Barangkali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 29 November 2016

Kehidupan barangkali hanya berutar-putar dalam pusaran sebab-akibat, begitupun sebaliknya. Seperti … Aku diciptakan Tuhan dalam rahim Ibuku karena cinta. Ibu merawat dan menjagaku dalam kandungannya karena cinta. Aku dilahirkan dan disusui karena cinta. Aku tumbuh sebesar ini karena cinta, cinta dari orang-orang yang juga mendapatkan cinta. Bahkan aku beristri seorang pecinta. Seseorang bisa merasakan dan memberikan cinta ketika ia sadar bahwa ia hidup karena cinta. Bahwa segala sesuatu yang menghidupkan adalah cinta.

“Lantas jika Tuhan mematikan kita apakah itu bukan cinta?” Sebuah suara mengagetkanku dari lamunan pagi itu. Seakan membaca pikiranku, dia bertanya sesuatu yang baru aku pikirkan tadi.

Aku tersenyum. Berdiri menghampirinya, memapahnya menuju ranjang, merebahkannya, menaruh bantal di kepalanya, lalu berakhir dengan aku duduk memandangnya. “Aku tak tahu, Entah itu rahasia Tuhan atau memang pikiran manusia yang terbatas,”

Dia tersenyum, menatap wajahku dengan penuh cinta, kurasa. Barangkali dia hanya kasihan melihat wajahku yang penuh keriput. “Kau masih seperti waktu muda. Seorang yang segar dan bersemangat,” katanya. Barangkali cinta bisa membutakan, dan hidup ini penuh dengan barangkali dan andai-andai.

“Benarkah? Kau juga cantik. Matamu cantik. Hidungmu cantik. Bibirmu cantik. Bahkan rebahanmu cantik,” Candaku.
Pipinya yang tak lagi kencang itu kuusap perlahan. Aku sungguh merindukan saat-saat seperti ini. Bersamanya untuk waktu yang panjang.

“mungkin kita akan berpisah dalam waktu dekat. Aku sungguh ingin beristirahat. Boleh ya?”
Dia tersenyum ketika bicara begitu. Aku jadi agak kesal. Melenceng banyak dari rayuanku sekejap lalu.

“Tidak. kita tak akan berpisah. Kau akan sembuh. Kita akan pindah ke jayapura. Menetap disana. Menghabiskan masa tua kita bersama,” Ucapku.

“Barangkali Tuhan ingin bertemu denganku,” Ujarnya dengan pandangan menerawang.

“Apanya yang bertemu? Kita bersama Tuhan sepanjang waktu,”

“Tidak, maksudku bukan itu. Aku merasa sudah saatnya aku pergi,”

Aku terdiam bersama lamunanku. Benarkah dia akan meninggalkanku? Meninggalkan lima puluh tahun pernikahan kita? Dia sungguh tak punya perasaan!

“Jika Tuhan mengambilmu dariku, berarti Tuhan tak cinta padaku.” Tanganku menggengam tangannya dan mengelus rambutnya yang beruban. Sungguh kali ini aku marah. Marah pada keadaan. “Kau datang untuku, menetap, lalu pergi? Tidak. Kau akan tetap menetap. Lalu kita akan pergi bersama-sama.” Aku berkata Jujur dari dalam hatiku. Sungguh.

“Hei, kamu yang datang dulu. Akulah yang menetap.”

“Tapi kau yang ingin pergi duluan.”

“Tidak.”

“ya.”

“Hei. Jangan begitu.”

“kenapa? Dari dulu aku selalu begini. Selalu mencintaimu.”

“baiklah. Baiklah. Sudah minum obat?”

” … ”

Seperti itulah. Pagi yang mendung itu. Di kamar rumah sakit yang pucat. Aku bernostalgia. Berdebat dengan istriku yang cantik. Debat ala-ala orang tua. Debat antara kakek nenek. Debat antara pasangan yang sudah lima puluh tahun menikah, tetapi tak malu mengaku seperti pengantin baru. Tak peduli masalah kami sangat berat, kami hanya mencoba meringankan dengan memikulnya bersama-sama.

“Cinta memang seperti itu. Tua jadi muda, dan yang muda malah mengaku tua.” Begitulah kiranya yang dia katakan dulu. Seorang pecinta yang ingin mendapatkan cinta. Gadis jayapura yang eksotis, cantik, dan istimewa, dan cerewet.

“Aku tidak cerewet. Aku hanya mengutarakan apa yang aku pikirkan. Freedom speech, right?” Begitulah caranya mengelak. Cerewet ya tetap cerewet.

Tapi Aida, aku benar-benar merindukan cerewet itu sekarang. Hanya sepi yang kudapat. Cinta memang berujung sepi. Tapi aku yakin jika kau masih di sampingku, kau akan marah bila aku menyalahkan cinta. Tapi kenyataanya kau tak ada disini.

Istriku Aida, benarkah yang aku lakukan ini adalah cinta?. Menghamburkan tanah ke tubuhmu, Memusarakanmu di antara anak-anak kita yang tak terlahir seperti yang lain, apakah itu cinta?. Jika itu cinta, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati, mengantarkanmu untuk yang terakhir kalinya ke hadapan Sang pencipta.

Lalu aku tidur sendiri, di bawah bintang-bintang menyebut namamu dan anak-anak kita. Jika aku bisa bangkit dari keterpurukan ini, apakah itu termasuk Cinta?. Jika itu cinta, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati.
Dan, barangkali Tuhan meminta kau kembali agar aku lebih kuat dalam menjalani apa yang sebenarnya disebut cinta.
“Cinta suci adalah cinta Tuhan kepada makhluk-Nya.” Aku tersenyum ketika kau bilang begitu, Tersenyum sambil mengerutkan mata.

Pemalang, 27 Mei 2016

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indah Cho
Terimakasih sudah membaca

Cerpen Barangkali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1 Bunga Yang Layu (Part 1)

Oleh:
Aku menangis sejadi-jadinya melihat belahan hatiku terbaring lemas di rumah sakit. Dia tidak pernah menceritakan penyakitnya itu kepadaku. Aku marah sekaligus tak tega melihatnya. Sore menjelang malam, hanya ada

Sepenggal Luka Untuk Lukas

Oleh:
28 Agustus 2005 “Kebersamaan kita berujung di sebuah persimpangan jalan. Kau menentukan jalanmu sendiri dan aku melangkah ke negeri seberang untuk meneruskan pendidikan. Ujian hidup yang kita alami dulu

Jilbab Untuk Dara

Oleh:
Pagi itu suasana sekolah begitu asri dengan sinar matahari yang mulai menyinari muka bumi ini secara perlahan, jajaran-jajaran gedung yang berdiri kokoh menambah elok keindahan kota ini. Setiap pagi,

That Rainy Day

Oleh:
6 Mei 2013 Lagi-lagi hujan.. Perempuan itu menatap langit berselimut hitam. Cuaca terlihat kurang baik. Aku benci hujan. Ia langsung berlari menerobos hujan yang masih rintik-rintik menuju halte yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *