Beda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 31 October 2017

Betapa indah jika kita bisa menyayangi dan memiliki orang yang kita cintai. Tanpa sebuah penghalang. Namun, lain halnya dengan kisah Salma dan Saka yang harus terpisah karena dinding kokoh yang menghalangi mereka. Banyak pelajaran hidup yang mereka terima sampai akhirnya mereka mengerti bawa cinta memang tak selalu bisa dimiliki.

“siang tante, Salma nya ada?” suara anak muda itu menghentikan sejenak pekerjaan wanita paruh baya di depannya “eh.. nak Saka, ada ada. Salma! Saka sudah datang ni” tak lama keluar seorang gadis berpakaian rapi dengan celana hitam panjang, blouse biru, dan tak lupa jilbab dengan warna senada. “mau berangkat sekarang?” tanya Salma pada Saka “iya keburu siang” jawab Saka. Mereka pun berpamitan kepada ibu Salma.

Siang itu Salma dan Saka pergi menonton film yang memang baru diluncurkan dan juga untuk mengisi libur hari minggu mereka. Dua jam berlalu film pun usai diputar keduanya memutuskan untuk pergi ke mall di depan gedung bioskop untuk mencari makan.

“Saka kamu yang pesan makanan ya, aku mau salat dulu” pamit Salma pada Saka “oke sip”. Ya, Salma memang tak mengajak Saka karena keduanya memiliki perbedaan keyakinan, Salma selalu meghormati perbedaan itu begitu juga sebaliknya, Saka selalu mau jika harus menunggu Salma salat saat mereka pergi bersama.

“makasih ya Ka” ucap Salma saat keduanya tiba di rumah Salma “buat apa?”, “makasih buat hari ini” Salma pun tersenyum begitu juga dengan Saka “ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya” Salma mengangguk “hati-hati ya Ka”. Salma memasuki rumah dan melihat ayahnya di ruang tamu.

“siapa laki-laki itu?” suara berat ayahnya memecah keheningan “itu teman Salma yah” jawab Salma seadanya “benar dia Cuma teman?” tanya ayahnya lagi “iya” Salma sedikit menaikkan nada suaranya, hendak melangkah ayahnya kembali berucap “dia Christsaka kan?” Salma menoleh, ternyata ayah masih ingat batinnya. “ayah kan sudah bilang sama kamu jangan pernah beteman lagi sama Saka” kini suara ayahnya yang meninggi “kenapa sih yah? Masa berteman saja gak boleh? Bukannya kita malah harus punya banyak teman supaya banyak juga yang akan menolong kita, apa ayah lupa sama kata-kata ayah” hening.. mengerti keadaan yang akan semakin memanas Broto memilih untuk mengalah “pergi mandi sana, habis itu kita salat maghrib berjamaah” Broto pergi meninggalkan Salma.

Seminggu berlalu hari ini Salma dan Saka akan menghabiskan waktu libur hari minggu mereka dengan menonton film di bioskop. “hiks hiks sedih ya ceritanya” ucap Saka sambil bergaya seperti orang yang menangis “lebay kamu ah” Salma tertawa melihat aksi Saka yang konyol.

Sampai di rumah Salma, saat Saka hendak pamit pulang pak Broto menahan Saka.
“kamu Christsaka kan?” suara berat itu keluar diikuti dengan tatapan yang tajam. Salma tidak tau jika ayahnya akan berbincang berdua dengan Saka, ada perasaan takut di hati Salma, takut bila ayahnya berkata yang aneh-aneh. “Saka saya kan sudah bilang sama kamu jangan pernah dekati Salma lagi” Saka terdiam, ia juga menatap tajam pak Broto. “kalau saya tidak bisa bagaimana?” jawaban Saka berhasil membulatkan mata pak Broto “kamu pikir kamu pantas bersanding dengan anak saya? saya tau apa yang kamu iginkan dari Salma” tak ada jawaban dari Saka suasana begitu henig hanya detak jarum jam saja yang terdengar “saya minta maaf jika saya memiliki rasa terhadap Salma tapi bukan salah saya ketika saya dilahirkan di keluarga yang memiliki pandangan berbeda dengan keluarga bapak. Saya juga tak bisa untuk mengelak bahwa saya menyukai anak bapak” setelah menit menit yang penuh keheningan Saka meluapkan kalimatnya. Di sisi lain Salma mendengar percakapan keduanya, dan membuat salma semakin takut akan hal yang akan terjadi selanjutnya.

“salma!” Broto berteriak memanggil Salma “iya ada apa yah?”, “mulai besok jangan pernah temui laki-laki itu lagi, kamu tidak boleh pergi ke manapun tanpa seijin ayah, kamu juga tidak boleh pergi ke manapun di hari minggu” Salma tersentak, bingung dengan peraturan baru ayahnya yang seolah mengekangnya “apa maksud ayah?”, “intinya jangan pernah temui Saka lagi”, “kenapa sih yah? apa karena keyakinan kita berbeda?” Salma menahan isakannya “Salma, ayah hanya ingin kamu bertemu dengan laki-laki baik, memiliki pandangan yang sama dengan kita. Kamu harus tau seorang imam memiliki tugas yang berat, imam harus bisa menuntun keluarganya ke jalan yang baik” Broto memberikan pnjelasan, Salma tak kuat menahan bendungan air mata yang kini telah mengalir di pipinya.

Dua hari setelah kejadian itu Salma memberanikan diri bertemu dengan Saka pastinya tanpa diketahui oleh pak Broto. Di kursi taman itu keduanya terdiam tak ada yang berani memulai percakapan, hanya semilir angin dan cicitan burung gereja yang menghiasi keterdiaman mereka. Salma menghela nafas panjang “kalo kamu gak bisa lepasin aja Ka” ucapan Salma mengakiri kebisuan mereka, Saka menoleh menatap Salma bingung “lepasin perasaan kamu” lanjut Salma tanpa menoleh ke arah Saka, “apa aku salah Ma?” tanya Saka “kamu gak salah Ka, kita hanya perlu kembali ke dulu lagi, disaat kita gak punya perasaan ini” lagi lagi hening menemani mereka “aku Cuma gak mau kita terluka lebih dalam lagi dan aku akan berusaha untuk menghilangkan perasaan ini, mungkin setelah ini kita gak aka ketemu lagi Ka, oh ya soal kemarin maafin ayahku ya Ka” tak ada jawaban dari Saka mungkin lidahnya terlalu kelu untuk berkata atau mungkin kini ia menahan sakit di hatinya hingga ia tak punya energi untuk mengungkapkan sesuatu “udah itu aja Ka, aku pergi dulu” Salma beranjak dan pergi meninggalkan Saka di kursi taman itu. Meninggalkan cinta. Meninggalkan perasaannya.

Lima bulan kemudian. Salma sedang menunggu di ruang keberangkatan bandara. Hari ini ia akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya “bu Salma ke toilet dulu ya” ucap Salma pada ibunya yang ikut menemani Salma di bandara. Ketika selesai dari toilet Salma tak sengaja menebrak seseorang. “maaf saya gak sengaja” ucap Salma tanpa melihat wajah orang yang ditabraknya “iya gak papa” ucap orang itu, hendak pergi langkah Salma terhenti ketika tangan orang itu memegang tangan Salma. “Salma” ucap lelaki itu, Salma menoleh “Saka” Salma membenarkan posisinya menghadap Saka “apa kabar?” tanya Saka “Alhamdulillah baik” jawab Salma, keduanya terlihat sangat canggung, sudah lama mereka tidak bertemu. “kamu mau ke mana Ma?” tanya Saka “aku mau ke Amerika, ngelanjutin kuliah di sana. Kamu sendiri mau ke mana Ka?” tanya Salma ganti , “aku mau ke Semarang, sekolah pelayaran di sana” jawab Saka, keduanya larut dalam obrolan-obrolan ringan yang menyenangkan ‘pesawat Garuda Indonesia boeing 737 dengan tujuan Amerika akan segera lepas landas 15 menit lagi mohon kepada penumpang untuk segera memasuki pesawat’ suara pengumuman itu membuat keduanya berhenti.

“semoga kamu bisa raih cita-cita kamu jadi arsitek ya Ma” salma tertawa mendengar perkataan Saka, ternyata Saka masih ingat dengan cita-cita Salma yang selalu ia ceritakan dulu “aku juga berdoa semoga Saka bisa jadi pelaut yang hebat kaya popeye” “hahahaha” keduanya pun tertawa. “ya udah aku pergi dulu ya Ka, semoga kamu sukses” Saka mengangguk “kamu juga Ma semoga sukses” Salma berbalik dan melangkah pergi dalam langkahnya Salma berucap dalam hati ‘selamat tinggal Ka meski sekarang kita berpisah aku selalu percaya, kalau kita jodoh sejauh apapun kita terpisah dan sekuat apapun dinding yang menghalangi, aku yakin kita pasti akan bersatu dan hidup bahagia bersama, tapi jika kita gak jodoh aku yakin kita pasti sudah memiliki kebahagiaan kita masing-masing’.

Cerpen Karangan: Prahasdita Maharani
Facebook: Prahasdita

Cerpen Beda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertama dan Terakhirku

Oleh:
Syifa, Orang Biasa memanggilnya. Menurut teman temannya, Syifa adalah anak yang tidak suka bergaul, pintar, dan pendiam. Syifa itu orang yang gak terlalu memikirkan cinta. Baginya itu, masa depannya

Sampai Jumpa, Surfboard

Oleh:
Ku langkahkan kaki ini menuju tempat yang dipenuhi pasir putih. Ya. Tempat itu adalah pantai. Ku lihat pondok-pondoknya mulai dibongkar karena memang, musim panas kali ini akan segera berakhir.

Endorfin

Oleh:
“Sebenarnya Kebahagiaan yang indah itu berasal dari kesedihan yang tulus” Malam ini aku tengah bersandar di atas kursi berwarna biru susu. Pemandangan ingar bingar kota terlihat jelas dari balik

Pengorbanan Cinta

Oleh:
Ari terdiam. Tak ada yang bisa Ari lakukan. Melihat wajah dan mata Eliza yang memerah karena amarah. Dia hanya bisa terdiam dan terus membisu. “sekarang aku tau apa maumu!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *