Autumn (Cinta di Musim Gugur)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Jepang, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 14 August 2013

Cinta mungkin bisa bersemi pada musim apa saja dan mungkin bisa kapan saja dan dimana saja. Cinta tidak memandang arti sebuah kecantikan dan ketampanan ataupun pintar atau bodohnya seseorang. Tapi apakah terlambat kalau aku mencintai seseorang untuk sekian kalinya. Apa terlambat untuk memberikan cinta ini kepada dia. Ya, mungkin musim gugur telah datang lalu musim dingin yang sangat menyedihkan dengan dinginnya salju putih.

Awal musim semi tahun lalu…
Mungkin musim dingin akan segera berakhir, karena bunga plum tidak sabar ingin bermekaran. Aku melihat keluar jendela, ada banyak remaja seumuranku pergi keluar rumah untuk menikmati hangat matahari pagi. saudara-saudaraku yang tinggal di panti asuhan yang sama pun banyak keluar dari kamar mereka. Lalu seorang saudaraku mengajakku untuk keluar dari kamarku…
“Aki, ayo keluar. Saljunya mulai cair.”
“Iya.”
Aku tersenyum tipis, dan segera keluar dari kamarku. Setelah keluar dari panti aku melihat saudara-saudaraku berjalan di sekitar panti asuhan. Aku melihat di sekelilingku, lalu tak ketinggalan aku melihat seorang lelaki sebayaku melihat indahnya mentari awal musim semi. Ya, dia Haruka Nami. Anak nelayan yang tinggal di dekat panti asuhan ini. Dia berasal dari keluarga miskin dan mengontrak rumah yang tidak layak untuk dihuni. Dia juga bekerja dengan yayasan panti asuhan tempat kutinggal. Kadang-kadang dia membantu membagikan makanan kepada kami setiap ada dermawan yang datang kesini. Terkadang kalau ada sisa makanan yang masih ada, kepala panti kami memberikannya kepada Haruka. Tapi tidak ada yang tahu banyak tentang kehidupan Haruka, para saudaraku, dan ibu panti hanya melihatnya saat kami membutuhkannya…

“Aki, ayo bangun.”
“Apa sudah pagi ya?”
Mata yang masih mengantuk, aku masih tidur di kamarku, sedangkan para saudaraku terus membanguniku tidur…
“Kau nggak mau sekolah ya. Hari ini hari pertama masuk sekolah.”
Aku langsung terduduk kaget, benar hari ini, hari pertama aku masuk SMA. Bergegas aku ke kamar mandi lalu bersiap-siap pergi ke sekolah. Tahun ini adalah tahun dimana aku masuk SMA, aku masuk di SMA dengan beasiswa dari pemerintah. Tapi aku beruntung karena semua saudara-saudara sepanti asuhan satu sekolah denganku. Mereka sangat dekat denganku, sejak kami kecil kami selalu bersama. Ya, mereka seperti saudara kandung bagiku, ada Yumi si pemberani. Kalau aku dan saudara-saudaraku diganggu oleh anak-anak nakal sewaktu di SMP, dialah yang menyelamatkan kami. Dia seperti ibu bagiku. Ada Nami, cewek tomboy yang suka ramen dan komik-komik anime, dia pandai dalam judo. Ada Naruka, dia satu-satu cowok yang berteman dengan kami. Dia pintar dalam menulis puisi sedih, sekali baca bisa membuat orang menangis terharu. Yang terakhir adalah Miku, sifatnya seperti anak kecil, wajahnya juga manis seperti anak berumur sepuluh tahun. Dia selalu menjadi pelerai kalau kami berkelahi. Mereka sangat menyayangiku dan aku sangat menyayangi mereka.

Cerpen Autumn Cinta di Musim Gugur

“Wah, kita sekelas!”
Aku sangat senang bisa sekelas dengan Naruka, dan Yumi, tapi Miku dan Nami berada di kelas yang ada di samping kelasku.
“Yah, kami kelas X-C. nggak sekelas lagi.”
“Nggak apa kelas X-B dan X-C bersebelahan, kita bisa makan siang sama-sama di kelasku.”
“Wah idemu bagus juga, Aki.”
Walaupun tidak sekelas, kami tetaplah teman dan berharap kami bukan hanya berlima, tapi memiliki lebih dari kami. Teman-teman baru di masa SMA ini…

Aku memasuki kelasku, di dalam sana sudah banyak murid-murid baru yang sudah duduk di bangku yang mereka pilih masing-masing. aku dan Yumi duduk bersama. Naraku ada di belakang kami, tapi teman sebangkunya belum datang. Tak lama seorang guru masuk ke kelas kami. Dia sudah tua, tapi bukan setua itu juga. Umurnya sekitar 50 tahun, katanya dia guru senior di sekolah ini. Lalu langkahnya tertuju pada sebuah meja yang berada di depan para murid. Dia menaruh sebuah buku tipis dan duduk menghadap kami.
“Selamat pagi.”
Suara seperti kepala panti asuhan kami, dia adalah wali kelas kami. Beliau bernama Sensei Kasagi Tokura. Dia pun mengawali hari pertama kami sekolah adalah tentang tata tertib di sekolah ini.
Tiba-tiba pintu terbuka…
“Maaf, Bu saya terlambat.”
Kami semua tertuju ke arah wajah yang tak asing itu, wajah yang kulihat di hari pertama musim semi. Ya, dia adalah Haruka.
“Tahu ini jam berapa?”
“Maaf, Sensei.”
Dia membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maaf…
“Sudah, duduk di kursi yang masih kosong.”
Dia melangkah ke arah kursi di samping Naraku. Tapi langkahnya dihentikan oleh Sensei Kasagi…
“Haruka Nami, belum tahu tata tertib di sekolah ini?”
“Belum Sensei.”
“Sebagai murid di sekolah yang amat disiplin ini, dilarang mengeluarkan baju di dalam area sekolah.”
Wajah Sensei Kasagi menjadi menyeramkan…
“Silahkan keluar kelas dan perbaikin bajumu.”
“Tapi Sensei…”
“Sudah, keluar sana!”
Langkah itu langsung berbalik arah, baru saja menginjak kelas barunya sudah disuruh keluar lagi…
“Itu contoh buat kalian yang melanggar tata tertib sekolah ini. Jadi sampai mana tadi…”
Sensei Kasagi kembali melanjutkan penjelasan tentang tata tertib sekolah ini. Dan melihat cowok misterius itu sekelas denganku membuatku melihat akan seseorang yang sudah lama kulupakan. Dia cinta pertamaku dimasa SMP dulu. Aku menyukai sejak kelas satu SMP, tapi perasaan pun kian berlalu ketika aku jadi bahan ejekan oleh teman-temanku karena menyukainya. Tapi sekarang yang ada hanyalah rasa sakit, ketika kami berlainan sekolah sekarang. Aku sudah melupakannya berkat teman-teman dan saudara-saudaraku disini…

Sebulan kemudian…
Tak terasa bunga plum telah digantikan oleh bunga sakura yang indah. Di sepanjang jalan menuju sekolah bunga sakura berguguran menjadi suasana yang sangat romantis kalau bersama orang yang disukai atau disayangi. Aku masih ingat ketika aku bertemu cinta pertamaku di sebuah pohon sakura yang berguguran bunganya. Mulai saat itu aku sudah menyukainya, tapi saat kulihat salju musim dingin menjadi pohon itu sebagai yang gundul dan ditutupi oleh salju.
Lalu di tengah perjalanan aku bertemu dengan Haruka, tapi dia bersama teman-temannya yang murid-murid berandalan di sekolahku. Aku pun memanggil Haruka, tapi dia tidak mendengarnya…
“Haruka!!!”
Tak lama datang para saudara-saudaraku, mereka berlari-lari mengejarku…
“Aki…”
Aku berpaling ke arah belakang, dan tersenyum manis. Aku melambaikan tanganku dan menanti kedatang mereka…
“Ha, capeknya!!!”
“Nami sih, pakai acara terlambat bangun.”
“Maaf.”
Di tengah omelan Yumi, aku berpaling ke arah belakang. Sosok Haruka telah hilang, mungkin dia sudah pergi…
“Aki, kau lihat siapa?”
Aku tersentak kaget…
“Ha, nggak lihat siapa-siapa kok.”
Aku tertawa kecil dan melanjutkan perjalanan kami ke sekolah…

Sesampai di kelas…
“Apa itu?”
Naraku tersentak kaget melihat tulisan di papan tulis. Aku dan Yumi melihat tulisan tersebut dan aku kaget melihat namaku bersama Haruka…
“Haruka LOVE Aki!”
Naraku sangat kesal dan membentak orang-orang yang ada disana…
“Siapa yang menulis itu? Siapa yang mengejek saudaraku.”
Aku pun langsung menenangkan Naraku…
“Sudahlah. Itu cuma tulisan. Biar kuhapus.”
Aku melangkah menuju papan tulis dan mengambil sebuah penghapus yang ada di dekat papan tulis itu. Tiba-tiba penghapus papan tulis itu dirampas oleh Haruka…
“Sini!”
Orang itu berada di sebelahku, dia menghapus dengan cepat dan bertenaga. Saat itu aku terus melihat wajahnya, yang sangat datar dan dingin. Apakah dia marah? Ya, aku tahu bagaimana rasanya dipermainkan perasaan itu…
Saat itu aku tahu kalau cinta itu bisa berubah, aku tahu saat musim semi datang. Bunga sakura sekarang bermekaran. Ya, aku memulai semuanya dari awal, dari itu cinta sampai harapanku bersama orang yang sekarang itu. Aku menyukai Haruka…

Di panti asuhan…
Aku menatap banyak remaja seumuranku berjalan bersama orang tua mereka. Tapi aku hanya bisa menatap dari jendela saja. Seharusnya musim semi bisa piknik dengan ayah dan ibu tapi tidak denganku. Ayah dan ibuku meninggal sewaktu aku berumur lima tahun dalam kecelakaan mobil. Lalu setelah mereka meninggal seluruh keluarga dari ayah maupun ibuku semuanya tidak ada yang mau merawatku dan tidak hanya itu semua harta warisan yang seharusnya menjadi biaya hidupku, semua lenyap entah kemana. Sewaktu aku ditinggalkan di panti ini aku hanya sebuah surat permintaan maaf dan baju yang kupakai sewaktu ditinggalkan di panti ini…
“Hei, melamun saja.”
“Bikin kaget aja, kenapa?”
“Kepala panti mengajak kita piknik di bawah pohon sakura di taman kota.”
“Iya, wah. Aku siap-siap dulu ya.”
“Iya, cepat ya.”
Ya, mungkin inilah hidup sekarang, bahkan sekarang aku lupa wajah kedua orang tuaku, paman bibiku serta kakek nenekku. Sekarang aku hanya ingat para saudara sepanti asuhanku dan ibu-ibu pengurus panti ini, keluarga besarku yang baru…

Sesampai disana…
“Anak-anak kalian ibu pengurus panti, jangan nakal.”
“Baik, Bu.”
Kami sangat senang dan membuat kelompok piknik masing-masing. jelas sekali aku bersama Naraku, Yumi, Nami, Miku. Lalu Miku melihat seseorang yang sangat kami kenal…
“Wah, itu Haruka ya?”
Kami semua melihat ke arah tujuan Miku, dan itu benar memang Haruka…
“Ha, aku nggak suka cowok itu.”
Naraku membuka pembicaraan tentang dia…
“Kenapa kau nggak suka sama dia?”
“Aduh, Aki!! Dia itu penidur. Kau nggak lihat apa sewaktu jam pelajaran dia tidur terus. Aku malas duduk sama orang kaya gitu.”
Yumi melanjutkan…
“Kata teman-teman sekelas kita, dia itu anak nakal. Temannya saja orang berandalan di sekolah. Kasihan ayah dan ibunya punya anak seperti itu.”
Lalu di tengah pembicaraan kami, beberapa orang menghampiri kami. Mereka adalah teman sekelasku, ada Misaki, Tamara, dan Kagami…
“Wah piknik ya. Boleh ikutan?”
“Iya, ayo duduk.”
Kami menyambut mereka dengan hangat dan gembira…
“Asyik ya. Piknik di bawah pohon sakura.”
“Iya. Apalagi sama pacar. Wah romantis banget.”
Misaki berangan-angan lagi, dia memang suka mengkhayal seperti itu…
“Ngomong-ngomong, kau nggak jalan sama Haruka?”
“Sama dia? Ngapain?”
“Astaga! Kami kira kau pacaran sama dia.”
“Eh, kok bisa seperti itu. Kapan aku pacaran sama dia.”
Mukaku jadi masam mendengar kata-kata Kagami. Merusak suasana saja…
“Ada gossip tentang kalian, katanya Haruka menyukaimu. Kami kira dia menembakmu.”
“Nggak, aku nggak tahu tentang itu.”
Jantung berdebar dengan kencang, aku merasakan sesuatu yang mengganjal di dalam hatiku. apa benar ya itu? Kalau saja itu benar, apakah perasaanku terjawabkan?

Musim panas dimasa SMA ini…
Beberapa hari ini cuaca sangat panas, dan musim panas pun menyapa kota Kyoto ini. Seharusnya menyambut musim ini dengan bersenang-senang, tapi aku malah galau karena seseorang yang beberapa hari ini tidak masuk sekolah…
“Aki, jangan galau dong. Haruka nggak turun beberapa hari sudah mukanya sedih begitu.”
“Eh! Siapa yang galau gara-gara dia.”
“Jangan bohong, cinta itu bagaikan teka-teki. Walaupun mulut berkata tidak tapi hati berkata ya. Jangan bohongi perasaanmu.”
“AKU NGGAK SUKA SAMA DIA. Sudahlah ganggu aja.”
Aku jadi kesal dengan Nami dan Naraku yang dari tadi mengatakan tentang gossip itu. Tapi benar juga sih aku jadi penasaran dengan gossip dan kehidupan Haruka. Rasa suka ini semakin dalam tapi semakin kusembunyikan…

Seminggu kemudian…
“Aki, ada berita buruk!”
“Ada apa?”
Nami tergesa-gesa menuju kelasnya tempat kami berkumpul makan siang.
“Ayah Haruka meninggal!”
“Apa? Kapan?”
“Hari ini sudah dikubur.”
Teringat kejadian sebelas tahun yang lalu, ketika aku menangis di mobil yang hampir meledak. Aku hanya menangis melihat ayah dan ibuku sudah tidak bernyawa. Dan sekarang kesedihan itu kembali lagi karena ayah dari orang yang kusukai ini telah tiada.
“Kau kenapa, Aki?”
Aku meneteskan air mataku, teringat dengan kejadian sampai aku kehilangan kedua orang tua itu…
“Aku tahu bagaimana rasa, kehilangan orang tua.”
“Sudahlah, Aki.”
Para saudaraku menenangkanku, dan di dalam hati ini terus terpanjatkan doa untuk selalu menabahkan hati orang ini…

Siangnya…
Pintu rumah Haruka tertutup rapat. Nami, Miku dan Naraku pergi memasuki panti asuhan, sekarang di depan panti asuhan tertinggal hanya aku dan Yumi…
“Sudahlah, tanpamu dia bisa menjalankan kehidupannya. Jangan terlalu khawatir ya.”
“Yumi. Kau tahu?”
“Hm, tapi aku nggak bakal beritahu mereka dan yang lainnya. Tenang aja.”
“Terima kasih.”
“Ayo masuk.”
Di setiap langkahku tertuju pada rumah yang mungkin sudah tidak ada penghuninya lagi. Pintu dan jendela telah tertutup rapat. Sekarang bagaimana?

Musim gugur…
Setelah apa yang telah terjadi, aku melihatnya termenung di tempat duduknya. Sepertinya dia masih mengingat kematian ayahnya. Wajah lesu, suram dan sedih itu terpampang jelas di wajahnya. Dan wajah itu apa akan menghilang dari hadapanku?

Sepulang sekolah…
Langkah kami sama. Di sepanjang jalan menuju panti asuhan dan rumahnya, aku berada di belakangnya mengiringi jalannya. Aku terus berpikir “Bisakah aku membantumu?”. Setiap langkahku daun kekuningan berguguran. Seperti saat ini detik-detik dia akan menghilang dari hadapanku…
“Kau mengikuti ya?”
Aku tersentak kaget…
“Nggak! Aku mau pulang.”
Lalu…
“Jangan menyukaiku atau pun membantuku. Aku tidak perlu bantuanmu.”
Langkahku terhenti. Saat itu secara tidak langsung aku telah ditolak olehnya. Di bawah daun yang terus berguguran dia terus melangkah dan melangkah menjauh dariku…

Setelah kejadian itu, aku kehilangan semangat dan keceriaanku. Berharap bisa membantunya dan menjadi pacarnya adalah hal yang ingin kulakukan untukknya, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Dia tidak menyukaiku dan tak ingin bantuan dariku…

Tiga hari kemudian…
Aku memegang tas sekolahku dengan erat dan masih teringat akan kata-kata Haruka waktu itu. Terus melangkah dan melangkah pergi ke kelas, tapi terhenti karena aku melihat banyak murid yang berdesak-desakan melihat sesuatu di mading sekolahku. Mereka melihat hasil ujian akhir musim ini, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan hasil ujian itu.
Tiba-tiba, seorang murid membaca salah satu murid yang tidak lulus ujian…
“Wah, Haruka Nami tidak lulus ujian.”
“Lalu hasil ujiannya juga jelek. Dia bisa nggak naik kelas.”
Orang-orang yang berbicara tentang Haruka itu berjalan ke arahku. Dan pikiranku pun kembali kacau. Aku pun menghampiri mereka…
“Maaf, apa itu hasil ujian untuk kenaikan kelas?”
Mereka beraling ke arahku dan agak terkejut melihatku…
“Ha, soal hasil ujian itu, sepertinya hanya hasil ujian sementara.”
Lalu murid yang satu lagi menyambung…
“Mungkin ujian untuk menentukan kenaikan kelas nanti akan diadakan awal musim dingin nanti.”
“Apa kalau tidak mengikuti ujian itu bakal tinggal kelas?”
“Sepertinya, habis murid yang bernama Haruka Nami itu tidak mengikuti ujian kemarin pasti sudah dia nggak naik kelas.”
“Mungkin kalau saja dia mendapat nilai sempurna di ujian nanti mungkin dia bisa naik kelas.”
Aku terdiam, mereka pun melanjutkan langkah mereka dan pergi entah kemana. Lalu para saudaraku datang…
“Aki-chan, kenapa kau? Sakit?”
“Tidak.”
Aku pun tanpa sadar meninggalkan saudaraku pergi ke kelas. Aku begitu kepikiran Haruka. Kenapa dia mempunyai kehidupan yang rumit seperti itu sih?

Sepulang sekolah…
“Permisi.”
Aku beberapa kali mengetuk pintu rumah Haruka, tapi tidak ada satu pun yang membukakak pintunya. Aku tadi tidak melihat Haruka hari ini, dia juga tidak masuk kelas hari ini, dan tidak melihatnya bersama teman-temnannya hari ini. Jadi aku pergi ke rumahnya. Tapi pintu rumahnya tidak ada yang membuka.

Tak lama…

“Rumahnya, baru saja dikosongkan.”
Seorang kakek menghampiriku dan memberitahuku kalau rumahnya itu baru saja dikosongkan…
“Dikosongkan? Kenapa?”
“Katanya mereka punya hutang banyak, sehingga tidak bisa bayar uang kontrakan. Tadi semua barang-barang mereka dilempar keluar. jahat sekali pemilik rumah itu.”
Dia telah pergi, kemana dia?
“Maaf, Kek. Apa kakek tahu mereka dimana?”
“Kalau itu dia saya tidak tahu. Permisi.”
Kakek itu langsung pergi, langkahnya begitu cepat. ketika aku memintanya untuk berhenti sebentar, kakek itu sudah menghilang…

Hampir setiap hari aku mengurung diriku di kamar. Sepulang sekolah aku langsung duduk di samping jendelaku, dan terus berpikir dimana dia sekarang. Aku begitu kangen dia, di sekolah aku tidak melihatnya begitu juga dengan rumah yang sudah tidak berpenghuni itu. Aku begitu rindu, sangat rindu…

Tak lama…

“Aki-chan.”
Yumi, Miku dan Nami menghampiriku. Mereka duduk di sampingku, tapi aku tidak menghiraukannya…
“Aki, ayo kita makan malam. Sudah beberapa hari ini kamu nggak ikut makan malam.”
Nami sangat khawatir dia mengajakku untuk ke ruang makan tapi aku tetap dia saja…
“Aki, jangan terus begini nanti kamu sakit. Besok ada ujian kenaikan kelas. Kamu nggak bisa terus begini.”
Aku menitikkan air mata…
“Sekarang aku merasakannya lagi. Kenapa setiap menyukai seseorang mereka malah menghilang dan menjauh.”
“Aki…”
“Aku menyukainya dan ingin bersama melewati hari buruknya. Tapi dia bilang dia nggak butuh itu.”
“Sudahlah, Haruka bukan cowok yang baik.”
“Sekarang, aku harus melangkah sendiri lagi?”
Yumi langsung memelukku…
“Anggap saja kau tidak mengenal Haruka. Dia pasti akan lebih senang kalau kau menjauhinya.”
“Tapi dia bilang dia menyukaiku, kenapa malah dia yang membenciku?”
“Laki-laki sepertinya hanya mengeluarkan harapan palsu. Jangan mengingatnya lagi.”
Aku menangis dipelukan Yumi. Hangat seperti pelukan seorang ibu. Lalu Nami dan Miku juga memelukku. Sekarang memang benar saatnya aku melupakan Haruka…

Musim dingin…
“Wah, ujiannya susah juga ya.”
Semua murid di sekolahku mengeluh dengan soal ujian yang susah. Mereka sangat cemas dan takut, kalau hasil ujian mereka jelek maka mereka tidak naik kelas. Diawal musim dingin ini, aku melihat Haruka mengikuti ujian. Tapi dia sama sekali tidak pernah berkumpul atau bersama teman-teman sekelasnya. Dia begitu tertutup, wajah sedih dan lesunya itu masih terlihat jelas. Mungkin dia masih sedih dengan kematian ayahnya…
Lalu beberapa hari mengikuti ujian, hasilnya keluar di satu hari sebelum liburan musim dingin…
“Wah, Aki kita berlima naik kelas.”
Teman sekelasku dan para saudaraku sangat senang dengan hasil ujian mereka. Kami semua naik kelas. Aku bisa merasakan hasil kerja mereka yang terbalaskan dengan baik. Aku pun senang dengan hasil ujianku ini. Syukurlah aku bisa naik ke kelas selanjutnya…

Lalu…

“Ha, itu Haruka!!”
Naraku melihat Haruka pergi keluar sekolah. Kami pun termasuk aku langsung melihat ke arah Haruka…
“Apa dia naik kelas?”
“Entahlah Aki, tidak ada yang tahu.”
Aku pun langsung mengejar Haruka. Mungkin inilah kesempatan terakhirku…
“Haruka, kau naik kelas?”
Langkah itu terhenti, dan berpaling ke arahku…
“Tidak.”
“Apa kau akan mengulanginya lagi. Di kelas satu.”
Dia hanya diam dan kembali melangkah. Dia pergi keluar gerbang bersamaan dengan murid-murid yang keluar dari gerbang membawa hasil ujian mereka. Dia menghilang di keramaian para murid-murid itu. Di dalam hati aku bisa mengucapkan…
“Selamat tinggal. Mungkin ini yang terbaik dan semoga kau sadar dengan apa yang terjadi sekarang. Selamat tinggal musim semi-ku.”

Sesampai di panti aku terus mengurung diriku dan menangis. Aku tidak bisa bersamanya dan aku harus sendirian menjadi hari-hari yang berat ini…
“Aki.”
“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”
“Dari pada kau terus begini, mungkin lebih baik kau meluapkan semuanya melalui tulisan atau semacam. Carilah kesibukan, kami akan bantu kamu melupakannya. Kau pasti mendapatkan cowok lebih baik daripada Haruka.”
Aku kembali menitikkan air mataku, aku bersyukur memiliki teman dan keluarga seperti mereka. Tuhan terima kasih, walaupun dia jauh disana aku tahu Engkau selalu memberikan yang terbaik untukku dan untuknya…

“Cinta Dimusim Gugur
Ketika cinta disapa di musim semi
Bunga sakura berguguran…
Ketika mencintai dan menyukainya…
Musim dingin menghilang
Digantikan oleh musim semi
Tapi apa itu ilusi yang kau buat untukku?
Aku menyukaiku tapi hanya untuk mempermainkanku…
Lalu cinta ini seperti musim gugur
Daun kering berjatuhan
Kau pergi terus melangkah
Ketika dedaunan sudah berjatuhan semua
Yang tertinggal hanya ranting yang tidak berdaun
Menunggu musim dingin yang menyedihkan
Tanpa dia dan sendiri
Cinta itu adalah musim gugur
Ketika dedaunan berjatuhan
Ketika setiap rasa sakit ini
Aku biarkan seluruh rontok
Dan kubiarkan rasa sakit ini menjalani musim dinginnya…
Tapi ketika musim dingin berubah menjadi musim semi…
Maka saat itu aku telah membuang semua
Aku meihat langit dengan warna yang biru
Aku akan merasakan hangat matahari musim semi
Aku akan melihat bunga plum dan sakura bermekaran
Dan saat itu aku sudah melupakanmu
Selamat tinggal…”

TAMAT

Cerpen Karangan: Tyaz Hastishita
Facebook: Tamia no Tyaz

Cerpen ini didedikasikan untuk mereka yang harus tabah ketika cinta harus memilih antara menjauhi kehidupannya atau mendekatinya tapi hanya melukainya saja.

Selamat Membaca ^_^

Cerpen Autumn (Cinta di Musim Gugur) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sayonara Memory

Oleh:
Langit cerah tertutup awan. Sinar orange terpantul matahari senja yang kini hanya terlihat di ufuk barat. Aku bersyukur pada kuasa rabb yang begitu besar. Apa yang kunantikan hari ini

Berakhir 2 (Berhenti Berharap)

Oleh:
Aku heran kenapa semua orang disini sangat baik padaku. Padahal mereka baru saja kenal aku. Begitu pula dengan dian, cewek tomboy yang sedikit aneh itu juga berubah sifatnya. Dan

Listen to My Heart

Oleh:
Nadia membuka lembar demi lembar yang tertulis not angka dan not balok, ia mainkan nada-nada itu dengan piano. Lama-lama ia merasa bosan, jadi ia meninggalkan piano itu. Ia membuka

Cinta Tak Harus Memiliki

Oleh:
“Empek-empek ageetttttt…” suara merdu itu yang kurindukan setelah 4 tahun lamanya aku tak mendengar suara itu. Selalu terlintas dalam pikiranku dan menemaniku sepanjang perjalanan pulangku. Bahkan sesekali aku menyanyikan

Frustrations

Oleh:
Sudah sebulan. Ya, sudah sebulan sejak Marineford War. Sejak kematian 2 orang yang sangat berharga bagi Marco. Shirohige, ayahnya -dan ayah mereka samua-, dan… Ace. Mungkin hanya anggota divisi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *