Anjani

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 3 June 2017

“Maaf.” Kata Anjani sambil memegangi bahu Panji yang sudah membelakanginya. “Maafkan aku!” Terserak suara Anjani terdengar antara ingin menangis dan berteriak. Sementara Panji tetap membelakangi Anjani dengan kedua tangan dilipat di dada.
“Aku salah, tapi bukankah itu karenamu, Kang?” Duduk bersimpuh Anjani di belakang kaki Panji sambil tersedu-sedu.
“Aku wanita dengan seribu gairah, aku … aku … tak dapat menahan godaan birahi yang begitu mendidihkan seluruh darah hingga tubuhku terguncang.” “Lalu apa salahku? Kau memang bin*l.” Panji berteriak sambil menunjuk-nunjuk pada Anjani yang berada di bawah kakinya. Kau selalu menolakku, kau selalu menghentikan setiap debur ombak di samudera luas. Kau selalu menghindariku. Kau sengaja menghinaku dengan bersikap dingin hingga seribu purnama.” Anjani melakukan pembelaan.
“Seharusnya kau mengerti aku.” Jawab Panji masih dengan nada kasar.
“Aku mengerti, Aku sangat mengerti. Bukankah aku setia selama ini? Hanya kali ini, aku mohon maaf padamu dengan berlutut … aku khilaf, Kakang, laksana hujan yang tak pernah menyapa ke bumi tiba-tiba dia datang membasahi tanah yang sudah meretak kekeringan terlalu lama. Aku manusia biasa, aku tak kuasa menahan segala godaan meski nista. Aku salah. Maaf … maaf … maafkan aku.” Semakin deras air mata Anjani membasahi kedua pipinya, sambil bersimpuh memegangi kaki Panji berharap agar Panji mau memaafkan atas 1 kali khilafnya.
Namun, Panji tak menggubris, dia berlalu sambil meludahi Anjani. Anjani hanya bisa menangis sepajang malam itu, sesekali dia berteriak.

“Jaka!” “Jaka!” “Mana janjimu? Panjiku telah meninggalkanku karena aku memilih menuruti rayuanmu.” Menggerung, terisak Anjani dalam segala kekalutannya. “Jakaaaaaa!”
Sementara itu, dalam kekalutannya Jaka berusaha menekan seluruh perasaan yang mulai menyesakkan dada. Ada perasaan kalut setelah apa yang terjadi dalam pertemuan dengan Anjani kala itu. Dalam penjara Adipati Panji, Jaka merenungi kisah kasihnya.
“Ini memang pantas kudapatkan, aku pun tidakan menyesali apa yang akan kutanggung kelak”. Gumamnya lirih, pandangan matanya jauh menerawang menembus jeruji besi yang mengurung diri dan kebebasannya.

Suara langkah kaki para penjaga membuyarkan lamunan.
“Persiapkan dirimu menghadapi persidangan!” Sapa seorang penjaga… suara itu terdengar tegas.
Berderit pintu besi yang dibuka oleh salah seorang penjaga, sementara dua orang bertubuh kekar menghampirinya.
“Ulurkan tanganmu!!”
Dengan kasar mereka memakaikan borgol di kedua pergelangan Jaka.
“Inilah perhiasan para pesakitan, orang yang telah melanggar norma dan menerobos batasan dari aturan yang telah ditetapkan.” Ejek seorang pemjaga pada Jaka dengan senyuman sinis.
“Jaka… seorang yang bersalah karena memiliki hati, bersalah karena memiliki perasaan cinta dan dipersalahkan karena tak mampu memendam rasa.” Begitu seorang Jaksa menuntut Jaka yang duduk tertunduk di Balairung Kadipaten.

Layaknya psikopat, pembunuh keji tanpa hati Jaka digelandang ke lapangan Kadipaten dan digiring seperti hewan buas yang siap menerkam siapapun hingga gelang baja berantai harus dikenakan supaya mengurangi ruang geraknya.
“Ayo jalan”. Lagi lagi suara bentakan penjaga memecahkan keheningan.
“Ohh.. begitu besarkah kesalahanku, hingga sedemikian mereka memperlakukanku.” Bayang-bayang hukuman memenuhi ruang dalam pikiran jaka.
“Bersalahkah aku yang mencintai Anjani, bukankah mereka juga terlahir dari rasa ini?” Jerit hati Jaka, tetapi hanya tertahan di tenggorokan, sedangkan air mata tak sanggup untuk dibendungnya lagi.

Anjani masih menangisi nasibnya sampai malam-malam berikutnya, dan itu sudah berlangsung 3 purnama. Tubuhnya yang dulu berisi kini sudah tulang berbalut kulit. Airmatanya sudah kerontang hingga yang ada hanya tatapan kosong mengiringi suara tangisnya. Kedua kakinya terpasung. Aroma bunga melati dari tubuhnya telah berubah menjadi aroma bunga bangkai.
“Jaka, bilakah kaudengar tangisku.” Hati Anjani berbisik.
“Tahukah engkau pujaan hatiku, kini aku terpasung karena cinta semumu?” Guratan-guratan di wajahnya memancarkan konflik batin yang mendalam.
“Hadirmu meluluh lantakkan segala keyakinanku tentang kesetiaan dan pengorbanan tanpa batas akan berbuah sorgaloka.” Berteriak keras Anjani dalam klimaks kekalutannya.

Di ruang bawah tanah Kadipaten, Jaka masih bergumung dengan siksa dan penjaranya karena egonya mempertahankan kasih dengan Anjani, sedangkan keduanya sudah tak lagi lajang. Derita yang dia alami tak pernah sampai ke telinga Anjani, sebaliknya Jaka pun demikian, Anjani yang sudah lari kesadarannya tak pernah Jaka ketahui.
Hanya malam, angin, bulan, serta bintang gemintang ramai saling bercerita tentang kisah sepasang kekasih ini yang terpikat karena aksara awalnya.

“Dinda, Kangmasmu ini akan selalu berada di sisimu meski harus merenangi samudera yang penuh dengan paus dan hiu pemangsa sekalipun.” Bisik Jaka pada suatu malam di peraduan Anjani pada malam temaram.
Anjani mengangguk ringan sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kekasih gelapnya, Jaka, pemuda yang diperkerjakan Panji sebagai Pengawal pribadi Anjani, selir ke-7 Panji. Jaka mengecup kening Anjani dengan lembut, dan Anjani membalas kecupannya pada bibir Jaka. Darah Jaka seketika mendidih, degup jantungnya sudah tidak berarturan. Segala hasrat tertumpahkan tanpa bisa dibendung. Meledak-ledak Jaka dan Anjani menarikan kasihnya yang kian membara karena deras hujan dan riuh angin serta kilatan guntur di luar kamar menyamarkan deru napas dan desah kedua insan yang tengah dilupakan oleh dedemit bertopeng kasmaran.
Itulah awal dari kesengsaraan yang diderita Anjani dan Jaka. Mereka dilaporkan kepada Panji oleh pelayan wanita yang tanpa sengaja memergokan tarian er*tis keduanya di kamar itu saat malam dan hujan menghujam bumi.

“Tidak ada dosa tanpa balas.” Geram Panji sambil memukulkan tinjunya pada sisi kursi yang didudukinya.
Kini Anjani dan Jaka tetap tak bergeming di ruang gelap menebus dosa cintanya entah sampai kapan.

Cerpen Karangan: Iis Nia Daniar
Facebook: Daniar

Cerpen Anjani merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terbawa Hembusan Angin

Oleh:
Di sudut kamar kududuk termenung, menatap indahnya langit malam ditemanin pancaran cahaya bulan yang hangat. “Akankah sang pujaan hati menghampiriku, akankah sang pangeran cinta itu ada. Hmmmm” aku berdetak

Lagu Terakhir

Oleh:
“Aku terlahir dan hadir, tiada lain hanyalah untukmu, kutercipta dan ada ka’rna kaupun selalu ada, satu yang kupinta darimu, tetaplah seperti yang dulu, selalu setia menanti hadirku…” Itu sepenggal

Terlambat Kusadari

Oleh:
Kinanti menghempaskan tubuhnya pada bangku taman. Kamera yang menggantung di dada kini berada dalam genggamannya. Sementara Sundara masih menatap penasaran menunggu jawaban Kinanti. Pertanyaan demi pertanyaan bergerak menghantui pikiran

Menunggu Pinangan Kaleo

Oleh:
Sudah selama setahun aku menunggu kehadirannya. Tak sedikitpun ada aroma tubuhnya yang tercium disekitarku. Mungkin aku akan putus asa jika dia tak berjanji untuk menemuiku. Tapi untuk saat ini

Tak Semanis Cupcakes

Oleh:
Minggu pagi sekitar jam sembilan, pesawat telepon di Sweet Cake Shop berdering. Operator menjawab panggilan itu dengan ramah dan sopan. Seorang wanita paruh baya bernama Martha menanyakan pesanan kue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *