Bingkai Kecil Fania

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 15 March 2014

Terhitung telah sepekan sepi merajaiku. Yang seharusnya mendekap kini lenyap. Yang semestinya tertawa bersama kini entah kemana. Cinta tak memberi kabar.

Senja telah menjemput. Angin lembut berkenan hadir menyeka jiwa-jiwa yang rentan. Aku telah memposisikan diri pada sebuah bangku yang menghiasi taman ini seraya menggenggam sepucuk surat pemberian sang pesona, pemilik jiwa ini.

“Dear Rama,
Hai Ram, apa kabar? semoga baik ya. Maaf untuk kita yang belakangan ini nggak bisa saling ketemu satu sama lain. Mungkin cuman dari sini aku mau sampaikan sesuatu tentang kita.
Makasih udah jadi seseorang yang bisa hadir di tengah ceritaku, tapi sekali lagi maaf, di antara kita udah nggak ada kecocokan. Ternyata prinsip kita beda Ram, dan aku nggak bisa jalanin itu semua. Yang berjalan akan membuat kita malah saling tak menentu. Biar hidup ini memilih mana yang terbaik, lantas kurasa inilah jawabnya.
Kita selesai Ram. Berat rasanya mengungkap keluh ini, tapi aku musti lakuin sebelum ini lebih jauh lagi. Dengan surat ini kutitipkan rindu dariku untukmu.
Dengan Cinta,
Fania Lestari”

“mana janjimu? kenapa musti begini sih Fan, arggghhh!”. Emosiku tersulut.
Ya, aku dengannya telah berakhir. Namun tak berarti bersedih harus terlampau larut. Akan tetap ku lanjutkan hari meski harus berjalan dengan satu kaki.
“sampai nanti cinta!”. Ujarku pula meremas surat yang menyedihkan itu.

Setahun Kemudian
Dalam sunyi ku mulai menata nurani. Bersama cinta yang selalu menemani detik melawan logika. Dengan hati yang berusaha agar tak lelah berjumpa mentari, bintang, nan rembulan sebagai pengisi langit-langit yang tiada tepi. Tanpa luka yang tak pernah terharapkan, tanpa perih walau terkadang merasa sepi, seraya merasakan gemerlapnya pinta pula harapan. Tuhan, hidup ini luar biasa, terlebih pernah Engkau kirim satu karya-Mu lewat keindahan surga dari tangan seorang hawa.

Tepat hari ini. Disaksikan awan kelabu dan sapuan angin lembut, aku tiba di sebuah pesta perayaan dari sahabatku, sebut saja Jaka. Persahabatan ini telah ada semenjak kami belum mengenal dosa.
“Rama!”. Jaka memanggilku.
“eits, iya bro sorry telat”. Jawabku datar padanya.
“sendiri aja nih? mana pasangan?”.
“nyindir atau gimana nih? sialan!”. Aku sedikit kesal.
“hehehe, kenapa? masih nggak bisa lupain Fania ya?”.
“udahlah, ini waktunya pesta!”.
“bilang aja masih suka, iya kan?”.
“terserahlah! by the way, selamat ulang tahun ya!”.
“hmm, oke-oke thanks Ram”.
Lantas tiba-tiba segelas cairan mendarat di kemeja putih yang aku kenakan malam ini. “cluppp”. Otomatis basah kuyup. Sebut saja cobaan.
“aduh, ini apa? jadi basah kan”. Gerutu aku.
Asal muasalnya dari belakang ku, pula disusul dengan rangkaian kata berwujud suara untuk meminta maaf dari sebuah pita suara yang tak asing bagiku. Itu sangat aku kenali. Hati ini merasa terpanggil.
“maaf-maaf, aku enggak sengaja”. Pintanya padaku. Lantas aku menoleh padanya.
“haa?”. Aku terkejut.
Ya, benar firasat ini. Ternyata cinta telah datang kembali. Kembali setelah setahun lamanya meninggalkan janji. Membawa pribadi yang pernah terjaga. Manusia yang pernah melukis sejarah di liku-likunya sebuah romansa sederhana berbalut ketulusan. Manusia yang pernah membuatku mengerti betapa indahnya jatuh cinta. Mengajarkanku untuk berbagi dalam kasih dan sayang. Menegaskan tentang indahnya perbedaan walau pada akhirnya ‘perpisahan’ adalah pilihan yang sulit untuk dijalani. Dia yang pernah meninggalkanku bersama surat pemberiannya. Fania Lestari.
“Fania?”.
“Rama?”.
Fania terkejut, lantas ia melangkah untuk mencoba menghindar dariku. Takkah ia menyimpan sedikit rindu pada raga ini? atau justru ia membenci masa lalunya ini? Yang jelas ia seperti tak meng-iyai kehadiranku.
“Fania, tunggu!”. Tegurku padanya.
Dia masih terus berjalan. Kini dengan derap langkah yang semakin dipercepat. Tak ku lewatkan momen seperti ini.
“Fania!”. Kembali ku coba.
Setelah mencoba mengeja nama itu, akhirnya ia berhenti dengan nafas yang tak menentu. Namun tak menoleh sedikit pun. Aku semakin tak sabar untuk segera mendekat padanya.
“Fania?”.
“hmm, hai apa kabar, Ram?”. Ucapnya seraya menoleh dan melepas senyum.
“aku baik”. Aku menatapnya tajam.
“kamu kenapa? kok ngelihatnya gitu?”.
“harusnya aku yang tanya kenapa. Kenapa kamu ngehindar pas aku lagi manggil kamu? Masih punya masalah sama aku?”.
“ha? masalah? itu udah masa lalu Ram. Enggak seharusnya kita ributin itu”.
“tapi ini penting buat aku, Fan!”.
“apanya yang penting?” Fania mulai tersulut. Kini ia yang menatapku tajam. Belum pernah aku melihat Fania yang sekeras ini. Aku tergertak.
“….”. Aku diam dengan tetap menatapnya.
Tiba-tiba ia kembali mencoba pergi dariku. Tatapanku padanya tak berhasil membuatnya terpaku. Ku mohon berhentilah cinta.
“Fania!”. Ucapku seraya menarik lengannya.
“….”. Fania diam dan tersentak.
“apa harus begini?”.
“maksud kamu apa?”.
“tentang kita. Apa kamu nggak sadar kalau selama ini ego kita udah bikin semuanya kelar?”.
“aku masih nggak ngerti maksud kamu apa!”.
“setahun lalu. Kamu pergi ninggalin aku hanya karena prinsip kita yang nggak akan pernah sama”.
“terus?”.
“sekarang yang aku pertanyakan adalah janjimu. Kamu pernah bilang kalau perbedaan bisa bikin kita jadi pasangan yang istimewa. Tapi nyatanya? apa?”.
“memang Ram, kita yang dulu adalah keindahan yang nggak akan terjadi di pasangan lain di muka bumi ini. Tapi janji itu ada sebelum keadaan bikin semangatku sirna”.
“maksud kamu apa sih?”.
“aku rasa ini bukan tempat yang pas buat aku ungkap semuanya, Ram. Besok aku tunggu di taman tempat kita dulu biasa ketemu. Selamat malam!”. Fania pergi dengan tangisan yang menemaninya berjalan.

Kini aku semakin terjebak pada kerancuan. Cinta yang kembali ternyata tak tersenyum padaku. Air matanya lah yang menjabat kerinduanku padanya, secara perlahan membebaniku dengan butiran rasa bersalah. Ada apa dengan cinta? Bukan maksud hati memeras kristal di matamu.

Di Taman Rindu
Hari kemarin berlalu. Kini tiba dengan sinar rembulan yang baru dan tak hentinya menaungi aktivis cinta. Bangku taman yang sedikit reot sudah cukup lama menemani raga menanti hawa yang kemarin meminta untuk datang di tempat yang pernah menyisakan tragedi lumayan pilu ini, di Taman Rindu.
“Rama!”. Cinta telah datang.
Fania telah menginjakkan kaki di taman ini. Aku menatapnya sangat dalam. Malam ini ia benar-benar membuatku seperti bersemi kembali. Matanya indah, mata yang mengajakku bersenandung. Bibirnya manis, bibir yang tercipta hanya untuk satu kepastian, yakni ‘tersenyum’.
“segitu pentingnya ya sampai niat dateng ke sini?”. Tanya Fania padaku.
“ini penting fan, bukan main-main”
“lantas?”.
“aku cuman mau kita bisa balik kayak yang dulu lagi”.
“tapi Ram?”.
“apalagi? kamu mau nolak aku? atau kamu udah punya yang lain?”.
“sebenernya ada yang mau aku jelasin ke kamu”.
“jelasin? Apa?”. Aku mulai terbawa suasana.

Fania diam untuk beberapa saat. Ia gugup dan kaku. Butiran keringat mulai menghiasi wajahnya yang ekspresif itu. Aku merasa heran menyaksikan itu semua.
“Fan?”. Aku memintanya.
“Ram…”.
“iya?”.
“aku bukan Fania!”.
“ha? maksud kamu?”. Aku terkejut mendengar ucapan itu.
“iya, aku bukan Fania. Ini aku Sania, kembaran Fania. Kamu ngerti kan?”. Ujarnya berusaha tenang.
“Sania? Nggak mungkin! mana bisa? ini ada apaaa?”.
“dengerin aku, Ram!”.
“mana mungkin kamu Sania?”.
“mungkin sekarang waktunya aku jelasin. Apa kamu inget setahun lalu Fania pernah ninggalin kamu lewat sepucuk surat dengan alasan prinsip kalian yang nggak sama?”.
“ee ii ii iya?”.
“asal kamu tau! Fania nggak pernah punya niat ninggalin kamu, apalagi karena alasan prinsip. Fania wanita baik-baik, Ram. Mungkin buat dia cuman itu cara yang halus untuk kelarin semuanya”.
“aku nggak ngerti, ini kenapa sih hah?”.
“yang kemarin malam numpahin air di kemejamu, itu aku”.
“hah?”.
“Fania udah enggak ada Ram, setahun lalu tepatnya. Dia meninggal setelah aku sembuh. Sebagian raganya sekarang ada di aku”.
“APA? please, nggak usah becanda, kamu pasti Fania, bukan Sania!”.
“ini aku Sania, Ram!”.
“nggak mungkin!”.
“Fania meninggal setelah terjadi gagal ginjal. Dia donorin ginjalnya buat aku. Kamu musti bisa terima keadaan Ram, bukan cuman kamu yang merasa kehilangan tapi aku juga”. Tiba-tiba air mata Sania datang tak diundang.
“NGGAK! kamu pasti Fania”.
“aku Sania, Ram, Sania Lestari”. Ia berusaha meyakinkan.
“tapi? nggak, nggak mungkin!”. Aku panik.
“ini aku Sania!”. Ia membalasku.

Sejenak aku sulit berkata-kata. Ruang di hati terasa kosong, seperti tak lagi menampakkan diri yang biasanya. Ada apa dengan cinta? haruskah perpisahan setahun yang lalu berbalut kebohongan? yang jelas hati tersentak.
“jadi? kamu?”.
“iya, ini aku Sania”.
“Ya Tuhaaan…”.
Kini aku mengimbang Sania untuk mengeluarkan kristal dari sudut mata ini. Betapa kehilangannya aku. Ini antara bermimpi dan berhalusinasi yang terlampau jauh dan memaksaku untuk tak kembali, tapi ini semua nyata.
“udahlah Ram, kita sama”. Ujar Sania seraya mengelus pundakku.
“tapi San…”.
“Ram, cinta sejati adalah yang mengerti dan rela bahwa ia harus pergi setelah cukup terjaga bersama seseorang yang menurutnya istimewa, raga Fania udah nggak ada, tapi jiwanya di sini, di ragaku”. Sania menuturkan dengan masih bernuansa air mata.
“Faniaaaa…”.
Sania memeluk erat berusaha menenangkan aku yang masih dinaungi ketidak percayaan atas penjelasannya tadi. Fania benar-benar telah tiada. Aku merasa bersalah karena telah berprasangka buruk terhadap cinta. Atas nama ketulusan, maafkan aku cinta.
“ada yang Fania kasih ke aku buat kamu, Ram”.
“apa?”.
“ini”. Sania memberiku sebuah bingkai kecil dengan foto di dalamnya.
“foto ini?”.
“itu kenangan kalian”.
Ya, Sania memberiku sebuah bingkai kecil dengan fotoku bersama Fania di dalamnya. Sebuah potret yang menampilkan keceriaan antara aku dengannya. Itu adalah kenangan terakhirku bersama Fania setahun lalu. Aku tak menyangka ternyata selama ini benda tersebut selalu Fania simpan tanpa cacat sedikit pun. Terima kasih cinta.
“Fania suka benda itu, jadi aku mohon kamu simpan itu untuk Fania, Ram”. Ucap Sania.
“ii iya, pasti, makasih San”. Balasku berkaca-kaca padanya.

Semenjak saat itu, cinta telah merubahku. Menyadari bahwa betapa agungnya kekuatan cinta adalah hal yang mulia. Ia memang pergi, namun jiwanya selalu menemani. Andaikan waktu bergulir kembali, tak akan ku lewatkan sedetik pun dalam hidup untuk menjaganya. Sekali lagi maaf telah menoreh noda pada sempurnanya sebuah kisah.

Kini hanya dengan melihat Sania aku seperti memandangi Fania. Hampir tak ada celah untuk berbeda di antara keduanya. Dua keindahan yang kurangkum dalam satu catatan seumur hidup. Beribu rasa terima kasih untukmu Sania yang telah sedikit menuntunku demi Fania meskipun hatiku tak lagi bisa berlabuh.

Maka denganmu dan demi cinta, akan ku jaga bingkai kecil ini sampai hariku tak berlanjut lagi.

-TAMAT-

Cerpen Karangan: Avando Nesto
Facebook: ELchevo Avando

Nama Asli: Arivando Yoga Papangdika Obesonya
panggilan: Avando
FB: ELchevo Avando
Twitter: @EL_Avando39

Cerpen Bingkai Kecil Fania merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Elegi Embun Pagi

Oleh:
Di dalam kelas yang sepi. “Yeta, dicoba aja dulu! Masa sih udah tujuh belas tahun belum punya pacar juga, malu tuh sama wajah cantik kamu! Hahaha…,” kata Mentari membujukku

Lady’s Diary

Oleh:
Diari ini masih tetap berdiri, bersandar pada dinding kamarku. Di cover depannya tertulis Lady’s Diary. Ibumulah yang menyerahkan buku itu malam tadi. Lembar demi lembar berisi tulisan tanganmu bergaya

Merelakan Cinta Yang Pergi

Oleh:
Pagi ini terasa dingin namun matahari tetap lah bersinar terang. Udara dingin disebabkan hujan yang terjadi sepanjang malam. Jalan raya pun masih basah dan licin. Ku lihat para pengendara

Cinta Seorang Nina

Oleh:
“Hebat! Berani sekali kamu membantah omongan Pak Haris tadi, Nina!” decak Riri kagum pada Nina yang sedang asyik makan bakso di hadapannya. “Harus dong, Ri. Kita-kita kan tidak salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *