Antara Dia, Janjinya Dan Ingkarannya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

“Hei, sendirian aja nih?” lamunanku buyar, aku menoleh. Mendapati sosok lelaki beralis tebal yang langsung duduk di sampingku. Akhir-akhir ini ia sering mengikutiku namun tak pernah ku pedulikan. Sebenarnya tak ada yang salah dengannya. Ia hanya gemar mengikutiku, menanyakan kabarku walau tak pernah ku jawab. Tak ku sangka suatu saat semua itu terbalik. Aku yang selalu menanyakan kabarnya dan ia yang tak pernah bisa menjawab.

Siang ini aku mendapat jatah piket kelas. Sudah menjadi kebiasaan rekan piketku menyisakan bagian menyapu untukku. Aku tak menyadari masih ada seseorang yang sedari tadi memperhatikanku.

“Sini ku bantu,” aku sedikit kaget lalu menggeleng, tetap melanjutkan menyapu. Ia bersikeras tetap membantuku. Mengambil sapu lain dan mulai menyapu sembari bersiul. Aku diam saja, walau sedikit merasa terganggu oleh siulannya. Bergegas pulang setelah selesai menyapu. “Hei, tunggu!” panggilnya, hanya ada aku di koridor itu. Namun tetap ku lanjutkan langkah. Langkah kakinya terdengar, ia mengejarku. Jantungku berdegup kencang, ingin rasanya aku berlari secepat mungkin. Apa dayaku, tenagaku sesore ini tinggallah sisa-sisa.

“Pulang bareng ya?” aku sedikit kaget menyadari ia telah berjalan santai di dekatku. Aku tak menjawab ajakannya dan ku percepat langkah. Untunglah, ia tak lagi mengikutiku. Ku lihat jam di pergelangan tanganku. Pukul 4 sore, aku merutuk. Tak ada angkot lagi. Terpaksa berjalan kaki, walau aku tahu jalan menuju rumahku bukan jalan yang ‘layak’ dilewati gadis.

“Halo cewek, sendirian aja? Mau Abang temenin pulang?” Aku pura-pura tak mendengarnya, tetap memainkan kerikil yang ku tendang di jalan. Rupanya 2 preman berbadan besar itu belum puas.
“Sok jual mahal lo! Hei, hanya ada kita dan gadis itu, Boss. Wah, lumayan!”
Aku hanya dapat mempercepat jalanku, tenagaku tak akan kuat untuk berlari. Preman itu masih saja mengikutiku, jaraknya kini tinggal selangkah lagi. Mataku berkunang-kunang. Aku baru ingat, sejak pagi belum makan. Sial! Suara tawa kedua preman itu berdengung di telingaku. Aku berjalan sempoyongan.
“Maaf aku membantumu,” tepat sebelum aku terjatuh, seseorang telah menyelamatkanku. Memapahku menuju warung makan terdekat.

“Hei, aku hanya ingin berteman denganmu, apa itu salah?” tanyanya dengan intonasi suara agak tinggi dari biasanya, aku tertegun. Setelah kejadian itu, ia sering mengajakku pulang bareng. Namun aku lebih dulu pulang naik angkot. Desas-desusnya angkot itu akan alih tempat. Huft.
“Maaf,” aku hanya bisa menunduk dan bergegas pulang. Apa pun yang akan terjadi di jalan nanti.
“Ku mohon, jangan pulang sendiri,” ia menyejajari langkahku ke luar gerbang sekolah. Aku diam saja. Sesore ini mungkin preman-preman itu sedang mangkal. Benar saja.

“Preman-preman itu …” kalimatnya terputus. Ia menarik tanganku, bergegas melewati gerombolan preman yang sedang berbincang penuh tawa. Salah seorang preman yang kemarin menghadangku sempat melirik ke arahku, lalu kembali tertawa ketika melihat aku tak berjalan sendiri.
“Preman-preman itu mengincar gadis yang berjalan sendirian,” jelasnya. Aku kembali teringat kejadian itu, ketika aku menolak untuk pulang bersamanya dan diikuti 2 preman sialan itu.

“Kau mengajakku pulang bersama karena itu?” tanyaku pelan. Ia mengangguk.
“Tentu saja, lagi pula tak ada teman lain yang rumahnya searah dengan kita,” ia menatap lurus jalanan. “Ku harap kau mempertimbangkan tawaranku lagi, terlebih angkot yang biasanya kau pakai pulang kini alih jalur,” ia menatapku sungguh-sungguh. Aku berpikir sejenak.
“Baiklah, adanya begitu. Aku terima tawaranmu.”

Sampai saat ini, aku tak pernah tahu namanya, rumahnya, keluarganya, segala tektek bengek tentangnya. Cukup aku hanya tahu ia lelaki beralis tebal yang selalu menemani perjalanan pulangku. Hanya saja kali ini kami singgah sebentar di rerumputan taman kota untuk menikmati senja.

“Kalau kamu pengen cerita, mungkin aku bisa jadi pendengar yang baik,” ia menoleh ke arahku, membuka percakapan di antara kami. Ia duduk memeluk lututnya. Meringis.
“Aku hanya merasa … asing, terlebih sama orang yang belum ku kenal,” ujarku gugup.
Ia justru tertawa, membuatku gelisah. Lalu ia mengulurkan tangan kanannya. Sambil tersenyum tentunya.
“Ya udah, namaku .. ah jangan, cukup kau panggil aku ‘hei’, aku sudah tahu kalau itu kamu yang memanggilku,” aku mengangguk dan membalas uluran tangannya. Untunglah ia tak bertanya namaku.

“Jangan kau kira aku tak tahu namamu ketika aku tak bertanya padamu,” ujarnya seolah mengerti pikiranku. Aku tersenyum kecil mendengarnya.
“Tunggu, kamu bisa tersenyum?” tanyanya serius. Senyumku langsung hilang mendengar pertanyaan konyolnya. Manyun. Ia tergelak melihat ekspresi wajahku.
“Ayolah, senyum lagi, aku menyukai senyummu tadi,” ia menarik kedua ujung bibirku agar membentuk lengkung senyuman. Bukan hanya senyuman yang ku tampakkan, rona merah di kedua pipiku jua tampak. “Nah, begitu lebih baik, ku kira orang sepertimu tak bisa tersenyum,”

“Coba cari 2 bintang yang letaknya paling deket,” aku menunjuk 2 bintang paling terang juga letaknya berdekatan. Ia menggeleng. “Salah,”
“Kenapa salah? Yang lain jaraknya lebih jauh,” aku kembali berpikir. Ia tertawa kecil melihatku berpikir sedemikian rupa. Aku menatapnya heran.
“2 bintang yang letaknya paling dekat itu kita,” aku tertegun. Memang kami duduk bersisian, sama-sama memeluk lutut dengan tangan kiri. Ia mengangguk saat aku menatapnya.

“Kita kan manusia, bukan bintang..” ujarku polos. Ia tertawa kecil lalu hening sejenak.
“Ehm, aku suka kamu dan aku berjanji akan selalu melindungimu. Pegang janjiku,” aku tersentak mendengar pengakuannya, lalu ia mengulurkan jari kelingkingnya. Di taman kota ini, ia mengucap janji kepadaku. Tepat sebulan setelah aku menerima tawaran untuk pulang bersamanya.
“Ma.. makasih,” air mataku menetes saat kelingkingku bertautan dengan kelingkingnya.

Sore ini kami habiskan di bukit. Menatap senja dan rumah-rumah di kota kami. Ia duduk memeluk lutut, posisi duduk yang ia gemari. Membuatku juga menyukai posisi duduk seperti itu. Aku tak tahu alasan ia suka dengan posisi duduk seperti itu. Saat ku coba ternyata nyaman. Mungkin itu.

“Hei, matahari ternyata hanya kecil, lebih kecil dari jariku,” aku menoleh ke arahnya.
“Kok bisa?” aku tertawa saat tahu jari telunjuk dan ibu jari kedua tangannya membentuk kotak kecil yang jika didekatkan ke mata akan membuat semua yang terlihat seolah menjadi kecil.

“Nih, lihat matahari dari tanganku, kecil kan?” ia mengarahkan kedua tangannya yang membentuk lubang kecil untuk melihat matahari kepadaku. Aku menurutinya.
“Wajahmu juga terlihat kecil,” ledekku ketika ku arahkan lubang kecil yang ku buat ke wajahnya.
“Tapi senyumku manis,” aku menatap heran ke arahnya.
“Apa nyambungnya?” tanyaku, ia hanya menggedikkan bahu. Ia seorang yang ajaib. Aku tak dapat membaca pikirannya, namun ia selalu tepat membaca pikiranku.

“Mau es krim?” tawarnya ketika penjual es krim lewat tak jauh di depan kami. Ia beranjak membeli 1 cup agak besar. Padahal aku hanya diam, tak menjawab pertanyaannya.
“Kenapa 1 cup doang?” protesku. Ia nyengir, kembali duduk memeluk lutut.
“Agar aku bisa menyuapimu,” ujarnya jahil. Aku tertawa kecil, malu-malu menerima suapannya.
“Tahu sejarah didirikannya taman kota ini?” tanyanya selepas menghabiskan es krim.
“Entah,” jawabku singkat. Lalu mengalirlah sejarah taman kota dari mulut lelaki beralis tebal itu. Rupanya ia menyukai sejarah. Pelajaran yang paling ku hindari.

“Kalau suatu saat aku pergi, bagaimana?” entah mengapa ia tiba-tiba menanyakan hal itu. Kami duduk bersisian di atas bukit. Lagi-lagi ia duduk memeluk lututnya.
“Entah, aku tak pernah berpikir hingga sejauh itu,” aku mengikutinya duduk memeluk lutut.
“Hmm,” ia bergumam. Memainkan rumput yang tumbuh liar di sekitarnya.

“Tumben kau bertanya demikian, ada apa?” tanyaku sedikit gusar, aku mencium adanya ketidakberesan dari pertanyaan ganjilnya. “Tak apa. Aku hanya iseng bertanya, jangan terlalu dipikir,” guraunya, mencoba tertawa. Tawa yang ku tahu itu palsu. “Setidaknya untuk saat ini aku masih dapat menemanimu,” ia tersenyum menghiburku. Namun raut wajahnya kali ini lain, seperti memendam sesuatu yang tidak dapat ku tebak. Entah mengapa, aku seperti merasakan akan adanya perpisahan dalam waktu dekat ini. Namun aku hanya diam, tak membalas gurauannya.

“Aku cinta kamu,” hanya 3 kata yang ke luar dari bibir merahnya, bibir yang aku tahu tak pernah disentuh oleh rok*k. Aku menoleh ke arahnya. Ia mengangguk, meyakinkan padaku akan perasaannya. Sejenak aku berpikir. Lalu menghela napas panjang.
“Dengan kamu mengucapkan 3 kata itu, bolehkah aku percaya bahwa kamu tak akan pergi?” tanyaku gamang, pelupuk mataku telah penuh oleh air mata. Ia tersenyum dalam kesamaranku melihat. Senyum yang tak terlukis sempurna. Senyum yang menyiratkan kesedihan juga kebohongan.

“Udahlah, senyum dong. Nanti manisnya hilang loh!” aku masih terdiam memeluk lutut. Sama seperti posisi duduknya. Sempat ku lihat ia meringis ketika menatapku. Sudah beberapa hari ini aku masih merisaukan percakapan itu. Aku takut ia benar-benar meninggalkanku.
“Hmm, aku masih sedih,” ungkapku. Ia menghela napas. Matahari sebentar lagi terbenam.

“Sedih itu wajar. Tapi jangan berlarut,” ia memainkan rumput, kegemarannya saat duduk memeluk lutut.
Aku diam saja, menatap rumput-rumput yang ia mainkan. Hening sejenak.
“Ah, ayolah! Senyum dong, nih aku contohin,” ia tersenyum memperlihatkan gingsulnya. Alis tebalnya bergerak-gerak seakan menggodaku untuk mengulas senyum.
“Iya nih aku senyum,” aku tersenyum asal-asalan.
“Tak apalah, mungkin besok aku dapat membuatmu tersenyum lagi. Aku selalu suka melihatmu tersenyum,” mau tak mau kalimat barusan membuatku tersenyum. Ia melirikku senang. Berhasil.

“Bola matamu berwarna cokelat ya?” tanyanya pada suatu sore di atas bukit.
Aku berusaha melupakan percakapan yang cukup merisaukanku. Menikmati kembali hari-hari bersamanya.
“Hei, bola matamu berwarna cokelat juga,” aku baru menyadari jika kami sama-sama memiliki bola mata berwarna cokelat, warna bola mata yang jarang ditemui untuk kalangan masyarakat sini. “Mungkin kita jodoh,” celetuknya, membuat hatiku berdebar tak menentu. Aku hanya bergumam.

“Hei, ada yang salah dari perkataanku? Aku hanya .. aku hanya berharap demikian. Yah, walaupun itu nggak mungkin,”
Refleks aku menoleh ke arahnya. Menatapnya heran lalu hening sejenak.
“Aku juga,” ujarku kelu. Teringat percakapan itu.
“Tunggu, kau tadi bilang apa? Ah, ku pikir selama ini perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan, kalau begitu ayo ikut aku sekarang!” ia berdiri lalu menarik tanganku. Sontak aku kaget.

“Hei, mau ke mana?” tanyaku heran. Aku tak beranjak dari dudukku.
“Ke KUA, aku daftar nikah sekarang. Kau tadi bilang kalau kau juga mencintaiku bukan?” aku menggigit bibir bawahku. Geregetan. Ia berdiri menarik-narik tanganku.
“Ya, tapi bukan sekarang ini juga, beberapa tahun ke depan. Kita masih anak sekolah,” jelasku rada gugup. Raut wajahnya terlihat kecewa. Ia kembali duduk memeluk lutut, menatapku kecewa. Aku merasa bersalah, namun apa dayaku, kami sama-sama masih anak sekolah. Idenya gila.
“Tapi aku takut beberapa tahun ke depan bukan aku yang berada di sampingmu saat pelaminan,” aku tertegun. Tanpa sadar air mataku menetes. Senyumnya pudar. Percakapan itu kembali membayang.

Sudah 5 hari ini aku tak melihatnya di sekolah. Absennya izin. Namun aku tak tahu ia izin dengan alasan apa. Ketua kelas hanya ketus menjawab jika ia izin tanpa alasan. Alhasil, setiap sore aku hanya menghabiskan waktu di bukit sendirian. Seperti sore ini.

“Hei, sendirian aja nih?”
Deg! Aku berdiri lalu berbalik dan menemukan sosok yang selama ini ku rindukan. Ia mengisyaratkan untuk memeluknya. 5 hari tak bertemu dengannya terasa amat rindu.
“Kamu ke mana aja? Aku .. rindu,” lidahku kelu ketika mengucap kalimat itu. Ini kali pertama aku memeluknya. Ia mengusap punggungku. Air mataku menetes. Aku tak menyadari ada sepasang mata yang juga meneteskan air mata. Bukan, bukan lelaki yang sedang memelukku.

Aku menabur bunga di atas makamnya sebagai salam perpisahan. Ya, salam perpisahan untuk lelaki yang dulu pernah berjanji padaku dan kini mengingkarinya. Bukan berarti aku menyalahkan takdir. Aku hanya kecewa, mengapa tak pernah ku tanyakan perihal ini. Betapa cueknya aku. “Dah, pulang yuk! Aku anter,” lelaki di sampingku menuntunku berdiri dan berjalan pulang. Menjauhi tempat peristirahatan lelaki beralis tebal yang selama ini menemani hari-hari sepiku. Ternyata sosok yang muncul setelah 5 hari itu bukan dia, bukan lelaki beralis tebal. Lelaki itu saudara kembarnya. Selama ini aku tak pernah tahu jika ia memiliki saudara kembar.

“Oh iya, waktu di rumah sakit, dia nitip ini buat kamu,” saudara kembarnya tak jauh berbeda dengannya. Beralis tebal. Bedanya saudara kembarnya itu tak pernah menyuruhnya tersenyum. Ku terima bingkisan yang lumayan besar itu. Agak berat. Aku tak dapat menebak itu isinya apa. Sepucuk surat beramplop biru muda yang terselip di atasnya lebih menarik perhatianku. Ku bukanya perlahan. Membacanya dalam hati dengan perasaan tak menentu. Aku tak menyangka kejadian ini akan berlalu begitu cepat. Belum sempat aku mengunjunginya di rumah sakit.

“Untukmu. Semoga ketika membaca ini kau akan menangis. Maaf aku tak pernah memberitahu tentang penyakitku, aku hanya tak ingin merepotkanmu saat aku kambuh. Mungkin kau sering melihatku duduk sambil memeluk lutut, itu salah satu upayaku menahan sakit, hehe.. Jangan merasa bersalah lalu bunuh diri setelah membaca pengakuanku ya? Ini semua utuh salahku. 4 tahun aku menahan sakit perut yang ternyata itu gejala liver. Dokter baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. 5 hari aku izin sekolah, rawat inap di rumah sakit. Aku sengaja tak memberitahumu perihalku masuk rumah sakit. Kau sedang ujian bukan?”

“Setelah 5 hari aku dirawat, aku memaksakan diri ke luar dari kamar inap. Mungkin saat itu Dokter lelah mendengar permohonan izinku, akhirnya memperbolehkanku ke luar, hanya 1 jam. Bersama saudara kembarku aku ke luar. Dia yang mendorong kursi rodaku ke bukit tempat kamu menyendiri. Aku memutuskan untuk melihatmu dari kejauhan. Aku takut, kalau aku menemuimu, aku hanya akan menangis saat menjemput ajalku. Untuk itu, maaf sebelumnya aku meminta saudara kembarku yang menemuimu. Maaf jika yang merasakan pelukan pertamamu bukan aku.”

“Ternyata tak semudah itu aku menahan tangis. Tepat saat saudara kembarku memelukmu, tetes air mata pertamaku jatuh. Tak usah bersedih hati, itu tetes air mata bahagia. Aku bahagia, akhirnya dapat melihatmu tersenyum kembali, melihat senyumanmu. Walau itu bukan buatku. Setidaknya aku telah melihat senyuman tulusmu sekali lagi, sebelum aku pergi. Menangislah, sepuasmu. Saat ini saja, hingga besok-besok kamu tak bisa lagi menangis. Setelah kau puas, basuhlah mukamu, lalu tersenyumlah. Ya, tersenyum. Seperti dulu kau tersenyum tulus untukku. Aku akan selalu membalas senyum tulusmu, walau kau tak melihatnya. Salam dariku. Ku tunggu pernikahan kita di surga nanti.”

Tamat

Cerpen Karangan: Alvin Sofia Khoirunnisa
Blog: alvineworld.tumblr.com
Facebook: Alvin Sofia Khoirunnisa

Cerpen Antara Dia, Janjinya Dan Ingkarannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Burung Kertas

Oleh:
Pagi mendung dengan milyaran rintik hujan yang turun dari langit. Sherly.. begitu ia di kenal, seorang gadis yang masih duduk dibangku kelas 12 SMA ini dikenal sebagai gadis periang

Ku Relakan Dia Demi Kau

Oleh:
Drrt!!! Drrt!!! HP ku bergetar menandakan 1 pesan masuk, ternyata itu dari sahabatku yaitu Rini “Sis aku mau curhat ni kamu bisa temuin aku sekarang gak di taman kota”

24 Januari

Oleh:
Hai semua, kenalin nama ku amira ratu anandhita, biasa dipanggil amira. Sekarang aku sudah mempunyai seorang baby dan juga bekerja di salah satu perusahaan ternama di amerika. Kali ini

Unrequited Love

Oleh:
AUTHOR POV Kenyamanan tidur Evelyn dibangunkan oleh suara cempreng milik Kimberly Robbel, gadis berambut coklat itu terus menguncang-guncangkan tubuh Evelyn yang terbalut selimbut tebal, Evelyn menatap wajah sahabatnya itu

Coba Lihat Langit Biru di Atas Sana

Oleh:
“Coba lihat langit biru di atas sana.” Kata-kata itu selalu terngiang di otakku, berputar-putar dan diulang-ulang berkali-kali. Kata-kata sederhana tetapi begitu istimewa untukku. “Setiap kali kamu sedih, coba lihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Antara Dia, Janjinya Dan Ingkarannya”

  1. mengharukan juga ceritanya ;(
    di tunggu ceritanya lagi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *