Amy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 21 December 2014

“kenapa kau tidak datang?”
“maaf, aku harus menjaga toko kemarin. Lagipula bukankah kemarin hujan?”
“justru karena itu, aku kehujanan!, sudah berkali-kali kau ingkar janji, aku muak dengan itu!”
“Amy, maafkan aku”
Sepenggal pembicaraan kami lewat media penghubung maya terputus begitu saja. Aku kesal dengannya, aku harus menunggu selama dua jam dan akhirnya bertengkar dengan hujan yang melintas turun di depan halte anggrek tempatku biasa menunggu kopaja. Kami ingin bersua disana. Bukan hanya hari itu dia tidak datang, tapi di setiap saat dimana kami sudah mengumbar janji.

Dia teman chattingku. Sudah sekitar tujuh bulan aku berbagi duka dan tawa dengannya lewat deru ketikan di atas laptopku. Aku lebih suka membagi duka, tepatnya. Awalnya dia hanya mengirim pesan padaku, lewat salah satu akun media sosialku. Aku tidak mengenalinya, bahkan menyimpan prasangka buruk padanya. Tapi waktu seolah menjadi raja di singgasana kenyataan. Dia orang yang baik, bahkan selalu membuatku tertawa. Dia juga seorang pujangga gombal yang rajin mengirimiku beberapa syair puisi buatannya lewat email yang membuat senyum selalu mengutas di antara kedua pipiku.

Aku sudah tidak tahan lagi bertemu dengannya. Aku lelah hanya sebatas melihat wajahnya dari layar tipis berbalut mesin saja. Selalu kami berjanji ingin bertemu, tapi ia selalu ingkar. Dia tidak pernah menepati janjinya walau hanya untuk menunjukkan batang hidungnya saja. Lama-lama makin kesal aku dibuatnya, rasa penasaran serta decak kagum merona atas puisi-puisinya membuatku semakin gelisah untuk bertemu dengannya.

“Amy, maafkan aku. Kalaupun aku tidak bekerja di toko buku pasti kita sudah bertemu”
Kubaca kalimat itu mentah-mentah di layar laptopku. Sudah tiga hari aku sengaja tidak membalas pesan atau mengangkat telepon darinya. Seperti biasa, dia tidak mengirimiku puisi bila kami sedang seperti ini, dia akan kembali mengirimiku untaian kata yang terajut murni itu di kemudian hari. Sebenarnya aku juga tidak tahan jika sedang bertengkar dengannya. Banyak pesan yang sudah menumpuk di kotak masuk email maupun telepon genggamku. Tapi rasanya aku belum bisa memaafkaannya, walau masih tentang masalah yang menurutku tidak sepele kemarin.
“aku tidak suka orang yang gemar sekali ingkar”
“Amy, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk itu. Aku juga ingin sekali bertemu denganmu”
“bohong”
“sungguh Amy. Waktu hanya selalu menghalangi”
“itukan alasanmu” ketikku dengan menghentak. Bisa sekali dia membuat alasan.
“baiklah, kali ini kita akan bertemu”
“aku sudah malas”
“jam tiga di stasiun rabu depan, aku akan secepatnya pulang dari Jakarta untuk menemuimu”
“terserah saja”
“maafkan aku Amy, aku menyayangimu”
Aku berhenti sekejap sebelum mengirim kalimat balasan untuk kalimatnya. Ya, kami memang sudah saling mengakui perasaan kami. Waktu itu tepat jam sebelas malam dia menghubungiku lewat telepon dan langsung menyatakan perasaannya. Aku tak kuasa untuk menolak, atau terlalu ragu untuk menerima. Aku menerimanya, aku juga bilang kalau aku juga memiliki rasa yang sama padanya. Semenjak itu juga kami saling mengumbar janji untuk bertemu, dan menebar benci karena tak kunjung berjumpa.

Sekarang aku ada di stasiun. Di bawah langit-langit besar penahan hujan yang sedang turun. Aku menunggunya dari jam dua, tapi sekarang sudah lewat pukul empat. Hujan masih turun, aroma ngiup tanah yang basah sempat meredakan amarahku untuk menunggu sedikit lebih lama lagi. Aku memang tidak mengenalnya secara langsung, kami cuma teman chat, yang sering bertukar informasi lewat rantaian kabel-kabel yang dibarengi harap-harap cemas dan salam rindu.
Aku jadi ingat puisinya. Puisi-puisi tentangku olehnya bahkan kujilid agar mudah untuk dibaca jikalau aku merindunya. Cukup banyak puisi yang ia kirimkan untukku. Dia juga senang mengirimiku harapan-harapan padanya akan kami yang semakin membuatku menaruh cinta padanya. Aku tidak gila, banyak juga laki-laki yang masih ingin menjalin kasih denganku. Tapi aku memilihnya, memilih seorang penjaga toko buku, yang bahkan tak pernah sekalipun aku lihat.

Kereta demi kereta sudah lalu lalang di depanku. Menurunkan jejal penumpang dan berganti pada jejal lainnya untuk diangkut. Suara-suara khas kendaraan beroda besi itu membuatku terlamun dalam waktu. Hujan masih sempat menetes di balik celah-celah kecil angkasa. Aku masih meratap menunggu kereta yang lain datang dari arah Jakarta, menunggu raut wajah yang selama ini aku impikan dalam layar tipis di dunia maya. Sudah pukul delapan, delapan malam. Dia tidak datang lagi, dia berbohong lagi.

Kutapaki jalan dengan sendu ke rumah. Terdapat puluhan sms dan panggilan tak terjawab di telepon genggamku yang dari tadi bergetar. Tercantum, mama, kakak, teman kerjaku, teman kerjaku yang lainnya, dan, dia. Aku muak melihak pesan darinya, apanya yang memimpikan harapan besar kecuali kenyataan kecil yang sangat pahit pada akhirnya. Aku benci melihat namanya tertera di layar sentuh yang lumayan besar itu. Kucabut kartu dari benda itu lalu aku putuskan untuk menghabiskan malamku di hiruk pikuk jalanan, di antara gemerisik daun yang tersapu angin yang mulai basah.

Aku mencelupkan kakiku ke kolam kecil berisi ikan koi mungil yang berwarna-warni. Aku sendirian sekarang. Rony masih sekolah. Dia biasa pulang sekitar jam lima sore sementara jarum pendek di rumahku masih menunjuk arah tiga. Anakku itu sama persis dengan ayahnya, dia sangat mandiri sampai tidak mau aku jemput jika ia pulang dari sekolahnya. Padahal aku sangat khawatir, dia masih kelas lima sekolah dasar, mungkin saja banyak yang akan terjadi di tengah perjalanan ia pulang. Tapi ia tetap memaksa. “aku akan pulang sendiri ma” begitu katanya.

Lamunan di riak air kolam itu membuatku terkantuk. Entah sudah berapa jam aku disitu.
“ma, mama, Rony pulang” sayup-sayup suara memanggilku di balik pintu depan. Segera aku bergegas berdiri dan mencari kunci pintu.
“iya, maaf tadi mama di kolam” sambutku setelah pintu sudah lapang terbuka.
“ma, tadi di jalan Rony ngeliat ada kecelakaan, depan gang rumah kita ini”
“ya ampun, kamu nggak kenapa-kenapa kan tapi?” ucapku mengkhawatirkan Rony.
“Rony ngeliat pas baru turun dari angkot ma. Kata orang-orang dia habis dari warung, baru aja jalan lagi dari warung itu motornya langsung ditabrak truk pasir yang biasa lewat sekitar sini ma” cerita Rony memburu.
Aku mengernyit sambil tersenyum. Bukan senang karena kecelekaan itu, tapi melihat antusias Rony yang begitu memburu. Aku menyuruhnya berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan seperti itu padanya. Rony mengangguk kecil dan menghilang di sela pintu kamarnya di ujung ruang tamu. Aku juga kembali ke kamarku untuk mematikan komputer yang masih menyala. Aku baru melihat-lihat akun sosialku dan media-media sosialku yang lain tadi siang. Rindu aku mengingat masa-masa itu. Tidak pernah terbayangkan aku yang selalu mengetik ria di depan layar laptop akan beranjak dewasa sampai akhirnya memiliki keluarga sendiri.

Aku berniat menghapus semua akun-akun itu. Bagiku, masa-masa itu sudah lewat. Biarkanlah kenangan itu aku kubur dalam-dalam, lagipula aku masih punya telepon genggam di kantongku. Mulai dari email yang pertama kali aku buat, karena total ada empat email yang aku miliki. Aku sangat mudah membuat email baru jika ada sedikit masalah di akun itu. Entah itu seseorang yang menghinaku, atau apapun itu yang membuatku kesal.

Email pertama sudah kuhapus. Barusan aku melihat-lihat bekas-bekas pesan yang dulu menghubungkan aku dengan banyak temanku yang akhirnya menjadi kenangan. Aku tertawa sampai akhirnya menangis dibuatnya. Aku beranjak untuk menghapus email kedua, isinya pun kontras membuat mataku awet menggenang basah. Sisa pesan dari kakakku di eropa yang waktu itu masih bersekolah disana. Isi saat dia menitipkan doa untuk ibuku yang meninggal yang tidak lama disusul ayah. Saat kematian ayah, seminggu setelahnya dia langsung pulang dan memberitahuku dia akan melanjutkan studinya di Indonesia, dia tidak ingin kehilangan aku juga jika ia tak pulang menjagaku.
Sekarang aku berselancar di email ketiga. Senang rasanya membuka lagi pesan-pesan di email ini. Banyak dari mantan-mantan pacarku dan para pria yang ingin mendekatiku di kotak masuk email ini. Setelah sampai cukup bawah aku membaca, nafasku tertahan segenap. Ada beberapa email baru yang ternyata belum sempat aku baca. Aku tertegun melihat nama pengirimnya. Sudah lama sekali.
“Amy, apa kabarmu?, aku sudah lama menunggumu. Aku harap kau selalu sehat dan baik-baik saja. Sudah kau selesaikan membaca ebook ‘Jingga di langit pekat’ yang kukirimkan padamu? Ah mana mungkin ya, Aku lupa kau tidak suka membaca. Tapi sesekali bacalah, aku tahu kau akan suka isinya. Amy, sekali lagi, maafkan aku. Kau tahu, aku menyayangimu. Mungkin mencintaimu. Percayalah, aku akan menunggumu dan menemuimu. Jadi dimanapun kau berada Amy, baik-baik ya kau disana”.
Penggalan terakhir dari email itu membuatku lemas. Itu email terakhir yang dikirimkannya setengah tahun lalu saat aku melihat waktu pengirimannya. Aku tidak menyangka dia masih mengirimiku pesan selepas kejadian itu. Kejadian yang membuatku membencinya. Masih banyak email darinya yang aku buka satu persatu. Dia menceritakan tentang kabarnya dan menyuruhku tenang karena dia baik-baik saja. Dia masih bekerja di toko buku waktu itu, yang aku pun tidak tahu dimana keberadaannya. Dia juga bercerita dia masih suka mengingatku dan menungguku di stasiun. Berharap aku membaca pesannya untuk bertemu di sana lagi.
Aku menitikkan air mata, aku tidak mengira sedikitpun dia masih mengingatku bahkan masih setia mengirimi pesan padaku. Mungkin juga ke nomorku yang sudah aku patahkan kartunya.

“ma, papa pulang” teriak Rony memecah isak kecilku. Aku segera menghampiri mereka.
“ma, tadi warung di depan gang itu banyak banget yang ngomongin soal orang mati kecelakaan” ucap suamiku pelan.
“iya pa, Rony ngeliat kejadiannya malah. Mas-mas pa yang kecelakaan”
“oh gitu, katanya dia lagi nyari alamat. Bang maman yang ditanyain aja kaget bisa kecelakaan. Papa tadi ke warungnya” lanjut suamiku sambil melonggarkan ikatan dasinya yang sudah lusuh.
“namanya Asgar, kata bang maman dia nyari alamat di sekitar perumahan bumi indah, bekas perumahan kamu dulu, ma” aku tersentak dibuatnya seketika.
“Asgar?” teriakku dalam hati. Asgar yang barusan kubaca semua pesannya? Asgar si pujangga maya? Asgar si pengingkar? Diakah yang ditabrak truk di depan gang itu? Gila. Tidak mungkin. Tidak akan mungkin. Tidak akan untuk mungkin.

Malam masih saja remang. Aku terbangun dari lelapku barusan. Ikan koi yang mungil itu sepertinya sudah kenyang. Sisa makanan mereka tetap saja mengambang tanpa selera sedikitpun mereka melahapnya. Aku juga sepertinya sudah tidak tahan melawan dingin, kakiku mulai tampak kebiruan di dalam air kolam yang kecil itu. Aku menyisakan sedikit memoriku untuk mengenangnya sekali lagi, tentang dia, pria yang tidak pernah aku temui. Puisi yang terakhir kali ia kirimkan masih aku ingat dengan jelas. Hanya bagian terakhirnya tepatnya. Dia membicarakan tentang embun di ranting pagi. Sudah lama sekali. Sangat lama bahkan untuk diingat.

setiap pagi aku menantimu
melihat angkasa seraya berdoa kau muncul di sela tubuhku
tapi hujan turun lagi
membuatmu yang baru datang itu
lenyap dalam cucuran air yang lebih menderu
– UNTUKMU YANG TERCINTA, AMY

Cerpen Karangan: Orlando

Cerpen Amy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Bersamamu

Oleh:
Senja mengingatkanku akan segalanya. Mengingatkan akan pertemuan tak sengaja di senja yang diiringi gemercik air hujan, perkenalannya, caranya memulai pendekatan dan semua tentangnya. Hingga fajar terbit di kemudian hari

Pergi Yang Tak Pernah Kembali

Oleh:
Hidup bagimu seperti sebuah labirin yang kau harus berjalan di dalamnya, meskipun lelah kau harus tetap berjalan untuk bisa keluar dari labirin itu agar kau dapat bertahan hidup. Tidak

Penantian Tiada Akhir

Oleh:
Gadis cantik berambut panjang duduk termenung menatap danau yang sepi dan tenang, angin berhembus menerpa tubuhnya yang masih mematung di sisi danau. Ia memutar otaknya dan membayangkan kembali 3

Rintihan Di Balik Atap Kumal

Oleh:
Belasan itik bergerombol, berbaris rapi memasuki kandang kumuhnya. Bersuara seakan sedang menyerukan kesenangannya. Terlihat seorang wanita tua mendekati kandang itu dengan ember dedak di tangannya. Dia berbicara lembut kepada

Hari di Awal Ketiga

Oleh:
“kring.. kring.. kring” Suara jam beker kolot itu membangunkan tidur malamku yang kelam. Huh, suara nyaringnya membuat telingaku sakit, lalu reflek kubuang jam beker itu entah kemana dan bergegas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *