Aku, Kucing dan Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 13 August 2015

Matahari senja menyinari tubuhnya, menciptakan bayangan memanjang tepat di belakangnya. Mengikuti langkahnya yang pelan. Pikirannya larut dalam lamunannya. Apapun yang dia lakukan terus saja membuatnya teringat, ingat akan sosoknya yang setahun berselang telah pergi dari sisinya untuk selama-lamanya. Seseorang yang dia cintai.

Namanya Lula, dia gadis yang ceria dan penuh semangat. Karena keceriaan dan semangatnya itulah mungkin tak ada yang menyangka kalau dia punya penyakit mengerikan yang mengerogoti usianya. Bahkan tak terkecuali dirinya yang baru tahu setelah Lula masuk rumah sakit, satu bulan sebelum gadis itu meninggal.

Dia menghela napas sambil memperhatikan matahari sore menghilang. Teringat dia biasa pulang bersama Lula, bergandengan tangan menuju senja. Saling membagi senyum.

“Lula” gumamnya pelan.

Namun dia hanya sendirian sekarang, tak ada lagi senyum ramah gadis itu yang menguatkannya.
Dia kembali menghela napas lalu berjalan, sedikit heran melihat seekor kucing hitam berkeliaran di taman. Dia merasa tak pernah melihat kucing itu sebelumnya di sekitar tempat ini. Lagi-lagi teringat Lula, gadis itu suka sekali kucing.

“Ra Rafa ikut karaokean, yuk?” ajak Nela tersenyum.
Fandix, cowok Nela ikut tersenyum di belakangnya.
“hmm, Aku..”
“Ayolah, Ra ini kan malam minggu. Besok libur ayo kita seneng-seneng bareng” ujar Fandix.
“Aku nggak bisa” tanggap Rafa.
“Kenapa? Udah punya janji, ya?” tanya Nela penasaran.
“Nggak Nanti aku ganggu kalian lagian, aku nggak suka karaoke” jelas Rafa sambil menyampirkan tasnya, akan segera pergi dari mereka berdua.
“Tapi”

Nela belum putus asa, namun Fandix menyentuh bahunya membuat Nela menoleh, cowok itu menggeleng. Melihat itu gadisnya hanya mengangkat bahu sambil geleng-geleng kepala tak mengerti. Rafa, sahabat mereka berdua berubah menjadi penyendiri, sering tampak merenung dan terlihat sedih. Fandix dan Nela hanya ingin membantu Rafa kembali seperti dulu, sebelum kematian Lula.

Fandix pikir Rafa butuh waktu untuk pulih, namun ini sudah setahun. Akan butuh waktu berapa lama lagi agar Rafa mau menerima kenyataan bahwa Lula sudah pergi.

“Kayaknya mau hujan, nih” ujar Nela membuyarkan lamunan Fandix.
“Iya kayaknya” tanggapnya memandang langit di luaran. Tampak hitam pekat.

Masih jam lima, pikir Fandix setelah melihat jam di dinding tatapannya kembali beralih ke sosok Rafa yang menjauh. Rafa berbelok di ujung jalan, memandangi langit yang seakan mau runtuh. Dan teringat kalau dia bawa payung di tasnya. Hujan mulai jatuh, titik airnya menimpa puncak kepala Rafa, membuatnya bertindak mengambil payung dari dalam tas.

Segera hujan turun begitu deras, membuatnya ingin cepat sampai di rumah, bergelung di tempat tidurnya yang empuk dan hangat. Namun langkahnya terhenti melihat mahluk itu tampak kedinginan di bawah emperan toko.

“kucing yang kemarin?” gumamnya sambil mendekat ke arah kucing hitam itu.

Rafa ingat dia masih punya sisa makan siang di tasnya, dia pasti lapar, pikirnya mengambil kotak berisi makan siang.

“Pus..” panggil Rafa sambil mengulurkan kotak itu.

Si kucing mendekat, Rafa meletakkan kotak berisi makanan tersebut di depan si kucing yang kemudian memakannya dengan lahap. Cowok itu berjongkok memandanginya, merasakan air hujan terbawa angin menjatuhi tubuhnya, rupanya atap emperan toko terlalu sempit. Rafa pun mengulurkan tangan yang memegang payung, melindungi tubuh si kucing yang kelaparan itu dari terpaan hujan.

Sudah hampir seminggu kucing hitam itu berada di rumahnya. Entah kenapa Rafa ingin memelihara kucing tersebut. Mungkin karena matanya yang biru, atau tingkahnya yang sedikit bisa menenangkan Rafa saat dia memandanginya.

Sepulang kerja, merasa ngantuk, Rafa beranjak ke tempat tidur. Kucing itu sudah meringkuk di ranjangnya, tidur dengan nyenyak. Saat Rafa merebahkan diri, kucing itu terbangun, memandanginya dan beralih tempat, tidur di dada cowok itu. Matanya yang biru menatap langsung ke mata Rafa.
Ada hujan di matanya pikir Rafa.

Di mana aku? Batin Rafa melihat ke sekelilingnya. Tempat itu nampak asing, ruangan putih menyilaukan. Dia tak ingat bagaimana mendadak dia bisa sampai ke tempat ini.

“Rafa..”

Ada suatu suara yang memanggilnya, Rafa celingak-celinguk. Tak ada siapapun di situ hingga akhirnya dia melihat seekor kucing hitam yang kontras sekali dengan ruangan putih tersebut. kucing miliknya.

“Apa kau memanggilku, Pus?” tanya Rafa.

Si kucing hanya memandanginya dan mendadak Rafa merasa bodoh sudah bertanya, karena kucing tak mungkin bisa bicara, kan?

“Rafa..”

Suara itu terdengar lagi, si kucing beranjak dan berjalan meninggalkan Rafa, cowok itu mengikutinya. Sepertinya kucing itu kenal baik tempat ini.
Tibalah dia ke ruangan putih yang lain. Nampak sebuah kursi putih di situ. Dan yang lebih mengejutkan adalah sosok yang duduk di kursi tersebut.

“Lula” panggil Rafa tak percaya.

Si kucing tampak meloncat naik ke pangkuan Lula. Gadis itu mengelusnya, sejak kapan mereka saling kenal, pikir Rafa heran.
“Kamu kurusan..” komentar Lula memandangi Rafa, tampak sedih.

Rafa mendekat, menyentuh wajah orang yang selama ini begitu dia rindukan. Dia nyata sekarang.
“Kamu kemana aja? Aku kangen banget sama kamu” ujar Rafa mendekatkan dahinya ke dahi Lula.

Gadis itu meraih tangan Rafa, menggenggamnya. Cowok di hadapannya melihat gelang manik-manik dari kayu pemberian Rafa dua tahun lalu masih melingkar manis di pergelangan tangan gadis itu.

“Apa kamu hidup dengan baik, Ra? Kamu kurus sekali” ujar Lula memandanginya.
“Dia menceritakan banyak hal tentang kamu..” kata Lula beralih menatap si kucing hitam. Rafa tak mengerti.
“Ayo.. ikut” ajak cewek itu seraya menarik tangan Rafa.

Mereka berdua berjalan dengan si kucing yang mengikuti. Ruangan putih itu seperti tak ada habisnya. Lalu tiba-tiba tampak padang rumput hijau di depan mereka. Benar-benar hijau. Tampak empat orang sedang asyik duduk di atas rumput, menikmati cuaca yang cerah bersama-sama. Rafa memandangi ke empatnya, ternyata tak hanya dia dan Lula yang berada di tempat aneh ini. Namun beberapa saat kemudian dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Keempat orang itu adalah Fandix, Nela, Lula juga dirinya sendiri. Tampak begitu bahagia.

“Lihat dulu kamu bisa tertawa seperti itu” ujar Lula menunjuk Rafa yang ada di padang rumput.
“Jangan hidup seperti ini, Ra” imbuh Lula, matanya berkaca-kaca.
“Bagaimana aku bisa hidup? Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku kehilangan keceriaan dan tawaku, semangat hidup aku semuanya pergi bersama kamu, La”
“Aku nggak pergi” bantah Lula.
“Aku ada di sini” ucap cewek itu sembari menyentuh dada Rafa.

Cowok itu tersentak, selama ini Lula memang tersimpan rapi di situ. Segala memori tentangnya.
“Teruslah hidup, hidup dengan bahagia seperti yang pernah kita lakukan bersama dulu hiduplah, demi bagianku juga” ujar Lula tersenyum.

Rafa mencerna kata-kata gadis itu sembari memandanginya. Tubuh Lula makin lama makin pudar. Bersamaan dengan itu ruangan putih yang melingkupi mereka juga lenyap. Rafa membuka mata dan melihat sepasang mata biru tepat di hadapannya. Kucing hitam milik itu masih berada di dadanya.

“Miiaaaauuw..” kucing hitam itu mengeong panjang.

Rafa beranjak bangkit, mimpikah dia barusan?
Si kucing turun dari ranjang dan meregangkan tubuh. Tiba-tiba Rafa ingat kata-kata Lula.

“Dia menceritakan banyak hal tentang kamu”

Cowok itu menyentuh dadanya, masih terasa sentuhan jemari Lula di situ. Tanpa sengaja melihat sebuah gelang manik-manik dari kayu ada di pergelangan tangannya. Rafa terperanjat.
Sejak kapan? Ini memang miliknya, milik Lula pikirnya. Rafa beralih memandang si kucing, mahluk itu menatapnya balik. Ada hujan di matanya.

Hujan. Bisa menghubungkan langit dan bumi, pernah Lula mengatakan hal itu dulu sekali saat mereka berdua menatap hujan bersama. Rafa tersenyum, sadar dengan apa yang telah dia lakukan selama ini. Dia menyia-yiakan orang-orang yang peduli terhadapnya, menyia-yiakan hidupnya, hingga Lula merasa tak tenang untuk meninggalkannya.

Si kucing mendekat, menggosokkan tubuhnya ke kaki Rafa. Cowok itu mengelusnya.

“Aku baik-baik saja, kok” ujar Rafa tersenyum.

Terdengar hujan turun di luaran, Rafa mengangkat tubuh kucingnya dan meletakkannya di pangkuan. Dia teringat teman-temannya, terutama Fandix dan Nela.

“Apa kau punya pikiran yang sama denganku, Pus?” tanya Rafa mengelus kepala si kucing.

Mahluk itu mendengkur senang merasakan belaian Rafa. Ditatapnya langit dari jendela kamarnya, hujan itu masih turun. Mungkin besok giliran dia yang akan mengajak teman-temannya pergi karaoke bersama.

Kedungwuni, 09 Maret 2013

Cerpen Karangan: Khakiki
Blog : http://mimpi-mimpi-yang-lain.blogspot.com/

Cerpen Aku, Kucing dan Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lelaki dan Pohon Cemara

Oleh:
Di bahu jalan terdapat sebatang pohon cemara yang tumbuh rindang. Sudah dua puluh tahun pohon itu menemani Jalan Harapan. Di bawahnya terdapat beberapa bangku yang terbuat dari kayu. Walaupun

I’m Sorry

Oleh:
Dia hanyalah seorang insan biasa yang berusaha mengejar cintanya. Namun salahkah bila dia mencintai seorang gadis sepertiku? Aku tak tahu jika dia sangat mencintaiku dengan penuh kasih sayang dan

Ucapan Terakhir Untukmu

Oleh:
“Ting Tong…” terdengar bel rumah Kevin, Di depan rumah kevin berdiri gadis manis berkacamata dengan rambut dikuncir dua berperawakan gemuk sambil memegang 2 kotak besar di tangannya, “iya tunggu

Grenade

Oleh:
Easycome, easy go, That’s just how you live, oh, Take, take, takeit all, But you never give. Should’ve known you wastrouble From the first kiss, Had your eyes wide

Diary “Rina”

Oleh:
Present Of True Love “gila, perut gue eneg banget ingga” segala macam jenis aroma manusia menusuk hidung arinda yang enggak pernah naik bis, dia rela naik bis hanya untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *