Akhir Penantian Panjang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

Setelah perpisahan itu aku memutuskan untuk memendam perasaanku, karena mungkin cinta ini hanya dariku tanpa diterima maupun diberi. Tanpa ku sadari pula sudah sekian lama ini aku mencoba melupakan kenangan kelam itu, namun dalam hati kecil tetaplah berpikir bahwa ia adalah cinta pertamaku dan masa depanku, entahlah dari pikiran itu masih berharap dia akan kembali suatu saat.

Hari demi hari ku lewati seperti biasa dengan kosongnya hati tanpa terisi yang hanya menunggu belas kasihan cintanya. Sekarang aku kelas 3 SMK, mungkin sepanjang 3 tahun ini, banyak perubahan dalam hidupku, namun satu yang tak berubah, itu adalah sebuah hati. Sejak saat itu tak ada yang bisa gantikan sosoknya dalam hatiku, “masihkan percaya cinta pertama, oh tidak Tuhan.” terkadang batinku mencoba memungkirinya. Tiba-tiba terdengar suara yang mengusik lamunku.

“Indah..” ternyata dering sms itu dari kawan lamaku.
“hei, ada apa fit?”
“aku punya kabar bagus buat kamu.”
“maksudku, kabar apa?” jawabku.
“aku tadi ketemu Pandu, terus aku minta nomor hp-nya, ini mungkin kamu butuh.”

“ngomong apa sih kamu ini, dulu ya dulu.”
“sms aja coba, dia menanti loh.”
“dasar membual, aku tak berani lah sms dia.” ketusku. Pikiranku melayang, masa lalu ini kembali mengingatkan sejuta asaku, apakah cinta sejati seharusnya memberi tanpa menerima. Ku pandangi terus nomor yang baru aku save dalam kontak hp-ku, “Pandu.” ujarku dalam hati.

Pagi ini seakan hati sama mendung telah sepakat, mentari telah diselimutinya seakan enggan untuk nampak, namun tak menghalangi semangatku sekolah.
“Pagiii.” sambut kawanku.
“juga.”
“kenapa murung? tambah jelek tuh.”
“biarin sirik aja.” jawabku.

Sesaat percakapan ini terhenti, namun aku coba mencairkan kesunyian itu.
“aku dapat nomornya Pandu.” sambil senyum gak jelas. Sontak itu pula terdengar nada tak percaya.
“kok bisa, dari mana? ah, bohong atau ngigo kamu?”
“dari Fitri kemarin,”
“sms aja, coba tanya kabar dia, masih ada rasa juga kan kamu ndah?”
“sok tahu kamu ini, ya gak berani lah sms.”

Tiba-tiba secepat itu pula hp yang tadi berada di tanganku berganti tempat.
“sini, aku sms dia.”
“awass, kalau macem macem.” ancamku.
“santai aja sob, tinggal nunggu balasnya saja.” jawabnya.
“gila kamu, harus bicara apa entar?”
Sontak perasaanku bercampur aduk, antara berharap dia tak balas sms itu dan di lain sisi aku juga ingin tahu kabarnya. “Tuhan…” keluhku. Selang beberapa menit terdengar nada dari ponselku. Mataku seakan terbelalak melihat balasan dari Pandu.

“Iya da apa?”
“maaf mengganggumu.” jawabku.
“tak apa, maaf sebelumnya, ini siapa ya?” balasnya lagi.
“Indah.” ketakutanku semakin menjadi ketika aku menyebutkan namaku, aku takut dia tak akan membalas sms ini, karena dia tahu itu dariku. Namun semua perasaan takut ini salah, dia tetap membalasnya.
“jangan berpikir negatif dulu tentangku, kenapa gak dari dulu sms aku?”
“gak berani aja.”
“hmm, kok gitu.”

Hari demi hari seakan indah bersamanya, rasa ini terajut apalagi setiap harinya dia bilang “love you.” ternyata cinta ini tak bertepuk sebelah tangan. Namun seakan kebahagiaan ini hanya sementara dia semakin menghilang dan seolah ku rasakan dia pergi. Namun beranjak kepergiannya ada seseorang yang seolah mencoba menggantikan sosoknya dalam hatiku, dia selalu hadir dalam kehidupanku sekarang.

“cari yang lebih baik dariku, aku hanya membohongi perasaanku saja, bahwa aku sebenarnya tak mencintaimu ndah.” sms itu dari Pandu. Apakah benar Tuhan, dia menghancurkan harapanku. Seminggu, dua minggu pun berlalu tanpa kabar dan hadirnya.

“Pandu telah meninggal ndah, maaf aku baru cerita saat ini.” kata Arya.
“apa maksudmu, kamu mengenalnya?” jawabku tak percaya.
“maaf sebelumnya, sebenarnya aku mendekatimu karena suruhan Pandu, dia sangat menyayangimu sejak awal SMP, dia cerita banyak tentangmu ndah, namun dia sadar kalau dia sebenarnya.. dia sakit.”

“sakit, sakit apa?” sambil menangis.
“dia sakit kanker ndah, di sisa hidupnya dia tak mau buat kamu terus menunggu dan mengharap cintanya, maka dari itu dia menghubungimu.” terangnya.
Apakah ini ujung penantianku, dia telah pergi seakan ku terpisah raga dengan jiwaku. Apakah aku bisa tanpanya. “maafkan aku Pandu, maaf.”
“tata hidupmu Indah, jalanmu masih panjang, aku siap mengisi kekosonganmu untuk saat ini maupun ke depan.” kata-kata Arya membuatku tersadar, cinta tak harus memiliki.

Cerpen Karangan: Leli Yusiani

Cerpen Akhir Penantian Panjang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Diambang Kematian

Oleh:
Senja membalut hari, sang mentari terbenam di ufuk barat. Cahayanya yang indah menghiasi pantai dengan deburan ombak di laut lepas. Di tepi pantai itu tampak sesosok gadis yang cantik

Bidadari Hujan

Oleh:
Pada saat berangkat sekolahku melihat se sosok perempuan cantik yang ke luar dari istananya maklumlah rumahnya sangat megah serta terdapat gerbang yang besar pula, tiba-tiba hujan mengguyur lumayan deras

Pria Itu Aku

Oleh:
Sore itu, Kirana meneleponku. Ia memintaku untuk menjemputnya di tempat kursus. Kebetulan saat itu mentari ditutupi oleh awan mendung dan hujan turun disertai angin kencang. Aku tak tega membuat

Cinta Putih Kayla

Oleh:
Sebuah rasa yang terlahir dalam hatiku, sejak enam tahun yang lalu hingga kini masih tetap setia kujaga. Rasa yang kusebut cinta, rasa yang menumbuhkan bunga-bunga semangat dalam hidupku dan

Maafkan Aku (Part 3)

Oleh:
Tak terasa 1 bulan sudah kami menjalin hubungan. Layaknya hubungan yang lainnya, perjalanan kami pun tak semulus yang kami dambakan. Hari ini, tepat 3 hari dimana Nada tidak memberikanku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *