Aku Akan Mundur

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 24 November 2017

Gadis ini berjalan menyusuri koridor sekolah tepat pukul 06.00. Ia memang sering berjalan sendirian jam segini karena jam 6 pagi di sekolahnya masih sepi dari anak penggerumbul.

Gadis ini adalah gadis yang membosankan tapi jika sudah mengenalnya sulit sekali untuk melupakan gadis ini. Sifatnya tergantung mood dia. Jika sedang bosan dia akan malas melakukan apa-apa. Tapi jika dia gembira, dia akan rajin bahkan tugasnya dapat terselesaikan dengan cepat.

Setelah berjalan cukup lama dia pun duduk di kursi panjang yang terletak di sepanjang koridor sekolah. Ia memulai membaca comik kesayangannya. Namun tiba-tiba seorang lelaki duduk di sampingnya dengan menebar senyuman sok manis.

“Hai, sedang baca buku apaan?”
Gadis ini terdiam, ia sangat malas menanggapi seorang cowok yang sok kenal dan mengganggu kegiatan dia saat ini. Tanpa basa-basi gadis ini melanjutkan kegiatannya tanpa menanggapi pertanyaan cowok ini.
“Hei.. kenapa tidak dijawab? Oh ya kenalin aku Genta Reonald, aku anak kelas X MIPA 1. Kalau nama kamu?”
Gadis ini kaget setelah mengetahui nama cowok tersebut. Genta Reonald, dia adalah murid paling keren, pintar, dan multitalenta di kelas 10.
“Aku Kharin Renata. Anak kelas X Bahasa 1.”
Genta membulatkan matanya. Seakan-akan ia merasa senang bisa kenal dengan Kharin. Kharin hanya menggelengkan kepalanya. Ia merasa heran kenapa Genta tidak segera pergi meninggalkannya.

Tak lama kemudian Genta melontarkan beberapa pertanyaan pada Kharin.
“Apakah kamu Kharin yang sering memenangkan game online itu?”
“Iya bagaimana kamu tau?”
“Aku kagum dengan kamu. Aku gak berbakat main game, tapi aku penasaran dengan game online jadi aku buka situs game online. Eh gak taunya aku lihat kamu menangin game online berturut-turut. Semenjak itu, aku jadi pingin kenal dengan kamu”.
Genta memberikan senyuman yang sangat manis sekali setelah mengatakan itu. Namun Kharin sama sekali tidak merespon perkataan Genta, ia malah mengeluarkan earphonenya dan mulai menikmati melodi yang ia dengar sekarang.

Pukul 17.00, Terrend Aurell tengah berdiri di gerbang sekolah sambil sesekali menengok gadgetnya. Ia terlihat menunggu seseorang. Tak beberapa lama Kharin menampakkan dirinya di depan Terrend.
“Hai Rend… nunggu lama ya?”
“Kharin…!!! kamu itu ke mana aja sih. Aku nungguin kamu dari jam 3 tadi tau..! ya udah ayo keburu sore…”

Tak lama kemudian Bastian Syah menawarkan tumpangan kepada kedua gadis tersebut. Bastian, Terrend, dan Kharin mereka sama-sama mengambil jurusan Bahasa, hanya saja mereka tidak 1 kelas. Bastian dan Terrend berada di kelas Bahasa 2 sedangkan Kharin Bahasa 1.
Kharin menolak Bastian dengan halus, tanpa basa-basi Kharin meninggalkan Bastian. Sedangkan Terrend menerima tumpangan Bastian. Karena menurut Terrend, Bastian adalah cowok paling cool yang pernah ia jumpai.

Genta memandangi langit malam sambil menengok foto Kharin yang diambil secara diam-diam. Ia tersenyum seakan kagum menatap foto gadis ini. Ini sangat membingungkan, Kharin seorang gadis SMA yang tidak memiliki apa-apa dikagumi oleh Genta yang serba bisa. Tak terasa air mata Genta jatuh dan menetes pada foto tersebut.

Di sisi lain gadis ini tidak lagi memainkan game, ia menangis dengan menatap bintang-bintang di langit. Ia merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan. Ia merasa menyesal telah menjahati orang lain. Pikirannya pun bergerak dengan cepat. Ia segera menuju ke PC untuk menuliskan sebuah diary. Rion, kakak Kharin heran dengan kelakuan adiknya sekarang ini. Jarang-jarang Kharin mau menulis diary, apalagi kakaknnya baru membelikan dia PS terbaru.

Keesokan harinya, Terrend senang sekali. Sepanjang perjalanan dia tersenyum dan melompat-lompat tidak jelas. Kharin yang menatap Terrend sama sekali tidak penasaran kenapa dia bisa segembira saat ini. Karena Kharin menampakkan wajah cuek terus Terrend pun menceritakan kalau kemarin dia habis jadian sama Bastian. Hanya kata “Oh Long Last Ya kawan” yang dikeluarkan dari mulut Kharin. Kharin segera meninggalkan Terrend menuju perpustakaan.

Hari ini adalah hari pertama Kharin menjadi penulis cerpen. Dia mencoba untuk belajar menulis cerpen dibanding main game mulu. Tak beberapa lama, tiba-tiba Kharin teringkat saat ayah dan ibunya memarahi dia. Kharin selalu dianggap anak yang gak becus, gak kreatif, manja, gak berguna, dsb. Sampai akhirnya ayah dan ibunya mengalami kecelakaan secara tragis yang menyebabkan kematian.

Kharin menyesal sudah merepotkan kedua orangtuanya. Kini hanya Rion lah yang rela menjadi ibu, ayah dan kakak Kharin. Untunglah Rion sudah bekerja sehingga beban pikiran Rion berkurang.

Saat Kharin menulis cerpen, ia mendengar suara Genta dan Kevin (teman sekelasnya). Mereka membicarakan dirinya. Karena Kharin bukan orang yang kepo, detik ini juga Kharin menjadi orang yang kepo. Ia mencuri pembicaraan mereka. Dan akhirnya ia mendengar kalau Genta mencintai dirinya. Bllaaaarrr!!! Kharin kaget darahnya naik ke ubun-ubunnya.
Hingga ia ketahuan oleh Genta. Karena malu Kharin segera pergi meninggalkan perpustakaan.

“Hai Terrend” sapa Genta. Tidak biasanya Genta jalan-jalan di sekitar kelas Bahasa. “Hai juga Ta… tumben ke sini?” jawab Terrend sambil menghabiskan coklat pemberian Bastian. “Gak boleh ya?… eh kamu liat Kharin gak? Ada yang mau aku omongin nih ke dia.” Tanya Genta sambil celingukan. Tiba-tiba gadis-gadis genit dari kelas Bahasa 2 berteriak histeris. Mereka berlari menuju Genta, mereka bagaikan zombie yang ingin menyantap otak Genta. Karena, risih dengan pemandangan seperti itu Genta mengeluarkan jurus berlarinya menuju persembunyian yang tepat.

Genta terus berlari meski gadis-gadis itu sudah tidak tampak. Sampai akhirnya ia menabrak seseorang. Braakkk!!! (bukan.. bukan gitu bunyinya. Mungkin BUKKK!!!). Genta terjatuh dan tangannya terkena kerikil tajam yang berada di samping koridor sekolah. Walau tangannya berdarah ia tetap berdiri untuk menolong orang itu. Dan ternyata… itu Kharin.
“Kharin!! Kamu gak papa? Apakah kamu terluka? Sini biar aku obatin.”
“Tidak. I am fine. Thanks atas perhatiannya.”
“Iya sama-sama.”
“Tangan kamu berdarah.. ayo ikut aku ke UKS biar aku obati tanganmu.”
Genta tidak menolak ajakan Kharin karena memang ini keinginnanya, yaitu bisa beberapa jam bersama Kharin.

Di UKS Kharin membasuh tangan Genta secara lembut sedangkan Genta, ia terus memandangi Kharin tanpa berkedip sedikit pun. Genta merasa senang bisa bersama orang yang ia cintai.

Sepulang sekolah, Genta menyatakan cintanya kepada Kharin. Entah dunia sudah berubah atau apa. Kharin juga menyatakan cintanya pada Genta. Dan hari ini mereka menjalani hubungan cinta secara diam-diam.

Belum beberapa bulan Terrend jadian, Terrend sudah mulai bosan sama Bastian ia menceritakan pada Kharin kalau Terrend sayang sama Genta. Bahkan sekarang Terrend dan Genta sangat dekat sekali, mereka bagaikan sahabat yang tidak bisa terpisahkan. Itu sangat menusuk Kharin, Kharin tidak bisa berbuat apa-apa selain mengatakan putus pada Genta. Jujur Kharin jauh menyayangi sahabatnya dibanding menyayangi pacarnya. Kharin juga tau kalau Terrend adalah gadis yang cantik, pintar, dan kreatif.

“Genta… aku mau putus sama kamu.”
“Ha?!! Putus kok kamu ngomong gitu sih. Kharin aku sayang sama kamu. Apakah kamu sudah tidak sayang sama aku?”
“Kamu bohong. Kalau kamu sayang aku kenapa kamu begitu dekat dengan cewek lain. Lagian ada seseorang yang mencintaimu yang jauh lebih baik dari diriku.”
“Kamu kok gitu. Biarpun aku deket ma cewek lain. Hatiku selalu ada untukmu karena aku mencintaimu dari hatiku yang paling dalam. Siapa seseorang yang mencintaiku?”
“Suatu hari kamu pasti akan tau”. Kharin meninggalkan Genta tanpa pamit.

Semakin hari Terrend dan Genta semakin dekat. Terrend selalu perhatian pada Genta, berbeda dengan Kharin yang selalu bersikap dingin dan cuek. Kharin tidak kuat dengan semua yang ia lihat. Namun Kharin tidak ingin Genta mengetahui kalau dia cemburu karena Kharin sudah berjanji pada Genta untuk berusaha tidak cemburu.

Kharin pun lebih fokus belajar, ia tidak peduli cinta. Meskipun nanti Genta menjadi kekasih sahabatnya sendiri. Menurut dia cinta bisa dipikir setelah cita-citanya tercapai. Kharin juga ingin bisa membuat kakaknya kagum pada dirinya. Kharin tidak ingin terus-terusan menyusahkan Rion.

Semenjak Kharin tidak peduli dengan cinta. Kharin berbeda dari sebelumnya. Ia lebih suka membaca dan menulis dibanding memainkan game online. Kharin juga menjadi pribadi yang ramah, suka membantu dan baik hati. Bahkan nilai Kharin sekarang lebih baik dari sebelumnya.

Sedangkan Genta dan Terrend, mereka semakin dekat bisa dibilang mereka memiliki hubungan lebih dari seorang sahabat. Dan Bastian dia menjadi pribadi yang pendiam dan cuek.

Flashback-On:
Semenjak Kharin putus dengan Genta. Kharin menjadi pribadi yang care dan menyenangkan. Dia juga sudah mengetahui apa bakat dia sebenarnya. Sedangkan Genta dan Terrend, mungkin mereka bisa dibilang sebagai teman tapi mesra meski mereka memikirkan tentang cinta monyet mereka, prestasi mereka tetap di atas rata-rata.
Dan untuk Bastian, dia menjadi anak yang bandel dan malas dalam mengikuti pelajaran. Mungkin itu efek putus dari Terrend.
Flashback-Off.

Seperti biasa Kharin berjalan di koridor sekolah sambil mendengarkan musik kesayangannya. Ia teringat kenangan dia bersama Genta. Saat mereka berbincang bersama dan memainkan sebuah harmonika milik Genta di kursi koridor tersebut. Kenangan itu memenuhi otak Kharin saat ini. Dengan cepat Kharin membenturkan kepalanya ke tembok dan pintu.

“Percuma aja… kenangan itu gak akan hilang. Yang ada kamu bakal menyakiti diri kamu sendiri.”. Celoteh seseorang yang sedang membaca mading sekolah.
Kharin menoleh lalu berjalan menuju kelasnya, namun seseorang itu memegang tangan Kharin dengan cepat. Ia menatap Kharin dengan wajah datar dan penuh makna.
“Lepasin!.. aku gak mau cari masalah”
“Kharin… Kharinn… memang yang mau cari masalah sama kamu siapa? Ha? Hahaha.. ngapain juga. Aku cuma mau kenalan sama kamu.”
“Buat apa? Kamu kan udah tau nama aku, ngapain masih mau kenalan?”
“Karena kamu anak yang cuek dan dingin. Aku ingin memastikan apa bener kamu Kharin Renata? Oh ya.. kenalin nama aku Wang Sung Chow-Tan. Aku anak kelas X IPS 2, aku kenal kamu dari temen aku, Terrend. Kata Terrend kamu jago sejarah?”
“Iya aku Kharin. Salam kenal juga. Eng.. enggak juga aku cuma hobi aja baca-baca buku sejarah sehingga aku jadi tau sejarah orang, kerajaan, negara, misteri dll.”
“Kalau gitu ajari aku ya … kapan-kapan kalau kamu gak sibuk. Soalnya pengetahuanku tentang sejarah itu kurang, apalagi aku anak IPS masa’ sejarah dapat nilai kurang.”
“Iya aku gak sibuk kok, nanti pas istirahat juga bisa.”
“Ok thanks”

Keesokan harinya, sekitar jam 06.30 Genta sudah berdiri di depan kelas Bahasa 1. Ia menunggu Kharin, sebenarnya di dalam hati Genta yang paling dalam Genta masih menyukai Kharin. Bahkan Genta juga merasa cemburu saat Chow-Tan mulai deket dengan Kharin. Dulu Chow-Tan adalah sahabat Genta di SMP, mereka adalah sahabat karib yang tak terpisahkan. Bahkan sampai sekarang mereka selalu bersama kemana pun mereka pergi. Tapi semenjak Tan deket dengan Kharin, Genta mulai menjauhi Tan. Ia jarang menyapa dan akan bersembunyi jika bertemu Tan.

Tak beberapa lama, Kharin menampakkan diri di hadapan Genta. Kharin heran dengan kelakuan Genta hari ini. Tidak biasanya Genta berdiri di depan kelasnya sambil menebarkan senyuman.

“Hai pagi Kharin”
“Hai juga, tumben kesini?”
“Gak boleh ya? Aku mau ngomong sama kamu. Aku pingin kamu jawab jujur”
“Iya mau tanya apa?”
“Sebenarnya kamu sama Tan itu punya hubungan apa? Kenapa kamu sangat akrab dengan dia? Apa kamu tidak tau aku kalau aku cemburu!…”
“Ha?! Maksud kamu? Aku sama Tan itu cuma temen aja. Ngapain kamu cemburu? Kita kan dah putus.”
“Gak mungkin kalau cuma temen!!. Ya karena aku masih sayang sama kamu. Jujur aku sebenarnya gak mau putus sama kamu. Aku pingin balikan sama kamu.”
“Aduh!! Aku mau ke kelas, tugasku banyak belum selesai. Maaf …”
“Rin!! Kamu dengerin aku napa? Please aku pingin kita balikan…”
“Ta!!… aku gak bisa hatiku masih sensitive untuk merasakan cinta!.. dari pada kamu balikan sama aku mending kamu jadian sama Terrend.”
“Kamu masih marah soal Terrend?… aku minta maaf aku sama Terrend cuma temen deket aja. Kamu jangan berpikir negatif lah!.. lagian cintaku hanya untuk kamu seorang. Rin..”
“Tau ah!! Malas aku!!… mulai sekarang kita hanya sekedar teman bukan apa-apa!. Aku gak suka mengungkit masa lalu. Sakit tau!!!”

Kharin berjalan menuju taman sekolah. Ia menatap pohon cemara setinggi 3 meter yang tumbuh dekat taman sekolah. Kharin memang sering ke tempat ini jika ia sedang marah atau gak mood.
Pohon cemara ini mengingatkan dia pada seseorang yang telah menjadi ayahnya. Dulu ayah Kharin sangat menyukai pohon cemara, setiap hari pohon cemaranya dirawat dengan baik. Karena cemburu dengan pohon cemara, Kharin memotong pohon cemara itu dan membakarnya. Semenjak kejadian itu Kharin dibenci oleh ayahnya dan sering dimarahi. Sampai saat ini Kharin tidak mengerti apa makna dari pohon cemara tersebut yang dapat membuat ayahnya jatuh cinta.

Di sisi lain penyakit Bastian semakin parah, bisa dikatakan hidupnya tidak lama lagi. Bastian memiliki permintaan sebelum pergi ke surga. Ia ingin memeluk Terrend untuk yang terakhir kalinya. Dan ia berencana akan bertemu Terrend di tepi danau dekat kota. Terrend menyepakati permintaan Bastian.

Namun … saat Bastian tiba di lokasi, ia melihat Genta dan Terrend yang asyik mengobrol. Mereka juga foto selfie bersama. Hal itu membuat Bastian murka. Ia mengeluarkan pistol yang ia siapkan sejak tadi. Tiba-tiba saat Bastian menembak Genta, Kharin mendorong tubuh Genta sekuat tenaga. Dan peluru itu tepat mengenai jantung Kharin.
Setelah menembakkan peluru, Bastian terjatuh dengan darah yang keluar dari hidungnya. Belum sempat ia menghampiri Kharin dan meminta maaf, nyawanya telah pergi dari jasadnya.

“Kharin…!!!! Kharin…!!!! bertahanlah!!! Kharin…!!!!” cemas Genta.
“Ak…akk… aku tid..tidakk.. ku..kuatt. lalalagii. Makasih Ge…nta ka..mu u..udah meng..a..jariku.. a.pa.. ii.tu.. cin..ta. ak..u senang ..meng..enal kal..ian se..mua. a..ku mi..nta maaf udah se..ring melakukan kesala..han. ?” dengan perlahan Kharin menghembuskan nafas terakhir.

Kejadian tersebut membuat Terrend, Genta, dan Tan histeris dan pasrah dengan keputusan Tuhan. Mereka telah kehilangan 2 sahabat yang mereka sayangi. Mereka menyesal telah menyia-nyiakannya.

Cerpen Karangan: Lilin Ajeng S
Facebook: Lilin Ajeng S

Cerpen Aku Akan Mundur merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Senja

Oleh:
Sore itu benar-benar dingin, angin-angin senja yang berhembus membuatku terlelap dalam dinginnya sore ini. Entah mengapa sudah dari siang hujan tak henti juga. Mungkin langit mengerti tentang apa yang

Penantianku

Oleh:
Namaku kasih, gadis periang dan banyak disukai orang, salah satunya adalah radit yang telah mengisi hari-hariku kini. Pagi ini kekasihku akan datang ke rumahku, dengan rasa gembira ku sambut

Senja Terindah

Oleh:
Ujian Nasional SMP pun kini telah berakhir, semua orang sorak serantai membicarakan kemana akan melanjutkan sekolah. Namun kebingungan masih dialami abang, kemana ia harus melanjutkan sekolah, sampai suatu hari

Tetap Ada Untukku

Oleh:
“Disaat malam langit tanpa bintang coba menggoyahkanku merapuhkanku di sini, kucoba tegar kini tanpa dirimu kasih yang selalu menemani” begitu kata judika, dan itu pula yang aku rasakan malam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *