Ann

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 30 June 2016

Pistol di genggaman Theo jatuh seketika. Sosok wanita impiannya mati karena peluru yang ia lepaskan 2 detik yang lalu. Sedangkan, Andrea terdiam. Mata perempuan di hadapannya sudah tak bercahaya lagi. Untuk apa perempuan ini menjadikan tubuhnya sebagai tameng hidup bagi Andrea?. Barangkali karena Andrea lah orang yang ia cintai.
“Kau puas? kau yang mencintainya dan kau yang membunuhnya. Bukan dia yang salah atas kematiannya, tetapi kau. Kau ingin membunuh kebahagiaannya. Dan ia melindunginya”. Tubuh Theo menegang saat mendengarkan ucapan Andrea yang licik, namun ada kebenaran di dalamnya.
“Aku mencintaimu. Maafkan aku. Aku mohon, hiduplah kembali” Theo berlutut lalu memeluk erat jasadnya.
Andrea membisu, kali ini ia gagal melindungi segalanya.

“Ann, aku mengorbankan segalanya untukmu. Hanya ini balasanmu? Aku mohon, beri aku alasan. Kenapa kau lebih memilih Andrea yang sudah jelas menghancurkanmu?”
“Theo, kau belum paham apa arti memilih dan cinta” Ann menatap Theo dengan tenang, membuat Theo merasa bersalah.
“Hentikan kiasanmu, Ann”
“Itu bukan kiasan, itu jawaban”
“Kau tahu Ann? bagaimanapun, aku masih tetap menunggumu”
Theo berlalu dengan wajah yang kusut, sedangkan Andrea hanya terdiam kaku di lantai 2.

“Kau yakin ingin bersamaku? Kau tak takut jika aku menyakitimu?” Ann sedikit terkejut dengan Andrea yang membuyarkan lamunannya.
“Jelaskan maksudmu. Apa yang kau maksud dengan pilihan dan cinta?”
“Itu semua tergantung dirimu, bagaimana kamu menerkanya”
“Ann, aku ingin pemahamanmu”
“Kau ingin pemahamanku atau diriku?” Andrea tertawa ringan.
“Kenapa kau mau hidup bersamaku?” mata hijau Andrea menerpa wajah polos Ann, ia ingin melihat kejujuran Ann.

Angin dari danau dan bukit di balik rumah Ann dan Andrea menambah suasana damai di rumah mereka. Sunset yang membuat langit berwarna oranye, suasana damai, rumah yang nyaman, dan indahnya pemandangan membuat Andrea merasa sempurna, ditambah dengan Ann di hidupnya, ia merasa sebagai lelaki paling beruntung sedunia.

“Kau selalu menanyakan itu di balkon dan saat sunset. Padahal kau tau jawabannya” Andrea berani bersumpah, tawa Ann lebih memukau daripada pemandangan sunset di balkon rumah mereka.
“Kau masih mencintaiku kan?” canda Ann.
“Tidak, maksudku, aku selalu, bukan masih. karena selalu itu selamanya, dan masih itu mempunyai jangka waktu dan pasti ada akhirnya”
“Kau gagal membuat kiasan sepertiku, Andrea” Ann bersandar di pundak Andrea. Andrea sendiri bisa merasakan rasa nyaman Ann saat ada bersama Andrea.
“I will always love you, not still love you” Ann tertawa mendengar penegasan Andrea. Ann menenggelamkan tubuhnya di tubuh Andrea.

“Ann, kau tidak pernah merasa jahat pada Theo? kau ingat 5 tahun yang lalu saat kita menikah?”
“Ya, dia hampir merusak acara pernikahan kita”
“Tidak Ann, dia hampir merusak sejarah dan masa depanku”
“Aku salah, dia sudah merusak keyakinanku” sambung Andrea, Ann melepas pelukannya, namun Andrea tetap melingkarkan tangannya di pinggul Ann. Ia tak ingin Ann kabur dari pembicaraan seperti biasa.
“Kau tak yakin padaku?”
“Tidak Ann, aku hanya tidak yakin pada diriku sendiri, aku rasa dia lebih layak untukmu. Dia terus mengejarmu sejak kau berusia 7 tahun. Dan, dia masih menyukaimu. Dia berjuang untukmu selama 22 tahun. Selama ini, hanya kau perempuan yang ia kejar. Aku tau itu, aku sahabatnya”
“Dia, terlalu banyak yang ia korbankan untukku. Aku belum sempat melakukan hal yang sama padanya” sambung Andrea.
“Andrea, aku rasa kau belum mandi. Bicaramu tak tentu arah. Cepat mandi, aku tunggu di sofa”
Andrea mengangguk.

Langit sudah berwarna merah, suara burung burung dan pepohonan membuat Ann bernostalgia dengan memori menyedihkan. Ann tau, Theo menyukainya sejak masa Sekolah Dasar. Tetapi Tuhan berkehendak lain, Ann tidak bisa jatuh cinta pada Theo namun kepada sahabat Theo, Andrea. Awalnya Andrea dan Ann mengadakan pernikahan itu di asal tanah kelahiran ibu Ann, London. Namun, tiba-tiba Theo datang menyusul mereka dan hampir menghancurkan pesta pernikahan. Untunglah, ada polisi menangani aksi nekat Theo. Setelah menikah, mereka menempati apartemen Ibunya di New York. Namun, Theo berhasil melacak mereka. Sudah 4 kali mereka berdua berpindah rumah untuk menghindari kejaran Theo, namun Andrea dan Ann menyerah. Ia membiarkan Theo mengunjungi Ann setiap sore. Kalaupun Theo tidak dapat menemui Ann, Theo akan menunggu setibanya Ann.

“Ann, kemeja putih dan hotpant itu memang cocok kau pakai, kapan kau mengganti pakaian?”
“Saat kau di kamar mandi, seharusnya aku jadi model, kan?”
“Tinggimu hanya 175 centimeter. Aku rasa kau harus melampauiku terlebih dahulu, kau pasti menjadi supermodel”
“Menaikkan tinggi badan 16 centimeter bukan hal yang mudah, Andrea” Ucap Ann sambil menyuapkan buah jeruk pada Andrea.
“Kau menyuapiku buah jeruk saat hujan deras?”
“Meskipun saat hujan, kau harus tetap menjaga tubuhmu. Bukan berarti saat hujan hanya tidur aktivitas yang terbaik”
“Oh Ann! itu yang terbaik sekarang. Ayo!”
Ann berdiri diiringi dengan senyuman manis. Lalu cahaya berwarna oranye melintasi ruangannya, rupanya cahaya lampu mobil.

“Andrea, ibumu mengunjungi kita?”
Andrea mengangkat kedua bahunya, lalu berjalan menuju ruang tamu.
“Ann, itu mobil Theo” Andrea menyilangkan kedua tangannya, menunggu keputusan Ann.
“Jangan buka gerbangnya, semua pintu dan jendela sudah kita tutup, bukan?”
Andrea mengangguk.
“Ayo kita pura-pura tertidur” Sambung Ann.
Ann dan Andrea berlari menuju lantai 2, lampu ia biarkan menyala agar Theo tidak merasa curiga.
“Ann, aku rasa kau terlalu berlebihan” Andrea tertawa geli.
“Berlebihan apa?”
“Kau tidak perlu memelukku dan menenggelamkan badanmu di selimut. Tunggu sebentar, kau dengar itu?”
Ann melepaskan pelukannya lalu keluar dari selimut merah yang tebal dan hangat itu mengikuti langkah Andrea.
“Ann, Lihatlah sebentar”
“Theo? sekarang hujan lebat, kenapa dia begitu bodoh?”
“Ann, kau harus menemuinya”
Ann terdiam sambil melihat ke arah Theo yang membawa banner bertuliskan “Ann, aku ingin bertemu denganmu”
“Andrea, kau saja”
Andrea menghela nafas, lalu turun menuju garasi untuk menekan tombol open pada remote control.
Andrea terdiam menunggu Theo memasuki rumahnya.

Gerbang telah terbuka sepenuhnya, mobil Theo sudah berada di halaman.
“Ann!” Sapa Theo setelah membuka pintu setinggi 2,5m itu.
“Oh, kau rupanya Andrea” Theo mengerutkan kening dan mempertajam matanya, tanpa sungkan ia menduduki sofa dan menaruh kakinya di meja.
“Andrea, padahal kau dulu kuanggap adikku sendiri. Dulu kita sahabat, bahkan kau tau aku menyukai Ann. Tapi kau menikahinya. Aku sudah membantumu mengerjakan soal, melindungimu dari geng Eric, membantumu membohongi ibumu, dan aku mengorbankan waktu terakhir bersama ibuku hanya karena kau demam. Kau, apa yang membuatmu sempurna di mata Ann?”
“Oh ya, dimana Ann sekarang?” Theo bangkit dari duduknya lalu memeriksa setiap ruangan, mencari Ann. Sedangkan Andrea hanya terdiam kaku.
“Maaf Theo. Aku bukan sahabatmu. Aku belum bisa memberimu apapun” Ucap Andrea dalam hati.
“Ann, dia di lantai 2?” Tanya Theo dengan nada bercanda dan tatapan mengejek.
“Doakan aku berhasil” sambungnya.
Ann bisa mendengar suara Andrea dan Theo saat berbicara. Ann tidak tahu harus berlari kemana, karena di lantai 2 hanya terdapat kamar dan balkon.
“Hai Ann”
“Kau tampak berantakan, dan juga, kamar ini”
“Ini kamar yang indah dan luas” Ann belum mengeluarkan satupun kata, ia biarkan Theo berbicara.
“Ann, maaf. Tahun depan aku berencana membuat rumah di Arizona. Aku lupa belum memberitahumu kalau, aku dedikasikan rumah itu untukmu”
“dan, rasanya rumah itu tidak lengkap tanpa kehadiranmu Ann”
“Kau mau terus hidup bersama orang yang menggantungkan hidupnya pada komputer? sekarang aku akui dia sukses tapi, bagaimana dengan besok atau seterusnya?”
“Ann, aku bisa memberimu segalanya. Aku ingin kau hidup layak. Kau tidak bisa hidup di rumah ini, aku rasa rumah ini mudah dirobohkan”
“Theo, rumah ini tak akan mudah roboh karena kami memiliki hal yang membuat rumah ini tetap berdiri” jawab Ann.
“Theo, tadi sore kau sudah mengunjungiku. Kau akan sampai di rumahmu pagi hari kalau kau tetap di sini. Pulanglah, aku menghawatirkanmu”
Ann memeluk Theo, berharap hatinya luluh dan menuruti permintaannya. Theo mengangguk.
Sebelum Theo meninggalkan mereka, Theo melempar senyum mengejek.
“Kau mencintai Ann tapi kau tak bisa memberinya apa-apa. Pengecut”
“Ann, dia pasti jadi milikku” sambungnya.
Andrea merasa heran dengan dirinya sendiri, kenapa ia tertekan dengan ucapan Theo 5 tahun terakhir, dan kenapa Andrea tidak terbiasa dengan hal itu.
“Ann, ayo melarikan diri sekali lagi, Aku masih memiliki uang untuk membeli rumah yang baru.” Ann mengangguk lalu membenamkan tubuhnya di pelukan Andrea.

Sudah 4 tahun ini Ann dan Andrea berada di Kanada. Untunglah Theo tidak mengetahui rumah Ann dan Andre sekarang.
“Kau sudah berusia 33 tahun tapi tetap terlihat cantik, Ann. Rambut pirang dan mata abu-abumu semakin terlihat indah” Ann hanya tersenyum.
Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari halaman depan. Wajah Theo yang marah terlihat dari kaca di lantai 2. Theo menembak pintu depan dengan ganas.
“Andrea! Bagaimana ia bisa tahu?” Ann mencengkram lengan Andrea.
“Ann, ayo. Kita harus pergi” Andrea memegang erat tangan Ann dan membawanya berlari menuju pintu halaman belakang.
Theo berhasil membuka pintu, ia meneriakkan nama Ann berulang kali dan mengancam apabila Ann tidak mau bertemu dengannya, Andrea akan menjadi korban.

Ann dan Andrea merasa sial, ia tidak memiliki tetangga di sini, tetapi hutan lebat yang berada di belakang rumah mereka menjadi satu satunya pertolongan. Ann tersungkur, lututnya berdarah, sedangkan Theo yang seolah tau kemana arah mereka pergi terus berjalan sambil melepaskan tembakan ke langit. Andrea membawa tubuh Ann di punggungnya, lalu berlari menuju desa setempat untuk meminta pertolongan, Andre memilih melewati hutan untuk menghindari tembakan dan setidaknya dapat menghambat Theo.

“Andrea, lututku baik-baik saja, turunkan aku sebentar!” Andrea menurutinya, lalu kembali berlari sambil menggenggan erat tangan Ann. Suasana senja membuat Andrea dan Ann selalu merasa damai. Tapi tidak saat ini, Theo melepas tembakan di belakang sana, Andrea tidak tahu pasti berapa peluru yang Theo tembakkan. Andrea tahu jarak Theo dan mereka sudah dekat, Andrea menarik Ann ke dalam lubang seperti gua, Ann meringis karena kuman ikut masuk ke dalam lukanya. Andrea menempatkan jari telunjuknya di depan mulut, Ann mengangguk.

Suara langkah kaki terdengar begitu dekat. Theo yang memakai kemeja biru dengan dasi dan rambut yang berantakan menghentikan tembakannya. Theo tahu bahwa Ann dan Andrea di sekitarnya, namun Theo tidak tahu dimana mereka bersembunyi.
“Ann, Andrea. Keluar sekarang!! Jika pada hitungan ke tiga kalian tidak keluar, aku bersumpah akan membantai orang tua kalian. Aku bersumpah akan membunuhmu juga Ann!”
Dengan spontanitas Andrea keluar dan menghadap Theo, Ann melakukan hal yang sama dengan Andrea.
“Kalian, Oh! Ann. Aku ingin kau membuat pilihan. Kau memilih aku membunuhnya atau keluarga kalian?” Theo mengacungkan pistol tepat di depan dada kiri Andrea.
“Theo, apa untungnya kau membunuh mereka?” Ann menenangkan.
“karena aku ingin memilikimu Ann. Aku ingin kau menjadi milikku” Buliran air menetes dari dahi Andrea dan Theo, Ann masih ingin bersikap tenang di hadapan Theo.
“Theo, maafkan aku. Aku memilih Andrea, masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik dariku”
“Ann, manusia sepertimu hanya satu. Kau dan ucapanmu, kau dan dirimu, kau dan sikapmu, kau dan kelemahanmu, tak bolehkah aku memiliki semua itu?”
“Kau memilikiku Theo, kau memilikiku sebagai sahabat”
“Tapi bukan itu yang aku harapkan Ann! Perasaanmu, aku ingin memilikinya”
“Kau memiliki perasaanku Theo” Andrea membiarkan Ann dan Theo berbicara, Andrea tau ikut campurnya takkan membereskan apapun.
“Jangan katakan aku memiliki perasaanmu sebagai sahabat Ann!”
“Jika membunuhnya, apakah kau akan mencintaiku?” Sambungnya.
Ann terdiam, Theo benar-benar gila saat ini. Theo melepaskan tembakan ke arah Andrea, namun tubuh Ann menghalangi, peluru itu memasuki tepat di jantung Ann.
Pistol di genggaman Theo jatuh seketika. Sosok wanita impiannya mati karena peluru yang ia lepaskan 2 detik yang lalu.Sedangkan, Andrea terdiam. Mata perempuan di hadapannya sudah tak bercahaya lagi. Untuk apa perempuan ini menjadikan tubuhnya sebagai tameng hidup bagi Andrea?. Barangkali karena Andrea lah orang yang ia cintai.

“Kau puas? kau yang mencintainya dan kau yang membunuhnya. Bukan dia yang salah atas kematiannya, tetapi kau. Kau ingin membunuh kebahagiaannya. Dan ia melindunginya”. Tubuh Theo menegang saat mendengarkan ucapan Andrea yang licik, namun ada kebenaran di dalamnya.
“Aku mencintaimu. Maafkan aku. Aku mohon, hiduplah kembali” Theo berlutut lalu memeluk erat jasadnya.
Andrea membisu, kali ini ia gagal melindungi segalanya.
Theo terlihat histeris, ia terus memeluk Ann dan memohon agar Tuhan menghidupkannya kembali.
“Kau, Dia istrimu BODOH! Kenapa kau hanya diam di sana? Dia istrimu dan kau tidak menangis? Seharusnya kau melepasnya untukku jika kau saja tak menangis kehilangannya”
“Kau mengakui dia istriku, tapi kau berusaha merebutnya. Aku tidak menangis untuknya, aku belum menyiapkan air mata untuk kepergiannya karena aku tidak pernah mau memikirkan jika ia pergi. Aku tidak akan melepaskannya Theo”

Kini Theo harus mendekam di penjara walaupun ia terbukti mengidap gangguan psikologi. Dan Andrea menjalani hidup normal sendirian. Ann sudah dikubur di halaman belakang rumahnya. Andrea adalah orang yang sangat berduka atas kematian Ann. Raga Ann memang terkubur di dalam tanah, namun jiwa dan perasaan Ann tetap bersama Andrea.

Cerpen Karangan: Luther Teller

Cerpen Ann merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sampai Jumpa, Surfboard

Oleh:
Ku langkahkan kaki ini menuju tempat yang dipenuhi pasir putih. Ya. Tempat itu adalah pantai. Ku lihat pondok-pondoknya mulai dibongkar karena memang, musim panas kali ini akan segera berakhir.

“Love” (Rasa Yang Tak Akan Pernah Mati)

Oleh:
Cinta. Satu kata penuh makna yang indah. Melebihi kilauan berjuta bintang di langit. Cinta. Semanis senyum yang terlukis di wajahmu. Ya, setiap lekuk wajahmu yang memancarkan keindahan. Sungguh mempesona

Kesalahan Yang Sama

Oleh:
Mencintai bukanlah suatu kesalahan. Tapi terkadang kita salah tempat. Cinta itu bisa timbul kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja. Dan inilah yang ku rasakan. Jatuh cinta.

Janji Hingga Ke Tiang Nisan

Oleh:
“Ar, kapan kau nikahiku?” Selalu saja kalimat itu mengusik pikiran Arman. Ia terhenti dengan sejuta kalimat untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada gadis itu. Lagi pula pria tersebut memiliki

Twinsamora (Part 1)

Oleh:
Diary, November 2009 Hmm, tadi waktu di halte, aku ketemu sama cowok. Dia tu cool banget..! Nggak tau kenapa aku seneng aja merhatiin dia. Tapi, kok aku nggak ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ann”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *