Bertanya Dalam Duka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 November 2016

“Tuh kan” kataku sambil mondar-mandir
“Kenapa sih Al?” tanya Hana yang bingung dengan tingkahku yang sejak tadi mondar-mandir.
“SMS ku nggak dibales lagi Han” kataku sambil duduk di sebelahnya.
“pasti kamu SMS dia kan?” katanya sambil mengambil makanan yang ada di toples.
“Iya” jawabku.
“Udahlah Al, ngapain sih masih menghubunginya dia aja udah nggak peduli lagi denganmu. Percuma saja Al” katanya sambil mengunyah makanan.
Aku terdiam memikirkan peerkataan Hana yang memang ada benarnya juga. Ngapain juga aku masih berharap padanya jika dia aja nggak pernah mau aku hubungi. Sepertinya juga dia memang sengaja untuk menghindariku dan tidak mau berhubungan lagi denganku.

Melihatku terdiam Hana pun menghampiriku
“Al, kamu seharusnya sadar jika semuanya itu sudah berubah Al. dia sudah punya kehidupan sendiri dan mungkin dia juga udah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Semua itu hanya masa lalu yang udah berlalu tujuh tahun lalu Al” kata Hana mencoba menghiburku.
Mataku langsung berkaca-kaca mendengar perkataan Hana yang menusuk hatiku. Karena perkataan itu benar.
“Tapi aku masih tidak mengerti Han, kenapa dia begitu membenciku. Padahal terakhir kali kami bertemu hubungan kami baik-baik saja” kataku sambil terisak.
“Mungkin dia memiliki alasan sendiri kenapa dia melakukan itu Al” kata Hana dengan sehalus mungkin.
“Tapi apa Han?” Kataku sambil mengusap airmataku yang kembali mengalir di pipiku.
Aku benar-benar tak sanggup menahan airmataku. Setiap kali aku mengingat tentangnya selalu saja airmataku ingin keluar dari pelupuk mataku. Rasanya begitu sakit dan perih. Hatiku hancur. Aku benar-benar merasa seperti orang yang dicampakkan dan dibuang. Aku seperti barang yang sudah tidak dibutuhkan lagi yang kemudian dibuang. Rasanya ada beban yang beratnya sepuluh ton di pundakku.
“Aku juga nggak tahu Al. Udahlah Al lupain dia aja. Mungkin ini cara Tuhan biar kamu tuh bisa move on dari dia. Dari pada kamu mewek terus kalau ingat dia mending lupain dia aja. Kamu itu harus bangun Al, wake up!!! Kalau semuanya udah nggak sama lagi kayak dulu.” Kata Hana lagi memberiku motivasi dan kata-kata mutiaranya.
Aku masih terdiam memikirkan semua kata-kata Hana yang sudah seperti motivator handal itu. tapi aku masih nggak mengerti dengan perubahan dirinya yang tiba-tiba.

Setelah kata-kata dari Hana itu, tidak membuatku melupakan semua kenangan tentang dirinya. Aku masih tidak mengerti dengan kata-kata Hana yang bilang jika ini adalah cara Tuhan agar aku move on. Karena aku justru semakin sibuk mengingatnya. Aku masih tidak bisa menerima dengan perubahan sikapnya yang masih menjadi misteri di kepalaku. Pertanyaan mengapa dan mengapa selalu memenuhi otakku selama lima tahun ini tapi aku belum juga menemukan jawabannya.
Semakin aku mencoba untuk melupakannya, justru ingatan itu semakin berputar-putar di kepalaku membuatku semakin mengingatnya. Aku selalu bertanya mengapa dia tidak mau aku hubungi, mengapa dia seperti menghindariku. Mengapa dia seolah-olah begitu membenciku. Mengapa dia tidak pernah mau membalas pesanku. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu ada di kepalaku selama tujuh tahun ini.

Aku sudah berkali-kali mencoba menghubunginya. mengiriminya pesan tapi dia nggak pernah balas. Aku add akun facebooknya, dia nggak mau mengonfirmnya. Dan saat aku meneleponnya dia nggak mau mengangkatnya. Aku benar-benar frustasi dan lelah. Ingin kuakhiri semau misteri ini agar aku bisa menikmati kehidupanku seperti dulu lagi. tapi perasaan ini terlalu kuat menancap di dalam sana.

Hari-hariku disibukkan dengan pikiran akan dirinya. Apalagi setiap kali aku melihat anak-anak SMP yang kebetulan lewat di depan rumahku, maka rekaman itu akan berputar lagi di kepalaku. Dia yang selalu tersenyum padaku membuat jantungku berdegup kencang. Pandangannya yang menyiratkan kata-kata dan tingkah jailnya yang membuatku tak bisa lupa akan dirinya. Tapi kenapa tiba-tiba dia bisa begitu berubah dengan alasan yang tak pernah kumengerti dan kupahami. Seingatku saat terakhir kali aku bertemu dengannya dia masih menyunggingkan senyum padaku. Tapi kenapa tiba-tiba dia bisa sekejam itu padaku.

Pagi ini aku mencoba untuk melupakan akan dirinya. Setelah rapi dan melihat ke arah cermin aku pun berangkat menuju kampus. Setiap hari aku harus naik bus untuk sampai di kampus. Jadi pagi ini aku pun menunggu bus di pinggir jalan seperti biasanya. Cukup lama aku menunggu akhirnya ada bus juga. Untung masih ada bangku kosong jadi aku bisa duduk nyaman sampai kampus nanti. Aku duduk di sebelah seorang pemuda yang sepertinya seumuran denganku. Aku pura-pura tidak memedulikannya. Tapi tiba-tiba
“Alya ya?” kata pemuda itu.
Aku pun menoleh ke arahnya mencoba mengamatinya. Kenapa dia bisa tahu namaku. Kataku dalam hati.
“Iya, ini siapa ya. Kok bisa tahu namaku” tanyaku penasaran.
“Aku Farhan temennya Amar” katanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
Mendengar nama Amar disebut, aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku.
“Kenapa mukamu terkejut kayak gitu, biasa aja kali Al. gara-gara denger nama Amar ya?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya diam, karena itu memang benar adanya. Tapi kenapa dia bisa tentang aku, sepertinya aku dan dia tidak pernah bertemu.
“Kamu tega ya Al, sama Amar” katanya tiba-tiba yang langsung saja membuatku bingung dengan perkataannya tadi.
“Maksudmu apa han, aku jadi nggak ngerti” kataku benar-benar bingung. Karena ini pertama kali aku melihatnya tapi dia berkata seolah-olah dia sudah mengenalku dengan baik.
Dia menarik napas dalam-dalam,
“Nanti kamu ikut aku aja, aku mau nunjukin kamu sesuatu” katanya dengan wajah serius.
“Tapi aku ada kuliah hari ini” kataku menolak ajakannya.
“Ya udah kalo loe nggak mau loe bakal nyesel seumur hidup loe. Karena ini menyangkut nyawa seseorang” jawabnya
Aku berpikir sebentar mengamati wajahnya, mencari keseriusan dalam kalimatnya tadi. Sorot matanya memang menunjukkan keseriusan. Akhirnya aku pun mengangguk menuruti permintaannya. Selama sisa perjalanan kami hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sibuk memikirkan kemana Farhan akan membawaku nanti.

Akhirnya pertanyaanku terjawab ketika Farhan minta berhenti di sebuah rumah sakit. Aku pun mengikutinya dari belakang.
“Kenapa berhenti di sini han, memang siapa yang sakit?” tanyaku padanya yang berjalan terburu-buru.
“Loe bakal tahu nanti, mendingan loe ikutin gue aja” katanya dengan nada memerintah.
Aku pun diam dan mengikuti langkah kakinya. Setelah melewati beberapa ruangan akhirnya dia berhenti di sebuah ruangan yang lumayan besar. Dia menoleh ke arahku.
“Masuklah” katanya menyuruhku.
Aku bingung tidak tahu harus bagaimana, tapi melihat Farhan yang sepertinya serius aku pun memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan itu. meski aku tidak tahu siapa yang ada di dalam ruangan itu. dengan takut aku melangkahkan kaki menghampiri seseorang yang terbaring di ranjang tersebut. sedangkan Farhan mengikutiku dari belakang. Semakin dekat dengan seseorang itu, hatiku semakin berdebar. Entah kenapa tiba-tiba perasaanku jadi sedih dan jantungku berdetak lebih cepat.

Saat melihat siapa yang terbaring di ranjang itu, aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku. Tak sadar airmataku menetes dari kedua pelupuk mataku. Sambil melihat siapa yang terbaring di situ aku menangis sejadi-jadinya. aku tak sanggup berkata-kata hanya airmata yang keluar mewakili semua yang ada di dalam hatiku.
“Sudah lama dia terbaring di sini. Kata dokter hanya keajaiban yang dapat membangunkannya dari tidur panjangnya. Dia koma karena kecelakaan saat sedang balapan liar. Sebelum itu dia sempat bilang kalau dia ingin sekali ketemu dengan loe dan bilang jika dia itu suka sama loe” kata Farhan.

Kata-kata itu membuat airmataku mengalir semakin deras. Aku benar-benar tidak menyangka Amar akan seperti ini. aku mengamati tubuhnya yang penuh dnegan selang dan peralatan lainnya. Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya tampak begitu kurus. Matanya terpejam namun jantungnya masih berdetak. Wajah ini yang selalu aku rindukan selama tujuh tahun ini. wajah ini yang membuatku bersemangat dan tersenyum bahagia.

“Amar, bangun mar, ini aku Alya mar. Aku juga suka sama kamu mar. ayo bangun mar” kataku sambil terisak.
Farhan pun duduk di kursi sebelahku.
“sebenarnya, waktu perpisahan SMP dulu, dia pengen nembak loe Al. tapi entah kenapa dia bilang ke gue kalau dia nggak punya keberanian buat ngungkapin perasaannya. Gue baru lihat Amar senervous itu kalau sama cewek. Dia juga sering cerita tentang loe. Tentang loe yang suka bantuin dia ngerjain tugas dan tentang loe yang suka marah-marah sama dia. Pokoknya loe adalah satu-satunya cewek yang membuatnya bersemangat Al” jelas Farhan.
Penjelasan Farhan itu sudah cukup menjawab semua misteri yang selama ini menyelimuti hidupku. misteri yang mengikutiku ke manapun aku pergi. Akhirnya tanya yang selama ini memebuhi kepalaku terjawab sudah. Tapi kenapa aku harus melihat Amar seperti ini. kenapa Amar harus mengalami semua ini.

“Mar, ayo bangun mar. kumohon bangunlah mar. ini aku Alya kamu masih inget aku kan mar?” kataku sambil terisak semakin keras. Airmataku kini membasahi pipiku.
Aku memandangi wajahnya berharap dia akan membuka matanya. Tapi matanya masih saja terpejam. Air mataku mengalir semakin deras melihat Amar seolah seperti mayat hidup. Aku tidak sanggup melihat dia seperti ini. aku menangis smabil mengingat kenangan saat bersamanya.

“Han, seharusnya dulu aku bilang ke Amar kalau aku suka sama dia. Mungkin jika aku mengatakannya semua nggak akan kayak gini” kataku sambil terisak.
Farhan hanya diam. Mungkin dia juga sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Loe nggak bisa ngubah takdir Al. mungkin ini emang udah jalan hidup kalian. Yang bisa loe lakuin sekarang adalah mohon kepada Tuhan supaya Amar cepet bangun” kata Farhan.

Aku kembali menatap wajah Amar. Wajah inilah yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Tawa, senyum dna pandangannya masih kuingat jelas di pikiranku. Kenanga-kenangan itu pun berputar kembali di kepalaku. Membuatku ingin selalu menitikkan airmata.

Kemudian Farhan pamit untuk pulang meninggalkan aku dan Amar di ruangan ini. aku kembali menatap Amar yang masih terpejam. Wajahnya terlihat begitu damai.
“kau sedang di mana mar?. kamu tahu mar aku selalu menunggu saat-saat seperti ini. dulu aku selalu berharap bisa bertemu denganmu dan bercanda kayak dulu lagi. setiap hari aku sellau membayangkan bagaimana jika aku bertemu denganmu. Apa yang harus aku katakan padamu. Apakah aku berani untuk menyapamu atau tidak. Itulah yang selalu kupikirkan selama perpisahan ini mar” kataku sambil menggenggam erat tangannya.

Cerpen Karangan: Sri Pujiati

Cerpen Bertanya Dalam Duka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hubungan Tanpa Restu

Oleh:
Kring.. Kring.. Kring.. Dering ponsel terdengar keras “halo.. Ini siapa?” “iya, ini Rangga” “Rangga siapa?” Tutt.. Tutt Terdengar sambungan telepon yang putus Ya, dia ayahku yang sengaja mematikan panggilan

Suka Duka Saat Hujan Turun

Oleh:
“Kamu jahat Aldy, kamu kenapa selingkuh” “tunggu aku bisa jelasin semua ini” “gak ada yang perlu dijelasin, Kita putus” Riska sangat sedih saat melihat kekasihnya, Aldy jalan dengan wanita

Last Letter

Oleh:
Aku berdiri di depan rumahku. Menunggu sahabatku datang. Sepertinya pagi ini dia terlambat. Yah dia yang setiap harinya berangkat ke sekolah bersamaku. Pria yang selalu di dekatku. Aku menyukainya?

Four Leaf Clover

Oleh:
Saat rasa cinta dan kesetiaan diuji. Saat separuh hati yang disayang tak lagi mempunyai harapan hidup. Kita harus tetap tegar menjalani setiap hari Setiap detik, menit, jam atau bahkan

Foot Light

Oleh:
Apakah cinta selalu berarti memiliki seseorang itu seutuhnya? Aku mencintainya namun dengan cara yang berbeda. Dalam percintaan, kami tidak saling mengisi maupun melengkapi. Kami hanya mengungkapkannya dengan isyarat yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *