Aku, Kamu dan Tektek Bengek Tentang Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 18 November 2015

Sekolah. Tempat menuntut ilmu dengan seluruh drama percintaan di dalamya, gosip, pertengkaran sampai tempat untuk memamerkan barang-barang bemerek. Ini hal yang membuatku menganggap sekolah menjadi tempat yang paling menyebalkan. Seluruh tektek bengek kehidupan berawal di sini. Entah apa yang mebuatku berpikir begini. Aku Azila Fiqli, salah satu siswa sekolah bergengsi di Kota Malang, aku berjilbab dan punya banyak teman ramah di sekolah tapi tetap saja aku tidak begitu menyukai tempat ini.

Gara-gara tempat ini, aku menyukai seseorang dan karena tempat ini jugalah aku sangat susah untuk melupakannya. Tentunya melupakan sosoknya, menghindarinya dan menghapus kenangan apapun yang sudah pernah aku dan dia -yang dulunya kami- lewati di sini. Tempat ini yang membuatku susah untuk melepaskannya. Bagaimanapun juga aku tak pernah bisa berhenti memandanginya. Memandangi caranya bicara, caranya tertawa, caranya berjalan, dengan siapa dia bicara dan gaya fashion yang dia pakai tiap harinya.

Aku di sini, selalu duduk di tempat ini tiap paginya. Tentunya tempat ini tempat paling nyaman untuk berkumpul dan bergosip di sekolah yaitu bangku depan kelas. Kelasku sungguh nyaman, berbatasan langsung dengan taman di sebelahnya, sehingga saat pagi hawa di sini selalu segar dan dingin. Ini yang membuatku betah menghabiskan waktu di sini bersama teman-temanku. Seperti biasanya, kami selalu membicarakan berita-berita baru yang sedang “Panas,” di sekolah. Tiba-tiba hatiku seperti terangsang, pandanganku beralih kepada sosok yang berjalan di sana.

Itu dia, di sana. Berjalan dengan percaya diri. Sepatunya tentunya bermerek seperti anak-anak lain, dia selalu menggunakan jaket kesukaannya, jaket warna biru donker yang berbahan parasut itu, rambutnya hitam dan tertata sangat keren, kulitnya sawo matang, dia tinggi lebih tinggi dari aku tentunya. Caranya berjalan sungguhku suka. Saat dia berjalan dia akan melambai-lambaikan tangannya, sesekali menoleh ke sekitar dengan senyum yang dingin. Matanya selalu tajam dan selalu jeli melihat siapapun yang ada di sekitarnya, dan saat melihat sosok yang dia kenal dia akan tersenyum dengan manisnya. Dia Radit, satu-satunya laki-laki selain Ayah yang sangat berarti di hidupku. Tapi sayangnya itu dulu.

Dia sudah seperti matahari dan aku bintangnya. Aku layaknya tak dapat bersinar sendiri tanpa sinarnya, aku lemah dan tak berdaya. Sekarang sepertinya matahari itu sudah tidak memberikan aku sinarnya lagi. Aku harap suatu hari dia akan tahu ada sebuah bintang kecil yang butuh untuk disinarinya, agar dapat bersinar di gelapnya malam. Aku ingin jadi merkurius yang selalu dekat dengan matahari, meskipun panas tapi setidaknya aku tetap bisa berada di sisimu. Atau seperti bumi, mungkin memang sedikit jauh dari matahari, tapi setidaknya masih bisa merasakan hangatnya matahari. Aku tentunya lebih mirip seperti pluto, yang jauh dari mataharinya dan tak dapat merasakan hangatnya matahari.

Aku memandanginya tanpa sadar, aku ingin menyapanya tapi aku malu. Dan tanpa sadar pula pandangan kami bertemu. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku, dia pun juga melakukan itu sepertinya. Sayangnya dia tidak menyapaku. Hatiku lagi-lagi berdegup kencang dan dadaku mulai sesak, entah aku sendiri tak kuat untuk menahannya. Seketika semua kesenangan itu berubah menjadi hambar. Entah bagaimana perasaan itu dapat berubah. Saat ini dia sedang tersenyum dan berbicara dengan teman-temannya, kakinya selalu disilangkan dan tangannya selalu memegangi hp-nya. Bagaimana aku bisa hafal semuanya? Karena secara diam-diam aku memperhatikan dan mulai menghafal perilakunya. Bagaimana caranya makan, caranya main gitar, caranya dia mengunyah dan yang paling aku suka, caranya menatapku dengan matanya itu.

Tiba-Tiba dia menghampiri salah seorang perempuan di lantai dua.
“hey ta,” Sapanya sambil memegang tangan perempuan itu dan memeluknya. Perempuan itu juga membalas pelukannya dan mereka akhirnya duduk berdua dan mengobrol. Bayangkan bagaimana rasanya?

Matahari itu bagai diambil dengan bintang yang jauh lebih besar dibandingkan aku. Rasanya sakit sekali, bahkan aku bisa menitikan air mata saat itu juga.
“Kemana dirimu yang dulu pernah menyukaiku? Apa aku suda benar-benar tak kamu butuhkan? menyapaku saja tak pernah kau lakukan lagi? Apakah harus seperti ini jika hubungan kita berakhir? kenapa kita tidak dapat berteman kembali,”

Cerpen Karangan: Azzam Azizah Fiqli

Cerpen Aku, Kamu dan Tektek Bengek Tentang Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akibat Cinta Tapi Gengsi

Oleh:
Siang ini mentari menyembunyikan sinarnya di balik awan cumulus. Kejayaannya di gantikan oleh cumulus cumulus tebal di langit. Rinai hujan mengiringi waktu yang berjalan. Gadis berambut pendek sebahu ini

Bersama Terbenamnya Matahari

Oleh:
Di tepi pantai, aku dan Gibrant sedang berjalan sambil menikmati senja yang indah yang membuat siapa pun pasti takjub melihatnya. Orang-orang yang melihat pemandangan seindah senja hari ini pasti

Ketika Semua Harus Berakhir

Oleh:
Kertas berwarna hitam bertuliskan UNDANGAN, terus kupandangi dari tadi. Huruf demi huruf, kata demi kata kuteliti dengan seksama. Antara yakin dan tidak. Sejenak ku intip di balik jendela kamarku

Sandiwara Cinta

Oleh:
Nama gue andi. Gue sekolah di sman 1 mojo. Gue sekarang udah kelas xi ipa 1. Di kelas ini gue punya sahabat. Mereka namanya andri dan wildan. Hari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *