Bidadari Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 28 April 2016

Pada saat berangkat sekolahku melihat se sosok perempuan cantik yang ke luar dari istananya maklumlah rumahnya sangat megah serta terdapat gerbang yang besar pula, tiba-tiba hujan mengguyur lumayan deras sehingga dia berteriak memanggilku karena iba melihat seragamku yang basah kuyup. Aku mendekatinya dan dia bertanya apakah kita satu lembaga aku mengiyakan dia pun teringat bahwa kita pun satu kelas. Dia menawari pakaian ganti karena merasa tidak enak aku menolaknya akan tetapi dia sedikit memaksa akhirnya aku menurutinya, lalu aku diajak masuk ke istana megahnya. Dia disambut dayangnya bertanya siapa yang dibawanya dia menjawab bahwa aku temannya dan saudara kembarnya dia menyuruhnya agar mengambilkan seragam kakaknya untuk ku kenakan.

Kakak kembarannya menemuiku dia heran kenapa adiknya mau meminjamkan seragamnya untukku setelah dia mendekat ternyata Yusuf teman baikku aku pun baru mengetahui kalau Yashinta adalah adik kembarannya. Kami pun bercakap-cakap lumayan panjang sambil menunggu hujan mereda sang ayah dan bundanya muncul. Ku kira beliau sangat sombong ternyata orangnya menyenangkan. Ayahnya pun menawariku untuk berangkat bersama aku menolaknya akan tetapi sang bunda memaksaku karena hujan cukup deras, akhirnya kami bertiga berangkat bersama sambil mengendarai mobil mewah ayahnya.

Karena peristiwa itu aku mengaguminya dari segi kebaikannya. Tetapi aku heran kenapa dia jarang diantar oleh ayahnya dia lebih suka berangkat dengan mengayuh sepeda serta dia mencintai kesederhanaan dan tidak sombong yang pasti karena rasa itu yang membuat rasa kagum ku begitu besar padanya. Apakah aku mulai mencintainya? ahh bodoh kamu ini mana mungkin seorang putri mau denganmu seorang anak petani yang lusuh begini, bualku dengan diri sediri. Suatu pagi ku melihat Yusuf berangkat sekolah sendirian aku pun bertanya tentang keberadaan Yashinta dia menjawab bahwa adiknya sedang sakit seperti biasa katanya aku pun tidak bertanya lagi karena menurutku paling hanya panas itu saja akan tetapi aku makin heran karena dia sering tidak masuk.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan kepada Yusuf sebenarnya adiknya sakit apa dia menghela napas yang panjang aku pun makin heran. Dia berkata sambil mengucurkan air mata bahwa kembarannya mengidap jantung lemah yang artinya dia harus stabil tidak boleh terlalu senang maupun dan dia dapat meninggal kapan pun. Yusuf pun menjelaskan padaku kenapa dia selalu memakai sepeda jika sekolah karena itu untuk menyetabilkannya. Satu hal lagi dia menceritakan bahwa adiknya akhir-akhir ini sangat bahagia hingga semua orang rumah tak mengerti apa yang membuatnya sebahagia itu. Mendengar penuturan Yusuf hatiku bagai dijatuhkan dari langit dan jatuh berkeping-keping air mataku pun mengucur deras. Aku heran kenapa harus orang baik yang menderita?

Sore harinya ku putuskan untuk menjenguk Yashinta sesampainya di gerbang aku berpapasan dengan Yusuf yang hendak ke luar rumah. Dia mengizinkan aku masuk dan ku lihat Yashinta sedang asyik membaca buku di atas ayunan. Setelah melihatku dia sangat gembira hingga jantungnya melemah kembali. Melihat hal itu Yusuf membopongnya menuju kamarnya aku yang melihatnya seperti itu jadi menangis. Aku membimbingnya untuk menarik napas secara perlahan dan menyuruhnya untuk meminum air putih setelah itu kondisinya membaik. Dengan rasa perasaan yang amat dalam bundanya pun bertanya apa yang membuat kambuh putri kesayanganya ini. Akan tetapi dia tak mau menjawab dan akhirnya menyuruh kami ke luar dari kamarnya dan dia berbicara empat mata dengan bundanya.

Aneh sang bunda ke luar dari kamarnya malah tersenyum kami semua makin keheranan, beliau tersenyum dan berkata, “Yash lagi jatuh cinta jadi wajar karena dia terlalu senang Abqary datang.” mendengar hal itu kami pun tertawa pipiku pun memerah. Lalu kami semua berbicara di taman yang asri di belakang rumahnya. Kami semua bersenda gurau. Perkataan ayah Yash membuatku terkejut. “Abi sekolahnya yang rajin ya biar bisa nyembuhin Yash.” semua mengaminkan aku pun melihat Yash malu hingga pipinya merah merona. Yusuf pun bercerita bahwa aku adalah siswa pandai mengaji, hingga sang bunda memintaku untuk mengajari Yash Qiroah. Tanpa ba-bi-bu aku mengiyakan kami semua pun tersenyum berbahagia.

Hari demi hari ku rangkai dengan indah bersama Yashinta mengajarinya Qiroah belajar bersama untuk menhadapi UN. Hingga waktu pelaksanaan UN tiba pengumuman lulus pun kami dapatkan. Acara pensi menjadi begitu indah saat aku dan Yashinta tampil berdua membaca Al-Quran berdua sampai akhirnya dia jatuh tersungkur di hadapanku. Tak bisa ku bendung tagisanku padahal hari ini waktunya berbahagia. Aku segera membopongmu turun panggung dan kami membawamu ke rumah sakit tapi kau malah menunjukkan senyum terindahmu. Akhirnya nyawamu diminta oleh Allah kembali belum sampai kami membawamu ke rumah sakit.

“Aku merasa bersalah Yash. Aku tak dapat menyembuhkanmu aku janji akan menjadi dokter. Kenapa Allah menciptakan hanya satu jantung? jika aku punya dua jantung, akan ku berikan untukmu Yash agar kau tersenyum indah padaku lagi Yash. Lihat Yash alam ikut kehilangan dirimu hingga langit menurunkan hujan. Semoga kau ditempatkan di tempat terbaik.” ucapku pada jenazahnya. Hujan di pagi hari membawaku pada peristiwa terindah dalam hidupku terima kasih telah menjadi bidadari hujan pagi Yash.

Cerpen Karangan: Lili Indrawati
Facebook: lili.indrawati18[-at-]facebook.com

Cerpen Bidadari Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir Bukan Untuk Kita

Oleh:
“Siapa itu kak, kenapa gak disuruh masuk?” Ibu melihat aku sedang bercakap di depan pintu rumah, dengan dia yang pernah singgah di kehidupanku. “Temenku bu, cuma sebentar kok.” Aku

Hujan, Jangan Ambil Belahan Jiwaku

Oleh:
Tak ada seorang pun di sini. Tolong aku! Aku ingin pulang. Aku terjebak di tengah-tengah hujan yang lebat. Di mana semua orang? Guru-guru? Teman-teman? Dimana mereka? Tolong aku, aku

Air Mata untuk Sahabatku

Oleh:
Ratia… Ya ini adalah nama panggilan kesayangan dari keluarga maupun dari sahabat-sahabatnya. Sebenarnya Ratia adalah gadis yang ceria, namun entah sebab kenapa terkadang ia terlihat murung bahkan tak jarang

Stalker

Oleh:
“Hari ini aku JADIAN!!”… haha, pasti kalian bingung dengan pernyataanku barusan, mari kita sedikit beri pendalaman, pada pernyataan tersebut. Yah, memang aku akan menyatakan cinta pada cewek, meski sulit

Puisi Tanpa Nama

Oleh:
Cinta telah membawa sebuah penantian panjang dalam hidup Rahma. Penantian yang tiada ujungnya. Penantian yang tiada titik temu dalam perjalanan mencari sebuah petunjuk. Kebimbangan dan kegalauan menggelayuti dirinya. Mengusik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *