamiku sangat gemar dengan motor gede. Aku memberitahunya bahwa aku positif hamil dua bulan, ia berteriak kegirangan. Kesenangan yang sekejap, sedetik setelah ia tersenyum amat manis, aku dapat melihatnya pada kaca spion, ia kelupaan bahwa sedang membawa motor gede, motor yang cukup susah dikontrol. Batang kayu mengganjal ban motor, Mas Damar tak melihatnya, motor gede itu oleng.

Susah payah ia mengatur sepeda bermesin itu, ditambah lagi di depan menyusul mobil truk yang melaju cepat siap menabrak. Sopir mobil itu berteriak-teriak, rem mobil macet, “Awas-awas!” Suamiku…. maafkan… maafkan Santi mas. Aku terisak mengingat kejadian itu, tapi bukan air mataku yang mengalir, air hatiku yang sekali lagi menderas. Mas Damar bersusah payah mengatur arah motor, jangan sampai menabrak mobil truk di depan. Sudah jelas positif mati bila tertabrak truk cepat itu. Aku berteriak-teriak, entah apa pikiranku waktu itu, kacau, aruk-arukan. Diriku, suamiku, calon anak kami bagaimana jika kami benar-benar tertabrak? Sudah. Aku pasrahkan segalanya pada Allah. Tak ada lagi yang dapat ku lakukan, aku menutup mata saat jarak motor dan truk itu beberapa meter.

“Aaaaa!!!”

Aku berteriak. Hanya sakit yang ku alami, aku tak berani membuka mata. Namun aku tahu betul kesakitan itu. Aku jatuh persis perut di bawah, menyisakan sakit yang amat menyakitkan. Anakku! Aku berteriak tertahan. Betisku terasa sakit, remuk tulangku, aku hanya menggigit bibir menahan sakit. Semenit kemudian terdengar riuh suara masyarakat setempat. Berteriak-teriak, mengaduh, menjerit padahal bukan ia yang mengalami, jika seperti itu bagaimana yang mengalami? Salah satu ibu berteriak, “Astagfirullah, perempuan itu pendarahan, cepat-cepat! Bawa ke rumah sakit barangkali dapat tertolong bersama anaknya.” Sesampai rumah sakit, aku sempat melihat suamiku didorong oleh para perawat menuju ruang gawat darurat. Aku menangis mengeluarkan air mata, mungkin itu terakhir kalinya aku menangis mata. Sesudah itu, tak ada, tak ada yang ku rasakan, aku dibius oleh dokter, entah aku diapakan.

Aku lebih dulu sadar dari obat bius. Beruntung suamiku belum sadar, hingga ia tak perlu mengetahui keadaanku. Sungguh menyedihkan kondisiku waktu itu. Betisku remuk bersama tulangnya, dan ada dua pilihan: diamputasi atau dibiarkan membusuk. Keluargaku memutuskan diamputasi. Bukan hanya itu, ditambah kabar buruk berikutnya. Aku… aku… aku mandul. Rahimku terluka parah saat kecelakaan, tak ada harapan, rahim itu sudah tak layak bagi seorang bayi. Aku berjalan dengan roda yang didorong suster. Aku mengunjungi suamiku, dokter mengatakan suamiku akan mengalami amnesia yang cukup lama karena kepalanya berbenturan keras dengan batu, menggoyangkan beberapa syaraf di sana.

Sungguh kasihan melihatnya, aku mengelus rambutnya, terasa perih hatiku, seperti terhujam beratus anak panah. Lihatlah wajah tampannya. Apakah pantas untuk disandingkan dengan seorang wanita buntung yang mandul? Sandra menepuk pundakku saat itu, menyuruhku bersabar. Lihatlah adikku! Perempuan cantik, saleha dan tentunya subur. Pikiranku benar-benar tak waras, tiba-tiba saja ide untuk menikahkan Mas Damar dengan Sandra muncul begitu saja. Sandra tak mau, bilang dia tidak mau mengkhianatiku. Tapi aku memaksannya, bilang bahwa dia lebih pengkhianat kalau tak menikah dengan suamiku. Ayah-Ibuku awalnya tak setuju. Namun setelah aku memohon-mohon, bahkan sempat pingsan beberapa kali, akhirnya mereka merestui.

Sementara menantuku? Suamiku yatim-piatu sejak berumur dua puluh tahun. Sanak keluarga juga tak ada yang peduli. Setelah dia sadar, aku mengatakan bahwa ia kecelakaan saat ingin melangsungkan pernikahan. Aku memanggil masuk Sandra, menelepon penghulu, dan langsung menikahkan mereka di rumah sakit itu. Mas Damar agak heran, namun dengan pasti aku berkata, “Kamu tahu? Sandra menangis sepanjang hari karena takut kehilangan kamu. Maka hari ini juga, detik ini juga kamu harus menikah dengan Adikku, jangan sampai pernikahan kalian batal lagi.”

Mereka menikah, pernikahan yang singkat namun dapat membentangkan benang merah panjang dalam hidupku, merajut perlahan takdir hidupku tanpa Mas Damar. Lihatlah mereka! Pasangan yang sangat layak, serasi, dan pantas. Aku tersenyum simpul, lantas hati malah membuka simpul keran hati, air hati mulai bercucuran. Saat itulah aku mulai menangis, menangis dengan air hati bukan air mata. Ah, cerita yang panjang sekaligus memilukan. Tak apa, biarlah wanita perindu bayi dan buntung ini membuktikan cinta tulusnya. Bukankah cinta tak harus memiliki fisik? Bukankah cinta yang penting memastikan pujaan hati baik-baik saja? Bukankah cinta yang terpenting adalah sang doi bahagia? Aku sudah bahagia jika dia bahagia, meski mungkin hatiku meneteskan air hati, sekali lagi bukan air mata.

Cerpen Karangan: Dahdawi Anka
Air hati diartikan menangis dalam hati.

Cerpen Air Hati, Bukan Air Mata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengapa Kamu Memilih Dia

Oleh:
Meski malam gelap gulita Angel tetap saja menangis Angel belum bisa melupakan pria yang benar-benar dia cintai. Malam berganti pagi ayam telah berkokok Angel tersentak bangun mendengar suara yang

Rembulan Tanpa Cahaya

Oleh:
Aku bagai lilin kecil tanpa cahaya. Berlari-lari dari kenyataan yang begitu kelam ku rasakan kini. Dulu kau bagai madu yang terucap manis sekali di telingaku. Namun kini kau adalah

Secret Love

Oleh:
Kematian, sebuah kata yang tak sanggup untuk ditulis, dilafalkan, dan juga didengar. Kematian memanglah hal pasti, hal yang tidak bisa dihindari semua orang. Kematian, kata itu… “Bell, mari kita

Pertemuan Terakhir

Oleh:
Jam terus berputar. Detik, menit dan waktu terus berlalu. hingga Salah satu teman di sampingku berbisik keras dan kemudian menyadarkanku dari lamunan. Peristiwa memalukan kemarin membuat hari-hari yang kujalani

Jam 9

Oleh:
Tak pernah terpikirkan oleh ku akan sayap yang dulu telah patah. Aku bahkan tak pernah bisa memperbaikinya. Bahan-bahan yang biasa aku pakai untuk memperbaiki, kini telah hilang seperti debu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *