Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 13 August 2013

Awal bulan yang begitu aneh untuk Raya, seorang gadis teledor dengan segala keulahannya. Semua berawal dari awal Mei kemarin, saat semua siswa lalu lalang dengan rutinitasnya di sekolah dan dengan kesibukan mereka masing-masing dengan pelajarannya, tetapi tidak untuk Raya. Gadis ini tetap santai melangkahkan kakinya ke seluruh sudut ruangan di sekolahnya. Dengan antusiasnya ia mengawali hari demi hari di sekolah yang menurut ia lebih menyenangkan dari keadaan di rumahnya. Ya terang saja, keadaan di rumahnya tidak begitu menyenangkan seperti keadaan di luar rumahnya, terlebih di sekolah. Raya sering dikenal sebagai gadis periang dan selalu menebarkan senyumannya kepada siapapun yang bertemu dengannya, tidak heran bila ia disenangi oleh teman-temannya.

“Ray! gua pinjem buku catetan matematika lo yang kemarin dong..” terdengar suara Sheka yang berteriak dari ujung koridor tepat saat Raya sedang berjalan-jalan kecil dengan tumpukan buku yang digenggam di tangan kanannya,
“Eh Ka.. aduh gua enggak bawa buku nya nih, besok aja deh gua kasih ke lo ya bukunya hehe”. Jawab Raya singkat. Percakapan itupun berakhir begitu saja dikarenakan Raya yang terburu-buru berjalan menuju kelasnya.

Raya memang selalu melakukan hal yang sama setiap hari di sekolah, mulai dari berjalan-jalan kecil mengelilingi koridor sekolah, hingga berjalan di tengah lapangan hingga membuat beberapa kakak kelas memperhatikannya dengan tatapan sinis. ‘Kenapa sih kakak kelas itu selalu ngeliatin gua dengan pandangan yang seolah-olah mau makan gua hidup-hidup? Salah apa gua..’ Pikir Raya saat sekilas melihat tatapan mata Kak Marko. Ya begitulah Marko, lelaki angkuh ini memang selalu tidak menyukai bila ada juniornya yang berjalan di tengah lapangan dengan mimik muka seakan tidak mempunyai salah apapun. Entah apa alasan Marko tidak menyukai juniornya yang melewati tengah lapangan itu, mungkin bagi Marko seorang junior harus bisa menghargai para senior dan tentunya tidak lancang melewati tengah lapangan yang notabene adalah kawasan para senior untuk mengumpul atau sekedar melakukan olahraga kecil di setiap waktu istirahat atau sepulang sekolah.

Langkah demi langkah dilewati oleh Raya, setapak demi setapak jalanan lapangan itu dilewati oleh Raya. Pagi ini ia memang sangat berbeda, senyuman nya sangat terlihat bahagia, lesung pipit di pipinya menjadi lebih ceria dari sebelumnya. Seakan tidak memperdulikan tatapan para senior pada dirinya, ia tetap berjalan hingga akhirnya jalannya sedikit berubah menjadi berlari-lari kecil di tengah lapangan. Tanpa sadar ia menabrak salah satu seniornya, Buuuk.. “Woy kalau jalan tuh jangan pake kaki aja, mata juga digunain dong!”, Kata si senior dengan sinisnya.
‘Aduh sial kenapa juga gua harus tabrakan sama cowok gak jelas ini, Ya Tuhan…’ Raya mengenali suara itu, benar saja.. Marko yang berdiri tepat di hadapan Raya langsung melontarkan argumen-argumen pedas nya pagi itu “Tolong ya adik kelas yang super duper menebar pesona pagi ini di tengah lapangan, kalau jalan tuh matanya jangan ditinggal. Pernah diajarin cara berjalan yang baik dan benar kan?”
“Maaf kak, saya salah tadi jalan terlalu terburu-buru jadi enggak sadar kalau udah nabrak kakak” Ujar Raya dengan menundukan kepalanya seolah takut dengan kakak senior nya ini.

Pagi ini sepertinya terlalu berbeda bagi Raya. Mulai dari berangkat sekolah ia diantar oleh Ayah nya yang biasanya selalu sibuk dengan segala pekerjaannya, lalu dengan keadaan meja makan pagi ini yang sudah tertata rapih dengan menu sarapan yang sengaja di buat oleh Ibu nya yang selama ini selalu berangkat pagi sekali walau hanya sekedar menghadiri meeting di kantornya, lalu… Sheka, teman kelasnya yang selama ini selalu menyindirnya ini itu di depan guru matematika tiba-tiba memanggilnya dan berniat meminjam buku catatan matematika Raya, setelah itu.. Marko.. ‘Huaaa ada apa pagi ini? Aneh. Semuanya aneh.. mimpi apa gua semalem ya ampun..’

Mei, bulan yang sebelumnya selalu dianggap Raya sama saja dengan bulan-bulan yang lain, namun entah mengapa Mei tahun ini mungkin terasa berbeda, semenjak lelaki itu hadir dikehidupannya, Arla. Entah dari mana datangnya makhluk ajaib ini di kehidupan Raya, semua mungkin terasa biasa saja sebelum akhirnya Raya mengenal Arla dari salah satu temannya saat acara sekolah minggu lalu. Hari ini tambah lagi keanehan yang ditemui Raya, Arla dengan mimik muka cemas memperhatikan Raya yang semakin mendekati ruang kelasnya. “Ray, lo enggak kenapa-kenapa kan? Diapain lo sama si Marko?”.
“Eh, Ar.. enggak gua gak diapa-apain kok, gua nya aja yang salah tadi nabrak dia yang segede papan tulis.. hehe, loh.. kok lo bisa tau? Pasti lo ngeliatin gua ya dari tadi? Hayo ngaku…” . Perbincangan singkat itu mulai berubah menjadi ajang saling ledek satu sama lain.

Entahlah.. semenjak mengenal Raya minggu lalu Arla menjadi merasa mengenal Raya lebih lama dari pertemuan pertamanya. Hari ke hari Arla selalu memperhatikan setiap tingkah laku Raya.. “Nih cewek yang waktu itu mau gua kenalin ke lo, Ar” ucap Rangga disela-sela acara sekolah malam itu
“Hai.. gua Arla, lo Raya anak IPA 1 kan?”..
“Wah.. ternyata lo tau gua kelas berapa.. hehe iya gua Raya, salam kenal deh ya”..
Seperti itulah pertemuan Raya dan Arla untuk pertama kalinya, di acara sekolah minggu lalu. Raya yang mengenakan dress warna biru terlihat lebih cantik dengan kepangan yang menghiasi rambut hitam panjangnya.
Singkat, padat, dan berkesan.. itulah kesan pertama saat mengenal Raya, semakin membuat Arla merasakan hal yang tak biasa saat di dekat Raya. Mungkin sama hal nya dengan Raya. Semenjak masa orientasi siswa awal pelajaran tahun lalu Raya memang sudah sering memperhatikan Arla, Arla adalah salah satu temannya saat masa orientasi siswa tahun lalu. Tahun berganti tahun ternyata Arla dan Raya tidak ditakdirkan untuk mengenal lebih dekat. Hingga akhirnya saat acara minggu lalu mereka baru dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa mereka lupakan. Sejak malam itu kedekatan mereka berdua makin akrab, hanya sekedar menanyakan kabar Raya lewat pesan singkat bahkan Arla hanyak ingin sekedar mendengar suara Raya di ujung telepon setiap malam selalu dilakukan nya. Dunia Raya seakan penuh warna saat Arla datang di kehidupannya dengan membawa secerca harapan. mungkin hanya detak jam yang menjadi saksi Raya dan Arla setiap malam. Hidup mereka seakan berubah menjadi pelangi.

Semuanya beda, gua enggak pernah ngerasain hal ini sebelumnya.. saat dimana gua takut kehilangan seseorang yang jelas-jelas bukan milik gua. Takut kehilangan senyuman seseorang yang jelas-jelas enggak pernah gua kenal sebelumnya. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Semenjak kenal sama dia gua ngerasa hidup gua gak abu-abu lagi, gua ngerasa hidup gua penuh warna. Lebih dari pelangi sekalipun.
“Rayaa.. kemana aja sih lo dateng telat mulu! Pelajaran pertama matematika, hih lo mau dihukum beresin koridor siswa IPS lagi?..” tegur Arla saat melihat Raya berjalan memasuki kelasnya dengan memengang kepalanya dengan wajah pucat pasi.
“Iyee.. apa sih, Ar.. jangn bawel deh! gua itu telat bangun mangkanya baru dateng jam segini”..
“Lo sakit, Ray? Pucet banget muka lo kayak kambing belum dibedakin?”…. Raya tidak membalas ledekan Arla pagi itu, ia merasakan tubuhnya serasa lemah dan matanya serasa berputar-putar. Melihat itu, Arla mendadak khawatir dengan Raya hingga akhirnya secara diam-diam ia mengikuti Raya kemanapun Raya pergi.
Bruuuk.. “Rayaaa!!!”. Arla berlari dari ruang guru menuju toilet wanita di bawah tangga, ia mendapati Raya sedang tergeletak tak berdaya dengan keadaan tubuh yang menggigil namun demam tinggi.
Segera Arla membawa Raya ke ruang UKS dan Raya beristirahat dengan ditemani oleh Arla. “Ar.. lo ngapain disini? Kok gua ada di UKS?” Kata Raya sambil memegangi kepalanya.
“Akhirnya lo sadar juga.. lo tadi tuh pingsan di depan toilet, udah sarapan belum sih? Lo lagi sakit?”. Raya tidak menjawab pertanyaan Arla satupun, yang ia tahu kini ia merasa tubuhnya di antara es yang sangat dingin, menggigil.

Keesokan harinya, Raya memutuskan untuk memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit. “Hai Raya, sudah lama tidak bertemu ternyata kamu sudah besar ya sekarang”.. ujar Dokter Bima, Dokter Bima adalah salah satu Dokter yang menangani keluarga Raya yang sedang sakit. “Ada apa, Ray? Tumben kamu kesini..” Lanjut Dokter Bima.
“Hehe iya dong Raya kan udah remaja sekarang, bukan anak kecil lagi.. ini, Dok. Akhir-akhir ini Raya sering kecapekan, pusing tapi hanya di bagian kiri dan sering pingsan mendadak”..
“Wah, mungkin kamu kecapekan? Ayo kita periksa dulu”. Dokter Bima mengeluarkan stetoskop dan alat tensi darah dari tas nya. ia memeriksa Raya dengan teliti dan Raya mengikuti semua penjelasan dari Dokter Bima.
Tidak lama setelah itu, pemeriksaan Raya pun selesai, Dokter Bima mengambil kertas hasil pemeriksaan. “Hasilnya baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin kamu hanya kecapekan. Ini saya beri vitamin ya, namun hasil cek darah kamu baru bisa diambil mungkin 3 hari lagi..”
“Oke Pak Dokter, semoga aja enggak ada apa-apa ya, kasih tau Raya kalau hasilnya udah bisa diambil ya.”

Sudah dua hari ini Raya tidak masuk sekolah. “Raya sakit, kemarin supir nya titipin surat izin ke gua nih” Ujar Sheka saat Arla menanyakan kabar Raya kepada Sheka. Hingga akhirnya sepulang sekolah Arla memutuskan untuk menjenguk Raya di rumahnya, benar saja.. Raya terlihat pucat dan sangat lemas berbaring di tempat tidurnya. melihat kedatangan Arla, Raya langsung memperlihatkan wajah yang ceria. “Aaarr… akhirnya lo kangen gua juga, hahaha dateng juga kan lo jenguk gua.”..
“Aduh yampun pede banget lo, siapa juga yang kangen.. gua cuma heran aja kambing enggak dibedakin kayak lo dua hari ini kenapa gak masuk? Sakit lo belum sembuh?”. Raya langsung memukul Arla dengan boneka sapi nya. “Duh.. sakit tau!!”..
“Yeeh siapa suruh lo ngeledekin gua kayak gitu? Cantik kayak gini masa disamain sama kambing yang enggak dibedakin? Jahat!”.
“Jangan manyun gitu dong, kan gua Cuma nanya..” kata Arla sambil mengelus-elus rambut panjang Raya.
“Iya nih, gua masih gak enak badan.. lemes banget”..
Canda tawa antara mereka sangat lepas, hingga akhirnya Reyka kakak Raya memanggil Raya, “Ray.. ada telepon dari Dokter Bima nih, katanya penting”. Raya langsung sigap berlari menuruni anak tangga dan menerima telepon dari Dokter Bima “Raya kamu bisa ke rumah sakit sekarang? Ini sangat penting.” Saat Dokter Bima berbicara seperti itu, perasaan Raya mendadak panik dan takut..
“Baik, Dok. Raya segera ke rumah sakit”. Raya berlari menuju kamar nya, diambilnya tas biru awan yang digantung di belakang pintu.
“Lo mau kemana? Buru-buru banget?” Tanya Arla heran.
“Jangan banyak tanya deh lo. Mending lo anterin gua sekarang kerumah sakit” Kata Raya dengan panik. Arla langsung menuruti kata-kata Raya dan mengantar nya ke rumah sakit dengan menggunakan motor nya.

“Gimana hasil nya, Dok? Raya sehat-sehat aja kan?” Tanya Raya dengan mimik wajah yakin dan menatap Dokter Bima dengan pandangan yang tak seperti biasanya.
“Saya juga tidak percaya dengan hasil test ini, sudah 3 kali diulang namun hasilnya tetap sama, kamu positive mengidap radang selaput otak stadium lanjut. Radang ini menyebar sangat cepat, perkembangannya melesat tinggi setiap 3 hari sekali. Maaf Raya, kamu harus melakukan perawatan lebih lanjut.”.
Demi dunia dan segala isinya, ini semua bagai petir di tengah hujan badai yang menggelegar di antara telingaku. Aku merasa lumpuh seketika, bagaimana mungkin aku yang selama ini terlihat sangat sehat ternyata mengidap radang selaput otak stadium lanjut? Bagaimana bisa aku menjadi seorang gadis penderita penyakit seserius ini? Bagaimana bisa aku menjadi seorang gadis yang divonis tidak akan lama lagi untuk bertahan hidup?

Arla yang sejak tadi menemani Raya di dalam ruangan Dokter Bima sekejap menjadi kaku, ia merasakan sambaran arus listrik yang kuat menyambar susunan saraf otaknya. Arla tidak percaya dengan hasil test tersebut, ia bersihkeras menayakan penyakit itu pada Dokter Bima, “Dokter pasti salah! Enggak mungkin Raya sakit kayak gini! Raya sehat!”. isak tangis memenuhi ruangan putih tersebut, Arla memeluk Raya dengan kuat dan Raya semakin larut dalam tangisannya. Ia merasa hidupnya hancur, sebuah penyakit gini hinggap di dalam tubuhnya dan tidak lama akan menggerogoti semua sistem dalam tubuhnya.

Tuhan.. bila ini kehendakmu, mengapa harus gadis ini yang menderita penyakit seserius ini? Mengapa bukan aku saja? Tuhan.. aku mencintainya, jangan biarkan tubuh lemah nya lama-lama habis dengan penyakit aneh itu. Sembuhkan Raya…

Hari ke hari kondisi tubuh Raya sangat memperihatinkan, Raya sudah tidak diperbolehkan sekolah mengingat kondisinya yang tak sekuat dulu lagi, Arla masih setia menemani Raya setiap hari dan Raya pun tidak merasa pesimis dengan penyakitnya. Mereka masih seperti dulu, masih sama dan tak pernah berubah walaupun mereka masih belum mengutarakan perasaannya masing-masing, namun mereka mengetahui bahwa mereka saling mencintai.
“Ray, mungkin gua terlalu lama ngomong ini ke lo, tapi maaf gua baru bisa berani ngomong ini ke lo sekarang” Tutur Arla disela-sela canda tawanya bersama Raya.
“Halaah sok-sok serius deh lo, ngomong apasih emangnya?”.
“Kita kenal udah lama, Ray. gua gak tau rasa ini ada sejak kapan. Tapi gua sayang lo, Ray! gua mau jadi orang yang bisa jagain lo sampe kapanpun”.

Semenjak hari itu, Raya semakin kuat melawan penyakitnya. Karena Arla.. lelaki yang menjadi motivasi nya untuk bertahan hidup, menjadi alasan nya untuk tetap bernafas dan membuka matanya. Empat bulan terakhir dilalui Raya dengan ribuan senyum dan bahagia. Begitupun dengan Arla, ia menjaga Raya dengan sepenuh hati dan berharap gadis yang dicintainya ini dapat bertahan hidup hingga seribu tahun lagi. Namun takdir berkata lain.. akhir tahun lalu Raya menghembuskan nafas terakhirnya, ternyata penyakit ganas itu tetap menjadi pemenang. Raya menghabiskan detik akhir hidupnya tetap bersama Arla dan keluarganya. awalnya Arla dan keluarga tidak dapat menerima kepergian Raya, namun mereka tetap berusaha tegar dan mengikhlaskan kepergian Raya.

Arla..
Hari ini tugasku sudah selesai..
Aku harus pergi, bukan pergi meninggalkanmu..
Namun hanya sekedar pergi dari nyatanya kehidupanmu..
Hingga akhirnya, mungkin nanti kita akan bersama kembali..
Di tempat yang baru, bahkan di kehidupan yang baru..
Aku masih bisa merasakan indahnya senyummu, candamu, bahkan tawamu..
Terimakasih sudah menjadi alasan ku untuk tetap bertahan hidup..
Dariku yang mencintaimu, Raya

Cerpen Karangan: Syahrima
Blog: http://syyahrima.blogspot.com/
Twitter : @syahrima
Blog : http://syyahrima.blogspot.com/

Cerpen Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Buku Diary Yona (Part 2)

Oleh:
Sudah dua bulan ini Deka dengan Yona semakin akrab. Mereka sering melakukan kegiatan bersama-sama. Apalagi ujian nasional sudah semakin dekat membuat mereka sering melakukan kegiatan belajar bersama. Pagi ini

Deposito Lara

Oleh:
Dia bilang, meski langit menghitam aku akan tetap menjadi surya untuknya. Dia bilang, meski tanah mengering aku akan tetap menjadi tirta baginya. Hidung lancipnya memayungi mataku dari teriknya matahari.

Aku, Sahabatku dan Pacarku

Oleh:
“Tutt… tuttt” nada sms dari ponsel Raya membuyarkan konsentrasinya. Dia pun segera mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya. “kamu dimana, Ray?” pesan singkat dari Doni, teman satu kampus

He or Him?

Oleh:
Entah mengapa, saat kutatap lekat-lekat kedua bola mata coklat pria itu rasanya ada perasaan aneh yang menyelimuti perasaanku. Jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya dan mukaku tak henti-hentinya memancarkan

If Only…

Oleh:
Kaos hitam yang basah oleh keringat masih melekat di tubuh. Sepertinya sudah berjam-jam aku berbaring di ranjang sambil menatap kegelapan. Dering telepon yang tiada henti semakin lama semakin tersamarkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *