April

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 20 October 2015

Berawal dari 01 Januari, aku bertemu dengan Ridho saat acara tahunan SMA. Setelah sekian lama tidak bertemu aku dan Ridho bertemu lagi, bahagia rasanya bertemu dengan sahabat yang selalu menemaniku tapi itu dulu saat kami masih SMA. Saat tamat SMA kami harus berpisah karena aku kuliah di perguruan tinggi swasta, sedangkan Ridho memilih kuliah di perguruan tinggi negeri di luar kota. Walaupun kami berjauhan kami tetap saling memberi kabar, entah itu di telepon, sms, bbm, facebook, ataupun tweeter. Tak jarang orang di sekeliling kami beranggapan kalau kami pasangan kekasih dan kami hanya tertawa menanggapi perkataan mereka.

“Assalamualaikum Ra, apa kabar?” Sapa Rhido.
“Walaikumsalam! Alahmdulillah aku baik, kamu gimana?” jawabku.
“Aku juga baik” jawab Ridho dengan sedikit senyum.

Aku dan Ridho bercerita panjang lebar tentang kuliah dan kehidupan selama kami tidak bertemu. Setelah sekian tahun tamat SMA aku tak pernah bertemu lagi bertemu dengan Ridho, apa lagi orangtua Ridho telah pindah ke kota tempat Ridho kuliah. Jadi tak heran aku dan Ridho cuma berkomunikasi lewat handphone. Sejak saat pertemuan itu, aku dan Ridho kembali akrab seperti dulu lagi. Betapa bahagianya aku bisa berbagi lagi dengan sahabatku. Sahabat yang selama ini aku rindukan dan aku tunggu kedatangannya.

Siang yang begitu panas, tiba–tiba Ridho menelepon dan memintaku untuk menemaninya.
“Assalamualaikum..”
“Walaikumsalam..” jawabku pada suara yang ku tahu pasti siapa pemilik suara itu.
“Ra temani aku ke Perpustakaan daerah ya? Ada yang mau aku cari.”
“Cari apa Dho?” jawabku lagi.
“Cari bahan untuk penelitian S2-ku” Kata Ridho kepadaku.

Aku pun dengan senang hati menemai Ridho. Tak lama setelah itu Ridho datang menjemputku, aku dan Ridho pun pamit sama Ibu dan langsung berangkat.
“Jadi sekarang kamu ambil S2 juga Dho?” Tanyaku pada Ridho yang sedang asyik memainkan stir mobilnya.
“Ya, Ra” aku pengen nambah ilmu lagi” jawab Ridho.
“Nambah ilmu apa nambah gelar lagi?” Kataku pada Ridho.

Ridho pun tertawa mendengarkan pertanyaanku yang begitu konyol. Setelah puas tertawa aku tak sengaja menatap mata Ridho yang membuat kami saling diam dalam sesaat. Aku dan Ridho membisu, hanya suara kendaraan lalu lalang yang terdengar di antara kebisuan kami. Aku berusaha memecahkan kebiusan dengan satu pertanyaan kepada Ridho.
“Kapan kamu balik ke Bandung Dho?”
“Insya Allah, minggu depan Ra, kenapa, kamu mau ikut?” Goda Ridho padaku.
“Mmm, minggu depan yaa? Ya gaklah, ngapain aku ikut kamu, kayak gak ada kerjaan aja” aku dan Ridho tertawa lagi.

Aku dan Ridho sampai di perpustakaan daerah, tak menunggu lama lagi, kami langsung menyerubut masuk ke perpustakaan. Perpustakaan telah ramai oleh anak sekolah dan mahasiswa yang ingin mencari tugasnya, atau mungkin hanya sekedar membaca dan menghabiskan waktu mereka di sana. Di perpustakaan aku dan Ridho sibuk dengan dunia masing-masing. Aku sibuk mencari beberapa novel yang ingin ku baca dan Ridho sibuk dengan buku-buku yang membuat jidatnya sedikit berkerut dan tampak kebingungan. Melihat Ridho yang lagi bingung, aku menghampirinya dan menawarkan bantuan kepada Ridho.
“Ada yang bisa aku bantu gak dho?” tanyaku.
“Makasi Ra, aku sudah selesai kok” jawab Ridho datar.
“Ya deh kalau begitu” jawabku lagi.

Aku pun kembali lagi membaca novel yang ku pegang. Aku asyik dengan novelku dan mulai hanyut dalam imajinasi yang ada dalam novel. Aku melayang jauh bersama cerita dan orang-orang yang ada dalam novel. Dan saat aku mulai menikmati bacaanku, aku tersentak dan kaget oleh suara seseorang yang memanggilku, aku kenal suara itu, suara Ridho yang ingin mengajakku pulang.
“Ra, ayo kita pulang, aku sudah selesai nih” ajak Ridho.
“Oh, yaa dho” jawabku sedikit kaget.
“Kamu kenapa?” Ridho tersenyum geli melihatku.
“Gak, aku hanya terhanyut aja sama cerita yang ada dalam novel ini” menunjukkan novel yang ku baca.
“Hahaha.. kamu ada-ada saja. Ya sudah ayo kita pulang” Ridho pun berjalan meninggalkanku.

Dengan cepat aku aku berjalan mengikuti Ridho dari belakang, aku masih saja membayangkan novel yang ku baca. Sedih sungguh bila aku adalah gadis yang ada dalam novel itu.
“Oh Tuhan jangan biarkan aku mengalami hal yang sama dengan cerita novel itu. Jangan biarkan ya Allah, Amin” lirihku dalam hati.
Sebelum pulang, Ridho mengajakku mampir di sebuah caffe yang biasa aku dan Ridho kunjungi saat masih sekolah dulu. Dimana kami bersama beberapa teman yang lain menghabiskan waktu sebelum pulang ke rumah.

“Ra, kamu masih sering ke caffe ini gak?” Tanya Ridho.
“Sudah gak Dho, terakhir aku ke sini waktu kamu mau berangkat ke Bandung. Kalau aku sering ke sini, yang ada aku sedih dan ingat kamu terus” jawabku sambil tersenyum.
“Aaaaah.. itu mah bisa-bisa kamu aja” Ridho tersenyum kepadaku.
Padahal aku tahu persis kalau Ridho bahagia aku bilang seperti itu padanya. Sedikit PeDe. Hahahaha.
“Kamu mau pesan apa Ra?” Tanya Ridho.
“Aku masih seperti yang dulu Dho” jawabku.
“kayak lagu aja ya Ra,” sambung Ridho.

Ridho pun langsung memanggil pelayan. Dengan sigap Ridho memesan menu yang aku sukai, Ridho sangat hafal makanan apa yang aku sukai di caffe ini. Aku kagum, Ridho masih ingat semua tentang aku. Batinku menjerit bahagia. Aku dan Ridho hening sejenak, sebelum melahap pesanan kami yang telah terhidang rapi di atas meja. Selesai makan kami langsung pulang karena hari sudah semakin sore. Di atas mobil aku dan Ridho hanya diam, mungkin kami sudah terlalu lelah dan kekenyangan, sehingga aku dan Ridho hanya bisa diam sambil menikmati hiruk pikuknya kendaraan yang lalu lalang.

Minggu yang menyedihkan datang lagi, yaitu minggu saat Ridho harus kembali ke Bandung. Sedih rasanya harus berpisah kembali dengan Ridho, tapi apa boleh buat, itu adalah takdir dan Ridho juga punya tanggung jawab di sana, tanggung jawab yang gak bisa ditinggal terlalu lama. Tapi sejak pertemuan itu aku dan Ridho semakin akrab. Ridho tak pernah lupa memberi kabarnya walaupun sesaat. Hanya aku yang sedikit cuek kepada Ridho tapi hatiku tak pernah melupakan Ridho walaupun sedetik.

Akhir Februari. Sore nan indah, Ridho datang menjemputku ke tempat kerja dan mengajakku ke sebuah taman yang begitu indah. Ridho benar-benar tahu dengan kesukaanku, dia begitu ingat kalau aku menyukai suasana alam yang begitu indah ini. Dalam hati aku berucap, “ya Allah, betapa indah dan sempurnanya ciptaan Engkau.” Aku tertegun melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan. Bunga yang lagi mekar, pohon lindung yang menghijau, bangku-bangku taman yang yang tertata rapi, dan air mancur yang begitu indah.

“Subhanallah, indahnya taman ini Dho.”
“Kamu suka Ra?” tanya Ridho kepadaku.
“Aku suka Dho, suasananya damai dan sejuk” kataku sambil menghirup udara segar.
“Syukurlah kamu menyukainya” Ridho menatapku.
“Ra, aku mengajak kamu ke sini karena ada yang ingin ku sampaikan.”
“Ya, kenapa Dho?” tanyaku.
“kemaren aku ke rumahmu, aku ketemu sama Ibu dan Ayah, aku sudah bilang semua kepada Ibu dan Ayah, dan aku ingin membawamu bersamaku ke Bandung”
Ridho menatapku lekat-lekat. “Kamu mau kan Ra?”

Aku kaget dan tak tahu harus bilang apa. Aku hanya bisa diam terpaku. Melihat wajah Ridho yang khawatir membuatku hampir tertawa tapi aku berusaha untuk menahannya. Namun aku tak bisa menahan, tawaku lepas. Tapi tak dapat ku pungkiri hatiku begitu bahagia, bahagia sekali. Melihatku tertawa, Ridho hanya diam dan tak memandangku sedikit pun. Tapi sifat tenangnya itu yang membuatku nyaman bersamanya. Melihatnya diam, aku pun berhenti tertawa dan menutup mulutku dengan tangan yang begitu dingin. Aku jadi salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa, secara reflek aku hanya sibuk memperbaiki jilbabku yang dari tadi masih terpasang rapi tanpa cela sedikit pun.

Wajahku memerah tanganku terasa kaku, mulutku mengatup rapat seakan tak bisa berbicara lagi, jantungku pun mulai berdegup kencang, dan aku benar-benar merasa gugup. Darahku berkecamuk, keringatku berjatuhan tapi semuanya sirna saat tawa seseorang memecah kegalauanku. Ridho tertawa melihat wajahku yang mungkin sudah memerah seperti kepiting atau udang rebus. Tapi dia kembali diam dan berkata lirih kepadaku.
“Aku serius Ra. Dan jika kamu setuju aku akan membawa kedua orangtuaku ke rumahmu” katanya lagi kepadaku.

Aku kembali terdiam dan sedikit tersenyum. Tak bisa ku pungkuri lagi kalau hatiku begitu bahagia mendengarkan maksud hati Ridho.
“Kamu pikirlah dulu, Insya Allah awal April depan aku akan datang, menagih jawaban darimu” seru Ridho dengan sedikit senyum.
Tak berkata lagi, Ridho langsung mengajakku pulang dan meninggalkan pemandangan yang menakjubkan mataku dan sekalian Ridho pamit karena nati sore akan berangkat ke Bandung. Selama di jalan menuju rumah aku hanya diam seribu kata, tak sepatah katapun ke luar dari mulutku dan Ridho hanya fokus dengan jalanan yang masih padat dengan kendaraan pribadi dan bus-bus kota yang siap mengantarkan pelanggannya.

Maret telah berlalu dan April pun mulai menampakkan dirinya. Rasa khawatir kembali datang padaku. Aku khawatir bercampur bahagia menyambut April yang telah muncul, bahagia rasanya saat Ridho menelponku dan akan datang ke rumahku sore ini. Aku mulai sibuk dengan berbagai persiapan untuk menunggu kedatangan Ridho. Aku mulai mempersiapkan makanan dan pakaian apa yang harus ku kenakan.
“Subhanallah..” seruku dalam hati. Bahagianya aku saat ini dan inilah pilihanku sebagai seorang gadis yang akan menentukan langkah hidupku.

Sore yang ku nantikan tiba, tapi Ridho tak kunjung menampakkan diri. Saat ku lirik jam dinding yang selalu berputar, tak ada satu tanda-tanda orang yang datang. Gelisah menghampiri. Aku begitu resah dan kian khawatir. Aku mulai mondar-mandir tak jelas di ruang tamu, sekali-kali aku melihat ke luar pagar yang telah gelap. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB, namun penantianku seakan sia-sia. Aku mulai pasrah dan kembali ke kamarku. Pikiranku mulai kacau dan berkecamuk, air mataku mengalir dengan sendirinya.

“Oh Tuhan.. aku tak kuasa menahan sedih ini” batinku mulai berontak. “Inikah hasil yang ku dapat dari harapanku?” Batinku menangis. Aku beristigfar dan mulai tenangkan hatiku. Aku memilih membaringkan tubuh di tempat tidur yang selama ini menemaniku. Tak lupa ku berucap doa untuk Ridho.
“Ya Allah, jika ini ketentuanMu maka berikankanlah ketenangan buatku dan Ridho. Berikanlah keselamatan dan kesehatan buat orang yang selama ini ku nanti kedatangannya. Jaga dia selalu di jalanMu dan jadikan dia hamba Mu yang selalu taat kepada Mu. Amin ya Allah.”
Hanya itu doa yang bisa ku ucap buat Ridho, orang yang tak tahu bagaimana kabarnya, dan membiarkan aku menantinya seorang diri, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tiba-tiba ingatanku kembali kepada novel yang ku baca beberapa waktu lalu. Novel yang sempat membuatku tidak bisa tidur. Kisah seorang gadis yang harus kehilangan orang yang dicintainya sehari sebelum pesta pernikahan. Tak ada kabar dan berita yang ia terima, mengakhiri hidup adalah pilihannya saat itu. Dan itu terjadi padaku, aku ditinggalkan begitu saja oleh Ridho, orang yang ku sayangi. Aku merasakan kesedihan yang dialami gadis dalam novel itu. Memang sedih rasanya tapi ku tak akan membiarkan hidupku berakhir seperti gadis dalam novel itu. Yang membuatku bingung hanyalah kabar Ridho. Tak sedikit pun kabar yang datang dari Ridho atau keluarganya. Mereka membiarkanku merasakan sakit ini seorang diri.

Saat ini April telah berlalu tapi janji di bulan April tak kunjung ku temui. Janji yang membuatku masih berharap dan menunggu saat itu datang. Aku tak tahu, akankah ada April selanjutnya? Hanya Allah yang tahu rahasia itu. Bersyukur adalah satu-satunya cara untuk tetap bahagia. Kini aku mulai menata hidupku lagi dengan kisah dan warna yang baru, menunggu April selanjutnya adalah tujuanku.

Selesai

Cerpen Karangan: Citra Dewi
Facebook: Citra Dewi

Cerpen April merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seribu Pena Saat Ia Damai

Oleh:
Udara pagi ini benar benar menusuk tiap langkah yang melewati pundi pundi keheningan. Cahya mulai mengintip dibalik aurora jingga. Satu dua kicau burung melengkapi pagi ini. Dan cahya yang

Heart Sounds (Part 1)

Oleh:
Aku bosan dengan keadaan ini. Ku letakkan ponselku dengan posisi terbalik seolah muak dengan apa yang tersimpan di dalamnya. Tak lama kemudian, hasrat ingin membalikkannya pun muncul lagi setelah

Jika Saja

Oleh:
Sudah satu jam Gita masih saja setia melihat permainan basket cowok idamannya, siapa lagi kalau bukan davian si cowok idaman para gadis di sekolah. Ya, sudah 1 bulan ini

Ungkapan Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
Ocha itu cantik. Kata yang kurang tepat untuk menggambarkan bagaimana tuhan bisa menciptakan makhluk dengan fisik sempurna bernama Ocha. Rambut lurus hitam panjangnya berkibar saat tertepa angin. Bukannya merusak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *