Alzheimer

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

“Cinta yang sempurna hadir dan selalu mengingatkanmu tentang kejadian kejadian yang terlupakan oleh keadaan bukan meninggalkan saat keadaan membuatmu melupakanya” -Aku-

“aku tak pernah memahami semua getaran sampai aku temui getaran lain karena dirimu”
Aku bertemu dengan Liu ketika umurku 32 tahun. kemantapanku padanya membuat tekadku bulat meminangnya menjadi istriku. meski umurnya lebih tinggi tiga tahun dariku. pernikahanku berjalan dengan bahagia hingga di tahun kedua kami memiliki seorang putri cantik yang diberi nama Audhira.

Ketika usia pernikahan kami menginjak tahun ke empat dan Audhira berusia dua tahun, istriku tanpa sengaja meninggalkan putri kecil kami di dekat kolam renang. ia beralasan lupa. bukan hanya itu ia juga sering lupa mematikan kompor kala memasak, tidur di lantai kamar mandi dan lupa arah pulang ke rumah ketika habis berbelanja. aku menyadari keanehan keanehan pada diri Liu. hingga kutemui dokter untuk masalah ini. ketika umurku 38 tahun dan putriku Audhira empat tahun penyakit lupa istriku semakin menjadi. ia melupakan pernikahan kami dan masih menganggapku sebagai kekasihnya.

Pukulan pertama di pernikahanku. dokter menyatakan Liu terkena Alzheimer, penurunan daya ingat yang gejalanya dimulai saat ia berusia 30 tahun.

hari hari kami lalui dengan keyakinan, hingga sepuluh tahun berlalu. Liu sudah tak mengingat lagi hari ulang tahunku, atau hari ulang tahun pernikahan kami. aku membuat kamar kami seperti mading (majalah dinding) semua photo dan tulisan tulisan kenangan tertempel manis di sana. ia melupakan makan dengan sendok, menelannya, atau minum dengan gelas. aku tak pernah tahu kapan ia akan mengingat aku dan Audhira. tapi aku selalu mengingat cintaku besar untuknya. besar untuk selalu mengingatkanya pada cinta kami.

Saat Audhira lulus SMU umurku 52 tahun dan Liu 55 tahun. perusahaan yang kudirikan mengalami penurunan. aku tak mengkhawatirkan pendidikan Audhira karena telah mengasuransikanya hingga magister nanti. keadaan ekonomiku menurun drastis. dari rumah besar pindah ke sebuah rumah kecil.
Aku merasa akan sulit menyembuhkan Liu disini, segala memory kami ada di rumah besar itu. keadaan tak membuatku menyerah, aku menciptakan memory memory baru di kehidupan kami. meski dia tak mengingatnya. tapi aku berhasil menciptakan senyum pada guratan guratan wajahnya.

Enam tahun terlewat, Audhira telah menjadi seorang dokter. anak kami, kebanggaan kami. istriku tersenyum, meski di detik berikutnya ia akan lupa tersenyum untuk apa.

Esoknya. siang itu, matahari memancar dengan terang. aku bahkan tak menyadari senyum Liu kemarin adalah kebahagiaan terakhir yang mungkin akan dilupakannya. Alzhaimer itu menuntunya keluar rumah dan lupa menengok saat menyeberang. truk besar melindas tubuh mungil istriku hingga tewas.

Dan hari ini genap enam bulan kepergiannya dari sisiku. Aku masih melipat kertas origami burung yang kami buat untuk wisuda Audhira lalu. ada tulisan tangan di dalamnya 15 tahun lalu.

“Alvero sayang, banyak hal yang bisa membuat kebahagiaan hadir dalam hidup. dan kau memberikan banyak kebahagiaan dengan hadir di hidupku. banyak hal yang bisa membuatmu berpaling, karena kelak keadaan akan memaksaku melupakan segalanya tentang kita, tapi aku tahu kau takan melakukanya. dan karena aku tahu pula kebesaran sebuah cinta ia takkan meninggalkan cinta yang membalasnya”

Air mataku turun namun bibirku menyungging senyum.

“Kau melupakan segalanya karena keadaan. tapi aku akan selalu mengingatnya karena Cinta”

Cerpen Karangan: Dwi Kusuma Wardani
Facebook: Dwi Kusuma Wardani Purnomo

Cerpen Alzheimer merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seribu Burung Kertas

Oleh:
Saat pertama ia membuka mata, ia telah percaya bahwa Tuhan telah menulis jalan hidupnya. Mei sempat takut saat ia menginjakkan kaki di SMS 1 Valisia, sekolahnya begitu bersih besar

Kenangan

Oleh:
Dalam gelap dia selalu merenung, mencoba mengingat wajah sang kekasih dalam ingatan yang berwarna abu-abu. Dia wanita yang selalu mencoba bertahan dalam ingatan dan kenangan yang menyakitkan. Setiap malam

Luka

Oleh:
Menatap langit-langit atap kamarku membayangkan semua peristiwa yang terjadi, kenangan yang kau tinggalkan dan luka yang kau goreskan dalam hatiku. Masih sampai terasa perih sampai detik ini. Flashback. 19

Dua Sudut Pandang

Oleh:
– Rani Tak butuh waktu lama untuk mencintaimu. Dan membencimu, aaarrhh, butuh waktu seumur hidup untuk melakukannya. Sekarang aku sedang berada di titik terberat hidupku. Harus membenci seseorang yang

A Thausand Promise (Part 2)

Oleh:
Kali ini Tia menitikan air matanya. Kedua bola matanya tak sanggup lagi membendung air yang akan turun. Dia tahu sekali apa yang telah di alami Nia kini. Setelah membacanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *