Al-Qur’an Cokelat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 8 March 2016

Ku langkahkan kaki yang berbalut sepatu kets kesayanganku ke luar rumahku dengan mantap. Semilir angin pagi dan kicauan burung menambah sempurna pagi pada hari jum’at indah itu. Namun, cuaca semakin lama tidak mendukung, langit yang biasanya cerah kini berubah menjadi kumpulan awan hitam bak monster raksasa yang sedang melayang-layang di angkasa. Ku benahi kerudungku sekali lagi di depan kaca rumah, sudah sempurna. Aku pun melangkah dengan pasti menapaki setiap jalanan dengan menggenggam erat Al-Qur’an yang sedari tadi berada di pelukanku. Ya Allah, ku mohon jangan hujan sekarang. Ini hari yang sangat penting bagiku.

Ku masuki areal pemakaman setempat, aku melangkah dengan sendu mengingatnya. Batu nisan itu kini sudah di depan mataku, aku tak kuasa menahan air mataku. Semakin aku mengingatnya semakin ku peluk erat Al-Qur’an cokelat itu. Al-Qur’an itu yang membuatku menjadi lebih baik dan menjadi orang yang tegar, lebih tepatnya orang yang sedang mencoba tegar. Al-Qur’an yang menyimpan suka dan duka itu kini berada di genggamanku setelah ditinggalkan oleh pemilik aslinya. Teringat kembali kejadian 5 tahun yang lalu, tepatnya 28 Desember 2012, sebuah kecelakaan yang merenggut nyawanya, dan menyisakan sebuah Al-Qur’an cokelat dengan berlumur darah yang selalu ia bawa.

Saat itu aku pulang dari pelajaran tambahan sekitar pukul 04.30. Karena pada waktu itu cuaca tidak mendukung dan angkot yang tak kunjung datang, aku hanya bisa diam menunggu di depan halte yang tak jauh dari sekolahku. Entah kapan, tiba-tiba seorang laki-laki mendekatiku dan menawarkan jasa payung padaku. Karena tujuanku jauh tentu saja aku langsung menolaknya. “Lagi sepi nih Mbak, dari tadi saya muter-muter nyari yang butuh jasa payung saya tapi tidak ada yang mau.” Katanya padaku kemudian ia mengeluarkan sebuah bungkusan hitam dari tas sampingnya. Dia membuka bungkusan itu dan mengeluarkan isinya, sebuah Al-Qur’an. Mau apa dia mengeluarkan Al-Qur’an di halte ini? apa dia mau mengaji di sini? yang benar saja, mana bisa konsentrasi membaca Al-Qur’an dengan suara hujan deras seperti ini.

“Oh iya, Mbak mau ke mana?” tanyanya.
“Perumahan Sudirman,” jawabku singkat.
Dia menggumam dan memulai fokus pada Al-Qur’an yang sedang dipegangnya. Sekitar setengah jam aku menunggu namun, sampai sekarang pun tak ada sebuah angkot lewat.
“Mbak sudah salat?” tanyanya lagi setelah setengah jam ia sibuk dengan Al-Qur’an itu.
“Emm, belum,” jujurku.
“Mari salat dulu Mbak. Saya antar ke mesjid depan sana,” tawarnya.

Dengan ragu aku mengangguk dan dia tersenyum. Aku terpana melihatnya, senyuman itu Tuhan, indah sekali. Kami berjalan beriringan di bawah naungan payung yang sama. Ku pandangi setiap lekuk wajah lelaki itu. Mata teduh, hidung mancung, rahang yang mengeras dan bibir yang selalu menyunggingkan senyum. Sungguh sempurna pikirku. Tak terasa mesjid sudah berada tepat di hadapanku. Aku segera berlari menuju tempat wudhu yang berada di samping mesjid. “Mbak, itu tempat wudu laki-laki, kalau untuk perempuan di sana,” katanya sambil menunjuk arah tempat wudu’ perempuan. Dengan malu aku pun pindah menuju tempat wudu yang ditunjuk lelaki tadi. Selesai salat kami berbincang-bincang di dalam mesjid itu, penasaran aku bertanya padanya

“Oh iya, ngomong-ngomong kenapa sih kamu memilih ngojek payung? kalau dilihat-lihat bukannya kamu seumuran anak SMA?” dia tersenyum sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaanku.
“Kalau aku disuruh memilih, tentunya aku tidak mau seperti ini. Aku akan lebih memilih duduk santai di rumah tanpa harus mencari uang dan sekolah dengan tenang tanpa harus memikirkan masalah ekonomi keluargaku. Tapi, ini kewajiban yang harus aku lakukan untuk kehidupan keluargaku. Aku ingin bersekolah di sekolah agama, tapi ekonomi keluargaku tidak mendukungku untuk bersekolah,”

“Kenapa ingin bersekolah di sekolah agama? bukannya ada SMA yang lebih murah dibandingkan dengan sekolah agama yang biayanya agak sedikit mahal?” tanyaku lagi semakin penasaran dengannya. “Aku tidak hanya ingin menuntut ilmu umum, tapi aku ingin bisa menguasai ilmu agama, dan aku ingin menjadi penghafal Al-Qur’an bukan karena aku ingin dihargai oleh orang lain yang tak pernah sama sekali pun menghargaiku dan keluargaku, tapi ini cita-citaku dan aku ingin melihat orangtuaku bahagia di sisa masa tuanya dengan melihat anaknya sukses di masa depan,” jawabnya kemudian tersenyum. “Jadi, itu alasanmu membawa Al-Qur’an itu,” kataku sambil melirik ke arah Al-Qur’an yang ada di genggaman tangannya.

Sebagai jawaban atas pernyataanku dia hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman lagi yang kali ini terlihat lebih tulus senyumnya. Laki-laki ini, betapa tulusnya hatinya. Selain itu, ia tak pernah sekali pun memendam dengki dan iri kepada orang yang lebih di atasnya dan senyumnya tak pernah sekali pun luntur dari wajahnya, pikirku. Aku kagum dengannya, dia yang harus bekerja untuk menghidupi keluarganya bisa tersenyum dengan tulusnya, sedangkan aku? aku yang hanya tinggal bersekolah dan menikmati saja, masih saja banyak mengeluh. Aku ingin belajar lebih banyak darinya.

“Nama kamu siapa?” tanyaku.
“Namaku Ilham, sampai lupa tidak berkenalan, padahal sudah berbincang banyak,” jawabnya sambil tertawa.
“He, namaku Putri… Aku kagum sama kamu, sama sifat kamu yang tidak mudah menyerah meskipun cobaan berat sedang kamu rasakan. Aku ingin jadi teman kamu dan belajar banyak dari kamu,”

“Tanpa kamu minta pun kamu sudah menjadi temanku sejak di halte tadi,” Aku membalasnya dengan tersenyum semanis mungkin meskipun tidak semanis saat dia tersenyum padaku. Dia memandang sekeliling sejenak lalu mengarahkan pandangannya kepada payung yang ia letakkan di teras mesjid.
“Hujan sudah berhenti. Kamu tidak mau pulang?” katanya.
“Iya, aku mau pulang,” setelah berkata demikian aku mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan alamat rumahku di kertas tersebut lalu ku serahkan kepada Ilham.
“Itu alamat rumahku, main ke rumahku ya. Nanti kita bisa sharing dan belajar bareng.”

Satu minggu sudah berlalu sejak perkenalan itu. Dan sejak itu pula aku bersahabat dan selalu bersamanya. Tak tahu mengapa, lama-lama aku merasakan rasa yang berbeda saat aku bersamanya. Apakah aku mencintainya? tidak, jangan. Jangan merusak cita-cita orang, Putri! Aku tak tahan dengan semua perasaan ini, dan pada akhirnya aku memilih untuk mengatakannya. Aku bukannya ingin menjadi pacarnya tapi aku lebih lega jika aku sudah mengungkapkan kepadanya.

“Aku tidak tahu berawal dari mana. Tapi ini tentang kamu Ilham yang kini mengisi ruang kosong di hatiku,” jujurku malu kepada Ilham.
“Maksud kamu apa Put? kita kan bersahabat,” jawabnya. “Aku tahu, aku sahabatmu. Tapi seenggaknya aku akan lega saat aku bilang ke kamu tentang perasaanku yang membuatku takut setiap harinya. Aku tak ingin merusak cita-citamu itu, tapi aku punya perasaan itu ke kamu,” kataku lagi.
“Maaf Putri, bukannya aku ingin menyakiti hati kamu, tapi apakah lebih baik jika kamu lupakan saja perasaanmu itu. Kita tidak sederajat, apakah kamu mau dengan orang sepertiku? orang gelandangan yang terlalu bermimpi tinggi untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an yang hanya mengisi harinya dengan bekerja sebagai pengojek payung,”

“Kamu benar, mungkin, sebaiknya aku lupakan perasaan ini,” Aku tersadar. Siapa aku? berani-beraninya aku mengharapkan orang yang lebih suci. Air mataku tak mampu lagi ku tahan, perlahan setetes demi setetes air mata jatuh di pipiku. Aku ingin lari, aku tak sanggup melihat wajahnya yang kini tengah memandangku kasihan. Aku berlari menjauhinya, menyeberangi sebuah jalan raya dengan sesenggukan dan aku tak menyadari bahwa ada sebuah truk berjalan dengan kencang di hadapanku. Aku tersadar dan berteriak sekencang mungkin. Saat truk mulai mendekat, ku pejamkan mataku, mungkin inilah akhir dari hidupku. hingga akhirnya kejadian itu terjadi. “Ilhaaaaaaam!” teriakku.

Ilham segera berlari saat mengetahui nyawaku dipertaruhkan, dia menggantikan posisiku. Ilham menyelamatkan hidupku, aku pusing melihat darah yang ke luar dan mengucur banyak dari tubuhnya. Dan Al-Qur’an itu. Al-Qur’an itu tetap berada di genggamannya. Aku berjalan dengan limbung ke arahnya dan mengambil Al-Qur’an cokelat yang kini berlumuran darah itu, setelah itu aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Terakhir yang ku ingat, pada akhirnya gundukan tanah merah yang masih basah itu dengan batu nisan di atasnya muncul di tengah-tengah gundukan tanah lainnya.

Sungguh sakit mengingat kejadian itu. Kalau saja aku menyadari truk itu, tentu tak akan menjadi seperti ini, tentu aku akan melihat Ilham yang kini tengah sukses dengan cita-citanya. Karena dia aku berubah menjadi seperti sekarang ini. Andai saja Ilham tak ada, mungkin aku tak akan pernah bisa memahami apa itu hidup, bagaimana cara bersikap yang benar, bagaimana cara menghadapi cobaan dengan sebuah senyuman.

Ku tebarkan bunga di atas gundukan tanah merah itu sambil tersenyum berusaha ikhlas atas kepergiannya. Tak lupa ku bacakan surat Yasin dan ku panjatkan doa kepada Tuhan untuknya. “Semoga kamu bahagia sekarang, tenang di sisi-Nya. Izinkan aku meneruskan cita-citamu yang belum kau tuntaskan. Mungkin hafalanmu lebih baik dariku. Tapi aku akan berusaha menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Ini karena Allah. Aku masih mencintaimu Ilham,” lanjutku dan akhirnya ku tinggalkan gundukan tanah merah berhiaskan nisan yang tertulis “Muhammad Ilham Syafa’at. Wafat: 28 Desember 2012,”

Aku tahu cinta memang tak harus memiliki, tapi cinta tahu ke mana ia akan pulang dan berlabuh. Dengan ku genggam Al-Qur’an cokelat itu, aku berjanji akan mewujudkan cita-cita itu. Tunggu keberhasilanku menjadi penghafal Al-Qur’an Ilham. Apakah kamu bahagia sekarang? tunggu aku suatu hari nanti. “Hafidz-ku yang tak pernah bisa ku sentuh hatinya.”

Cerpen Karangan: Uwly Iffat
Facebook: Fafat Arifin
Nama Uwly Iffat Arifin Al Hasyimi bisa dipanggil Uwly atau Iffat. Tapi lebih sering dipanggil Uwly kalau lagi di sekolah. Umurku 16 tahun dan aku masih kelas XI bersekolah di MAN 1 Jember. Kalau hobi aku sih, lebih sering mengkhayal. Tapi, aku juga suka membaca dan mengoleksi berbagai buku.

Cerpen Al-Qur’an Cokelat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Ku Terlambat

Oleh:
Kriiing kriiing… suara jam weker pun membangun kan ku di pagi buta nan sejuk ini, aku terbangun kulihat jam terpusat pada angka 5 pagi. Aku langsung ke kamar mandi

My Autumn Boy

Oleh:
Hari itu aku bertemu dengannya, saat bunga sakura telah gugur dari pohonnya. Laki laki tinggi yang sedang bermain basket di lapangan. Aku menyukai sosoknya, aku menyukai senyumnya saat berhasil

Love From My Superhero

Oleh:
Siang hari di hari senin, aku sendirian di rumah karena ayahku yang seorang penceramah kondang sedang ada undangan di luar kota dan ibuku yah tentu saja sebagai istri yang

Barangkali

Oleh:
Kehidupan barangkali hanya berutar-putar dalam pusaran sebab-akibat, begitupun sebaliknya. Seperti … Aku diciptakan Tuhan dalam rahim Ibuku karena cinta. Ibu merawat dan menjagaku dalam kandungannya karena cinta. Aku dilahirkan

Bahagialah Untukku

Oleh:
Aku seorang pengawai negeri yang bertugas jauh di pedalaman papua, saat ini aku sedang menjalani hubungan jarak jauh (LDR) dengan seorang cowok yang berada di kota pare pare, salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Al-Qur’an Cokelat”

  1. Chintia Wardhani says:

    Assalamualaikum….ukhti cerpennya sangat bagus…penggunaan gaya bahasanya sangat indah…sukses selalu ya ukhti…

    • Uwly Iffat says:

      Waálaikumsalam..
      maklasih ukhti, makasih juga sudah baca cerpen saya.. InsyaAllah saya akan terus berusaha.

  2. Awal lina says:

    Assalamualaikum wr. Wb.

    Cerpennya menyentuh hati dan bagus sekali isinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *