Akulah si Siti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 December 2014

Bulan menatapku tajam di jendela kamarku. Sinarnya membuatku enggan kembali ke meja belajarku. Aku pun menghabiskan beberapa menit waktuku untuk menatap Ratunya Malam yang begitu tampil sempurna dengan kecantikannya.
“Don’t wanna break your heart wanna give your heart the break…” suara sms terdengar dari hpku. Aku pun meninggalkan kecantikan rembulan itu dan bergegas mengambil hpku. Ternyata sms itu dari Si Robby, pacarku.
“Sayang… Ayo keluar!” isi sms itu.
“Kemana By…? Kok mendadak gini? Udah malam loh…” balasku
“Ya kemana ajahlah Shan, mumpung langitnya lagi mendukung nih…”
“okeh deh By! Jemput aku di depan kostku ya? “
“iya sayang… tunggu aku!!”
“Okeh sayang…”

Tak berapa lama Robby pun sampai di depan kostku. Wajahnya nampak begitu cerah, sedikit berbeda dari biasanya. Tak menghiraukan hal itu, aku pun langsung duduk di jok belakang motornya dan aku langsung dibawa Robby ke tempat pertama kita hangout sebelum kita resmi jadian.

“Gak ada yang berubah dari tempat ini. Masih sama seperti dulu. Iya gak Syah?” ujar Robby sambil matanya kelayapan memandangi sekitar dan menggandeng tanganku
“Iya By… 2 tahun yang lalu kita kesini masih dengan status sama-sama jomblo. Eh sekarang aku dan kamu udah jadi kita. Hehe…” jawabku
“Iya Sya… eh ada bedanya ternyata dari 2 tahun yang lalu…”
“Oh ya? Kayaknya enggak deh… emang bedanya apa?”
“Ya beda lah Shan! Kan 2 tahun yang lalu saat kita pertama kali kesini, kita belum gandengan tangan gini.. hehe”
“yee… dasar Robby!!!” pipiku memerah dan kulepaskan gandengan tangan Robby

Aku dan Robby mencari tempat duduk dengan posisi yang paling pewe. Robby pun berjalan ke arah seorang ibu dengan jagung-jagung yang dibakarnya.
“Shana… mau jagung bakar yang rasa apa?” tanya Robby sambil memilah-milah jagung-jagung itu.
“Emm… yang kayak dulu deh. Yang kayak 2 tahun yang lalu itu tuh… masih inget gak kamu?”
“Ya masih lah. Masih inget banget malah. Haha tunggu ya sayang!!”
“Okeh… jangan lama-lama loh ya!! Kalo lama… aku tinggal pulang kamu”
“Ndeh… yawes silahkan!! Mau pulang peke apa kamu? Hayoo??”
“haha ngojek deh…”

Tak terasa jagung itu pun telah siap disantap. Robby mengajakku bernostalgia dengan tempat dan jagung bakar ini. Nostalgia tentang 2 tahun yang lalu, saat aku dan dia masih sama-sama memendam perasaan itu. Kita bercanda, menghabiskan waktu dan jagung bakar bersama. Dan ditemani Ratunya Malam dan Dayang-dayangnya dengan kanvas malam yang sempurna. Sungguh, malam itu terasa sangat indah. Seperti saat 2 tahun yang lalu ketika Robby pertama kali mengajakku hangout. Tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang kira-kira usianya 7 tahunan datang. Dia ikut bergabung dan duduk di sebelahku.
“Kak, pacarnya ya?” tanya anak perempuan itu padaku
“Iya dek kenapa? Ganteng ya pacar Kakak?” jawabku bercanda
“Iya kak ganteng banget. Wajahnya putih, tapi kok terlihat pucet, gak segar, gak enak dipandang” kata si anak perempuan tadi
“Tau gak kenapa wajah kakak itu kayak gitu dek?” sambil menunjuk ke arah Robby
“Kenapa kak?”
“Dia mandinya pakek pemutih pakaian dek haha”
“tapi pacar kakak serem… titip salam ajah ya kak buat dia” si anak perempuan itu berbisik padaku sambil salah satu jarinya menunjuk ke arah Robby
“Hehe… kalo gitu ya gak usah dipandang dek!! Cukup kakak ini ajah yang mandang” sahut Robby dengan candaanya dan memandang ke arahku
“ya udah kak cantik dan kak pucet aku pulang dulu ya. Bye-bye kakak” pamit si anak perempuan itu.
Aku dan Robby saling berpandangan lalu tawa kami pun pecah bersama-sama karena kelucuan anak kecil itu tadi. Dan tak terasa waktu telah menunjukkan tepat pukul 9 malam. Aku harus bergegas kembali ke kosanku di salah satu perumahan elit dekat sekolahku.

“makasih By untuk malam ini..” ucapku sambil tersenyum padanya
“iya sayang… besok sekolah aku jemput ya?” jawab Robby dengan senyuman khasnya
“iya sayang… ya udah hati-hati di jalan!!”
“Siap My Princess”

Keesokan harinya…
Mentari tersenyum pada dunia. Mengusir embun yang singgah di hijaunya dedaunan. Aku telah siap menunggu Robby di depan kostku. Di tempat yang sama persis saat kita janjian tadi malam. Tak lama Robby pun datang dengan motornya yang berwarna favoritku. Dia pun bergegas mengantarku ke sekolah.
“Kok tumben Robby nganterin aku, padahal jarak antara kostku dengan sekolah kan sangat dekat. Tapi gak apalah sekali-kali dianter pacar ke sekolah kayak anak-anak yang lain. Hehe.” Gumamku dalam hati.
Ya, aku dan Robby memang beda sekolah tapi jarak antara sekolah kami tidaklah jauh. Cukup dengan jalan kaki aku bisa mampir ke sekolah Robby. Atau juga sebaliknya.

“Shana… nanti pulang sekolah aku jemput lagi ya? Disini!!” Bilang Robby
“Iya By. Tapi kan pulang sekolahnya masih duluan kamu?” jawabku
“Ya gak apalah… nanti kan aku bisa pulang dulu. Terus jemput kamu lagi disini”
“Okelah By, untungnya rumah kamu dekat dari sini, jadi mondar-mandirnya gak capek”
“iya Shana sayang… Lagian kalau buat kamu apa sih yang enggak?” sambil memberantakkan poni rambutku

Tepat pukul 2 siang Robby telah menungguku di gerbang sekolah. Wajahnya terlihat sangat cerah seperti bintang iklan. Wajah yang tak jauh beda kayak yang aku lihat tadi malam. Bahkan tampak sangat cerah dari tadi malam dan biasanya.
“walah… pacarku ini kok makin ganteng ya?”
“iya dong… Pacarnya Shana gitu…!! Haha”
“sampe bikin adek kecil takut deh saking gantengnya… hehe”
“wah emang adiknya ajah yang mungkin gak pernah lihat orang seganteng aku. Haha”
“bisa ajah kamu huuu… Kok cepet sih By udah nyampe sini?”
“ya iyalah kan semangat mau keluar sama My Princess”
“huuuh modus deh!!”
“lah emang gitu kan, kalo gak sekarang kapan lagi keluarnya? Mumpung masih ada kesempatan nih”
“iya deh iya… ayo lah berangkat. Biar pulangnya gak kesorean”
“siap My Princess”

Setelah beberapa menit perjalanan, tibalah aku dan Robby di tempat tujuan. Ternyata, tempat ini adalah tempat pertama kali aku dan Robby hangout setelah kami resmi jadian.
“owalah… ternyata aku diajak nostalgia lagi nih ceritanya?” tanyaku sambil tersenyum menatap Robby
“lagi pengen nostalgia Shan… biar kamu gak lupain tempat-tempat bersejarah kita ini” jawab Robby sambil mengedipkan matanya
“Okeh-okeh. Lagian aku juga gak bakalan lupa dengan semua ini By!!”
“Iya sayang… kalo kamu lupa ya mungkin pikunya kumat haha”
“Yeee… enak ajah. Aku gak pikun kale’”

Aku dan Robby beristirahat di tempat duduk yang dinaungi pohon besar. Tempat duduk yang juga 2 tahun lalu kita duduki. Saat aku asyik berbincang-bincang dengan Robby, tiba-tiba ada kakek paruh baya dengan dandanan yang apa adanya datang menghampiri kami.
“Siti… kamu siti kan?” ujar kekek itu sambil mencoba memegang tanganku
“Bukan kek saya bukan Siti, kakek salah orang!” jawabku sambil melepas pegangan tangan kakek itu
“Enggak. Iya benar kamu Si Siti. Iya kamu Siti!” berusaha memegang tanganku
“Maaf kakek saya bukan Siti,” aku sedikit ketakutan dan bersembunyi di belakang tubuh Robby
“Kakek, ini bukan Siti. Dia Shana kek, dia pacar saya” sambung Robby dengan berusaha melindungiku
“Enggak KAMU BOHONG! Dia itu Siti. Siti… Dia Siti!!” kekek itu masih bersikukuh
“Kek, sebelum saya penggil satpam mending kekek pergi” kata Robby halus pada kakek itu
“Ya udah kalo itu mau kamu. Kakek pergi sekarang. Tapi benar itu Siti!!” bergegas pergi sambil masih melambaikan tangannya ke arahku

Aku yang ketakutan hanya bersembunyi di belakang Robby. Meski itu tak menutupi seluruh tubuhku. Keningku basah kuyup kerana keringat saking takutnya dengan kakek tadi.
“Udah Syah! Kakeknya udah pergi. Tenang jangan takut.” Ujar Robby menenangkanku
“Masak aku di bilang Si Siti? Emang wajahku kayak Siti apa ya? Siapa juga itu Si Siti? Ih kakeknya aneh…” sambil mengusap peluh
“Mungkin kamu kayak Siti Zubaedah? Siti Markonah? Atau mungkin Sit Nurhalizah? haha” canda Robby
“Yeee Robby… ya gak lah enak ajah!!” kataku sambil tertawa. Candaan Robby membuat ketakutanku mulai memudar
“Iya. Masih cantikan kamu lah. Iya gak Sit?”
“Ndeh… Apa? Sit?”
“Iya-iya bercanda sayang. Ya udah mending kita pulang dari pada Si Kakek nanti datang lagi?”
“Iya By bener, ayo pulang!!”
“ayok! Besok berangkat sekolahnya aku jemput lagi ya tepat di depan kosan kamu”
“okeh sayang”

Aku yang merasa sangat capek langsung ketiduran ba’da Isya. Pukul 10 malam aku terbangun dan kulihat hpku ada 24 pesan baru, dan 9 panggilan tak terjawab. Yang itu semua dari Robby. Langsunglah aku membalas sms itu dan mencoba menelfonnya tapi gak ada balasan ataupun jawaban. “Mungkin dia sudah tidur” gumamku dalam hati. Aku pun melanjutkan tidurku.

Keesokan harinya…
Matahari tak tampakkan senyumnya. Entah ada apa gerangan? Burung pun enggan bernyanyi seperti biasanya. Bahkan langit juga serasa bermuram durja.
“Shana… ayo ikut aku!!” tiba-tiba datang Aldi menjemputku
“Kemana? Aku nunggu Robby. Kemarin dia bilang mau menjemputku” celotehku
“Kayaknya sekarang kamu yang harus menjemput Robby” kata Aldi
“Loh maksudnya apa Al?” tanyaku heran
“Robby kecelakaan tadi malam dan dia meninggal di perjalanan ke rumah sakit. Sekarang kita langsung aja ke rumah Robby, karena jenazahnya udah di anter ambulan dan akan langsung dimakamkan” kata Aldi meyakinkanku
“Apa? Robby kecelakaan? Kamu jangan bercanda Al! Dia janji mau menjemputku pagi ini.” aku tak mampu menahan buliran air mata yang berlarian di pipiku
“Sekarang mending kamu ikut aku sebelum nanti terlambat”
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan masih tidak percaya dengan semua ini.

Sesampainya di rumah Robby…
Ibunya Robby memelukku erat sambil mengarahkan pandangannya ke seseorang yang nampak tengah tidur terlelap dengan kain putih dan selimut jarik berwarna gelap. Aku tak mampu menahan beban tubuhku hingga aku terjatuh. Aku hanya bisa menangis dan tak berani membuka jarik itu. Aku tak percaya kalau itu Robby. Tak lama orang yang tertidur dengan lelap itu akan di bawa ke masjid dan dimakamkan. Aku mengikuti semua prosesi dengan linangan airmata hingga tibalah pada ujung prosesi itu. Saat tubuh itu diangkat keluar dari kereta beroda kaki-kaki pelayat dengan tudung hijau di atasnya, barulah aku percaya dan aku melihat. Tubuh itu benar-benar tubuhnya Robby. Lelaki yang telah 2 tahun memberi pelangi di hidupku dan mengindahkan duniaku. Aku semakin tak dapat mencegah airmataku, aku menangis dengan sangat tapi aku tak dapat menjerit. Akhirnya semua prosesi itu telah berakhir dan gundukan tanah itu semakin meninggi membuat tubuh Robby yang tak berdaya itu tak nampak lagi.

“Ayo Shan kita pulang. Biarkan Robby damai di tempatnya” ajak Aldi
“Iya Al, kamu duluan ajah. Aku masih ingin cerita sama Robby” dan akhirnya semua orang pun beranjak dari peristirahan Robby. Hanya tinggal aku berdua dengan Robby.
“By… kenapa begitu cepat kamu ninggalin aku? Masih banyak hal yang belum kita wujudkan bersama. Masih banyak By! Aku gak mungkin bisa jalanin ini sendiri.” Aku menangis dan memegang nisan kekasihku itu.
“Apa ini jawaban dari seluruh pertanyaanku kemarin? Pertanyaan atas sikapmu yang sedikit berbeda dan wajahmu yang begitu bersinar lagi memucat? Lalu apa ini juga jawaban dari apa yang dikatan Si Kakek tua kemarin. Kalau aku ini Si Siti? Alias Single ditinggal mati? Apa iya aku Siti?” kuulang beberapa kali pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi tetap tak ada jawaban sepatah kata pun.

The End

Cerpen Karangan: Aisyahrifah
Facebook: Asrifah Bepe

Cerpen Akulah si Siti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My First Love

Oleh:
Bunyi alarm yang terletak di meja belajarku, memaksa aku untuk bangun dan pergi ke sekolah. Dengan malas, aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap-siap,

Di Balik Senyum Mantanku

Oleh:
Ketika orang yang kita sayang merelakan kebahagiaannya untuk sahabat terbaiknya dan kita menjadi korbannya, rasanya itu sakit, perih, panas. Kisah ini dimulai dari kisah cintaku dengan Andre yang berujung

Kepergianmu

Oleh:
“Kalau aku panggil kamu dari jauh, kamu bakal dengar nggak?” “Seberapa jauh?” “Nggak jauh-jauh amat kok, paling cuma 5000 Km.” “…” “Aku akan teriak sekencang mungkin, supaya kamu dengar.”

Kau Telah Pergi, Pulsamu Habis

Oleh:
Aku sedang mendengarkan lagu Coldplay ‘A sky full of stars’ sambil mengingatmu memang sangat menyenangkan. Kau lucu, selalu membuatku merindu. Wajahmu yang lembut, bibirmu yang suka terlihat basah, semua

Melodi

Oleh:
“Fel, ini ada berkas yang harus lo tandatanganin, soalnya tinggal lo aja yang belom tanda tangan,” jelas Bram seraya ia menyerahkan map berwarna biru. “Ah ya, satu lagi hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *