Aku dan Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 January 2018

Aku mencintainya. Bukan atas dasar ‘karena’ tapi ‘walaupun’. Aku adik kelasnya. Dan dia, kakak kelasku. Aku kelas 1 SMA, dan dia kelas 2 SMA. Aku berada di sekolah yang sama dengannya. Aku mencintainya dari fajar sampai fajar kembali. Seperti itu. Dengan siklus yang sama. Dia cinta pertamaku. Aneh kan? Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya saat SMA. Saat itu, aku tak sengaja menatapnya dan dia, juga menatapku. Dengan jarak yang cukup dekat. Setelah saat itu, aku jatuh cinta padanya.

“Dek?” tanya dia. Saat ini aku sedang ada di dalam kelas. Sedang istirahat. “Eh, kakak. I-iya kak, kenapa?” tanyaku gugup. Kurasakan wajahku memerah saat dia terseyum padaku. Ini pertama kalinya setelah saat itu. “Ini, ada hadiah buat kamu. Dari temenku. Selamat ulang tahun katanya.” Dia memberikan sebuah kotak kecil kepadaku. Ah iya, kemarin aku berulang tahun. Senyum yang terukir di wajahku perlahan menghilang seiring kepergian dia dari kelasku. “Ternyata dari temenmu ya kak. Kirain dari kakak sendiri.” Gumamku.

Bel pulang sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Aku melihat ke arah lapangan basket dari jendela kelasku. Di sana, dia sedang memasukkan bola basket ke dalam ring. Dan, masuk. Aku melihat dia sedang tersenyum senang. Hal ini juga membuatku tersenyum. Senyum masam. Karena sekarang, aku sedang melihat seorang perempuan membawakan minum dan handuk kecil untuk dia. Dia membalasnya dengan senyuman. Aku sudah menduganya, bahwa dia menyukai gadis tadi. “Sakit juga ternyata ya, mengharapkan hati seseorang tapi orang itu mengharapkan hati lain.” Akhirnya, aku memutuskan berbalik kearah pintu kelas. Dan pergi ke depan gerbang sekolah.

Saat aku sampai di rumah, aku langsung menuju ke kamar. Dan membuka kotak kecil dari dia. Di kotak kecil itu, aku melihat sebuah gelang. Dan ada bentuk bintang di lingkarannya. Juga, ada sebuah surat. Aku membacanya. Intinya, itu adalah sebuah surat yang menyuruhku untuk ke taman belakang sekolah besok pagi, pukul 05.30. Aku memutuskan untuk menyimpan surat, gelang dan kotaknya di dalam laci sebelah kasurku.

Aku lelah. Sampai kapan aku harus seperti ini? Mengharapkan hati orang lain tapi orang itu ternyata mengharapkan hati yang lain. Aku sadar, aku dan dia berbeda. Tapi, apakah perbedaan itu menghalangiku untuk mencintaimu kak? Menghalangiku untuk terus berharap dan berdo’a? Apakah setiap kali aku melihatmu, aku harus mundur? Haruskah? Tapi aku merasa, ketika kita berpapasan, takdir seperti bertubrukan sesaat. Maaf, tapi aku tak punya hati untuk berniat mundur, kak.

Pagi ini, aku pergi ke taman belakang sekolah. Sesuai isi dari surat itu, aku datang pukul 05.30. Dan, aku tau siapa pemilik dari surat tersebut. Teman akrab dari dia. Dia ke sini hanya untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi, aku membalas; tidak. Maaf. Tapi aku sudah menyukai sahabatmu, kak. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke kelas walaupun aku tahu ini masih pagi sekali. Di sana, tepatnya lapangan basket, aku melihat dia. Sedang berlatih untuk memasukkan basket ke dalam ring. Sama persis seperti kemarin sore. Dengan suasana yang sama. Dan perasaan yang sama. Tapi, hanya waktu yang berbeda. Dengan segenap hati, aku berjalan mendekatinya. Semilir angin pagi membawa perasaan-perasaan ini bertabur. Berlayar entah akan ke mana. Dan yang kutahu, akan mendarat pada dia.

“Kok pagi-pagi udah di sini kak?” tanyaku pada dia. Dan dia langsung memberhentikan permainannya. “Ini, kan mau ada tanding basket sama SMA lain, jadi kakak banyak latihan deh,” ujarnya dan langsung duduk di kursi panjang yang ada di lapangan basket tersebut. “Duduk sini gih. Kamu sendiri? Ngapain pagi-pagi udah ada di sini?” dia bertanya balik padaku. Aku bersemu merah saat dia menyuruhku untuk duduk di sebelah dia. Hatiku deg-degan tak beraturan. “Hmm…, tadi ada sedikit urusan di sini kak,” jawabku setelah duduk di sebelahnya. “Temen kakak ada yang nembak kamu, ya?” tebak dia yang benar sekali. Aku terperangah. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah dia melihatnya?
“Kakak nebak aja sih,” balasnya kemudian. “Tapi, kakak bener kok. Ada temen kakak yang nembak aku.” Aku berkata dengan lirih tanpa melihat tatapannya. “Kamu jawab apa, dek?” dia bertanya dengan nada penasaran. “Aku nggak bales perasaannya kak.” Balasku yang mulai menatap balik matanya. “Soalnya aku udah cinta sama orang lain kak.” Lanjutku dengan senyum simpul.

“Kakak!!!” tiba-tiba suara perempuan menggema di lapangan basket. Aku menoleh. Dan ternyata, dia adalah perempuan yang kemarin sore. “Ish, kakak! Kenapa nggak nungguin aku?” tanya perempuan itu dengan ekspresi cemberut. “Tadi kakak mau latihan basket dulu.” Jawab dia. “Oh iya, kenalin dia temen kakak. Dan, dia adikku yang paling cerewet.” Dia memperkenalkanku pada perempuan di sampingnya. Dan ternyata, perempuan itu adalah adiknya. Aku bersyukur. Ternyata perempuan itu adiknya. Bukan seseorang yang dicintainya.

Setelah kejadian kemarin, aku dan dia mulai dekat. Walaupun dia kakak kelasku, tetapi baginya itu tak masalah. Ini adalah keberuntunganku. Aku dapat lebih mengenalnya. Mengetahui hal-hal yang berbau tentang dia. Dia juga tetap latihan dan fokus pada basketnya. Aku tidak tahu, mengapa dia latihan basket hanya sebentar. Sedangkan teman-temannya yang ikut dalam tanding basket, berlatih lebih lama.

Beberapa pekan kemudian, tanding basket antar SMA lain pun dimulai. Aku melihatnya sedang berbicara dengan temannya. Tiba-tiba, jantungku seperti jatuh. Seperti akan ada hal yang menghilang dariku. Meninggalkanku tuk selamanya. Aku hanya berpikir positif. Jantungku rasanya ingin jatuh mungkin karena gugup melihat dia bermain basket. Tuk pertama kalinya. Sepertinya begitu.

Saat ini pertandingan basket berada di quarter 4. Skor selisih 4 poin. Dan tim dari SMA ku, lebih unggul. Tapi, saat-saat terakhir pertandingan, ada panggilan dari ponselku yang mengharuskanku untuk pulang. Dengan berat hati, aku balik pulang ke rumah. Dan selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi di dalam pertandingan itu.

Keesokan harinya, di sekolah tak biasanya aku tak menemukan dia. Setelah mencari ke mana-mana, aku tak juga menemukannya. Adiknya juga. Aku masih heran. Tak mengerti situasi saat ini.

Sama seperti kemarin, hari ini aku juga tak melihat dia sama sekali. Di kelasnya, kantin, sampai atap sekolah. Aku sama sekali tak menemukannya. Ini aneh. Ada yang aneh.

Ini hari ketiga aku mencarinya ke seluruh sekolah. Sampai aku bertanya pada temannya. Dan, mereka hanya diam, kemudian menggeleng tak tahu. Aku tak mengerti. Aku takut. Sangat takut. Hatiku berdegup kencang. Sampai… satu tetes air mataku lolos tak tertahan.

Ini hari kelima. Aku masih mencarinya. Tetap berpikir positif. Dengan segenap hati, aku menunggu. Saat hari itu tiba. Dimana aku akan bisa melihat dia. Sampai saat aku pulang sekolah. Di sana. Di depan gerbang, aku melihat adiknya. Sedang berdiri. Dengan mengenakan pakaian yang membuatku heran. Aku segera mendekatinya. Mungkin saja, aku akan mengetahui keadaan kakaknya. Mengapa dia tidak masuk. “Hai, kenapa make baju kayak gini? Oh ya, kakakmu kok nggak masuk? Ke mana dia?” tanyaku cepat. Dia hanya menggeleng. Dengan wajah tertunduknya. Aku tak bisa melihat ekspresinya saat ini. Kemudian, dia memberikan sebuah amplop- yang sepertinya berisi sebuah surat padaku. Dan, dia pergi begitu saja. Tanpa berkata apa-apa lagi. Sampai shocknya, aku tak sempat mencegahnya dan bertanya lebih lanjut. Setelahnya, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Dan segera untuk membacanya.

Aku perlahan membuka amplop yang di berikan adiknya padaku. Aku mulai membacanya.

Dear My Sun,
Maafkan aku karena tak mengabarimu setelah pertandingan basket kemarin. Aku menyimpan beribu maaf padamu. Aku ingin mengatakannya langsung, tapi sudah tak bisa. Maaf karena menyembunyikannya darimu dan membuatmu khawatir. Pasti kamu mencariku kan? Maafkan aku. Selama ini, aku mengidap penyakit gagal ginjal. Dan, sudah stadium akhir. Kau tahu? Setelah aku berbicara padamu di lapangan basket beberapa hari yang lalu, aku mulai semangat menjalankan hidupku. Tapi, aku ingin sekali bermain basket. Karena dari dulu, aku ingin sekali menjadi pemain basket. Maafkan aku karena menyembunyikannya darimu. Aku sungguh minta maaf.

Setelah dari pertandingan basket kemarin, penyakitku kambuh. Dan aku divonis hanya bisa hidup beberapa hari lagi. Jadi, aku menulis surat ini khusus untukmu. Kau tahu? Dari dulu aku selalu memperhatikanmu. Tapi aku tak sanggup untuk mendekatimu dan berbicara padamu. Katakan aku pengecut. Karena memang itulah aku. Memperhatikan dan hanya bisa memperhatikanmu seorang. Sampai, saat kamu mendatangiku di lapangan basket waktu itu. Saat pagi itu.

Dengar baik-baik. Karena sepertinya aku tak bisa mengulangnya lagi. Dan aku hanya bisa menuliskannya di kertas putih ini. Tak bisa berkata langsung padamu. Aku ingin mengatakan, setidaknya satu kali dalam hidupku; bahwa aku mencintaimu. Dengan segenap hati, jiwa, raga, perasaan, dan logika. Maafkan aku. Hanya bisa menuliskannya di sini. Yang terpenting, aku meninggal disaat aku mencintaimu. Jadi, aku bisa membawa perasaan ini. Jangan lama-lama menangis untukku. Dan, lebih baik kamu secepatnya melupakanku. Karena itu tak baik bagi tubuh dan otakmu. Ingat, bahwa aku mencintaimu.

With Love,
Dariku yang mencintaimu
dengan segenap hati

Aku menangis. Air mataku keluar dengan deras. Dadaku sesak. Tak sanggup mengeluarkan udara yang kutahan di dada. Aku menangis sekencang-kencangnya. Meratapi nasibku. Dia, sudah tak ada lagi. Selamanya meninggalkanku. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Mengapa harus seperti ini. Aku tak sanggup rasanya. Aku masih menangis dengan kencang. Sampai tubuhku bergetar hebat. Dia, sosok yang amat sangat kucintai. Cinta pertamaku, tiada. Sudah tak hidup lagi. Tapi, aku berharap dia masih hidup di dalam hatiku yang terdalam. Dia sudah merebut hatiku. Menarikku ke dalam pesonanya. Dia yang mewarnai hari-hariku. Membuatku lebih menikmati masa hidupku. Meski, aku hanya dapat dekat dengannya sebentar saja. Tapi, meskipun begitu, setidaknya aku pernah ada hari dimana ada aku dan dia. Aku tak menyalahkan Tuhan. Itu memang takdir. Yang hanya bergilir seiringnya masa. Dan takdir yang mempertemukanku dengannya. Dan takdir juga yang membuatku jatuh cinta padanya. Cinta pertamaku.

Perkenalkan, aku adalah Senja. Dan dia, Fajar. Sosok matahari yang selalu bersinar. Di sini. Di dalam hatiku.

Cerpen Karangan: Walmauizah Hasanah
Facebook: Halimah Diah

Nama: Walmauizah Hasanah
Instagram: wlmh5.h
Wattpad: Walmauizah_Hasanah

Islam 100%
Anak dari Bapak dan Ibuk

Hobi: Nulis, baca novel, nonton film
Status: Pelajar
Menyukai dunia kepenulisan sejak SD

Cerpen Aku dan Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Memihak

Oleh:
Satu tahun, ya selama satu tahun aku menunggu dia. Menunggu cinta yang tak pasti, cinta palsu dan kepalsuan yang membawa aku seakan sangat mencintai dia selama satu tahun itu.

Arti Sebuah Kata (Part 1)

Oleh:
Ashilla duduk di teras rumahnya sambil sesekali melirik arloji yang ada di tangan kirinya. Jam masih menunjukan pukul 11 siang. Harus dua jam lagi Ashilla menunggu. namun ia sudah

Hanya Menjadi Kenangan (Part 2)

Oleh:
Setelah makan siang Chelsea pun berpamitan untuk pulang, dan Farra langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan apa-apa terhadap mamanya. Mungkin saat ini ia tengah bimbang dan ia hanya perlu

Fate

Oleh:
“Angga, aku suka sama kamu..” Gak ada badai salju, gak ada hujan meteorit, bahkan gak ada tsunami akhir zaman di kelas. Tapi, entah kenapa cewek berciri-ciri memakai cardigan cokelat

Langit Jingga (Siluet Kerinduan)

Oleh:
Ditemani debur ombak dan lembut belaian angin barat ia duduk di sana. Bersandar pada sebuah pohon nyiur yang melambai ia memendangi lepas pantai. Melihat keindahan bola jingga yang membias

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *