Air Mata Untuk Putra

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 21 January 2020

“Ia laki-laki aneh, pernah suatu ketika aku menemukannya di tempat biasa —di bawah pohon itu, di taman yang sepi. Kau tau apa yang ia lakukan?”
“Apa?” tanyaku sembari menghela napas pelan. Aku lupa ini kali keberapa ia menceritakan lelakinya. Aku bosan. Tapi tetap dengan setia mendengarkan.
“Ia menghitung daun-daun yang berjatuhan. Lalu pernah pula ia melamun dan mengucapkan satu hal berulang-ulang. Ah, yang paling aneh adalah ketika ia tiba-tiba menangis, lalu sekian detik kemudian tertawa. Kukira awalnya ia gila,” ia mengarahkan pandangannya ke langit. Sedang aku masih asik menatapnya dalam-dalam. “Aku sering memperhatikannya, lalu entah sejak kapan, aku mulai jatuh cinta.”
“Ya, kau sangat mencintainya.”

“Ah, kau harus tahu betapa ia laki-laki yang tampan, walau kadang menjengkelkan karena sikapnya yang sedingin es,” ucapnya penuh semangat. Dan aku, lagi-lagi hanya menghela napas. Kali ini lebih berat. “Ia selalu bersikap sok, banyak yang beranggapan negatif tentangnya, tapi aku tidak. Sungguh aku melihat banyak sisi positif darinya yang tidak ia tunjukkan pada semua orang. Hanya aku yang tahu, karena aku yang selalu mengamatinya diam-diam.”

“Tapi kenyataannya, semua sudah berubah, kan?”
“Tidak. Tidak ada yang berubah. Aku masih merasakan kehadirannya, pun cintaku yang masih menggebu-gebu selalu.”

“Tiara…”
“Kenapa? Aku jadi curiga kau punya perasaan padanya. Setiap kali aku bercerita tentang ia, responmu tak pernah baik. Kau cemburu?!” bibirnya monyong. Jujur, aku menyayangi manusia di hadapanku. Ia terlampau baik untuk ditinggalkan oleh laki-laki yang selalu menjadi topik pembicaraan kami hampir setiap hari. Bayangkan, hampir setiap hari!

“Aku tidak mungkin mencintai laki-laki yang dicintai oleh sahabatku, Tiara. Aku hanya iba melihatmu seperti ini.”
“Tapi aku merindukannya.”
Kusaksikan lagi air mata mengucur deras dari kedua matanya yang sayu. Setelah hening beberapa menit, ia tersenyum sekilas lalu beranjak. “Sudah?”
Ia mengangguk. Kusentuh pundaknya yang sedang menanggung beban berat, walau tidak terlihat. “Aku sangat merindukannya,” ulangnya. Kuanggukkan kepalaku tanda mengerti. Ia menoleh lagi, “Lihatlah, ia ada di atas batu nisan itu. Sedang menatap ke arah kita. Ia pasti dengar bahwa aku merindukannya, kan?”

Lelaki itu meninggalkan Tiara —sahabatku— belum lama ini, Putra namanya. Cinta pertama Tiara. Ia mengalami depresi karena kedua orangtuanya terlibat pencurian uang dan tertembak mati oleh polisi karena melawan. Adiknya lebih dulu gantung diri, dan kini giliran Putra bertemu keluarganya di alam baka dengan meminum racun tikus. Tapi Tiara tidak berhenti mencintai laki-laki itu.

—ndog
Aku harus menjaga Tiara agar ia tidak depresi dan menyusul laki-lakinya.

Cerpen Karangan: Anadya Alyasavitri
Blog: www.anadyaal.blogspot.com
saya sedang menempuh S1 di jurusan Sastra Indonesia.

Cerpen Air Mata Untuk Putra merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bertahan

Oleh:
Sore itu, terlihat dari kaca mobil seorang anak kecil berumur 5 tahun duduk di dalam mobil dengan boneka kelincinya. Anak kecil itu terlihat begitu bahagia karena ia akan mengunjungi

Terjebak Nostalgia

Oleh:
Hari itu sangat panas. Nazwa berlari menuju rumahnya sepulang sekolah. Di tengah perjalanan, ia bertabrakan dengan seorang lelaki bertubuh lebih tinggi darinya. “Aduhh!!” sahut Nazwa. “Ma… maaf.” sahutnya. “Aku

Cinta Datang Terlambat

Oleh:
Siang ini terasa menyengat tubuh, sepertinya matahari sangat berani untuk menampakkan sinarnya hingga semua yang dihinggapinya terasa terbakar. Aku berjalan perlahan, entah dimana aku berada sekarang aku tidak mempedulikan.

Cappucinno Girl

Oleh:
Ini sudah cangkir cappucinno keempat yang telah kuminum malam ini, tak peduli sudah 3 jam aku duduk di café ini. Pelayan itu pun sesekali memalingkan tatapannya dari majalah yang

Dalam Hening Malam

Oleh:
Di bawah sinar rembulan aku berbaring di rerumputan yang hijau, hembusan angin malam dan heningnya suasana malam itu mengingatkan aku kejadian 1 tahun silam. Di saat aku harus kehilangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *