Bagaimana Mencintai Tanpa Bertele Tele

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 7 June 2017

Sebait kisah sedih yang aku yakin sekali bahkan tidak pernah ada yang tahu semenyakitkan apa rasanya ditinggalkan dengan cara yang tidak pernah kaubayangkan sebelumnya.

Baru-baru ini, aku berkenalan dengan laki-laki bernama Surya. Aku tahu dia karena kakakku kuliah di satu kampus yang sama dengannya. Dan ya, kakakku yang mengenalkan aku padanya. Aku pernah beberapa kali satu angkot dengannya saat aku masih duduk di bangku SMA. Mungkin karena aku penasaran, akhirnya aku memaksa kakakku untuk mengenalkan laki-laki itu padaku.

Kakakku bercerita banyak tentang dia yang saat ini kuliah di sebuah universitas swasta jurusan Bahasa Inggris semester tujuh. Awalnya aku merasa, ah dia sudah dewasa. Dan dia terlalu tua untuk ukuran laki-laki yang aku sukai.
Lalu aku mencoba ingin menepis rasa sukaku.

Sebenarnya ada alasan lain. Kakakku tidak suka aku dekat dengan dia. Kakakku tidak pernah suka aku dekat dengan dia.
Aku bertemu dengannya beberapa kali.
Ah, bukan.
Aku yang meminta untuk bertemu dengannya beberapa kali. Akulah yang selalu memintanya bertemu. Dan aku pun sudah lama menyadari rasa sukaku tidak sesederhana itu. Aku tidak bisa menolak apa yang sebenarnya aku inginkan.
Tetapi aku tetap memilih mundur.
Bukan karena kakakku.
Ada satu alasan yang memberatkanku.
Ah, tidak. Aku hanya tidak ingin membuat ia merasa terbebani.
Kenapa?
Dia tidak jatuh cinta. Dia tidak bisa jatuh cinta.
Lebih tepatnya tidak boleh dan tidak ingin.

Aku mundur perlahan dengan tidak berada dalam satu lingkup wilayah dengannya. Aku melanjutkan kuliah di Semarang. Itu artinya intensitas bertemu kami akan semakin sedikit. Dia juga sibuk dengan KKN dan skripsi.
Dalam jarak yang seharusnya memang tidak terlalu jauh itu -Semarang ke Salatiga hanya satu jam lebih- aku tentu tidak lantas melupakan dia. Karena sejujurnya tidak ada niatan aku melupakan dia. Aku hanya ingin melebarkan jarak. Aku selalu memantau kegiatan dia dengan melihat update-update terbaru dari akun sosial medianya BBM dan twitternya.
Dan aku tidak tahu aku yang terlambat menyadari atau aku karena aku sudah terlanjur jatuh dalam waktu yang sudah lama. Aku tidak tahu.

Baru-baru ini kakakku mengirim sesuatu yang seharusnya mengejutkanku. Kakakku mengatakan yang sejujurnya tentang alasan aku tidak boleh dekat dengan laki-laki itu. Tentang mengapa kakakku melarangku untuk jatuh cinta. Kepada laki-laki itu.
Dia sakit.
Kanker ganas menyerang kelenjar getah beningnya.
Aku tahu.
Aku sudah tahu.
Aku hanya mencoba untuk tidak mau tahu.
Itulah alasan aku memilih mundur.
Bukan karena aku tidak mau bersanding dengan seseorang yang memiliki penyakit mematikan itu. Bukan karena aku merasa tidak mampu menjaga dan menemani seseorang yang penyakitan seperti dia.

Setengah tahun lamanya hingga akhirnya aku bertemu dia lagi.
Ya. Aku yang meminta bertemu.
Selalu aku yang ingin bertemu.
Selalu aku yang menjadi pertama yang ingin bertemu.
Dia saat itu sedang diopname. Ya. Aku datang karena dia masuk rumah sakit. Padahal aku kira aku tidak akan menemuinya saat ia dalam keadaan sakit.
Tetapi aku tahu itu tidak mungkin. Aku sepenuhnya sadar, jauh sebelum aku mengenalnya, ia sudah dipilih Tuhan untuk sementara membawa beban penyakit itu. Dan aku benar-benar tidak tahu, kata sementara itu akan bertahan berapa lama.
Selama ini. Selama aku menemuinya ia sedang dalam keadaan sakit. Ia hidup hanya untuk bertahan dari penyakit yang bisa kapan saja memintanya menyerah.

“Gimana kuliahnya?” Pertanyaan pertama darinya. Selama ini dia tidak pernah menanyakan apa pun yang berkaitan dengan masalah pribadiku. Biasanya kami hanya membicarakan berita yang muncul di tv, tukang siomay yang lewat di depan rumah, dan hal-hal remeh temeh yang tidak pernah menyinggung masalah pribadi.
“Not really funny. Tapi kayaknya aku bisa betah.”
“Good to hear that. Jadi sekarang kamu libur? Libur berapa hari?”
“Dua minggu.”
“Bagus dong. Kuliah capek kan? It would be better for you to spend your time to get some trip for refresh your mind. Semester-semester berikutnya bakalan lebih berat.”
“Not too good. Karena kamu di sini.”
Aku tidak pernah berharap akan mengunjunginya di rumah sakit seperti ini. Aku tidak bisa melihatnya terbaring di kasur ramah sakit. Aku tidak bisa melihatnya sakit. Aku hanya tidak bisa melihatnya dalam keadaan seperti ini. Aku tidak kuat.
Seharusnya aku memang mundur saja dan tidak menemuinya selamanya.
Kenapa aku malah di sini sekarang? Aku juga tidak tahu.

“Maksud kamu?”
“Aku kangen kamu. Dan aku pengennya spend my time sama kamu. Aku sebenernya udah ada planning liburan ke Jogja sama temen-temen aku. Dan rencananya aku mau ngajak kamu.” Kataku sejujurnya.
Aku lega untuk pertama kalinya aku mampu dan aku berani mengungkapkan perasaanku kepada laki-laki ini. Tetapi aku tahu aku tidak seharusnya begitu.
“You can’t deal with it. Kamu pergi sama temen-temen kamu. Kamu nggak bisa pergi sama aku.”
Dia tidak pernah suka saat ada orang yang terang-terangan menyatakan simpati dan rasa suka padanya. Apalagi saat aku yang mengatakannya. Hanya kepadakulah ia paling enggan menerima satu bentuk rasa simpati. Karena ia selalu menganggapnya sebagai rasa kasihan.

“Kenapa?” tanyaku.
Aku sebenarnya tidak suka caranya menolakku. Dia tidak pernah setuju dengan semua yang ingin aku lakukan bersamanya. Tetapi aku mencoba untuk mengerti. Aku hanya tidak ingin terlihat egois. Walaupun semakin lama rasanya semakin menyakitkan saat ia dengan terang-terangan selalu membantah apa pun yang kukatakan.
“Kamu bisa apa kalau aku tiba-tiba pingsan?”
Pertanyaan yang langsung tepat menohok jantungku. Selama ini aku tahu dia sakit. Tetapi selama itu juga ia tidak pernah membiarkan aku melihatnya kesakitan. Selama ini hanya teman-teman dekatnya yang tahu. Kakakku yang sekelas dengannya pun hanya sekadar tahu bahwa laki-laki ini sakit. Itu saja.

“Aku nggak bilang aku akan pergi sama kamu. Aku hanya berharap bisa pergi sama kamu. Setidaknya satu kali.”
“Setidaknya sekali? Sebelum aku mati maksud kamu?”
Dia adalah laki-laki paling jahat yang aku kenal.
Ah, tidak. Ia hanya melakukan ini padaku. Dia adalah teman yang baik untuk orang-orang tertentu. Tetapi tidak padaku. Ya, dia hanya tidak baik padaku. Aku tahu itu.

Pada akhirnya aku tetap pergi dengan teman-temanku. Tanpa dia Kami pergi ke Yogyakarta. Seharusnya memang tidak apa-apa. Tetapi, aku sama sekali tidak menikmati perjalanan kami kali ini. Bukannya aku lebih memilih memikirkan orang lain saat kami sedang berlibur. Tetapi aku hanya tidak bisa menahannya. Otakku seperti dipaksa untuk terus mengingat laki-laki itu.

Selama perjalanan menuju Yogyakarta, tidak ada hal lain yang kupikirkan selain kanker dan laki-laki itu.
Saat itu kami sedang berjalan-jalan di pesisir pantai Parangtritis, sesaat tiba-tiba otakku terpikirkan ide aneh. Aku menulis sebuah surat yang kutujukan untuk Tuhan. Surat itu aku masukkan ke dalam botol. Dan aku membiarkan ombak membawa pergi jauh-jauh surat itu.
Aku ingin mendengar tentang kesembuhannya dari penyakit mematikan itu.
Aku tidak pernah tahu kalau sebuah surat bisa membawa petaka.

“Ya Tuhan, selama ini aku tahu. Alasan mengapa dia tidak jatuh cinta. Dia hanya jatuh cinta pada-Mu. Cintanya pada-Mu sederhana, tidak memaksa, dan tidak bertele-tele. Tetapi tidak sesederhana aku mengatakan padanya kalau aku sedang rindu. Tetapi aku tahu, dengan caranya mengungkapkan cinta pada-Mu, aku tahu dia mencintai Tuhannya dengan sederhana. Sederhana yang hanya berlaku pada Tuhan dan umatnya. Ia tidak memaksa dirinya mencintai Tuhannya. Ia hanya menuruti hatinya Ia juga tidak bertele-tele. Dia pernah berkata padaku untuk mencintai tanpa bertele-tele. Bagaimana? Tanyaku saat itu. ‘Berdoalah.’ Begitu katanya. Aku tidak tahu harus berdoa yang seperti apa? Bagaimana?
Tuhan, izinkan aku meminta satu hal. Tuhan, jangan biarkan ia hidup dengan rasa sakit itu. Sepulangku dari sini, satu-satunya yang aku harapkan adalah aku mendengar tentang kesembuhannya dari penyakit mematikan itu. Setidaknya dengan begitu aku bisa lebih berani dan lebih mampu untuk berada di dekatnya. Walaupun kalau pada akhirnya aku tetap tidak memenangkan hatinya. Tidak apa. Selama dia tidak hidup dengan rasa sakit dan bayangan-bayangan kematian yang selalu ia ceritakan.
Ya Tuhan, kalau memang dia jodohku, dekatkanlah.
Tidak apa-apa sekarang dia tidak menyukaiku. Tidak apa-apa. Aku tahu dia tidak bisa jatuh cinta. Ya, aku tahu. Tetapi tidak apa. Aku hanya butuh dekat. Dan selama aku bisa melihatnya, tidak apa.
Tidak apa-apa sekarang dia tidak membalas perasaanku. Aku tahu dia tidak mau jatuh cinta. Ya, aku tahu. Tetapi tidak apa. Aku hanya butuh dekat. Dan selama dia masih ada di dunia ini, tidak apa.
Aku menginginkan dia. Tetapi aku tahu, aku tidak bisa memaksa.
Ya Tuhan, kalau memang dia hanya figuran dalam hidupku, tetap biarkan saja dia dekat denganku. Tetapi, biarkan aku sendiri yang menyimpan cinta sebelum dia menyadarinya.
Tidak apa-apa dia tetap tidak bisa menyukaiku. Tidak apa-apa. Tidak masalah jika akhirnya akan tetap menyakitkan.
Tidak apa-apa jika dia tidak membalas perasaanku. Tidak masalah jika pada akhirnya hanya aku yang akan terluka. Tidak apa-apa.
Tidak masalah jika akhirnya hanya aku yang akan menyimpan luka. Tidak masalah. Ya. Tidak masalah selama aku masih mampu mencintainya.
Setidaknya aku pernah jatuh cinta. Setidaknya aku pernah terluka.
Aku menginginkan dia. Tetapi kalau dia tetap tidak bisa bersamaku. Tidak apa.
Aku tetap akan bahagia melihatnya.
Ya. Setidaknya aku pernah bahagia karena mencintainya.
Beginilah caraku mencintainya. Jadi tidak apa-apa.”

Aku pulang dari Yogyakarta tiga hari kemudian. Aku langsung pergi ke rumah sakit. Tetapi kamar yang ia tempati sudah berganti pasien.
Ia sudah pulang kemarin. Begitu kata suster saat aku bertanya ke bagian administrasi.
Aku tidak mempermasalahkan apa-apa saat itu. Aku bersyukur ia sudah dibawa pulang. Jadi, aku langsung pulang ke rumah. Aku pikir dia sudah pulih dari serangannya. Setidaknya itu yang ingin aku tahu.

Aku pulang begitu saja. Bertemu kakakku dan bercerita tentang apa saja yang aku lakukan di Yogyakarta. Termasuk surat yang kutulis. Entah kenapa isi surat itu aku menghafalnya hingga di luar kepala. Selesai menceritakan isi surat itu, kakakku menangis. Apa semenyedihkan itu aku? Hingga kakakku menangisi perasaanku yang tak berbalas?

Hari berikutnya aku pulang ke Semarang. Ada rapat mendadak dari organisasi Himpunan Mahasiswa yang aku ikuti. Sebelum perjalanan menuju Semarang aku menyempatkan menelepon dia. Tetapi hingga telepon ke tujuh tidak ada jawaban. Statusnya terhubung. Tetapi sama sekali tidak ada jawaban. Terakhir kalinya yang ke sembilan justru operator yang menjawab. Teleponnya tidak aktif.
Mungkin dia sedang istirahat. Dia butuh tidur yang banyak. Begitu batinku berkata. Aku hanya tidak ingin berpikir buruk.

Kakakku memintaku untuk tetap di Semarang saja. Kakakku tidak ingin aku kelelahan. Begitu katanya. Aku menurut saja. Walaupun sebenarnya aku ingin di rumah saja hingga liburan berakhir.
Setelah dua hari di Semarang aku mulai merasakan sesuatu yang ganjal. Aku tidak tahu kenapa tetapi rasanya ada ssuatu hal yang mendorongku untuk pulang dan menemui orang itu –Surya- ke rumahnya. Aku bisa menahan kepulanganku hingga satu minggu kemudian. Dan akhirnya aku menyerah dan pulang.
Tidak. Aku bukan pulang ke rumah. Tetapi aku menuju ke rumahnya terlebih dahulu.
Aku merasa perlu datang.

Aku datang begitu saja. Berdiri di depan pintu rumahnya yang selalu tertutup.
Aku mengetuk pintu dengan perasaan was-was yang tak juga hilang bahkan setelah Ibunya menyuruhku masuk.
Sebuah kejutan yang luar biasa. Aku disambut sebuah kabar yang entah itu melegakan atau menyesakkan. Aku tidak tahu lagi.
Dia sudah tidak sakit lagi. Itu yang sangat melegakan.
Rasa sakit pada tubuhnya yang aku minta dari Tuhan untuk dihilangkan saja dari tubuhnya sudah tidak lagi menggerogotinya.
Dia sudah terbebas dari penyakit yang mematikan itu.
Tuhan. Tuhan memang Maha Kuasa.
Bukan.
Dia bukannya melawan penyakit mematikan itu.
Ia dibunuh dan secara paksa dibebaskan dari penyakit itu.
Dia sudah pergi.
Jauh sekali.
Jauh sekali.
Jauh.
Jauh.
Hingga aku tidak bisa menghitung jarak.
Hingga aku tidak bisa melebarkan langkah kaki.
Satu milyar pasang kaki pun, takkan mampu menggapainya.
Dia pergi, satu jam setelah aku pergi meninggalkan rumah sakit. Sebelum aku pergi ke Yogyakarta. Sebelum aku sempat menulis surat untuk kukirim kepada Tuhan.
Dia sudah pergi.
Sebelum surat itu kutulis. Sebelum surat itu bermuara kepada Tuhan.
Bahkan sebelum aku terpikir membuat surat untuk Tuhan.
Karena tanpa surat itu pun, Tuhan Yang Maha Tahu sudah memberikan nego yang menggiurkan. Untuk laki-laki itu.
Bukan untukku.
Karena aku ingin egois. Aku ingin ia dibebaskan. Tetapi tidak pula dimatikan.
Dan kenyataan kalau dia hanya meninggalkan sebuah kenangan terakhir yang menyakitkan, itulah bagian yang paling menyesakkan.

Cerpen Karangan: Anisalia
Facebook: Anisalia Nur Islamiyah

Cerpen Bagaimana Mencintai Tanpa Bertele Tele merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Bersamamu

Oleh:
Pagi senin, pagi yang aku tunggu setelah 2 hari yang lalu aku merubah gelar lajangku menjadi berpacaran. Tak sabar rasanya kulangkahi kaki ini untuk memasuki ruanganku, ruangan yang mempertemukan

And I Hope

Oleh:
Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil Aku memang terkenal dengan keramahanku,

Aku Bukan Untukmu

Oleh:
Pagi Yang cerah, aku berjalan menyelusuri koridor sekolah, pagi ini hatiku sangat senang, Karena aku baru saja jadian sama orang yang aku sayangi dan aku cintai namanya Iqbaal Dhiafakhri

Ungkapan Kasih

Oleh:
10 Desember 2010 Bumi terus berputar, lalu matahari muncul kembali di bagian timur dengan cahaya temaramnya. Indah, terlebih dengan pegunungan-pegunungan yang berbaris disertai dengan sederetan pohon-pohon pinus yang menjulang

Butiran Debu

Oleh:
Sore itu hujan turun lebat, aku yang sedang berteduh di halte, tiba tiba ku lihat dari kejauhan seseorang menghampiriku, ketika dia membuka helmnya, barulah ku tau, sosok wajah itu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *