Aku yang Akan Jadi Cerminmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 6 September 2015

Aku membuka mataku, namun rasanya berat sekali. Mungkin karena aku masih mengantuk. Iya, tadi malam aku pulang terlalu malam karena Anthony mengajakku ke rumahnya untuk dikenalkan kepada orangtuanya. Aku ingin memejamkan mataku lebih lama lagi. Namun ini hari Senin, aku harus sekolah. Aku segera beranjak dari kamarku dan segera menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi aku ke meja makan. Papa dan Mamaku sudah menungguku di sana. Aku segera menghabiskan sarapanku dan segera berangkat sekolah. Setelah sarapanku habis, aku berpamitan kepada orangtuaku dengan mencium tangan mereka. Kemudian aku segera berjalan ke luar rumah, dan Anthony telah menjemputku. Dia memang kekasih yang baik. Dia selalu ada buat aku.

Ketika sampai di sekolah aku melihat beberapa pasang mata yang menatapku dengan tatapan tak suka saat aku berjalan bersama Anthony. Iya, mereka adalah Donna dan teman-temannya. Mereka memang tidak suka aku berhubungan dengan Anthony. Donna adalah mantan kekasih Anthony, setelah meraka putus barulah aku yang menjadi kekasih Anthony.
“Sudah, jangan hiraukan mereka,” kata Anthony menghiburku.

Bel istirahat berbunyi. Aku berjalan menuju kantin bersama Gita, sahabatku. Kami duduk dan berbincang-bincang dan saling curhat. Saat itulah aku mendengar seseorang memanggilku.
“Nila,” katanya.
Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Ternyata itu Adam. Dia adalah kapten basket putra di sekolahku. Aku bisa menebak kenapa dia memanggilku. Pasti itu adalah perintah dari Pak Joko, guru olahraga di sekolahku.
“Ada apa, Dam?” tanyaku padanya.
“Pak Joko manggil kamu tuh.”
“Alah, pasti masalah basket. Kamu pergi dulu deh nanti aku nyusul.” Kataku cuek padanya.

Setelah puas makan di kantin. Aku segera menemui Pak Joko. Aku berjalan menuju ruang guru. Namun di tengah jalan Adam menyetopku. Dia berkata bahwa Pak Joko tidak ada. Beliau ada urusan. Dan pesan beliau kepadaku adalah agar berlatih basket bersama tim basket putra karena sebentar lagi ada turnamen. Aku memang kapten tim bakset putri di sekolahku.

Sore itu aku ada latihan basket bersama timnya Adam, namun di sisi lain Anthony mengajakku jalan. Aku bingung harus mengutamakan yang mana dulu. Karena dua-duanya penting. Akhirnya aku memutuskan untuk latihan basket. Namun Anthony marah kepadaku. Aku berlatih basket dengan setengah hati. Aku tidak bisa tenang karena Anthony sedang marah kepadaku. Sehingga aku sering berbuat kesalahan saat latihan sore itu. Adam yang sejak tadi memperhatikanku latihan segera menghampiriku dan merebut bola basket dariku.

“Nila, kalau latihanmu terus seperti ini, aku yakin kamu akan kalah di turnamen nanti. Sia-sia aku melatih kamu hampir setiap sore, meluangkan sebagian waktuku cuma buat ngelatih kamu. Tapi kamu nggak serius latihan.” Katanya dengan nada yang sangat keras.
“Aku cape, Dam. Kamu enak tinggal teriak ini teriak itu. Komentar ini komentar itu. Aku yang cape.” Kataku.
“Maaf, aku nggak bermaksud seperti itu. Aku cuma pengen kamu jadi kapten basket putri yang baik dan bisa memenangkan turnamen itu.” Katanya sambil tersenyum dan memberikan bola basket kepadaku.

Kemudian aku berlatih kembali. Aku berusaha untuk fokus, namun tidak bisa. Pikiranku tetap dipenuhi oleh rasa bersalahku pada Anthony. Ketika aku ingin melakukan shooting, aku melompat dan mendarat dengan posisi yang salah. Aku terjatuh dan kakiku luka. Adam langsung menghampiriku dan membantuku berdiri dan berjalan menuju pinggir lapangan. Dia kemudian mengobati lukaku.

“Maafkan aku. Mungkin aku terlalu memaksakanmu,” katanya sambil terus mengobati lukaku.
“Nggak apa-apa kok. Cuma luka kecil aja. Tapi bolehkan aku udahan dulu latihan hari ini?” tanyaku sambil menampakkan ekspresi kesakitan.
“Iya nggak apa-apa. Kamu pulang sendiri? Aku antar ya?” katanya sambil membantuku berdiri.
Aku tak menjawab dan hanya mengangguk.

Siang itu aku pulang sekolah bersama Anthony. Dia mengajakku ke rumahnya. Katanya Mamanya ingin mengajakku membuat kue bersama. Aku memang akrab dengan keluarga Anthony. Terutama dengan Adik perempuan Anthony yang duduk di bangku SMP. Namanya Jessica. Dia sering curhat padaku dan minta diajari pelajaran yang tidak dia mengerti. Sesampainya di sana aku disambut Mamanya Anthony. Ibu muda ini terlihat sangat senang melihat kedatanganku bersama anak laki-lakinya. Kemudian kami segera menuju dapur dan segera membuat kue.

“Ma, Anthony mau latihan band dulu ya. Minggu depan ada festival band. Dan bandnya Anthony ikut.” Kata Anthony menghampiri kami dengan gitar di punggungnya.
“Loh Nila pulangnya bagaimana?” Tanya Mama Anthony.
“Oh, aku bisa naik taksi kok Tante. Nggak apa-apa. Biar Anthony latihan aja.” Kataku sambil melirik dan tersenyum pada Anthony.
“Beneran kamu nggak apa-apa, Nil? Maaf ya kalau harus aku tinggal.” Kata Anthony dengan membalas senyumku.

Kemudian Anthony pergi. Aku dan Mamanya Anthony tetap melanjutkan membuat kue. Sesekali Mamanya Anthony bercerita tentang Anthony kecil yang sangat manja. Bahkan sampai sekarang pun sikap manjanya kadang-kadang ke luar.
“Kamu bener-bener mencintai Anthony kan?” Tanya Tante Lin, Mama Anthony
“Iya Tante. Anthony itu di balik sikapnya yang cuek tapi kalau udah berdua dia kadang-kadang memperlihatkan sikap konyolnya. Kadang pas aku sedih atau kenapa gitu ya dia memperlihatkan sikap konyolnya itu ke aku, tan” kataku sambil tertawa membayangkan sikap konyol Anthony.
“Dia itu memang seperti itu. Kadang Tante juga suka terhibur dengan sikap konyolnya itu. Walaupun kalau di sekolah terlihat cool. Tapi dia pribadi yang menyenangkan” kata Tante Lin.

Saat asyik mengobrol, tiba-tiba telepon berbunyi. Tante Lin segera menghampiri meja tempat telepon itu berada. Setelah mengangkat telepon itu aku mendengar Tante Lin menjerit. Aku segera menghampiri. Tante Lin berkata bahwa Anthony kecelakaan dan sekarang di rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dokter berkata bahwa keadaan Anthony sangat parah. Dia mengalami pendarahan di otak karena benturan yang keras. Hanya Mama Antony yang boleh masuk. Aku hanya melihat dari luar melalui kaca. Aku tak menyangka, lelaki yang selama ini aku sayangi dan selalu menghiburku saat aku sedih kini terbaring lemah di ruangan yang penuh dengan alat medis. Matanya hanya terpejam. Bahkan amat sangat rapat. Tak ada gerakan apa-apa darinya.

Aku memutuskan untuk pulang. Aku berjalan seperti orang tanpa tujuan yang dalam hatinya hanya ada keputusasaan di mana-mana. Aku tak menghiraukan ramainya jalan yang ku lalui. Suara clack sound yang membisingkan telinga pun tak ku dengar. Aku hanya ingin mendengar suara Anthony, “Kamu jangan sedih ya. Aku selalu ada buat kamu” Hanya itu kalimat yang ingin aku dengar. Tanpa aku sadari aku berjalan menyeberangi jalan. Aku tak tahu ada mobil yang telah siap menghantam tubuhku. Aku pasrah tak bergerak karena memang terlalu terlambat untuk menyelamatkan diri. Aku tak merasakan apa-apa lagi.

Aku merasakan berat untuk membuka mata. Namun aku mencobanya beberapa kali. Hingga akhirnya aku bisa membuka mataku. Namun yang ku lihat hanya gelap di mana-mana. Aku mendengar suara Mama memanggilku namun aku tak dapat melihat sosoknya. Apakah aku buta? Oh tidak. Tidak mungkin. Aku tahu aku hanya mimpi. Tapi ini sungguh seperti kenyataan. Bukan. Ini bukan seperti kenyataan. Namun ini sunggu kenyataan. Aku buta dan aku tak dapat menggerakkan kakiku. Itu artinya aku buta dan lumpuh.

Ini entah berapa hari setelah aku tahu bahwa aku buta dan lumpuh. Karena aku tak dapat merasakan siang atau pun malam. Di sampingku ada Gita yang membacakanku sebuah novel karya Tere Liye.
“Ini jam berapa Gita?” tanyaku pada Gita dengan suara lirih.
“Ini jam tiga sore. Hari Minggu tanggal 30 Maret. Masih dengan tahun yang sama. Ini hari ketiga setelah kamu sadar.” Kata Gita dengan menggenggam tanganku erat.
Aku menyandarkan kepalaku ke pundak Gita. Aku merasakan tangannya mengelus kepalaku. Aku membalasnya dengan tersenyum.
“Oh iya Git. Anthony sudah sadar? Aku kangen sama suaranya dia.” Tanyaku.
“Eh, em. Anthony udah nggak ada Nil” kata Gita dengan suara putus-putus.

Aku shock mendengarnya. Setelah aku menerima keadaan bahwa aku buta dan lumpuh kini aku harus menerima keadaan bahwa Anthony telah tiada. Aku merasa aku adalah manusia yang paling malang saat ini. Aku merasa mati.

Setelah aku sedikit tenang, Gita mengantarku ke makam Anthony. Gita mendorong kursi rodaku. Kemudian membantuku turun ketika sampai di makam Anthony. Aku tersimpuh di gundukan tanah itu. Aku meraba tanahnya, terasa masih basah. Aku mencoba mencari-cari sesuatu yang dapat aku pegang. Tanganku menyentuh foto Anthony. Aku mengusapnya. Aku hanya bisa menangis dan tak dapat berkata apa-apa. Setelah beberapa lama, aku mengajak Gita kembali ke rumah sakit tempat aku dirawat.

Hari itu aku meminta sopirku untuk mengantarkan aku ke tempat yang biasanya aku datangin bersama Anthony. Itu merupakan sebuah tempat dengan pohon besar dan tebing yang tidak seberapa tinggi. Kemudian aku mengenang kembali semua masa ketika aku bersama Anthony di tempat itu. Aku memanggil nama Anthony sekeras-kerasnya di tempat itu.

“Kalau kamu nggak ikhlasin dia, jalannya bakal berliku di sana,” kata seseorang.
“Kamu siapa?” tanyaku.
“Aku Adam. Kapten basket putra di SMA. Anthony bakal sedih kalau kamu nangisin dia terus. Jalannya pun akan terhambat karena dia merasa berat hati ninggalin kamu,” kata Adam. Aku merasakan suaranya mendekat.
“Kamu nggak tahu apa-apa. Kenapa Allah nggak sekalian ngambil aku saat aku tertabrak mobil beberapa hari yang lalu? Biar aku bisa bersama-sama dengan Anthony. Aku nggak bisa, aku nggak sanggup,”
“Allah hanya tidak mau kamu menghadap dengan keadaan kamu yang masih disertai dosa. Allah ingin kamu memperbaiki dirimu dulu sebelum Allah memanggilmu dan akan mempersatukan kamu dengan Anthony di surga. Kamu harus mempergunakan waktumu untuk melakukan hal yang berguna. Bukan menyesali dan menyalahkan takdir Allah. Allah punya jalan untuk hamba-Nya. Jalan yang mungkin jauh lebih indah daripada yang pernah kamu bayangin.” Kata Adam.

Kata-kata Adam itu membuatku sedikit tersadar dan memunculkan keinginan dalam hatiku untuk bangkit dan memperbaiki diri. Hatiku menjadi jauh lebih tenang mendengar kata-kata Adam. Kata-kata penyemangat agar aku bangkit dan kembali berjalan menempuh perjalananku yang masih panjang. Dia juga bisa membuatku tersenyum kembali. Ini adalah senyum pertamaku setelah aku mengetahui bahwa Anthony telah tiada. Setelah puas mengobrol, Adam mengantarku pulang dengan taksi. Aku tahu Adam anak orang berada. Dia punya mobil mewah. Namun dia tidak pernah menggunakan mobilnya ke sekolah. Dia orang yang sangat sederhana, baik, dan juga ramah.

Setelah kejadian hari itu, aku lebih dekat dengan Adam. Dia sering ke rumahku hanya untuk sekedar membantuku makan siang dan membacakan cerita padaku. Dia juga setia mendengar curhat dan keluhanku. Tak jarang juga dia menceritakan kisah inspiratif ketika aku hampir putus asa. Hampir setiap hari Adam ke rumahku. Dia bercerita tentang keadaan sekolah, karena aku sudah berhenti sekolah. Dia menceritakan kejadian-kejadian lucu di sekolah hingga membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Dia adalah seorang pencerita yang baik.

“Kamu ingat Donna? Tadi dia berantem sama Cindy. Lucu deh. Jambak-jambakan gitu. Hahaha ..” katanya sambil tertawa.
“Loh Cindy bukannya satu geng sama Donna ya? Kok bisa berantem?” tanyaku sambil mengerutkan kening.
“Hahaha, iya. Masalahnya sepele. Cindy nggak sengaja nginjek sepatu baru Donna. Eh, akhirnya berantem. Keduanya terus dapet hukuman suruh hormat di depan tiang bendera sampai jam pulang sekolah. Banyak siswa yang tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menjatuhkan reputasi mereka. Banyak siswa yang mengabadikan momen itu dengan gambar. Kemudian tadi aku sempat buka instagram, banyak foto mereka. Hahaha” katanya.

Aku tahu hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-18. Aku tahu karena Papa dan Mama tadi mengucapkannya padaku dan tadi malam Adam meneleponku dan mengucapkannya padaku. Adam adalah orang pertama yang mengucapkan selamat pada ulang tahunku kali ini. Tahun-tahun sebelumnya yang selalu jadi orang pertama adalah Anthony.

Pagi itu aku kembali ke tempat di mana aku dulu menghabiskan waktu bersama Anthony. Aku hanya diam di sana. Tak ada pemandangan yang membuatku terkesan. Karena yang kulihat hanya gelap. Dan aku hanya duduk di kursi roda yang menjadi kawanku sehari-hari.

“Nila..” panggil seseorang dengan lirih.
“Adam..” aku mengenali suaranya.
“Ternyata kamu mengenali suaraku ya? Aku punya sesuatu buat kamu,” katanya menggodaku.
“Apa itu? Aku tak perlu memejamkan mata kan?” tanyaku. Sebenarnya itu pertanyaan menggoda.
“Nggak perlu. Aku tahu kamu nggak bakal ngintip,” katanya.

Kemudian aku merasakan sesuatu di kepalaku. Aku merasakan kepalaku dikerudungi oleh kain. Aku tahu, ini adalah kerudung. Adam memakaikan aku kerudung.
“Nah, sudah jauh lebih cantik,” katanya setelah selesai memakaikan aku kerudung.
“Adam, kerudung ini buat aku? Aku pasti cantik sekali. Andai saja aku bisa melihat wajahku dengan cermin,” kataku dengan mata yang berbinar-binar.
“Aku yang akan jadi cerminmu. Aku tidak akan bohong. Kamu sungguh terlihat anggun mengenakan kerudung” katanya.
“Makasih ya Adam. Kenapa kamu baik sama aku? Aku nggak bakalan bisa lagi jadi pebasket kebanggaanmu,” kataku.
“Bukan karena itu. Ada sesuatu yang mengharuskanku baik sama kamu. Dan sesuatu itu pernah dirasakan oleh Anthony kepadamu. Mungkin aku terlalu dini untuk menggantikan Anthony di hatimu. Atau bahkan selamanya aku nggak bisa gantikan Anthony dan mengisi kekosongan hatimu. Tapi percayalah, cukup dengan melihat senyummu dan aku dapat berbuat baik kepadamu itu adalah kebahagiaan yang besar bagiku,” katanya.

Aku tercengang mendengar kata-kata Adam. Aku tak menyangka, setelah keadaanku yang buta dan lumpuh ini masih ada laki-laki yang mencintaiku seperti saat aku masih normal. Aku tak mungkin berkata tak suka pada Adam. Karena aku merasakan apa yang dia rasakan. Mungkin sosoknya tak dapat menggantikan sosok Anthony dalam hatiku. Tapi dia mampu mengisi kekosongan hatiku. Mulai saat itu aku resmi menjalin hubungan dengan Adam. Dia menerimaku apa adanya walaupun aku buta dan lumpuh. Dia selalu terangi hari-hari gelapku. Dia seperti tongkat yang membantuku berjalan bahkan berlari.

“Ih Nila, udah gede makan es krim masih saja belepotan,” kata Adam.
“Usapin dong,” pintaku.
“Nggak ah, kamu lebih cantik kalau belepotan seperti itu,” jawabnya sambil tertawa.
“Ih bohong banget” kataku sambil cemberut.
“Cermin tak pernah berkata bohong. Dan aku yang akan jadi cerminmu,” kata Adam.

Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari
Blog: coratcoretditanila.blogspot.com

Cerpen Aku yang Akan Jadi Cerminmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Seharusnya

Oleh:
“Pacaran yuk ” Kata itu selalu terngiang di telinga gue dan bikin gue mematung untuk sepersekian detik dan membuat otak gue berpikir terlalu keras. Matahari terlalu setia untuk menampakkan

Pengorbanan Cinta Sejati

Oleh:
Aku termenung di kamarku. Menangisi keadaanku saat ini. Bagaimana tidak, seorang yang aku cintai pergi meninggalkanku. Aku mengambil sebuah figura dan ku lihat foto di dalamnya. Aku mengingat bagaimana

Midnight in Tokyo

Oleh:
Gemerlap cahaya kota tokyo menerangi sepanjangan jalan. Menerangi jalan seorang gadis yang kesepian, ia memilih untuk menyendiri di malam hari karena dia tidak mau bertemu siapapun, ia telah ditinggalkan

Secantik Sakura

Oleh:
Terik mentari menyambut jiwa yang bangkit dari tidur malamnya. Seperti biasa diceknya hp sebelum pergi ke kamar mandi dan seperti biasa pula pasti ada sms dari kekasihnya, “Selamat pagi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *