Bintang 7 Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 16 March 2016

Namaku Septian. Aku akan menceritakan sebuah kisah yang mungkin telah aku pendam selama ini. Mungkin tak terlalu menarik, tapi apa salahnya kita berbagi pengalaman hidup. Sebenarnya aku bingung mau memulai dari mana. Yah.. Baiklah aku akan memulai saat pertama aku bertemu dengannya. Saat itu aku masih SD kelas 5, aku tinggal di sebuah perkampungan sederhana di Kota Kediri. Nama desanya adalah Brenggolo. Saat itu aku bersekolah di SDN Brenggolo 1. Sekolah itu merupakan sekolah favorit di seluruh kecamatan Plosoklaten.

Aku adalah anak cengeng, penakut, dan nakal. Saat aku di sekolah, teman-temanku selalu saja jahat denganku. Yah.. Abaikan saja, itu tadi hanya semacam perkenalan tentang diriku. Masih ku ingat, 24 agustus 2005 seperti biasa setelah pulang sekolah aku melihat ada tamu di dalam rumahku. Aku penasaran sih, wajarlah anak seumuranku selalu ingin tahu hal sekecil apa pun hehehe. Aku bertanya kepada orangtuaku, ternyata rumahku mau dijual dan kita akan pindah ke rumah nenekku. Aku kaget sekali, aku mulai protes dengan keputusan tiba tiba ini.

“Kenapa harus pindah sih Bu, aku kan sudah nyaman di sini.” protesku kepada ibu.
“Ini keputusan bapak kamu Nak, lagian rumah Nenek kan dekat dengan sekolahmu. Jadi kamu gak terlalu cape berangkat sekolahnya.” sahut ibuku.

Yah sudahlah, semuanya keputusan orangtuaku. Tapi di situlah inti cerita ini teman, saat itu aku bertemu dengan cewek cantik sekali. Dan aku baru sadar kalau ternyata dia adalah anak dari orang yang membeli rumahku. Setelah pulang sekolah temenku si Eko ngajak aku maen karambol di rumah lamaku itu. Oh iya kalian tahu kan karambol? Itu loh hampir mirip seperti billiard, buah mainannya seperti lempengan kecil bulat.

Nah tiap hari setelah pulang sekolah aku main karambol dengan Eko, tapi aku tak pernah melihat cewek itu ada di rumah. Saat itu hari minggu, hari libur anak sekolah. Aku bangun pagi jam 6, aku mandi dan cuss ke tempat main karambol itu. Di sana ku lihat ada temen sekelasku yang kebetulan tinggal di samping rumah itu, namanya Pungki. Di pagi itu belum ada yang datang untuk bermain karambol, jadi yaa.. aku mainlah sendirian. Dan aku kaget ada suara yang menarik perhatianku.

“Mas Rian, main samaku yuk!” Suara yang ku dengar.
“Rian?” Pikirku dalam hati.

Dan aku pun menoleh ke arah di mana suara tersebut. Dan astagaaa…aku seperti melihat bidadari turun dari langit, cewek itu sangat cantik sekali. Aku sangat terpesona dengan kecantikan dia. Dengan santainya dia duduk di depanku dan mengajakku bermain karambol bersama. Aku yang sangat gugup bermain dengan menundukkan kepala. Tapi, dia mencairkan suasana dengan memulai percakapan.

“Kamu dulu yang tinggal di sini kan?” Tanya cewek itu.
“Mmm.. iya kamu kok bisa tahu?” Jawabku yang masih malu menatapnya.
“Iya tadi Kak Pungki yang ngasih tahu,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku melirik padanya, aku melihat senyumnya pertama kali. Dan senyumnya itu sangatlah indah, mungkin bunga yang layu pun akan kembali mekar jika bisa melihat dan meresapi senyumnya (hahaha alay). Secara tidak langsung hatiku menyatakan aku jatuh cinta padanya. Hari ini adalah hari terindahku, aku merasakan bahagianya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Hari pun sudah mulai gelap, aku pun pulang ke rumah. Dan aku tersadar, arrrgggghh.. aku sampai lupa tak menanyakan namanya. Betapa bodohnya aku, hah.. mungkin itu gara-gara aku gugup. Saat aku hendak tidur, bayang-bayang senyumannya masih melayang layang di pikiranku. Rasanya seperti ada bintang yang berkelip-kelip di hadapanku bahagianya aku.

Keesokan harinya aku bergegas menuju ke sekolah. Sesampainya di depan kelas, aku berteriak mencari si Pungki.
“Pungkiiiii…” Teriakku.
“Apa sih Sep, pagi-pagi bikin jebol telinga orang,” jawabnya kesal.
Aku berlari ke hadapannya dan merangkul dia, “Oi oi..cewek itu siapa namanya?”
“Yang mana? Novi ya?” Tanya balik si Pungki.
“Oh.. Novi.. thanks yaa.” aku tersenyum bahagia sambil menepuk pundak Pungki sebagai tanda terima kasih.

Sepulang sekolah aku langsung ke rumah Novi dengan wajah riang. Tapi sayang sekali Novi belum pulang sekolah. Oh iya, sekolah Novi berbeda dengan sekolahku, dia bersekolah di kota. Yah.. wajar dia anak orang yang berkecukupan, meskipun dia hanya hidup dengan seorang ibu. Ayah Novi meninggalkan mereka demi wanita lain. Yah.. jangan dibahaslah soal itu, lagian itu privasi keluarga mereka. Orang yang ku tunggu pun datang, Novi pulang sekolah. Masih dengan senyuman yang sama dia menyapaku.

“Eh, Mas Rian.. sebentar ya aku ganti baju dulu.” celotehnya sambil tersenyum. Yah.. begitulah dia memanggilku, dia memanggilku Rian meski namaku Septian. Tapi panggilan itu menjadi spesial bagiku, aku malah senang dia memanggilku begitu. Setelah ganti baju kita bermain bersama-sama, dan hari-hari kita selalu kita lewati bersama-sama.

20 juni 2007 aku lulus sekolah dan aku akan melanjutkan sekolah ke SMP yang cukup favorit di kabupatenku. Aku berpikir mungkin Novi akan masuk juga ke SMP itu. Tapi tenyata tidak, dia malah mendaftar di SMP lainnya. Yah.. kecewa sih. Tapi hari itu juga hari terindahku, setelah pengumuman kelulusan aku berlari ke rumah Novi. Aku mengajak Novi ke taman dekat sekolahku, aku berlari menggandeng tangannya.

Aku berteriak, “Aku luluuuss…” Dan kami pun tertawa bersama-sama. Aku pun tak melewatkan momen kesenangan itu. Aku memulai pembicaraan yang serius.
“Emm.. Novi kamu janji kita akan selalu bersama?” Aku menatap mukanya dengan keseriusan.
“Aku janji Rian,” senyumnya sambil menatapku juga.
“Jadi apakah kita pacaran?” Tanyaku.
“Entahlah, yang aku rasakan hanyalah ingin selalu tertawa bersamamu Rian,” jawabnya sambil menatap langit dan merentangkan tangannya.

“Aku bahagia Rian.” tambahnya. “Hanya kamu yang selalu menemani hari-hariku, aku ingin selalu bermain denganmu.” Celotehnya dengan muka polos. Aku terdiam, dalam hati aku sangat bahagia mendengarnya. “Baiklah, aku janji padamu aku akan selalu bermain bersamamu.” jawabku dengan tersenyum bahagia. (Hahaha saat itu aku merasa dewasa sebelum waktunya) Klimaks kisah ini pun dimulai..

Saat kelas 2 SMP Novi pindah ke Jakarta. Aku sangatlah sedih, kita yang setiap hari bersama sekarang akan terpisah sangatlah jauh. Saat itu kita belum punya handphone, dan aku bingung bagaimana caraku menghubunginya. Aku menemuinya untuk terakhir kalinya, saat itu aku meneteskan air mata. Aku tidak rela dia meninggalkanku begitu saja. “Nov.. apa kamu serius dengan ini semua? Apa kamu akan meninggalkan semua kisah kita? Apa kamu akan tetap ingat denganku? Bagaimana caraku menghubungimu? Aku sangat sedih dengan jarak yang akan memisahkan kita ini.” Aku meneteskan air mata dan menatapnya.
“Rian, rasaku akan tetap sama. Sejauh apa pun jarak kita, rasaku akan tetap sama. Percayalah, suatu saat nanti aku akan kembali ke sini.” jawabnya dengan senyuman. Dan itulah percakapan terakhir kita.

4 tahun telah berlalu, kini aku tengah berada di kelas 3 SMA. Dan masih pada rasa yang sama, rasa cinta pada satu bidadari. Ya masih si Novi pujaanku, yang sekarang jauh di sana. Aku bertanya kabar pada Pungki, karena hanya dia temanku yang masih connect dengan Novi. Dia selalu memberiku kabar tentang Novi, dia bilang Novi masih setia padaku. Dan Pungki bilang Novi mengirim surat dan hari ini akan tiba. Pak pos pun datang mengantar sepucuk surat dengan amplop hello kitty berbungkus pita. Aku tak sabar untuk membukanya. Inilah sepenggal isi surat darinya.

“Jarak sejauh ini tidak mampu membuat kita bergerak lebih banyak. Seakan-akan aku dan kamu tak punya ruang untuk saling bersentuhan dan saling menatap. Rasanya menyakitkan jika keterbatasanku dan keterbatasanmu menyebabkan kita tak bisa saling bertemu. Setiap hari, kita harus menahan rasa kangen. Nahan semuanya itu, kayak mau mati! ini cara cinta menyiksa? jarak ratusan kilometer?

Aku menghela napas. Membayangan jika kamu ada di sampingku dan merasakan apa yang ku rasakan. Maka mungkin tak akan ada air mata ketika hanya suara dan tulisan yang bisa menguatkan kita. Maka tentu aja tak akan ada ucapan rindu berkali-kali karena jarak ini. Apakah yang kita pertahankan selama ini? apakah yang kita andalkan sejauh ini? sekuat apakah perasaan cinta kita? menahan dan mempertahankan, kadang…. memicu kegalauan. Itu yang membuat kita menyadari, gak ada cinta tanpa luka, gak ada cinta tanpa rindu.

Sayang, apalah arti ratusan kilometer jika kita masih mengeja nama yang sama? apakah arti jaraknya yang jauh jika kita masih bisa mempertahankannya? kita jarang saring menggenggam tangan, jarang berpelukan, dan sangat jarang saling berpandang? namun, percayalah sayang… tak saling berpelukan bukan berarti cinta kita punya banyak kekurangan. Apa yang aku cari dan apa yang kamu cari? gak ada, kita masih mencari tahu apa itu cinta dan bagaimana kekuatan yang bisa membuat kita bertahan. Rasa sakit, rasa ragu, rasa rindu hanyalah hal yang bersifat sementara. kita pasti akan bertemu. tidak ada hal yang sangat berat, jika kita melewatinya bersama-sama.

Selama bulan yang kita lihat masih sama, selama sinar matahari yang menyengat kulit kita masih sama hangatnya, maka pertemuan aku dan kamu masih akan tetap terjadi. jarak hanyalah sekedar angka, jika kita masih memperjuangkan hal yang sama. Bertahanlah untuk kita.” Begitulah isi surat yang sampai saat ini ku simpan. Aku bahagia dan sekaligus sedih. Aku bahagia karena dia masih setia dan sangat menyayangiku. Dan aku sangat sedih karena itu adalah kabar terakhir yang aku terima. Pungki pun juga Lost contact, aku berkali-kali mengirim surat padanya dan tak ada balasan.

Satu tahun pun berlalu, aku masih dengan kegalauanku. yah.. Aku masih galau karena aku sampai sekarang tak mendapatkan kabar dari Novi. Sekarang aku sudah Lulus sekolah. Dan aku bekerja di Pabrik pembuatan Triplek di Pare. Aku bekerja dibayang-bayangi dengan bayangan si Novi. Sepulang bekerja aku menemui Pungki, ya.. Dialah temanku curhat selama ini. Aku terus mengadu dan mengeluh padanya. Dan dia pun tak henti-hentinya menasihatiku.

“Dia menyayangimu. Sangat menyayangimu. Baginya kamu adalah seorang penyemangat dan satu alasan mengapa dia tetap bertahan. Dia butuh saat ini. Tahu tidak dia kesepian selama 10 tahun lebih ditinggal orang yang disayangi dan dibanggakan (ayah). Apa pernah di benakmu merasakan penderitaan itu? Dia kesepian, dia senang sekali jika ada seseorang yang tulus mencintainya, menerima dia apa adanya, menerima kenyataan bahwa dia adalah anak dari korban broken home. Tolong jaga dia, dia butuh kamu. Jangan biarkan air matanya menetes lagi, jangan hilangkan senyum di wajah polosnya itu, sayangi dia, cintai dia. Karena Tuhan menitipkannya untukmu. Jangan sia-siakan anugerah terindahmu..” Entah kata-kata itu menyemangatiku atau tidak, aku masih belum puas kalau belum melihatnya sendiri.

24 mei 2012 jam 10 pagi. Aku terbangun dari tidurku mendengar teriakan ayahku.

“Seppp.. banguun ini ada yang mencarimu,” panggil ayahku yang membangunkanku.
“Siapa Yah? Masih ngantuk ini..” Jawabku dengan malasnya sambil mengucek mataku.
“Entahlah, cewek cantik banget dia.. tumben tumbenan anak yang nyari anak pemalas kayak kamu, cewek cantik pula.” Sindir ayahku dengan tawa kecil.
“Ah.. Ayah ini ngejek mulu.. suruh tunggu dulu aku mau mandi Yah.” celotehku.

Aku mengintip dari sela-sela ruang makan.
“Siapa itu yaa..” Pikirku keheranan. Setelah mandi aku pun datang menemui.
“Hai.. ingat aku?” Senyum wanita itu. Deg… senyum itu.. Aku pun meneteskan air mata kebahagiaan. Ternyata itu Novi. Dia menemuiku. Yaa..dia ada di hadapanku. Apa yang harus aku lakukan, cinta 7 tahunku ada di depan mataku. Aku seoalah tak bisa bergerak, aku masih tak percaya dia di hadapanku.

“Kok nangis sih. Aku udah pulang Rian.. Aku di sini.” Novi menyakinkan.
“Aku kangen banget sama kamu Nov, kenapa kamu baru datang hari ini?” Celotehku sambil menghapus air mataku.
“Sudah, sudah.. yang penting aku sudah di sini sekarang. Main yuk.” ajak Novi.

Kami pun mengulang masa kecil, kami bermain karambol bareng, bermain di taman SD, dan terus tertawa bersama. Kami saling berbagi cerita tentang kesetiaan cinta kita. Bahagia yang pernah tertunda pun sekarang mulai sedikit demi sedikit kembali lagi.

Uhukk..uhuukk..terdengar suara batuk Novi. “Kamu kenapa Nov?” Tanyaku.
“Gak apa-apa kok, mungkin cuma kecapean.” Novi tersenyum. “Pulang yuk Rian.
Novi pun berdiri dan berjalan dulu. Beberapa meter dia berjalan, dia batuk batuk lagi dan terjatuh pingsan. Aku panik dan bingung dengan apa yang terjadi pada Novi.
“Kamu kenapa Nov? Hidung kamu berdarah, mata kamu merah.” Tanyaku bingung.
“Aku gak apa-apa kok Rian, aku cuma kecapean.” Jawab Novi dan langsung pingsan.

Aku masih bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ku bawa Novi ke Rumah Sakit Unit Pare, lalu ku hubungi ibu dia. Ibunya pun datang, dan memeluk aku. Aku kaget. Aku tambah bingung mendengar isakan tangis dari Ibu Novi saat memelukku. “Ada apa Bu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Novi sakit?” Tanyaku dengan bingung.
Ibu Novi pun menjawab, “Novi sakit radang paru-paru stadium 4 Rian, hidupnya nggak lama lagi.”

Aku kaget. Aku serasa mau pingsan. napasku seakan terhenti, air mataku menetes sendiri. Aku menjerit dalam hati.
“Kenapa selama ini dia tidak memberitahu saya Bu? Kenapa?” Aku menangis.
“Novi yang meminta agar kamu nggak tahu semua ini, Novi ingin kamu merasakan apa yang biasanya kamu rasakan seperti dulu saat bertemu denganmu. Novi tak ingin rasa cinta kamu jadi rasa iba. Dan Novi tak ingin kamu sedih.” Cerita ibu Novi sambil menangis.

Aku pun langsung berlari menuju kamar perawatan Novi. Aku memegangi tangannya sembari menangis.
“Bangun Nov. Bangun… apa kamu mau ninggalin aku lagi? Bangun Nov..”
Novi pun tersadar, “Aku sudah bangun Rian, aku masih di sini dengan rasa yang sama kok.” sambung Novi dengan nada yang pelan. “Kamu pasti sembuh Nov.” aku mencium tangannya dan tetap menangis.

Novi menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Terima kasih sayang, terima kasih sudah menjadi orang yang selalu membuatku bahagia, terima kasih masa kecil yang kamu jaga sampai sekarang, terima kasih cinta yang masih kau bungkus dengan hangat, terima kasih sudah merajut cinta yang penuh rasa meski akhirnya tak ada asa. Aku bahagia bersamamu, aku bahagia bersama cinta dan kesetiaan kita. Akan ku bawa semuanya dan akan ku tunggu kau di tempat yang paling indah di ujung semesta.”

Uhuukkk… uhukkk..

“Simpanlah kalung bintang ini, jika kamu kangen aku. Pakailah kalung ini, dan lihatlah ke langit. Akan ada bintang yang paling terang di antara bintang-bintang yang bersinar. Dan itulah aku.” Novi menyerahkan kalung bintang kepadaku. Dan itulah kata-kata terakhir dia, setelah selesai mengucapkan semua itu dia menghembuskan napas terakhir di usianya yang ke-19 tahun. Dan mengakhiri cinta 7 tahun ini. Cinta kita masih akan abadi dalam ruang dan waktu yang tak akan pernah ada orang yang akan mengerti. Akan ku jaga bintang 7 tahun ini, sampai aku akan datang menjengukmu di keindahan dunia sana.

12 September 2014, aku memutuskan meninggalkan kampung halamanku dan merantau ke Batam. Aku ingin sejenak melupakan kisah yang pernah terjadi, dan mungkin aku akan menemukan kisah baru di Kota baru. Selamat tinggal kenangan, bintangmu akan terus dalam hati.

R.I.P Anekke Novia Anggraini

Cerpen Karangan: Septian Hadi Saputro
Blog: Sheptiandt.blogspot.com

Cerpen Bintang 7 Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan Apa ini?

Oleh:
Perkenalkan namaku Miya anastasya, aku bersekolah di SMAN 4 Cilegon. Aku termasuk siswa yang periang. Sehari-hari aku selalu memiliki banyak cara yang membuat kelasku selalu ramai. Aku tidak tau

Maafkan Aku Manis

Oleh:
Ba’da asar, aku masih termenung sendiri di taman ini. Melihat beberapa pasang muda mudi bercengkrama, mengisi setiap sudut-sudut taman. Termenung menghitung dedaunan yang berguguran dari pohon mahoni tua di

30 Last Days

Oleh:
“Kamu divonis mengidap penyakit Kanker Otak stadium akhir, waktumu tersisa 30 hari lagi dan maafkan kami. Selesaikan urusanmu yang ada disini”. Kata-kata itu menghantam jantungku, bagaimana mungkin aku bisa

Saat Aku Berpisah

Oleh:
Mungkin itu suatu saat yang tidak mengagumkan bagiku dan suatu saat yang menyedihkan saat aku hanyut bersama dia di dalam senandung mesra. Perpisahan yang tidak akan kulupakan untuk menjadi

Kekasih Mautku

Oleh:
Hembusan angin kian menerpa menggelitik lembutnya kulit, semerbak aroma mawar atau mungkin melati mendarat tepat di mancungnya hidung sosok pria atletis. Semakin lama semakin pasti aromanya menusuk dalam ingatan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *