Akhir Waktuku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 17 December 2016

Hingga detik ini jiwaku masih setia menantimu. Walau aku tahu dirimu telah pergi meninggalkan aku, tapi aku akin kamu akan datang dan akan memeluk diriku kembali.

Hari ini sekitar pukul 13.00 saat akan pulang sekolah berjalan menyusuri jalan dan hendak pulang. Nampaknya cuaca tidak memihakku saat ini, air langit jatuh dan mengguyur tubuhku. Sampainya aku di rumah lekas kukeringkan tubuhku, lalu kutenggok ke luar jendela seketika hatiku menjadi mendung ketika kuteringat sebuah ingatan yang tadi mengusikku lalu hati yang tadinya baru bersemi tiba-tiba berganti menjadi mendung dan air mata yang tak dapat kubendung akhirnya menetes semakin deras. Aku tak tahu kenapa dan apa salahku sehingga dia pergi, awalnya aku kira dia akan selamaya membuat hatiku bersemi. Tapi ternyata dia menyakiti hatiku yang rasanya seperti ditusuk bambu runcing berulang kali.

Hingga bulan menyapa tetap saja mata ini tak sanggup untuk membendungnya. Hingga akhirnya mataku mulai redup dan aku mulai terbang ke alam mimpi. Lalu sinar mentari dari jendela membangunkanku dari mimpi, hari ini hari merah jambu, hari dimana biasanya sepasang sejoli tapi dirimu malah merasakan perihnya takdir. Lalu aku menggoreskan penaku di atas buku harian

Minggu, 14 02 2016
Meskipunn kini kau telah pergi tapi jiwa ini akan selalu menantimu, meskipun bulan akan bersembunyi di balik mendung diriku tak akan berpaling darimu, karena aku yakin dirimu akan tiba bersama hangatnya mentari pagi. Tak lama aku menulis tiba-tiba cairan merah keluar dari hidungku, lalu penglihatanku menjadi kabur lalu ketika sadar diriku telah tergeletak di rumah sakit. Diriku menderita leukimia lalu dalam benakku berkata jika memang aku akan berpulang maka ini adalah akhir dari penantianku.

Hari ini aku memutuskan untuk pergi sekolah meskipun tubuhku belum sehat, karena unbk untuk siswa smk akan aku hadapi. Hari demi hari kulewati dengan belajar sampai suatu ketika aku teringat akan satu nama rengga. Setelah pulang sekolah aku menuju ke swalayan tempat rengga berada tapi mataku tebelalak ketika aku melihat rengga dengan bidadari yang lain. Lalu sambil mencoba untuk tegar aku pergi meninggalkan mereka.

Hari ini tepat dimana aku harus pergi ke rumah sakit, setelah selesai cek up tampak sosok yang aku kenal tergeletak tak berdaya dia adalah rengga, kedua orangtuanya sangat bersedih lalu perlahan aku mendekati ibunya.

“Ibu ada apa?”
“Nak jasmin, rengga kecelakaan dan hatinya rusak, jika tidak mendapat donor dia akan meninggal”
“Ibu yang sabar ya saya permisi dulu”

Sampainya di rumah aku menulis sebuah surat untuk rengga dan keesokan harinya aku pergi ke rumah sakit untuk menjadi pendonor bagi rengga, meskipun banyak yang menentang karena dapat berakibat fatal bagi kesehatanku. Dan akhirnya aku diperbolehkan menjadi pendoror.

Lalu mata ini perlahan mulai terpejam dan tubuh serasa ringan tanpa ada beban yang terdengar hanya gesekan alat bedah yang mulai menembus tubuh ini, dan 2 jam kemudian operasi telah usai. Lalu tubuhku terasa kehabisan tenaga dan jiwaku rasanya akan pergi meninggalkan ragaku. Tapi sebelum jiwa ini pergi aku mendengar suara rengga.

“Maaf aku telah meninggalkanmu, dan tidak mengetahui ketulusan hatimu, tapi selamanya dirimu akan tak akan terlupakan bagiku, pergilah dengan tenang jasminku, waktunya telah tiba”

Lalu aku pergi dengan perasaan bahagia karena tugasku untuk membuat rengga bahagia telah tercapai. Dan aku melihat perlahan rengga membaca surat dariku.

Dear rengga, mungkin ketika enggaku membaca suratku aku telah pergi, pergi ke tempat yang jauh dan surat tak dapat mencapai negeri itu, aku tahu kau tak pernah menginginkan kehadiranku, tapi sekarang kau tak perlu khawatir karena aku akan pergi. Tapi aku pergi bukan karena aku memberikan ginjalku padamu tapi karena aku juga sakit leukimia, tapi kau tak perlu bersedih karena meskipun aku pergi aku akan selalu bersamamu di dalam hatimu karena hati kita sama, jika kau rindu padaku maka peganglah hatimu karena kita telah menjadi satu

Lalu rengga mencium keningku dan berkata “Tidurlah dengan nyenyak jasmin”

Cerpen Karangan: Nurul Agustina
Facebook: Nurul Agustiena
Hai namaku nurul agustina ini merupakan cerpen kedua aku,semoga bisa bermanfaat

Cerpen Akhir Waktuku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maukah Kau Bersamaku?

Oleh:
Sherra, perempuan penunggu ‘Bakery Latte’ ini sudah sejak satu jam yang lalu berdiri di balik etalase kaca yang berisi roti-roti aneka warna yang nampak lezat. “Rainbow Cake satu” seorang

Bukan Untukku (Part 2)

Oleh:
Hari semakin petang. Segera kukembali ke rumah. Pikiranku melayang. Entalah apa yang kupikirkan. Aku butuh waktu sendiri. Kali ini aku tak langsung pulang. Aku menuju sebuah taman yang cukup

First Love Never Die

Oleh:
Saat ini, bukan menangis karena bersedih kau meninggalkanku tapi aku menangis karena sulit bagiku untuk melupakan cinta yang pernah ada dalam hidup kita. Cinta pertama yang kau hadirkan untukku.

Kalung Salibku dan Kalung Tasbihmu

Oleh:
Kuakui, mengenal dia seorang gadis Muslim yang cantik dengan pakaian khas muslimahnya membuatku sedikit meliriknya. Bagaimana dia dengan tutur katanya yang lembut serta pembaannya yang baik dan sopan membuat

Menunggu Kabar Darimu

Oleh:
“Lala“ sebutan nama itu yang sering kau lontarkan jika kau ingin memulai percakapan denganku lewat sms. Aku pun sering tersenyum tersipu serndiri jika aku membacanya. Sudah hampir 1 bulan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *