Anniversary di Surga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 28 July 2017

Sudah 3 bulan lebih Adit tidak masuk kuliah, dan selama itu pula ia tidak pernah sekalipun menghubungi pacarnya Dinda. Entah ke mana Adit selama 3 bulan ini. Adit seolah hilang ditelan bumi, hari-hari tanpa Adit dilewati Dinda dengan penuh tanda tanya. “ke mana sih… Adit? Kok udah 3 bulan dia gak hubungin aku sih”, begitu gumam Dinda dalam hatinya. Semua tahu hubungan Dinda dengan Adit sudah seperti perangko dengan surat, ke mana-mana mereka selalu bersama. Bahkan semenjak mereka pertama kali jadian 2 tahun yang lalu mereka adalah pasangan yang bisa dibilang langgeng sekali.

Namun entah mengapa sudah tiga bulan ini Adit tidak pernah terlihat batang hidungnya, kecemasan yang mulai melanda hati Dinda akan keadaan Adit membuatnya berusaha untuk mencari-cari informasi tentang keberadaan adit, berbagai cara ia lakukan mulai dari beratanya-tanya tentang keberdaan adit kepada teman-teman dekatnya hingga datang ke rumahnya adit dan bertanya pada keluarganya. Namun nihil semuanya tidak ada yang tahu tentang keberadaan Adit, namun menurut informasi dari Sari adiknya Adit semenjak 3 bulan yang lalu Adit berangkat ke Russia untuk sebuah proyek penelitian namun semenjak saat itu keluarga pun sudah putus kontak dengan Adit hanya sesekali ada surat yang datang ke rumah Adit yang menyatakan keadaan Adit di sana baik-baik saja tapi anehnya tak pernah sekalipun Adit menghubungi keluarganya selama 3 bulan terakhir. Dan tentang keberangkatan adit tak banyak yang tahu hanya keluarga terdekatnya saja, mendengar hal itu perasaan Linda perlahan mulai tenang. Namun semenjak saat itu hampir setiap malam Dinda mendapatkan mimpi-mimpi yang aneh tentang Adit, hampir di setiap mimpinya Dinda melihat Adit selalu dalam kesusahan. Perasaan Dinda kembali tak enak, dia kembali mengkhawatirkan keadaan Adit, bahkan kekhawatirannya kali ini melebihi kekhawatiran sebelumya.

Hari-hari dilewati Dinda dengan sepi dan penuh tanda tanya, ia seperti tak bergairah karena mengkhawatirkan keadaan Adit kekasih tercintanya yang selama 3 bulan terakhir tak pernah menghubunginya. Bahkan di tengah rasa tanda tanya besar itu sempat terbersit pikiran bahwa Adit sudah tidak setia lagi, tapi buru-buru Dinda menepis semua pikiran itu sambil memandangi liontin pemberian Adit dan mengingat janji yang mereka ucapkan pada saat mereka jadian 2 tahun yang lalu.

Hari demi hari dilewati Dinda dengan sepi, kini 5 bulan sudah Adit menghilang tanpa kabar. Dinda yang saat ini sudah jauh berbeda dengan Dinda 6 bulan yang lalu saat Adit masih bersama dengannya. Tak terlihat lagi Dinda yang dulu, dinda yang selalu ceria dan murah senyum kepada semua teman-temannya, Dinda yang kini adalah Dinda yang suka melamun dan murung, ia seolah tak lagi memiliki semangat untuk hidup karena semangat hidupnya sekarang tak lagi bersamanya. Ia yang kini hanya bisa terdiam dalam penantian akan semangat hidupnya yang tak kunjung kembali membuat beberapa teman Dinda merasa kasihan. Berbagai cara telah dilakukan oleh teman-teman Dinda untuk menghibur Dinda agar ia tidak terlalu larut dalam kesedihannya, namun tetap gagal Dinda sangat takut kehilangan Adit semangat hidupnya karena semenjak kepergiaan ibunya 1 tahun yang lalu hanya Aditlah tempat Dinda mengadu karena semenjak ibunya Dinda meninggal ayah Dinda selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan untuk melupakan semua kenangan tentang mamanya Dinda wanita yang paling ia cintai.

Kini perangko tak lagi menyatu dengan suratnya, itulah ungkapan yang bisa menggambarkan keadaan hubungan Adit dan Dinda saat ini, hampir 6,5 bulan sudah Adit menghilang tanpa ada berita, tak terhitung sudah berapa ribu kali Dinda mencoba menghubungi Adit namun hasilnya tetap nihil. Kondisi Dinda mulai drop hal ini membuat orangtua Dinda dan teman-temannya merasa khawatir. Dinda yang terus memikirkan keadaan kekasihnya yang sudah lebih setengah tahun tak ada kabarnya membuat Dinda mulai sakit, badannya kurus bahkan sudah satu bulan ia tak masuk kuliah.

Suatu malam 1 minggu sebelum ulang tahun hari jadi mereka yang ke-3 hape Dinda tiba-tiba berbunyi, awalnya Dinda tidak mau menggubrisnya karena ia menduga itu hanyalah teman-temannya yang menghubunginya ia pun kembali hanyut dalam lamunannya sambil memandang awan malam yang bertabur bintang dan membayangkan Adit yang kini berada di belahan bumi lain. Namun untuk kesekian kalinya hp Dinda kembali berdering, karena penasaran Dinda lalu mengangkat hp dan melihat nomornya, namun nomor yang tercantum pada hp itu tak ia kenal, dengan kesal ia menjawabnya “halo… ini siapa sih?, malam-malam gini nelepon aku kamu gak ada kerjaan lain ya?”, dari ujung telepon yang lain seorang dengan nada lemas dan lembut menjawab “kok, gitu sih Din, jangan kasar-kasar donk ntar aku jitakin loh”. Alangkah terkejutnya Dinda ketika mendengar suara itu, suara yang sangat ia kenal dan suara yang dari orang yang sangat ia khawatirkan selama ini, orang yang sudah membuatnya menjadi seperti ini, kemudian dengan suara gemetar Dinda menjawab “Adit, ini Adit kan?”, dengan nada lemas tapi ceria Adit menjawab “iya Dinda, ini aku Adit, oh ya aku mau minta maaf selama 6 bulan ini aku gak pernah hubungin kamu soalnya aku banyak kerjaan, kamu gak usah khawatirin aku aku di sini baik-baik saja kok”, mendengar hal itu air mata Dinda mulai mengalir deras “jahat kamu Dit, kamu enak bilang gitu di situ, kamu gak tau sih aku di sini khawatirin kamu”, kemudian Adit menjawab dengan dengan nada ngeledek “ah, masa, emang kamu khawatirin aku?”. Dinda yang kesal setengah mati menjawab “ih dasar kamu ya”, tapi tiba-tiba ditengah percakapan seru itu tiba-tiba telepon terputus, dinda sempat terkejut dan berusaha menghubungi kembali namun gagal. Tapi malam itu perasaan Dinda sangat-sangat senang karena ia bisa kembali mendengar suara Adit suara dari orang yang sangat dirindukannya selama ini.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Rendi datang ke rumah Dinda, Dinda yang saat itu baru bangun langsung menemui Rendi di bawah “eh… Rendi ada apa kok tumben pagi-pagi?”, Rendi yang terlihat lesu dan sedih ia berusaha mengatakan sesuatu tapi mulutnya sangat sulit untuk mengatakan itu semua, kemudian dengan suara bergatar sambil menunduk dia memberitahu Dinda “Din, sepertinya… hari ini kesetiaan dan penantianmu selesai sudah” Dinda dengan sedikit mengernyitkan kidat balik bertanya “maksudnya?”, Rendi yang mulai gemetaran berusaha menjawab “begini Din, aku datang kemari disuruh temen-temen untuk nyampein sesuatu Din. Tapi sebelumnya aku mau kamu berjanji sesuatu” Dinda yang sudah sangat penasaran memotong Rendi “iya-iya, ada apa sih kok kayaknya serius amat sih?”, Rendi menjawab “begini Din, Adit Din.. adit… sudah kembali ke indonesia Din, dia nyampe tadi subuh dan dia sekarang ada di rumahnya Din” belum sempat Rendi melanjutkan kata-katanya Dinda dengan muka sumringah langsung menarik tangan Rendi dan mengajaknya ke rumah Adit.

Sepanjang perjalanan Rendi bungkam seribu bahasa, setibanya di rumah Adit Dinda langsung loncat dari atas KLX Rendi yang membawanya ke rumah Adit. Dengan langkah cepat dia masuk ke rumah Adit dan langsung menuju ke kamar Adit. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat sosok seorang pemuda yang tergeletak lemas tak berdaya di atas tempat tidurnya dengan banyak orang yang mengelilinginya. Kaki Dinda seolah tertanam di lantai ketika menyaksikan pemuda yang sangat ia rindukun selama ini terbaring lemas dengan alat pendukung kehidupan melekat di tubuhnya, Adit yang melihat Dinda terdiam di pintu terdiam mebisu, memanggil Dinda dengan nada lemas sambil melontarkan senyum hangat yang sangat dirindukan Dinda “eh… princes datang, kok diam di situ sih kayak patung aja, sini dong. Apa kamu udah gak mau lagi yah sama aku karena kondisiku yang seperti ini?” mendengar hal itu Dinda dan seisi ruangan itu sontak mengeluarkan air mata, dengan air mata yang membasahi muka cantiknya itu Dinda perlahan melangkah ke arah Adit dengan perasaan yang bercampur aduk dia langsung mengecup kening Adit dan dia langsung memeluk hangat Adit. Dengan suara gemetar Dinda berkata pada Adit “nggak… aku gak gitu kok Dit, walau bagaimanapun kondisi kamu aku akan selalu ada untuk kamu. Kan aku ini princes kamu Dit”, mendengar itu muka Adit terlihat senang dan ia lalu mengambil sesuatu di sampingnya “syukur deh, kalo gitu, kalo kamu mau menerima aku yang sekarang udah cacat seperti sekarang ini, oh ya hapyy aniversary yah Princesku, maaf ini aku ngucapinnya sekarang soalnya takut gak sempat. Oh ya ini ada kado dari aku tapi maaf ya agak sedikit rusak”, dengan kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan ketika melihat kekasihnya yang kini terbaring lemas hanya dengan 1 kaki dan tangan dengan alat pendukung kehidupan yang melekat di tubuhnya ia mengambil kado itu, kado yang ia impi-impikan dari dulu.

Melihat Dinda yang menangis Adit berusaha menghapus air mata Dinda dengan tangannya dan dengan senyuman hangatnya dia berusaha membuat kekasih yang sangat dicintainya itu tersenyum meskipun senyuman hangatnya itu tersirat derita yang teramat sangat. Melihat itu semua Dinda berusaha sekuatnya untuk menghapus air matanya dan tersenyum untuk Adit. Sambil mengobrol-ngobrol selama beberapa menit tetap dengan suasana penuh kesedihan baru diketahui bahwa selama ini Adit berada di Russia untuk sebuah proyek penelitian, tapi karena suatu kecelakaan yang membuatnya koma dan kehilangan tangan dan kakinya, sebenarnya ia sudah boleh pulang 2 minggu lalu tapi karena ia takut Dinda tidak mau menerimanya dia memutuskan untuk tidak pulang dulu sambil melihat situasi dan mencari saat yang tepat untuk pulang. Tapi ditengah-tengah obrolan itu tiba-tiba Adit meminta sesuatu pada Dinda dengan nada manja khasnya “Din, tolong dong nyanyiin aku lagu favorit kita itu donk soalnya aku udah rindu banget sama suara kamu din, aku juga mau tidur dia atas pangkuan kamu Din soalnya dari tadi malam aku belum tidur Din”, mendengar itu Dinda tidak berfikir apa-apa dia pun menaruh kepala Adit diatas pahanya dengan lembut, seisi ruangan yang melihat hal itu kembali tak kuasa menahan air mata. Dan pada reff lagu itu Adit pun tertidur untuk selama-lamanya, hal ini diketahui ketika monitor detak jantung menunjukan garis lurus. Berbagai upaya sudah dilakukan tapi hasilnya nihil. Adi kini telah tidur untuk selama-lamanya dengan nyanyian tulus dari Dinda sebagai pengantar tidurnya. Dengan kesedihan yang teramat karena dia sangat kehilangan Dinda berteriak-teriak “Dit jangan tinggalin aku Dit, aku nggak bisa hidup tanpa kamu Dit kalaupun kamu pergi aku ingin ikut sama kamu Dit. Mendengar hal itu beberapa teman Dinda yang berada di samping Dinda berusaha menenangkan Dinda, walaupun mereka juga sama sama merasa kehilangan sosok Adit.

Keesokkan harinya dengan suasana duka yang amat terasa, Adit diantar ke peristirahatan terakhirnya. Awan mendung sepanjang jalan mengiringi Adit menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya, begitupun dengan para pengantarnya, hati teman-teman Adit saat itu diselimuti oleh awan kesedihan karena kepergian kawan mereka yang selama ini menjadi tempat mereka menumpahkan semua isi hati mereka. Dinda yang saat itu berdiri di bawah payung hitam nampak sangat pucat melihat Kekasihnya melihat semangat hidupnya kini telah tertidur dengan tenang untuk selama-lamanya di depannya, bahkan ia sempat pingsan tapi ia bersih keras ingin melihat kekasihnya untuk yang terakhir kalinya. Tak sedikit orang-orang yang hadir di situ menitihkan air mata melihat Adit, orang yang pernah mereka kenal sangat-sangat baik kini harus tertidur di dalam kuburnya bersama dengan semua kenangan dan senyuman hangatnya dan juga cinta tulusnya untuk Dinda.

Setelah pemakaman Adit kondisi Dinda semakin drop bahkan ia harus dirawat di rumah sakit. Dinda sepertinya sangat-sangat terpukul karena kepergian Adit semangat hidupnya, hingga membuat kondisinya sangatlah memprihatinkan. 5 hari sudah ia dirawat di rumah sakit dan selama itu pula silih berganti teman-temannya datang memberikan semangat.
Hari ini, adalah hari ke enam Dinda dirawat dan hari ini adalah hari jadiannya dengan alm. Adit yang ke-3. Semenjak malam kondisinya mulai membaik dan dia sangat semangat sekali untuk menyambut hari jadinya dengan Adit yang ke 3. Sejak pagi teman-teman mereka berdua sudah berdatangan karena mereka memang sengaja diundang. Setelah semuanya terkumpul di kamar Dinda yang saat itu diliputi rasa kesedihan yang teramat akan kondisi Dinda, Dinda langsung meniup lilin kue aniversary mereka. Beberapa orang dari teman-teman Linda mulai menitihkan air mata melihat hal itu. Sambil senyum-senyum Dinda berkata “ alian tau gak, semalam itu Adit dateng loh dia ngasih kado sama aku dia ganteng banget”. Mendengar semua itu seisi ruangan tak kuasa lagi menahan tangis mereka. Tapi tak lama setelah itu Dinda tiba tiba sesak nafas seisi ruangan yang panik langsung pergi mencari dokter.

Beberapa lama dokter menangani Dinda di dalam. Suasana di tempat tunggu nampak sangat tegang, Ayah dan teman-teman Dinda semuanya berdoa untuk keselamatan Dinda. Namun apa mau dikata tuhan sudah memiliki rencana lain, Dinda dipanggil tuhan untuk menyusul Adit di surganya. Kini Dinda tak hanya akan merayakan anniversarynya dengan Adit hanya seorang diri tapi ia akan bersama Adit kekasihnya di surga sana, kini mereka berdua akan kembali bersama-sama lagi setelah sempat berpisah untuk beberapa waktu. Kini perangko dan surat itu akan kembali merekat dengan tangisan kesedihan orang-orang yang menyayangi mereka sebagai perekatnya dengan tujuan surga yang abadi.

Cerpen Karangan: Mad Billy
Blog: etalasekehidupan.blogspot.com

Cerpen Anniversary di Surga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Autumn (Cinta di Musim Gugur)

Oleh:
Cinta mungkin bisa bersemi pada musim apa saja dan mungkin bisa kapan saja dan dimana saja. Cinta tidak memandang arti sebuah kecantikan dan ketampanan ataupun pintar atau bodohnya seseorang.

Kamu, Doa yang Terus Disemogakan

Oleh:
Aku kelu. Dalam ribuan alasan kepergianku, aku menjadi bisu. Di hadapan bayangmu, rindu itu melepaskan kekuatannya yang begitu kuat, merengkuhku dalam pelukannya. Kamu dan pias wajah yang menenggelamkanku dalam

Menunggu

Oleh:
Menunggu adalah suatu pekerjaan yang sangat teramat membosankan. Aku tak suka menunggu! Tapi anehnya aku sering sekali menunggu. Seperti yang terjadi saat ini. Aku menunggu seseorang yang teramat aku

Detektif Muda

Oleh:
07.00 am Aku masih di depan cermin, memperhatikan wajahku yang berkumis tipis dan berambut cepak. Ku perhatikan mulai dari iris mata, alis, hidung, sampai lubang hidungku perhatikan, kali aja

Cinta Terakhir Sheren

Oleh:
“Sheren, kamu tau gak kalo Arfi udah balikan sama Viona?” Tanya Laynda “Ah yang bener?” Jawabku balik bertanya “Iya!!” Jawab Laynda. Hancur banget hati aku denger kabar itu, kabar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Anniversary di Surga”

  1. dinbel says:

    Waaaaaaahhhhh, keren ceritanya, jadi sedih baca nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *