Air Hujan Dan Tangisan Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 9 January 2016

Ku pandang langit yang tampak mendung, air hujan satu per satu jatuh membasahi wajahku. Aku masih berdiri di tempatku. Ku pejamkan mata ini tapi pikiranku terus berjalan, tiupan angin dalam lamunan yang mengingatkanku sebuah kenangan. Kenangan saat aku bersamanya mengucapkan sebuah janji ketika dia memegang tanganku dengan erat.
“Aku tak ingin melepaskanmu, apa pun yang terjadi kecuali ajal yang memisahkan kita.” Ucapnya dengan senyuman manis di bibirnya.
“Aku pun begitu, aku tak ingin berpisah darimu.” Jawabku sambil memeluknya.

Hari yang penuh kebahagiaan ingin ku hentikan waktu pada saat itu dan tak ingin semuanya berlalu begitu saja. Air mata yang menetes di pipiku di sertai air hujan yang membasahi tubuhku. Sejam berlalu aku mulai merasa kedinginan, gemetaran dan tak dapat menopang berat badan. Pandanganku mulai samar, aku terjatuh tidak sadarkan diri. Aku terbangun setelah beberapa menit tak sadarkan diri.

“Di mana aku, kenapa aku bisa ada di sini?” Ku lihat di sekelilingku ruangan yang bercorak putih dan tirai yang berwarna biru laut.
“Siapa yang telah membawaku kesini?” Penuh tanya, tapi tak ada seseorang pun di ruangan ini. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan menuju ruangan tempatku dirawat. Pintu terbuka ku lihat sosok pria yang sangat aku kenal. Rikhy, ya dialah orang yang pernah mengisi hari-hariku dengan penuh kebahagiaan. Pria itu menghampiriku dengan senyuman manisnya yang tak dapat ku lupakan.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“A..aku udah mendingan” Jawabku gugup.
“hemm.. syukurlah, tadi aku tak sengaja melihatmu terbaring di taman”
“Ke mana saja kau selama ini?” Tanyaku dengan penuh rasa kecewa, ku palingkan badanku tak ingin melihatnya meskipun hati ini sangat merindukannya.
“Maaf.. Aku tak pernah memberimu kabar karena aku tak ingin membuatmu terluka” Jawabannya membuatku bingung.

Dia masih duduk di sebelah ranjangku. Seketika ruangan itu hening, air mataku yang tak dapat ku bendung menetes di pipiku. “Tolong jangan kau kembali jika hanya membuatku merasakan hal yang sama, aku tak ingin terluka yang kedua kalinya!” Ucapku.
“Aku tak akan pernah kembali meskipun aku masih mencintaimu keadaan yang membuatku untuk meninggalkanmu selamanya.” Aku tak sanggup mendengarkan kata-kata darinya, aku berlari meninggalkannya di ruangan itu.

“Rid…!!!” teriaknya.

Aku tak peduli, aku sampai di rumahku, ku buka pintu kamarku dan menghempaskan tubuhku di kasur. Setelah beberapa menit menangis ku lihat ponselku 3 panggilan tak terjawab, ku kirimkan sms. “ada apa lagi, belum puas kau menyakitiku?” Dia langsung meneleponku, aku mengangkatnya tapi tak berbicara.
“Kenapa kau tak mau mendengarkan penjelasanku?” Aku hanya diam.
“Aku tahu ini sangat menyakitimu dan juga menyakitiku, tapi apa yang bisa aku lakukan, aku tidak bisa menolak keinginan orangtuaku dan sekarang aku sudah menikah dengan wanita pilihan orangtuaku.” Tut, tut, tut, bunyi telpon yang terputus.

Perasaanku saat ini kacau dan terasa sesak mendengar pembicaraannya tadi, tangisku menjadi-jadi. “inikah jawaban dari semua pertanyaanku? selama ini menunggu dan terus menunggu, berharap dengan harapan palsu. Dulu dia berjanji tak ingin melepaskanku kenapa sekarang dia melupakan janji itu? apakah ini cobaan hidupku? Yaa Allah, hapuslah semua tentangnya karena aku telah lelah menangis. Aku lelah tersakiti. Aku lelah dalam semua kepalsuan dan berharap ini hanyalah mimpi.”

Cerpen Karangan: Ridha Michael
Facebook: Ridha Michael

Cerpen Air Hujan Dan Tangisan Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Resa dan Resi

Oleh:
Siang menjelang, seperti biasa Resa dan Resi kedua saudara kembar ini mengisi waktu luang mereka bersama anak-anak di masjid tidak jauh dari rumah mereka. Namun, keadaan berubah saat dusun

Altar Tua

Oleh:
Aku memandang mata istriku yang berbinar-binar malam ini, ah, Lis, betapa cantiknya kamu di hari pernikahan kita dengan gaun putih panjang yang melambai-lambai tertiup angin di halaman gereja. Seandainya

Cry For Love (Part 3)

Oleh:
Nugroho berjalan lemas saat mendekati jenazah putrinya. Raut wajahnya memancarkan kesedihan yang amat besar. Tangannya gemetar saat menyentuh kain penutup jenazah. Dirinya tak ingin membuka kain itu, tapi sisi

Cinta dan Akustik

Oleh:
Di Vanya’s Cafe “jreeeng”. Dawai sang akustik mendengung merdu. Itu adalah petikan terakhir dari gitar akustik yang kumainkan pada parade musik solo malam di Vanya’s Cafe. Akhir dari lagu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *