Akhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 13 January 2022

“Kamu tau? Suaramu tuh kaya lullaby di telingaku,” ucap Ardan menopang dagunya, tersenyum manis. “That’s why aku selalu ketiduran kalau kita lagi teleponan.”
“Ngaco,” Aku tersenyum miring. “Emang akunya aja yang ngebosenin, makanya kamu ketiduran, kan?”
Ardan menggeleng. “Kamu ngorok aja merdu, tau.”
Aku tertawa. “Ngaco! Dih.”

Dia adalah Ardan. Pria berusia 26 tahun yang memiliki tahi lalat di pipi kirinya, orang yang hobi sekali mengenakan baju hitam dan sepatu putih, dan orang yang menyukai musik lebih dari apapun. Dia adalah orang yang diistimewakan di keluargaku. Bahkan, sepertinya, posisiku sebagai anak sudah diambil oleh Ardan karena ayah dan ibuku malah lebih menyayangi Ardan daripada aku, anak mereka sendiri.

Aku, Indah, wanita berusia 24 tahun yang berambut panjang sepunggung dan poni yang sedikit panjang. Aku hobi sekali mengenakan baju t-shirt oversize bahkan ketika aku berada di atas panggung. Aku adalah penulis lagu sekaligus penyanyi.

Pertama kali aku bertemu dengan Ardan adalah pada hari ulang tahunku yang ke 22 tahun. Aku selalu men-cover salah satu lagu dari penyanyi lain setiap kali aku mengadakan konser. Malam itu, aku menyanyikan lagu 22 milik Taylor Swift.

Dia tak berdiri di barisan paling depan ataupun paling belakang. Dia berdiri di tempat yang bahkan seharusnya takkan terjangkau oleh mataku. Namun, saat itu, aku ingat sekali, pandanganku yang menyapu seluruh penonton konserku berhenti di satu titik. Aku melihatnya bagaikan sekelebat cahaya yang membuatnya berbeda dari yang lain dan aku tak tau apa itu.

Aku berkenalan dengannya di belakang panggung. Sebenarnya, saat itu, aku sedikit kaget karena aku pun sempat melihatnya saat aku sedang bernyanyi di atas panggung. Dia menyogok orang-orang yang memegang tanggung jawab di bagian keamanan demi bertemu denganku. Aku tak menyukai dia dan sifatnya yang seperti itu. Maksudku, aku benci orang-orang yang berpikir bahwa dia bisa membeli semuanya dengan uang. Namun, sejak saat itu, dia selalu berhasil menemukan cara untuk mendekatiku.

Singkat cerita, dia pun berhasil meraih hatiku. Dia bilang, dia menyukaiku karena saat dia sedang terpuruk, lagu-laguku yang menyembuhkannya. Dia adalah seorang pengusaha dan setahun sebelum dia mendatangi konserku waktu itu, perusahaannya bangkrut dan dia sempat kehilangan arah.

Ardan adalah orang yang baik. Dia tau caranya memperlakukanku dengan baik, memperlakukan adik-adikku dengan baik, dan dia pun tau caranya mengambil hati kedua orangtuaku. Semua orang di rumah itu menyayanginya. Teramat sangat. Dan menurutku, dia pantas mendapatkannya karena dia memang orang yang hangat dan baik sekali.

Orang-orang di luar sana, para pendengar laguku, penggemarku, berpikir bahwa aku adalah wanita ambisius yang sangat memprioritaskan karir di atas apapun. Mereka berpikir, di saat para penyanyi wanita lainnya mengenakan dress ataupun pakaian yang lebih feminim, aku justru selalu bernyanyi di atas panggung dengan gaya yang cuek, sedikit tomboy, dengan baju t-shirt dan riasan secukupnya. Mereka pikir, aku adalah wanita yang bahkan tak membutuhkan pria.

Mereka hanya tak tau bagaimana manjanya aku di belakang panggung kepada Ardan. Bahkan, bagiku, Ardan takkan bisa disamakan dengan segala penghargaan yang kudapatkan.

Namun, hubungan yang manis itu pecah di suatu malam.
Ardan meninggalkanku. Dia menjelaskan bahwa dia tak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Dia harus fokus kepada pekerjaannya dan menjadikan perusahaannya sebagai prioritas. Dia bilang, semuanya akan ada pada tempatnya. Orang yang tepat pada waktu yang tepat. Dia berterimakasih kepadaku berkali-kali karena aku sudah menyembuhkannya.

Aku tertawa keras sekali, malam itu. Aku tau, dia memang orang yang ambisius. Namun, apakah dia hanya mendekatiku hanya untuk sekedar menyembuhkannya? Memangnya aku ini apa? Dokter?

Hari ini, sudah dua bulan berlalu sejak dia meninggalkanku. Malam ini, aku mengenakan t-shirt berwarna hitam bermotif tengkorak, celana ripped jeans, dan chain armlet, yang menjadi ciri khasku tiap kali aku berada di atas panggung. Malam ini, malam yang sangat damai dan dingin.

Baru kali ini, aku merasa lelah dan kekurangan tenaga untuk bernyanyi di atas panggung. Namun, kusadari, bahwa rasa lelah ini bukan datang karena aku kekurangan istirahat, tapi karena otakku lelah. Hatiku lelah. Aku benci Ardan dan semua sifatnya yang seenaknya saja untuk datang dan pergi seperti itu, tapi aku pun merindukannya teramat sangat, aku bahkan tak bisa menghandle perasaan ini. Sekarang, aku percaya dengan apa yang dikatakan Russian Red, I hate you but I love you itu nyata.

Malam ini, aku memilih untuk menyanyikan satu lagu dari Glenn Fredly, salah satu penyanyi favoritku. Ketika aku memegang mic dan menyapukan pandanganku ke seluruh barisan penonton, aku tersenyum lebar sekali, melihat banyaknya orang yang mencintaiku.

Namun, untuk beberapa saat, rasa cinta itu takkan pernah sama dengan rasa cinta yang pernah kurasakan dari Ardan.

“Sandiwarakah selama ini
Setelah sekian lama kita telah bersama
Inikah akhir cerita cinta…”

Aku tersenyum, mencoba memegang mic dengan erat. Kumohon, aku tak ingin sedih lagi malam ini.

“Kini harus aku lewati
Sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri
Melawan waktuku tuk melupakanmu
Walau pedih hati namun aku bertahan…”

Tiap kali aku mengedarkan pandanganku ke arah barisan penonton, hatiku terus-terusan berharap bahwa di tengah barisan itu, masih ada sepasang sorot mata yang memandangiku dengan hangat. Wajah tampan dengan tahi lalat di pipi kirinya, serta seutas senyuman manis yang terukir di bibirnya.

Kenapa kamu pergi?

“Kini harus aku lewati
Sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri
Melawan waktu…”

Padahal, kamu sudah berjanji untuk terus datang ke setiap konserku dan menjadi penggemar beratku.

“Kini harus aku lewati
Sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri
Melawan waktuku tuk melupakanmu
Walau pedih hati namun aku?”

Aku tak bisa membendung tangisanku. Aku pun menurunkan tanganku, membiarkan mic itu menganggur dan lirik lagu yang kunyanyikan jadi menggantung. Hatiku sakit sekali dan tanganku gemetaran. Aku benci sekali situasi ini. Aku benci karena lagu ini jadi berantakan karenaku dan aku benci karena emosiku mengkhianatiku.

Aku sudah berusaha menahan perasaan ini dari awal lagu ini kunyanyikan, tapi aku tetap tak sanggup. Tiap kali aku memejamkan mataku, aku melihatnya. Tiap kali aku membuka mataku, aku merindukannya.

Para penonton di dalam gedung ini berteriak lebih keras, bingung dengan apa yang terjadi padaku, tapi di sisi lain juga berusaha untuk memberikanku support. Aku tau. Setelah ini, mungkin berita mengenai apa yang terjadi padaku malam ini akan beredar di mana-mana. Aku sudah tak peduli. Bukannya mudah untuk tetap terlihat baik-baik saja dan berdiri tegak di atas hati yang hancur berkeping-keping.

Terkadang, aku bertanya-tanya, apa yang terjadi kepada laki-laki setelah hubungan berakhir? Apakah dia bisa semudah itu melupakan semuanya? Atau apakah dia juga merasakan patah hati seperti yang kurasakan saat ini?

Terkadang, aku pun berpikir, andai saja aku tau bagaimana caranya menjadi seseorang yang Ardan rindukan. Namun, sayangnya, kupikir, alih-alih menjadi orang yang dirindukan, aku adalah orang yang terlalu mudah untuk dilupakan.

Cerpen Karangan: Syarla Feonisa

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 Januari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Akhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengapa Harus Ayahku?

Oleh:
Siang itu panas begitu menyengat, matahari seakan ingin membakar seisi dunia. Tak terkecuali di pangean, kampung tempat dimana aku tinggal dan dilahirkan. Dimas, begitu orang-orang memanggilku. Lengkapnya Dimas Randika.

Pelukan Terakhirku

Oleh:
Matahari bersinar cerah pagi ini. Aku langsung bergegas menuju ruang makan karena ibuku sudah lama memanggilku. Aku pun duduk di sebelah Ibuku. “Kana, kenapa kamu lama sekali..?” tanya Ibu,

Luka Hati

Oleh:
“Kenapa kamu tidak lupakan dia saja sih,” kata Titi teman sebangku Ririn. “Kamu tidak mengerti aku Ti, aku sayang dia meskipun dia tak menyayangi aku tapi aku tetep sayang

Pergi Meninggalkan Bintang Biru

Oleh:
Masih terbayang olehku, hari dimana kita masih saling menggenggam tangan dengan erat… hari dimana kau dan aku menjadi kita… hari dimana terciptanya mimpi-mimpi indah… kita yang saat itu adalah

Masih Sama

Oleh:
Awal mula, aku kenal dengan seorang cowok dari sosial media. Seorang yang menurutku beda dari yang lain karena sifatnya yang dingin dan kalem. Waktu itu, dia mengirimkan pesan lewat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *